Jadwal imsakiyah Wilayah Palembang

-- --- 2026

Imsak: --:--| Shubu: --:-- | Maghrib: --:--

MOZAIK ISLAM

Menghargai Para Pahlawan Menurut Perspektif Islam

ASSAJIDIN.COM — Bulan November ada momen bersejarah di Indonesia yakni Hari Pahlawan 10 November.

Bagaimana cara menghargai para pahlawan menurut perspektif agama Islam.

Kata Pahlawan dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) adalah orang yang berjuang dengan gagah berani dalam membela kebenaran.
Jika dilihat lebih mendalam secara etimologi atau secara bahasa, ada yang memaknai kata pahlawan berasal dari akar kata pahala, dan berakhiran wan, pahalawan. Ini berarti para pahlawan layak memperoleh pahala karena jasa-jasanya bagi perjuangan menegakkan kebenaran.

Dalam agama Islam, pahlawan merupakan orang yang berani memperjuangkan Islam sampai ia menang atau mati.

Sementara dalam perspektif Islami, seperti dikutip situs UIN Malang, seseorang disebut pahlawan karena ia memiliki kontribusi atau jasa besar bagi orang lain, sebab semua ajaran dalam Islam memiliki implikasi positif bagi orang lain, bahkan untuk semesta alam ini (semua makhluk hidup).

Ada banyak ayat dalam Alquran yang menyebutkan tentang berjuang menegakkan kebenaran dan keadilan.

Salah satunya adalah surah Al-Baqarah ayat 193.

Allah SWT berfirman:

وَقٰتِلُوۡهُمۡ حَتّٰى لَا تَكُوۡنَ فِتۡنَةٌ وَّيَكُوۡنَ الدِّيۡنُ لِلّٰهِ‌ؕ فَاِنِ انتَهَوۡا فَلَا عُدۡوَانَ اِلَّا عَلَى الظّٰلِمِيۡنَ

Wa qootiluuhum hatta laa takuuna fitnatunw wa yakuunad diinu lillaahi fa-inin tahaw falaa ‘udwaana illaa ‘alaz zaalimiin

Artinya:

“Dan perangilah mereka itu sampai tidak ada lagi fitnah, dan agama hanya bagi Allah semata. Jika mereka berhenti, maka tidak ada (lagi) permusuhan, kecuali terhadap orang-orang zhalim.” (QS. Al-Baqarah: 193).

Dalam ayat ini dijelaskan bahwa umat muslim diminta berperang sampai tidak ada lagi fitnah (perang yang dimaksud terhadap orang-orang zalim yang berniat mengusik kaum muslim). Perang dilakukan hingga keadaan kondusif untuk menciptakan perdamaian dengan berakhirnya teror, rintangan dan gangguan keamanan dan ketertiban, dan agama hanya bagi Allah semata sehingga setiap orang bisa menjalankan agama dengan tenang. Jika mereka berhenti dari berbuat teror, gangguan keamanan dan ketertiban, maka tidak ada lagi alasan bagi umat Islam untuk menampakkan permusuhan di antara umat manusia kecuali terhadap orang-orang zalim, yakni orang-orang yang tidak memiliki tekad untuk berdamai dengan kaum Muslim.
Orang-orang mukmin diperintah agar tetap memerangi kaum musyrikin yang memerangi mereka sehingga mereka tidak mempunyai kekuatan lagi untuk menganiaya kaum Muslimin dan merintangi mereka dalam melaksanakan perintah agamanya, sehingga agama Islam dapat dijalankan sepenuhnya oleh setiap Muslim dengan tulus ikhlas, bebas dari ketakutan, gangguan dan tekanan. Para kaum muslimin yang berperang ini bisa disebut sebagai pahlawan, karena mereka berniat jihad di jalan Allah dari hal-hal yang mengusik keagamaan. Orang-orang yang berjuang itu pun tidak memperdulikan apakah ia bakal mendapat penghargaan atau tidak dari institusi manapun, yang mereka harapkan adalah keridhaan dari Allah SWT.

Lihat Juga :  One Day One Hadist: Tiga Insan Manusia yang Doanya tidak Tertolak

 

 

Ketika kaum musyrikin telah menghentikan segala tindakan jahat dan mereka telah masuk Islam, maka kaum Muslimin tidak diperbolehkan mengadakan pembalasan atau tindakan yang melampaui batas, kecuali terhadap mereka yang zalim, yaitu orang-orang yang memulai lagi atau kembali kepada kekafiran dan memfitnah orang-orang Islam.

Konteks pahlawan di sini adalah mereka yang telah memperjuangkan kemerdekaan bangsa ini, baik yang kita ketahui maupun yang tidak, mereka hidup di hati kita. Pahlawan sejatinya tidak pernah “mati”, karena jasa mereka dalam mempertahankan NKRI akan terus dikenang olah banyak orang di seluruh penjuru nusantara ini. Kebaikan para pahlawan tentu akan selalu tertabur dalam jiwa umat, sehingga tak pernah sirna untuk dikenang dan didoakan arwahnya setiap saat.

Meskipun secara lahiriyah sudah mati, namun secara hakiki belum, ia mati tetapi hidup. Allah SWT berfirman: وَلَا تَقُوۡلُوۡا لِمَنۡ يُّقۡتَلُ فِىۡ سَبِيۡلِ اللّٰهِ اَمۡوَاتٌ ؕ بَلۡ اَحۡيَآءٌ وَّلٰـكِنۡ لَّا تَشۡعُرُوۡنَ Wa laa taquuluu limai yuqtalu fii sabiilil laahi amwaat; bal ahyaaa’unw wa laakil laa tash’uruun Artinya: “Dan janganlah kamu mengatakan orang-orang yang terbunuh di jalan Allah (mereka) telah mati. Sebenarnya (mereka) hidup, tetapi kamu tidak menyadarinya.” (QS. Al-Baqarah: 154). Sebagai muslim yang yang lahir dan hidup di Indonesia, sudah sepatutnya pula kita menghargai jasa para pahlawan. Beberapa cara yang bisa kita lakukan antara lain:

Lihat Juga :  Mari Ber-AKHLAK, 1.491 PPPK dan PNS di Lingkungan Pemkot Palembang Dilantik

1. Saling Menghormati dan Menghargai Satu Sama Lain Karena kita hidup di Indonesia yang terdiri dari bermacam suku, bangsa dan bahasa, termasuk pahlawan yang berasal dari berbagai daerah di Indonesia, maka cara yang pertama dapat dilakukan dengan selalu menghormati dan menghargai satu sama lain. Menghormari dalam aspek perbedaan kesukuan, etnis, kedaerahan, dan lain sebagainya. Para pahlawan dapat meraih kemenangan juga disebabkan karena mereka berjuang bersama dan menyampingkan perbedaan, sehingga ini salah satu hal yang bisa kita teladani dari para pahlawan.

2. Mencintai Tanah Air Perjuangan yang dilakukan oleh para pahlawan tak lepas dari kecintaan mereka pada bangsa Indonesia. Sebagai generasi penerus bangsa, kita juga harus meneladani sikap cinta Tanah Air yang ditunjukkan para pahlawan. Beberapa contoh cinta Tanah Air seperti bangga akan bangsa sendiri, dan menjaga eksistensi bangsa Indonesia secara bersama-sama. 3. Mengingat Jasa Para Pahlawan Cara selanjutnya adalah dengan selalu mengingat perjuangan para pahlawan dan tidak melupakan jasa mereka. Implementasi dari ini misalnya dengan cara menceritakan kisah-kisah perjuangan pahlawan dan sejarah kemerdekaan Indonesia kepada anak cucu kita. Berbagai catatan perisitwa sejarah, semangat perjuangan pahlawan, dan lain sebagainya harus selalu tersampaikan kepada penerus generas. Tujuannya agar makna-makna yang ada di dalamnya dapat dijadikan dicontoh, seperti makna Sumpah Pemuda, makna kemerdekaan Indonesia, makna Hari Kartini, dan contoh-contoh lainnya. Hadirin jamaah Jumat rahimakumullah, Tentu masih ada cara-cara lainnya yang bisa kita lakukan untuk menghargai para pahlawan, namun setidaknya tiga di atas bisa mewakili tentang bagaimana kita menghargai para pahlawan. (*/Sumber : tirto)

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top button