Jadwal imsakiyah Wilayah Palembang

-- --- 2026

Imsak: --:--| Shubu: --:-- | Maghrib: --:--

LENTERA

Marah Investasi Keburukan Bagi Anak-anak Kita

 

Oleh : Idda Mawaddah, S.Pd
Penggiat Sosial Tinggal di Provinsi Bangka Belitung

Anak memang perlu makan dan minum secara fisik, akan tetapi ia pun juga perlu makanan secara non-fisik yakni makanan jiwa untuk menguatkan keimanannya sehingga terhindar dari perbuatan musyrik. Ia juga perlu makanan berupa ilmu pengetahuan setinggi-tingginya dan juga perlu makanan pembuat karakter yang mengajarkan tingkah laku sesuai dengan Al-Qur’an.

————–

Seingat penulis tepatnya satu tahun yang lalu mungkin pembaca pun pernah menyaksikan dan mendengar lansung pemberitaan percobaan pembunuhan seorang anak laki-laki yang akan membunuh ayah kandungnya. Kejadian tersebut terjadi dekat dengan kita, yakni masih berada di wilayah Sumatera Selatan. Motif dari kejadian tersebut yang penulis tangkap bahwa si anak dan ibunya sering dimarahi oleh ayahnya.

Awal mula sampai terjadi demikian si anak yang penurut ini selalu dimarahi, pada saat bersamaan ibunya pun dimarahi oleh sang ayah. Suasana tersebut semakin mencengkam ketika sang ayah tidak hanya marah, bahkan hal itu ditambah dengan pukulan serta tendangan terhadap ibunya.

Melihat hal tersebut si anak ini pun kontan ingin membantu ibunya dari amarah sang ayah. Tanpa pikir panjang anak ini pun mengambil sebilah parang kemudian menghujamkan parang tersebut ke kepala sang ayah. Seketika ayah tadi terkapar dan bermandikan darah. Melihat suaminya terkapar, ibu tadi menjerit yang mengakibatkan warga berdatangan.

Dan akhir dari cerita ini anak tersebut dengan terpaksa harus mendekam di penjara dan ayah nya pun meninggal.
Kejadian tersebut dapat kita jadikan pembelajaran dan yang harus digarisbawahi bahwa awal kejadian itu bermula dari kemarahan. Pertanyaannya, Apakah kita termasuk golongan ayah yang suka marah? Atau apakah kita juga termasuk golongan ibu yang pemarah? Jika ia maukah kita mengalami kejadian seperti contoh kejadian di atas? Jika tidak mau ayo kita tahan amarah dan itu lebih baik.

Memang marah itu tidak bisa dihilangkan dari manusia pasti ada, jika marah tersebut hilang dari manusia maka dia bukan lagi manusia tapi makhluk lain. Di sini yang harus dilakukan adalah menahan marah, artinya jika amarah datang maka cepet-cepet meredamnya. Tapi sayang, marah sudah menjadi kebiasaan kita termasuk juga di dalam mendidik anak baik itu di keluarga maupun di sekolah, marah sudah menjadi budaya yang mesti dilakukan terbukti saat masa perkenalan sekolah atau kampus, di situlah sering terjadi keributan dan kemarahan.


Mengkader Iblis-iblis Kecil

Mungkin kita tidak sadar, semakin kuat dan kencang kita marahi anak maka energi negatif atau energi Iblis dalam anak pun semakin besar. Mungkin pada saat itu ia akan menurut, tetapi ia menurut karena terpaksa dan akan tertanam kuat energi kebencian tersebut di dalam jiwanya. Memarahi dibawah ambang batas kewajaran sama saja kita menyiapkan dan mengkader iblis-iblis kecil.
Sebenarnya keluarga adalah tempat yang baik menanamkan nilai-nilai agama, hal ini pun selaras dengan pernyataan Abdullah Nashih Ulwan di dalam bukunya Pendidikan Islam untuk Anak menyatakan bahwa ibu adalah sekolah pertama bagi anak. Indikasi dari pernyataan beliau yang penulis pahami bahwa orang tua terutama ibu yang menjadi figur utama dan pertama yang dicontoh anaknya. Di dalam keluarga nilai-nilai kebaikan dan keburukan akan tersaji dan diserap oleh anak dari segala tingkah yang digambarkan oleh orang tua.

Dari pernyataan di atas, kita semua sepakat bahwa awal kita melakukan pendidikan adanya di rumah dalam hal ini keluarga. Ini berarti keluarga adalah wadah yang mendasar dalam menanamkan ajaran-ajaran agama. Konsep seperti ini tentu harus kita pahami betul mengenai pendidikan dasar tersebut, karena cerminan akhlak anak tidak akan jauh dari pada orang tuanya. Seperti halnya pepatah lama buah tak akan jatuh jauh dari pada pohonya. Jika akhlak anak baik, dapat dipastikan orang tuanya mendidiknya dengan baik. Begitu pun sebaliknya, sehingga disimpulkan anak dan orang tua merupakan dua unsur yang dapat mengambarkan keadaan keluarga. Jika anak dididik dengan amarah makan anak pun akan menjadi pribadi pemarah. Tergantung orang tua deh sekarang, jika mau baik anaknya maka orang tua harus baik, jika ngak ya gitu deh jadinya.
Di dalam Al-Qur’an, Allah telah mengajarkan orang tua untuk tidak meninggalkan keturunan yang lemah. Dalam artian mendidik anak menjadi generasi yang kuat, sebagaimana Allah abadikan dalam firman-Nya.

“Dan hendaklah takut kepada Allah orang-orang yang seandainya meninggalkan dibelakang mereka anak-anak yang lemah, yang mereka khawatir terhadap (kesejahteraan) mereka. oleh sebab itu hendaklah mereka bertakwa kepada Allah dan hendaklah mereka mengucapkan perkataan yang benar. (Quran Surat 4:9)
Kita mesti berupaya menyiapkan dan mewariskan generasi yang kuat untuk kebaikan masa depan kelak, baik keluarga maupun bangsa dan negara, dimulai dari anak-anak kita. Ada empat aspek kuat yang dimaksud, pertama kuat dalam hal fisik. Kedua, kuat dalam keilmuan. Ketiga, kuat dalam keimanan (tidak musyrik). Keempat, kuat dalam hal kepribadian atau akhlak.
Anak memang perlu makan dan minum secara fisik, akan tetapi ia pun juga perlu makanan secara non-fisik yakni makanan jiwa untuk menguatkan keimanannya sehingga terhindar dari perbuatan musyrik. Ia juga perlu makanan berupa ilmu pengetahuan setinggi-tingginya dan juga perlu makanan pembuat karakter yang mengajarkan tingkah laku sesuai dengan Al-Qur’an.

Lihat Juga :  Ibu, Inilah Rahasia Anak Generasi Qurani Cerdas, Insya Allah

Tujuan dari mendidik anak sesuai Al-Qur’an yakni menjadikannya pemimpin bagi orang yang bertaqwa.
Dan orang orang yang berkata: “Ya Tuhan kami, anugrahkanlah kepada kami isteri-isteri kami dan keturunan kami sebagai penyenang hati (Kami), dan jadikanlah kami imam bagi orang-orang yang bertakwa. (QS 25:74)

Menahan Amarah Ciri Takwa

Menjadikan anak pemimpin bagi orang bertaqwa berarti mendidik anak menjadi pribadi yang bertaqwa yakni manusia yang segera mohon ampun, manusia yang gemar shodaqoh baik ketika lapang mau pun sempit, senantiasa menahan amarah, senantiasa memaafkan kesalahan orang lain dan gemar berbuat baik.
Dan bersegeralah kamu kepada ampunan dari Tuhanmu dan kepada surga yang luasnya seluas langit dan bumi yang disediakan untuk orang-orang yang bertakwa, (yaitu) orang-orang yang menafkahkan (hartanya), baik di waktu lapang maupun sempit, dan orang-orang yang menahan amarahnya dan mema’afkan (kesalahan) orang. Allah menyukai orang-orang yang berbuat kebajikan. (QS 3:133-134).

Coba kita perhatikan makna taqwa menurut Allah dijelaskan secara rinci yakni segera mohon ampun, sedekah di waktu lapang mau pun sempit, menahan amarah, memaafkan kesalahan orang lain dan gemar berbuat baik. Salah satu elemen taqwa adalah menahan amarah, bagaimana anak menjadi manusia yang bertaqwa kalau kita saja tidak mengajarkan ia untuk menahan amarah?

Jadi orang yang mulia di sisi Allah bukan orang yang berpangkat tinggi, pejabat, berwawasan luas, punya kekayaan yang banyak, ganteng dan cantik apalagi ngak ngaruh ya, jadi yang sedikit kurang ganteng dan cantik jangan minder donk hihihi toh yang paling mulia adalah taqwanya, syukuri apa yang ada. Yang paling mulia tadi ialah yang bertaqwa yakni segera mohon ampun, sedekah di waktu lapang mau pun sempit, menahan amarah, memaafkan kesalahan orang lain dan berbuat baik.

Sesungguhnya Allah beserta orang-orang yang bertakwa dan orang-orang yang berbuat kebaikan. (QS 16:128)
Sesungguhnya orang-orang yang bertaqwa mendapat kemenangan, (QS 78:31).
Hai orang-orang beriman, jika kamu bertaqwa kepada Allah, kami akan memberikan kepadamu Furqaan. dan kami akan jauhkan dirimu dari kesalahan-kesalahanmu, dan mengampuni (dosa-dosa)mu. dan Allah mempunyai karunia yang besar. (QS 8:29).

Mendidik anak dengan amarah bisa dimungkinkan setelah dewasa anak tersebut akan menjadi pribadi pemarah. Bahkan kehidupan dunianya pun tidak dapat terpisah dengan amarah. Menjadi tidak sabar, tergesa-gesa bahkan ceroboh. Karena energi negatif tersebut terekam kuat di dalam jiwa mereka.

Di lain ayat Allah menyuruh kita berlaku lemah lembut dan berkasih sayang, terhadap siapa pun itu termasuk kepada anak dalam upaya mendidiknya.

Maka disebabkan rahmat dari Allah-lah kamu berlaku lemah Lembut terhadap mereka. sekiranya kamu bersikap keras lagi berhati kasar, tentulah mereka menjauhkan diri dari sekelilingmu. Karena itu maafkanlah mereka, mohonkanlah ampun bagi mereka, dan bermusyawaratlah dengan mereka dalam urusan itu. Kemudian apabila kamu Telah membulatkan tekad, Maka bertawakkallah kepada Allah. Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang bertawakkal kepada-Nya. (Surah 3:159)

Lalu bagaimana menjadikan keluarga kita terhindari dari godaan Iblis dan anak-anak menjadi generasi penerus yang sholeh dan sholeha tanpa ada unsur amarah di dalamnya?

1. Orangtua atau Pendidik Harus Qurani

Maksudnya ialah orang tua atau pendidik harus Qur’ani terlebih dahulu dalam berbagai kehidupannya. Artinya sikap dan tingkah lakunya harus sesuai dengan Al-Qur’an sebagai aturan dan petunjuk hidup. Yang menjadi catatan penting bagi orang tua dan pendidik bahwa anda adalah orang yang selalu dicontoh dan ditiru oleh anak anda. Oleh sebab itu, hendaknya anda senantiasa berusaha menularkan energi kebaikan tadi demi memuaskan hasrat dan dahaga anak.

Lalu bagaimana caranya menjadi orang tua dan pendidik yang Qur’ani? Jawabannya hanya ada satu, yakni orang tua dan pendidik harus benar-benar mengikuti aturan-aturan Tuhan yang terkandung dalam Al-Qur’an serta dibuktikan dengan perbuatan sebagai implementasi dari aturan tadi.

Lihat Juga :  Stop Mendidik Anak dengan Caci Maki, Jadilah Orangtua yang Kuat

Karena Al-Qur’an adalah kitab suci, secara logika yang menerimanya pun harus suci atau bersih. Artinya jiwa yang ada di dalam harus dijaga kesuciannya, terlebih kepada kemusyrikan. Karena kemusyrikan hakikatnya adalah najis, dan najis sendiri adalah kotor tidak suci.

Jikalau jiwa itu kotor, maka sudah barang tentu Firman Allah yang mahaSuci tidak akan sampai ke dalam diri yang kotor. Karena hanya jiwa bersih dan sucilah yang bisa menerima Firman Allah yang suci.

Sesungguhnya Al-Quran Ini adalah bacaan yang sangat mulia, Pada Kitab yang terpelihara (Lauhul Mahfuzh), Tidak menyentuhnya kecuali orang-orang yang
disucikan. (Surah 56:77-79)

Lalu bagaimana cara membersihkan jiwa tersebut? Caranya adalah dengan jalan taqwa. Bukankah dengan taqwa tadi menjauhkan manusia dari kesalahan-kesalahan serta mengampuni dosa, sesuai surah 8:29 yang ditulis tadi. Sedekah adalah salah satu elemen taqwa dan jalan menuju kesucian, sesuai surah 9:103-104, 2:271. Dibaca aja ya Qur’an nya . Jadi biar menjadi orang tua dan pendidik Qur’ani caranya dengan mengikuti aturan Tuhan, dimulia dengan membaca, mempelajari, memahami, melaksanakan, mensyiarkan dan melestarikan aturan-aturan Tuhan tadi. Dibuktikan dengan jalan taqwa dan berbuat baik.

2. Hadirkan Energi Tuhan

Hadirkan energi Tuhan maksud adalah berupaya mengundang energi Allah yang bersifat maha Ar-Rohman wa Ar-Rohim ke dalam rumah kita masing-masing. Sehingga energi tersebut senantiasa bersemayam dalam hati dan pikiran kita dan keluarga kita. Energi Tuhan adalah energi kebaikan, karena sesungguhnya Tuhan itu adalah kasih dan sayang dan Tuhan juga yang mengajarkan manusia kebaikan.

Katakanlah: “Kepunyaan siapakah apa yang ada di langit dan di bumi.” Katakanlah: “Kepunyaan Allah.” Dia Telah menetapkan atas Diri-Nya kasih sayang. Dia sungguh akan menghimpun kamu pada hari kiamat yang tidak ada keraguan padanya. orang-orang yang meragukan dirinya mereka itu tidak beriman. (Surah 6:12)

Katakanlah: “Serulah Allah atau Serulah Ar-Rahman. dengan nama yang mana saja kamu seru, dia mempunyai Al asmaaul husna (nama-nama yang terbaik) dan janganlah kamu mengeraskan suaramu dalam shalatmu dan janganlah pula merendahkannya, dan carilah jalan tengah di antara kedua itu”. (Surah 17:110)

3.Hindarkan Energi Iblis

Hindari energi Iblis bermaksud tidak melakukan perbuatan jahat atau tidak melakukan pekerjaan Setan. Karena sumber kejahatan berasal dari pada Iblis yang berwujud Setan. Dan Setan sendiri musuh nyata bagi manusia yang senantiasa berusaha menyesatkan manusia dengan segala tipu daya. Tuh musuh nyata berarti keliatan donk, nanti kita buktikan keliatan apa ngak hehehehe?

Bukankah Aku Telah memerintahkan kepadamu Hai Bani Adam supaya kamu tidak menyembah syaitan? Sesungguhnya syaitan itu adalah musuh yang nyata bagi kamu”, (Surah 36:60)

Sesungguhnya Setan itu adalah musuh yang nyata bagi kamu. Allah yang bilang bukan penulis, penulis hanya ikut kata Tuhan aja. Jika mau bukti, kita liat dulu ciri-cirinya.

– Iblis atau Setan itu tak mau tunduk patuh terhadap Tuhannya, malahan sombong, angkuh dan merasa lebih baik dari yang lain (Surah 38:71-76).

– Setan itu membisik-bisikan
perkataan yang indah untuk menipu manusia serta tak mau menolong manusia lainnya (Surah 25:29)

– Setan itu menyuruh kikir dan menakut-nakuti akan halnya kemiskinan (Surah 2:268).

– Setan itu menimbulkan perselisihan di antara manusia dan menyalakan api permusuhan dan kebencian (Surah 17:53, 5:91)

– Setan tidak mau tanggung jawab (Surah 4:119-120, 59:16)

– Setan menyuruh berbuat keji dan mungkar (Surah 24:21)

4. Ajarkan Al-Qur’an

Hal selanjutnya agar keluarga kita terhindar dari godaan dan bisikan setan dan menjadikan generasi penerus yang sholeh dan sholeha tanpa mencampurkan amarah. Yakni ajarkan Al-Qur’an. Biar tidak meninggalkan keturunan yang lemah maka ajarkanlah ketaqwaan dan perkataan yang baik (benar). Perkataan yang baik ialah Al-Qur’an itu sendiri.

Allah Telah menurunkan perkataan yang paling baik (yaitu) Al Quran yang serupa (mutu ayat-ayatnya) lagi berulang-ulang, gemetar karenanya kulit orang-orang yang takut kepada Tuhannya, Kemudian menjadi tenang kulit dan hati mereka di waktu mengingat Allah. Itulah petunjuk Allah, dengan Kitab itu dia menunjuki siapa yang dikehendaki-Nya. dan barangsiapa yang disesatkan Allah, niscaya tak ada baginya seorang pemimpinpun. (Surah 39:23)

Al-Qur’an adalah cahaya yang terang benderang, petunjuk hidup untuk manusia. Manusia yang mengikuti cahaya tersebut niscaya hidupnya tidak akan gelap. Cahaya itulah yang akan menuntunnya kepada kebaikan. Sekarang semuanya ada di manusia, Tuhan telah memberikan jalan hidup, mau ikut cahaya ya akan terang dan jika tidak mau ikut bersiap mendapatkan gelap.(*)

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top button