TAFSIR & HADIST

Rasi Bintang

ASSAJIDIN.COM — Dalam Al-Quran surah Al-Hijr ayat 16, Allah SWT berfirman,

وَلَقَدْ جَعَلْنَا فِى ٱلسَّمَآءِ بُرُوجًا وَزَيَّنَّٰهَا لِلنَّٰظِرِينَ

“Dan sungguh, Kami telah menciptakan gugusan bintang di langit dan men-jadikannya terasa indah bagi orang yang memandang(nya).”

“Kemudian, ayat serupa juga termaktub dalam surah Al-Buruj ayat 1, Allah SWT berfirman,

وَٱلسَّمَآءِ ذَاتِ ٱلْبُرُوجِ

“Demi langit yang mempunyai gugusan bintang.”

Tafsir Ibnu Katsir menjelaskan tentang surah Al Hijr ayat 16 bahwasanya Allah SWT menyebutkan tentang penciptaan langit yang ditinggikan dan apa yang digunakan untuk menghiasnya berupa bintang-bintang yang tetap bagi orang yang merenungi dan terus melihatnya sebagai sesuatu yang dilihat sebagai keajaiban dan tanda-tanda kekuasaan yang jelas dan membuat terpesona orang yang memandangnya.

Sedangkan dalam Tafsir Jalalayn disebutkan,

(Dan sesungguhnya Kami menciptakan gugusan bintang-bintang di langit) yang berjumlah dua belas, yaitu: Aries, Taurus, Gemini, Cancer, Leo, Virgo, Libra, Scorpio, Sagitarius, Capricorn, Aquarius dan Pisces.

Bintang-bintang tersebut merupakan garis-garis peredaran daripada tujuh bintang yang beredar, yaitu Mars mempunyai garis edar pada bintang Aries dan bintang Scorpio; Venus mempunyai garis edar pada bintang Taurus dan bintang Libra; Utarid mempunyai garis edar pada bintang Gemini dan bintang Virgo; bulan mempunyai garis edar pada bintang Cancer; matahari mempunyai garis edar pada bintang Leo; Jupiter mempunyai garis edar pada bintang Sagitarius dan Pisces; Saturnus mempunyai garis edar pada bintang Capricorn dan Aquarius

Lihat Juga :  Siapa yang Mengikuti Petunjuk Allah Pasti akan Bahagia

(dan Kami telah menghiasi langit itu) dengan bintang-bintang yang gemerlapan (bagi orang-orang yang memandang).

 

Rasi Bintang 

Merangkum Buku Pintar Sains dalam Al-Qur’an karya Nadiah Thayyarah dijelaskan, rasi bintang atau zodiak (burj, buruj) adalah kumpulan bintang yang berjumlah dua belas dan masing-masing mempunyai bentuk tertentu.

Rasi bintang di langit adalah jalan yang bersifat statis dan sudah ditentukan bagi planet-planet. Artinya planet-planet pasti beredar pada jalurnya dan tidak bisa menyimpang dari jalan itu.

Jalan pada rasi bintang ini saling terkait dan teratur. Sama halnya seperti seluruh planet lain, termasuk bulan dan juga matahari.

Hal ini dijelaskan dalam Al-Quran surah Yasin ayat 40,

لَا ٱلشَّمْسُ يَنۢبَغِى لَهَآ أَن تُدْرِكَ ٱلْقَمَرَ وَلَا ٱلَّيْلُ سَابِقُ ٱلنَّهَارِ ۚ وَكُلٌّ فِى فَلَكٍ يَسْبَحُونَ

“Tidaklah mungkin bagi matahari mendapatkan bulan dan malampun tidak dapat mendahului siang. Dan masing-masing beredar pada garis edarnya.”

Merangkum tafsir ringkas Kementrian Agama RI, surah Yasin ayat 40 ini menjelaskan tentang sunnatullah yang telah Dia tetapkan.

Lihat Juga :  Namimah

Tidaklah mungkin bagi matahari mengejar bulan sehingga keduanya bertabrakan, dan malam pun tidak dapat mendahului siang. Masing-masing beredar pada garis edarnya yang telah digariskan untuknya.

Secara umum, manusia bisa melihat dengan mata telanjang sekitar enam ribu bintang yang tersebar di langit pada saat cuaca cerah.

Melansir Detik.com, Allah SWT menciptakan bintang-bintang bukan sekedar hiasan semata, tentu ada hikmahnya. Salah satu manfaat yang bisa dirasakan manusia dengan adanya gugusan rasi bintang ini adalah sebagai penunjuk arah.

Sejak zaman dahulu, manusia telah belajar mengenali bintang dan menggambar peta langit untuk menentukan posisi bintang-bintang.

Tujuannya yakni untuk membantu menentukan arah. Misalnya seperti bintang Kutub Utara yang membantu menunjukkan arah Utara.

Hingga saat ini, di zaman serba modern, gugusan rasi bintang masih tetap diandalkan oleh beberapa orang untuk menentukan arah.

Contohnya seperti nelayan tradisional yang berlayar malam hari atau musafir yang berada di perjalanan namun jauh dari pemukiman.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top button