CATATAN REDAKSIHAJI & UMROH

CATATAN TERHADAP GELAR “HAJI”

ASSAJIDIN.COM –Ada kebiasaan di masyarakat kita yang sudah menjadi tradisi turun-temurun, yaitu memberikan gelar haji kepada mereka yang sudah naik haji. Sebaiknya gelar ini tidak digunakan, karena jika tidak disematkan lebih mengantarkan kepada puncak keikhlasan.

Berikut beberapa catatan mengenai “gelar haji”:

1. Sebaiknya tidak menggunakan gelar haji untuk lebih menjaga keikhlasan. Tidak perlu orang lain tahu bahwa kita sudah naik haji. Bahkan ada beberapa orang (semoga Allah mengikhlaskan niat mereka), tidak mau dan bahkan marah jika tidak dipanggil dengan gelar haji atau dalam namanya tidak ada singkatah “H” atau “Hj” yang berarti haji dan hajah, misalnya Haji Fulan dan Hajah Fulanah.

2. Gelar haji pun tidak ada contoh dan tuntunananya dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dan para sahabat, serta para imam dan ulama-ulama sebelum kita.

3. Ibadah haji adalah ibadah yang agung, butuh pengorbanan harta yang tidak sedikit dan pengorbanan fisik. Kesempatannya juga cukup langka. Hendaknya amalan tersebut diikhlaskan kepada Allah semata. Perlu kita ingat bahwa orang yang pertama kali dimasukkan neraka adalah orang yang niatnya tidak ikhlas, beribadah karena riya dan pujian manusia. Karena ini merupakan syirik yaitu menyekutukan Allah dalam niat ibadah.

Lihat Juga :  Daftar Harga Hewan Kurban Idul Adha 2024 di Palembang

Ingatlah sebagaimana dalam hadits, di akhirat kelak akan dipanggil tiga orang yang amalnya sangat banyak, pertama sering membaca Al-Quran, kedua sering berjihad dan ketiga sering berinfak di jalan Allah. Akan tetapi mereka beribadah ternyata karena pujian dan dan riya’ kepada manusia. Maka mereka adalah orang yang pertama kali masuk neraka.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

يَا أَبَا هُرَيْرَةَ أُولَئِكَ الثَّلَاثَةُ أَوَّلُ خَلْقِ اللَّهِ تُسَعَّرُ بِهِمْ النَّارُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ

_”Wahai Abu Hurairah, mereka bertiga adalah makhluk Allah yang pertama kali disiksa dengan api neraka di hari kiamat.”_ [HR. Ibnu Khuzaimah]

4. Lebih baik kita mengikhlaskan niat kita. Karena jika sampai rusak maka pahalanya akan sia-sia dan terhapus, padahal pengorbanan sudah begitu banyak.

Allah Ta’ala berfirman,

وَقَدِمْنَا إِلَى مَا عَمِلُوا مِنْ عَمَلٍ فَجَعَلْنَاهُ هَبَاءً مَنْثُوراً

_“Dan Kami datang kepada amalan yang mereka kerjakan, lalu Kami jadikan amal itu (bagaikan) debu yang beterbangan.”_ (QS. Al Furqan: 23)

Lihat Juga :  Alhamdulillah Perdana, 3.000 Daging Kambing Dam Petugas dan Jemaah Haji Dikirim ke Tanah Air

5. Yang paling penting dari ibadah haji adalah kelanjutan setelahnya, bukan gelar haji setelahnya. Selepas naik haji, hendaknya ibadah kita tetap istiqamah, rajin shalat berjamaah di masjid, tetap shalat malam, menjaga perkataan dan perbuatan serta berhias dengan akhlak yang mulia yang membuat lapang hati manusia. Intinya adalah tetap istiqamah.

Rasulullah shallallahu ’alaihi wa sallam bersabda,

أَحَبُّ الأَعْمَالِ إِلَى اللَّهِ تَعَالَى أَدْوَمُهَا وَإِنْ قَلَّ

_”Amalan yang paling dicintai oleh Allah Ta’ala adalah amalan yang terus-menerus walaupun itu sedikit.”_ [HR. Muslim no. 783]

6. Terkadang gelar “haji & hajjah” berguna juga dan bisa sesekali digunakan saat-saat tertentu semisal ketika akan berdakwah di suatu kampung yang mereka lebih mendengar dan menghormati yang sudah berhaji, maka tidak mengapa disematkan gelar haji saat itu saja.

Semoga Allah selalu mengikhlaskan niat kita dan semoga jamaah haji kaum muslimin selalu berusaha menjaga niat ikhlas mereka. Amin ya mujiibas saa-ilin. (*)

Ust dr. Raehanul Bahraen, MScSpPK حفظه الله

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top button