TAFSIR & HADIST

Takut Miskin Itu Senjata Setan

وَلَا تَقْتُلُوْٓا اَوْلَادَكُمْ خَشْيَةَ اِمْلَاقٍۗ نَحْنُ نَرْزُقُهُمْ وَاِيَّاكُمْۗ اِنَّ قَتْلَهُمْ كَانَ خِطْـًٔا كَبِيْرًا

“Dan janganlah kamu membunuh anak-anakmu karena takut kemiskinan. Kamilah yang akan memberi rezeki kepada mereka dan juga kepadamu.” 

(QS al-Isra [17]: 31)

 

 

ASSAJIDIN.COM — Mengutip quran.nu.or.id dan Republika.co.id, berikut tafsir dari ayat di atas :

– Tafsir Tahlili 

Kemudian Allah SWT melarang kaum Muslimin membunuh anak-anak mereka, seperti yang telah dilakukan oleh beberapa suku dari bangsa Arab Jahiliah.

Mereka menguburkan anak-anak perempuan karena dianggap tidak mampu mencari rezeki, dan hanya menjadi beban hidup saja.

Berbeda dengan anak laki-laki yang dianggap mempunyai kemampuan untuk mencari harta, berperang, dan menjaga kehormatan keluarga. Anak perempuan dipandang hanya akan memberi malu karena bisa menyebabkan kemiskinan dan menurunkan martabat keluarga karena kawin dengan orang yang tidak sederajat dengan mereka.

Apalagi dalam peperangan, anak perempuan tentu akan menjadi tawanan, sehingga tidak mustahil akan mengalami nasib yang hina lantaran menjadi budak.

Oleh karena itu, Allah SWT melarang kaum Muslimin meniru kebiasaan Jahiliah tersebut, dengan memberikan alasan bahwa rezeki itu berada dalam kekuasaan-Nya. Dia yang memberikan rezeki kepada mereka.

Apabila Dia kuasa memberikan rezeki kepada anak laki-laki, maka Dia kuasa pula untuk memberikannya kepada anak perempuan.

Allah menyatakan bahwa takut pada kemiskinan itu bukanlah alasan untuk membunuh anak-anak perempuan mereka.

Di akhir ayat ini, Allah SWT menegaskan bahwa membunuh anak-anak itu adalah dosa besar, karena hal itu menghalangi tujuan hidup manusia.

Tidak membiarkan anak itu hidup berarti memutus keturunan, yang berarti pula menumpas kehidupan manusia itu sendiri dari muka bumi.

Hadist Nabi SAW berikut ini menggambarkan betapa besarnya dosa membunuh anak:

Diriwayatkan dari ‘Abdullah bin Mas’ud bahwa ia bertanya, “Wahai Rasulullah, dosa manakah yang paling besar? 

Rasulullah menjawab, “Bila engkau menjadikan sekutu bagi Allah, padahal Allah itulah yang menciptakanmu.” 

Saya bertanya lagi, “Kemudian dosa yang mana lagi?” 

Rasulullah SAW menjawabnya, “Bila engkau membunuh anakmu karena takut anak itu makan bersamamu.” 

Saya bertanya lagi, “Kemudian dosa yang mana lagi?”

Rasulullah SAW menjawabnya, “Engkau berzina dengan istri tetanggamu.” (HR al-Bukhari dan Muslim)

Lihat Juga :  Nasehat Luqman kepada Anaknya

Di samping itu, dapat dikatakan bahwa tindakan membunuh anak karena takut kelaparan adalah termasuk berburuk sangka kepada Allah. Bila tindakan itu dilakukan karena takut malu, maka tindakan itu bertentangan dengan nilai-nilai kemanusiaan, karena mengarah pada upaya menghancur-kan kesinambungan eksistensi umat manusia di dunia.

Selain mengungkapkan kebiasaan jahat yang dilakukan oleh orang-orang Arab di masa Jahiliah, ayat ini juga mengungkapkan tabiat mereka yang sangat bakhil.

– Tafsir Ibn Katsir

Dalam Tafsir Ibn Katsir, ayat tersebut menunjukkan bahwa Allah sang sayang kepada hamba-hamba-Nya melebihi kasih sayang orang tua kepada anaknya. Allah mengedepankan perhatian terhadap rezeki anak-anak orang tua tersebut (hamba Allah) di saat orang tuanya hendak membunuh anaknya ketika tiada harta yang sanggup untuk diwariskan.

Kemiskinan bukanlah sesuatu yang perlu ditakutkan. Jangan sampai kita takut miskin atau tidak bisa makan. Jangan sampai selalu terbetik dalam hati kita, “Besok kita makan apa?”

Jangan takut! Yang penting kita berusaha mencari rezeki dengan cara yang halal, berdoa dan bertawakal kepada Allah.

Karena sesungguhnya Allah SWT telah menjamin rezeki seluruh makhluk-Nya. “Dan tidak ada suatu yang melata pun (yakni manusia dan hewan) di muka bumi melainkan Allah-lah yang memberi rezekinya.” (QS Huud [11]: 6)

Bagi siapapun yang tengah merasakan ketakutan akan jatuh miskin, sejenak menengok petuah hikmah dari Syekh Imam Ibn Rajab dalam Kitab Jami’ul Ulum wa Hikam:

“Kau takut miskin? Abu Hazim menjawab, pelindungku adalah pemilik apa yang ada di bumi, apa yang ada di langit, dan apa yang ada di antara keduanya, serta apa yang ada di bawah tanah. Kenapa aku harus takut?”

Lihat Juga :  Benteng Pembatas Ya’juj dan Ma’juj

Keterangan ini mengingatkan kita akan Mahabesarnya Allah. Allah sang pemiliki jagad raya ini. Allah yang punya. Jika benar kita merasa dan mengakui bahwa Allah adalah pelindung dalam kehidupan ini, mengapa masih merasa takut miskin.

 

Senjata Setan 

Ternyata perasaan takut miskin adalah senjata setan untuk mengalahkan orang-orang beriman. Sehingga pelan – pelan langkahnya dibatasi dan infaknya dikurangi.

Setidaknya, mengutip rumahamal.org ada dua cara untuk melatih diri agar bisa sepenuhnya berserah kepada Allah dalam urusan dunia.

1. Bertawakal kepada Allah dengan sungguh-sungguh

“Seandainya kalian sungguh-sungguh bertawakal kepada Allah, sungguh Allah akan memberi kalian rezeki sebagaimana Allah memberi rezeki kepada seekor burung yang pergi dalam keadaan lapar dan kembali dalam keadaan kenyang. “ (HR.Tirmidzi, hasan shahih).

2. Sering melihat ke bawah bukan ke atas

“Lihatlah orang yang berada di bawahmu (dalam masalah harta dan dunia) dan janganlah engkau lihat orang yang berada di atasmu. Dengan demikian, hal itu akan membuatmu tidak meremehkan nikmat Allah padamu.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Semoga dengan begitu, kita lebih bersyukur atas pemberian Allah, lalu memaksimalkan berjuang di jalan-Nya. Kemudian kita bisa melangkah dengan yakin tanpa takut miskin.

Imam Sufyan Ats Tsauri menyebutkan, jauhkan dirimu dari perasaan takut miskin. Setan tidak mempunyai senjata untuk memerangi anak keturunan Adam yang lebih ampuh dari pada perasaan takut miskin.

Jika dia sudah takut miskin, dia akan berani berbuat kebatilan, menolak kebenaran, berbicara sesuai hawa nafsu, dan berprasangka buruk terhadap Tuhannya. Akibatnya, dia akan memanen segala macam keburukan.

 

Wallahu a’lam.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top button