BERITA TERKINI

Harta Hasil Korupsi Ibarat Membangun Keluarga Diatas Neraka

AsSajidin.com Palembang — Belum lekang dari ingatan, kasus korupsi yang menyeret salah satu Komisioner KPU Wahyu Setiawan terkait kasus dugaan suap yang melibatkan caleg Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDIP) Harun Masiku dari daerah pilih Sumatera Selatan (Sumsel)  1 dalam rangkaian OTT yang dilakukan 8 Januari 2020. Kini Sumsel kembali diterpa dengan penangkapan Wakil Bupati Ogan Komering Ulu (OKU) Johan Anwar dalam kasus dugaan mark- up tanah kuburan di TPU Baturaja 2012 lalu dengan kerugian negara mencapai Rp 3,49 Miliar.

“ Meski perkara korupsi telah menjadi hal biasa di negeri ini, setidaknya keluarga harus menjadi benteng pertahanan terakhir dalam memberantasnya, “ ujar Abi Quraish Shihab

Ia mempertagas pernyataan tersebut dengan  mengatakan bahwa, makanan yang diperoleh dari harta hasil korupsi bisa berdampak buruk terhadap karakter anaknya dan harta itu termasuk haram.

Makna dari haram yaitu jika seseorang melakukan perbuatan tertentu maka ia akan mendapatkan dosa, oleh sebab itu maka, sebagai orangtua, Ia harus memberikan makanan halal dan berdoa kepada Allah SWT agar anak-anaknya sukses.

“  Peran istri dan anak sangat penting untuk mewujudkan jihad antikorupsi. Istri dan anak-anak harus menghalangi sang Ayah untuk berbuat demikian,” ujarnya.

Lalu mengapa banyak orang yang tidak takut korupsi? Berikut AsSajidin akan membahasnya secara tuntas !

Allah SWT berfirman dalam QS: Al-Baqarah :188 :  “Dan janganlah sebahagian kamu makan harta sebagian yang lain di antara kamu dengan jalan yang batil dan janganlah kamu membawa urusan harta itu ke hakim, supaya kamu dapat memakan sebagian dari harta benda orang lain itu dengan jalan berbuat dosa padahal kamu mengetahui.” (QS. Al-Baqarah, 188).

Dalam ayat diatas, secara tegas dikatakan bahwa memakan harta orang lain secara batil, maka akibatnya adalah dosa besar. Dan tempat orang yang melakukan dosa besar itu adalah neraka jahannam.

“ Sangat disayangkang, barangkali sudah diketahui banyak orang akan hal ini, bahkan mungkin yang menghafal ayat ini sendiri juga pelaku korupsi,” kata Quraish Shihab sembari menyayangkan perilaku pelaku korupsi yang mengingkari ayat Tuhannya.

Ia menjelaskan, perbuatan korupsi dalam pandangan agama sangat tidak dibenarkan. Oleh karena , hal itu menyangkut dengan rezeki halal yang harus mereka makan. Jika korupsi makanan yang mereka peroleh bukan dari rezeki yang halal akibatnya, secuil makanan yang haram akan mengendap dalam perut seseorang.

Lihat Juga :  Dewan Keamanan PBB Akan Lakukan Voting Terkait Status Yerusalem

“ Coba banyangkan, bagaimana setiap hari kau suapi anak istrimu dengan yang haram. Lalu kau meminta kepada Allah untuk segala kebaikan sementara, harta dari korupsi itu,  tumbuh bersama daging dan darah.. Bayangkan jika uang haram tersebut lalu dibelanjakan untuk memenuhi kebutuhan anak dan istrimu,” ungkapnya.

Sungguh kata dia, ancaman bagi pemakan harta yang haram sangatlah berat. Bukan hanya azab dihari akhirat nantinya. Namun juga azab atau siksaan tersebut ada yang langsung ditampakkan didunia.

“ Banyak loh, hidup para pelaku korupsi itu tidak bahagia, padahal hartanya banyak. Karena jabatan yang diperoleh dengan cara suap menyuap, maka jabatannya itu tidak berkah, atau jabatan itu semakin membuat mereka jauh dengan Tuhannya, itu yang disayangkan,” bebernya.

Senada dengan hal itu, Ustadz Abdul Somad (UAS) dalam salah satu tausiyahnya pernah menjelaslankan bahwa,  sebenarnya Allah SWT  telah memperingatkan dalam beberapa ayat Al Quran diantaranya :  Allah SWT berfirman dalam  QS An-Nisa’ 4:29 : “  Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu saling memakan harta sesamamu dengan jalan yang batil, kecuali dengan jalan perniagaan yang berlaku dengan suka sama-suka di antara kamu.

Dan dari ayat yang lain, termaktub dalam  QS Al-Maidah :42 Allah SWT berfirman: Mereka itu adalah orang-orang yang suka mendengar berita bohong, banyak memakan yang haram.

Dalam QS Al-Maidah :2 Allah SWT pun berfirman ” Dan tolong-menolonglah kamu dalam (mengerjakan) kebajikan dan takwa, dan jangan tolong-menolong dalam berbuat dosa dan pelanggaran.

Bahkan kata UAS, Imam Ahmad bin Hanbal pun menyuarakan  keharaman dalam memakai harta korupsi yakni “apa yang diharamkan mengambilnya, maka haram juga untuk memberikan atau memanfaatkannya.”

“ Oleh sebab itu maka, pelaku korupsi tidak luput dari keburukan dan juga mudharat yang menimpanya di dunia maupun akhirat,” jelasnya.

Diantara keburukan tersebut  adalah:

  1. Pelaku Ghulul Akan Dibelenggu

Pelaku ghulul atau korupsi akan dibelenggu atau akan membawa hasil dari korupsi di hari kiamat seperti yang ditunjukkan pada ayat ke-161 Surat Ali Imran dan juga hadits ‘Adiy bin ‘Amirah Radhiyallahu ‘anhu. Sedangkan dalam hadits Abu Humaid as Sa’idi Radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Demi (Allah), yang jiwaku berada di tanganNya. Tidaklah seseorang mengambil sesuatu daripadanya (harta zakat), melainkan dia akan datang pada hari Kiamat membawanya di lehernya. Jjika (yang dia ambil) seekor unta, maka (unta itu) bersuara. Jika (yang dia ambil) seekor sapi, maka (sapi itu pun) bersuara. Atau jika (yang dia ambil) seekor kambing, maka (kambing itu pun) bersuara …”

  1. Korupsi Penyebab Kehinaan dan Siksa Api Neraka
Lihat Juga :  Pesan Menhan Jenderal TNI (Purn) Ryamizard Ryacudu untuk Prajurit di HUT Kodam II Sriwijaya

Korupsi juga menjadi penyebab dari kehinaan serta siksa api neraka di hari kiamat. Pada hadits Ubadah bin ash Shamit Radhyyallahu ‘anhu, jika Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda dengan arti, “(karena) sesungguhnya ghulul (korupsi) itu adalah kehinaan, aib dan api neraka bagi pelakunya”.

  1. Mati Saat Korupsi Akan Terhalang Masuk Surga

Seseorang yang mati saat membawa harta korupsi atau ghulul maka ia tidak mendapat jaminan atau terhalang masuk surga. Hal tersebut juga dipahami dari sabda Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam, “Barangsiapa berpisah ruh dari jasadnya (mati) dalam keadaan terbebas dari tiga perkara, maka ia (dijamin) masuk surga. Yaitu kesombongan, ghulul (korupsi) dan hutang”.

4.Allah Tidak Menerima Shadaqah Korupsi

Allah SWT juga tidak akan menerima shadaqah seseorang dari hasil harta ghulul atau korupsi.

  1. Hasil Korupsi Adalah Haram

Harta yang didapatkan dari hasil korupsi merupakan haram sehingga ia akan menjadi salah satu dari penyebab yang bisa menghalangi terkabulnya doa seperti yang dipahami pada sabda Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam, ” Wahai manusia, sesungguhnya Allah itu baik, tidak menerima kecuali yang baik. Dan sesungguhnya Allah memerintahkan orang-orang yang beriman dengan apa yang Allah perintahkan kepada para rasul. Allah berfirman,”Wahai para rasul, makanlah dari yang baik-baik dan kerjakanlah amal shalih. Sesungguhnya Aku Maha Mengetahui apa yang kalian kerjakan“.

  1. Tertolaknya Doa
    Dia (Allah) juga berfirman: “Wahai orang-orang yang beriman, makanlah yang baik-baik dari yang Kami rizkikan kepada kamu,” kemudian beliau (Rasulullah) Shallallahu ‘alaihi wa sallam menceritakan seseorang yang lama bersafar, berpakaian kusut dan berdebu. Dia menengadahkan tangannya ke langit (seraya berdo’a): “Ya Rabb…, ya Rabb…,” tetapi makanannya haram, minumannya haram, pakaiannya haram dan dirinya dipenuhi dengan sesuatu yang haram. Maka, bagaimana do’anya akan dikabulkan?”.

Editor : Jemmy Saputera

 

 

Close