SOSOK

Kisah Mualaf yang Berjuang Penuh Liku dan Akhirnya Mendapat Predikat Lulus dengan Pujian Jurusan Sendratasik

 

ASSAJIDIN.COM — Predikat lulus dengan pujian di Jurusan Sendratasik (seni, drama, tari dan musik) bukanlah hal mudah. Tetapi, inilah yang berhasil diraih oleh perempuan yang belum lama mualaf,  Tri Handayani, S.Pd.

Tri Handayani yang baru satu tahun memeluk agama islam, menjadi salah satu mahasiswi predikat lulus terbaik dengan IPK 3,62. Yudisium dan pelantikan sarjana strata 1(S1) Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan Universitas PGRI Palembang, dilaksanakan Kamis (18/07/2019).

Tidak pernah terpikirkan walaupun banyak lika liku yang dihadapi selama proses perkuliahan.

Dengan pakaian berwarna abu-abu dan cadar yang digunakan, Terlihat kebahagian terpancar dengan hadirnya kedua orang tua angkat, Ustad H Umar Said dan istri Niam Muflikhah serta  keluarganya Ekalastri yang  selama ini membantu dalam proses hijrah.

“Saya berterima kasih sekali atas bantuan dan bimbingan yang diberi bapak dan ibu kepada saya sampai di titik ini,” katanya.

Sejak duduk di kelas dua SMA, pencarian agama sebenarnya telah dilakukannya. Bahwasanya, hidayah tersebut tidak ditunggu tetapi dijemput. Dengan izin Allah, qodarullah diperkuliahan semester enam tepatnya 11 Januari 2018 ia memutuskan untuk menjemput hidayah tersebut dengan mengucapkan kalimat syahadat.

Lihat Juga :  Ujung Oppa yang Sangat Cinta Indonesia, Mualaf dan Ingin Umroh

Terdapat Banyak lika liku yang dirasakan gadis yang berasal dari desa Sukaraja, kec. Muaradua Kisam, kab. OKU Selatan ini. Sejak kedua orang tua mengetahui hijrah memeluk islam, saat itu juga mereka memutuskan biaya perkuliahan bahkan kendaraan motor pun ditarik.

“Saat itu terpikirkan untuk berhenti kuliah, namun saya tetap berusaha sendiri dan berkat pertolongan Allah dan dengan dukungan sahabat dan dosen yang berusaha untuk menguatkan agar tetap menyelesaikan perkuliahan, juga saya dipertemukan dengan ustadz Umar dan ibu yang sudah saya anggap orangtua sendiri,m dan memberikan bantuannya,” katanya.

Ia mengatakan sejak ia memutuskan hijrah pada saat semester akhir perkuliahan terdapat beberapa hambatan yang ditemui, seperti bertemu dengan mata kuliah praktek.
“di semester akhir, saya fokus di bidang musik , dengan penampilan saya seperti ini, ada teman teman yang mencemooh, seperti berkata ‘ini bukan pengajian mbak, ini seni musik’, namun, hal tersebut saya tanggapi dengan senyuman,” katanya.

Lihat Juga :  Innalillahi Wainnailaihi Rojiun, Artis Shafira Indah Meninggal Saat Hamil 6 Bulan, Suami Menangis Saat Azankan di Liang Lahat

Namun, setelah mendapat gelar, kedapannya ia lebih memilih untuk berdakwah dan tidak meneruskan seni tari dan musik.
“Alsannya, karena ketika berkesenian banyak aktivitas di luar syariat islam, seperti ikhtilat (campur baur antar laki laki dan prempuan), alat musik seperti gitar yang mngandung Hadharah kaum kafir. Aktivitas menari, sebagai prempuan kita dilarang berlenggak lenggok di depan yang bukan mahram, boleh menari tetapi di depan mahram, atau sesama perempuan saja, Pengetahuan tersebut saya dapatkan ketika saya mengaji,” katanya.

Bagaimanapun predikat cumlaude akan menjadi kenangan bagi Tri, meski bidang ini akan ditinggalkan. “Saya akan lebih fokus dakwah dan meneruskan keilmuan guru yang pernah didapat,” tutupnya. (*)

Penulis : tri jumartini

Tags
Close