NASIONAL

Sedih, Siswa Meninggal Akibat Kegiatan MOS di Palembang, ini Kata Mendikbud

AsSAJIDIN.COM — Seorang siswa meninggal dunia usai mengikuti MOS di SMA Taruna Palembang. Diduga, siswa bernama DBJ (14 tahun) meninggal karena kelelahan.

Aswin selaku paman korban, di RS Bhayangkara Polda Sumsel, mengatakan, DBJ meninggal dunia diduga dianiaya kakak kelas dan tidak kuat mengikuti kegiatan MOS di sekolah yang menerapkan disiplin semimiliter itu. Keponakannya dikabarkan meninggal dunia setelah mengikuti kegiatan MOS dimulai Jumat (12/7) malam hingga Sabtu (13/7) dini hari.

Polisi telah memeriksa sejumlah saksi terkait meninggalnya DBJ. Kapolresta Palembang Komisaris Besar Polisi Didi Hayamansyah di Palembang, Senin, mengatakan, penyidik telah memeriksa sejumlah saksi mulai dari kepala sekolah hingga senior korban di sekolah tersebut.

“Semua saksi-saksi diperiksa terkait kegiatan selama MOS di sekolah tersebut,” kata Kapolresta.

Lihat Juga :  Buku 57 Khutbah Jumat Diduga Anut Paham Syiah, MUI Tunggu Hasil Kajian

Para saksi ini sudah diperiksa sejak Ahad (14/7) di ruang pemeriksaan Satreskrim Polresta secara intensif, di antaranya kepala sekolah dan pembina kegiatan sekolah. Menurut Kapolres, hasil dari penyidikan ini akan diumumkan secara resmi oleh Kapolda Sumsel Inspektur Jenderal Polisi Firli beserta instansi terkait sore ini.

“Sore ini hasil forensik keluar, kami akan rilis sama Bapak Kapolda, ada juga dari Kementerian terkait,” kata dia.

Terkait persoalan ini, Menteri Pendidikan dan Kebudayaan (Mendikbud) Muhadjir Effendy menanggapi meninggalnya seorang siswa di SMA Taruna Palembang setelah mengikuti masa orientasi siswa (MOS). Ia mengatakan, Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud) saat ini baru mendapat laporan awal terkait peristiwa tersebut dan akan memeriksanya lebih lanjut.

Lihat Juga :  Jamaah Reuni 212 Padati Monas

Muhadjir mengatakan, pada laporan awal yang ia terima di lokasi kejadian terdapat aparat yang menjaga. Oleh karena itu, seharusnya kegiatan yang dilakukan dapat lebih terukur dan tidak berbahaya bagi kesehatan para peserta didik.

Ia pun berharap yang terjadi di lapangan tidak terkait dengan penyimpangan aturan soal masa pengenalan lingkungan sekolah (MPLS). “Tapi, sekali lagi saya belum cek. Supaya lebih fair dan transparan ada baiknya aparat cek. Saya dapat laporan sebetulnya aparat sudah terlibat dalam kegiatan itu. Jadi, mestinya kegiatannya sangat terukur,” kata dia.

Lebih lanjut, Muhadjir mengungkapkan rasa belasungkawanya baik dari pribadi ataupun pemerintahan. “Mudah-mudaham orang tuanya diberi kesabaran, mengikhlaskan karena bagaimana pun anak adalah titipan dari Tuhan,” kata dia. (*/sumber: republika.co.id)

Tags
Close