Jadwal imsakiyah Wilayah Palembang

-- --- 2026

Imsak: --:--| Shubu: --:-- | Maghrib: --:--

LENTERA

Stop..!  Berbangga Diri, Karena Allah SWT Dengan Tegas Melarangnya

Lima Kerugian Bagi Para Pelakunya

AsSajidin.com— Allah SWT berfirman dalm QS: An-Najm (32) yang artinya,Jangan kalian memuji-muji diri kalian sendiri, karena Dia-lah yang paling tahu siapa yang bertaqwa.”. Dalam ayat tersebut dijelaskan, bahwa manusia selalu diajarkan untuk rendah hati, banyak bercermin, dan mengakui bahwa tak ada yang lebih dari dirinya selain Allah SWT, dan janganlah memuji diri sendiri.

“ Mereka yang suka membangga-banggakan diri hanya bisa menilai dirinya secara lahiriah, sementara batin mereka buta. Bukankah ada pepatah, Senjata yang paling ampuh untuk menghancurkan kejayaan seseorang bukan dengan pisau. Tetapi, hancurkanlah dengan pujian. Oleh sebab itu maka, seorang muslim hendaknya  jangan sesekali menjadikan pujian sebagai motivasi. Karena pujian justru bisa menjadi senjata yang mematikan bagi siapa saja yang terlena,” kata Ustadz Nur Ihksan, Pengasuh Pondok Pesantren Al Fatah , Selasa Sore (21/10/20).

Menurutnya, Islam tidak melarang untuk memuji diri sendiri hanya saja akan jauh lebih elok untuk tidak mengumbar kelebihan yang dimiliki baik secara material maupun spiritual.

“ Memuji diri sendiri merupakan perkara yang diperbolehkan dalam Islam, hanya saja jika tidak berhati-hati maka perbuatan tersebut bisa menjerumuskan pada perilaku riya’, yaitu memperlihatkan amal kebaikan demi tujuan ingin dipuji. Bahkan ditakutkan sikap riya’ tersebut bisa membuat seseorang sombong, yaitu sikap yang mengganggap dirinya yang paling sempurna, “ ujarnya .

Bahkan kata dia, Imam Nawawi dalam kitab al-Adzkar menjelaskan bahwa memuji dan menyebutkan kebaikan diri sendiri bisa dikatagorikan dalam dua macam;

Pertama, perbuatan tercela. Menyebutkan tentang diri sendiri bisa menjadi perbuatan tercela jika dilakukan untuk membanggakan diri dan sombong terhadap orang lain. Sebagaimana disebutkan di atas.

Kedua, perbuatan terpuji. Memuji dan menyebutkan kebaikan diri sendiri bisa menjadi hal terpuji jika dilakukan demi kemaslahatan, seperti untuk menasehati atau menunjukkan suatu hal baik, mengajarkan sesuatu yang bermanfaat, mengingatkan, untuk kemaslahatan dua belah pihak yang bertengkar, untuk membela diri dari keburukan dan sebagainya.

Lihat Juga :  Dua Macam Penasihat yang Paling Baik

Menurut Ustadz Nur perbuatan tercela yang dimaksud adalah bagian dari fenomena yang belakangan ini muncul  karena hanya ingin terkenal, katakanlah prank konten daging sampah dan prank sembako yang sempat menguras emosi kita.

“ Belakangan ini, kan banyak orang narsis. Baik di media sosial atau pun di dunia nyata. Mereka dengan bangga memuji diri sendiri, menunjukkan kehebatan, kekayaan, kecantikan, dan segala kemampuan yang dimililki,” ujarnya seraya mengatakan perbuatan menghina, melecehkan bahkan menipu menjadi sebuah trend yang lumrah demi mengejar pupularitas.

Sementara sebaliknya, bagi orang-orang yang sering dipuji orang lain sebaiknya tidak terbuai. Sebab pujian bisa jadi adalah ujian bagi diri kita untuk menjadi angkuh. Agar tidak terbuai pujian, sahabat Rsulullah SAW pernah memohon kepada Allah SWT,

Dari Adi bin Arthah –rahimahullah – (seorang ulama Tabi’in) beliau bercerita, “Dulu ada seorang sahabat Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, yang apabila dia dipuji mengucapkan,

Ya Allah, jangan Engkau menghukumku disebabkan pujian yang dia ucapkan, ampunilah aku, atas kekurangan yang tidak mereka ketahui. Dan jadikan aku lebih baik daripada penilaian yang mereka berikan untukku.” (HR. Bukhari -Adabul Mufrad no. 761).

Sementara dalam hadits lain  “ Ada Tiga hal yang membawa pada jurang kebinasaan: (1) tamak lagi kikir, (2) mengikuti hawa nafsu (yang selalu mengajak pada kejelekan), dan ujub (takjub pada diri sendiri).” (H.R. Abdur Razaq, hadist hasan)

Melansir Islampos.com. Sifat ‘ujub membawa akibat buruk dan menyeret kepada kehancuran, baik bagi pelakunya maupun bagi amal perbuatannya :

1.Membatalkan pahala

Seseorang yang merasa ‘ujub dengan amal kebajikannya, maka pahalanya akan gugur dan amalannya akan sia-sia karena Allah tidak akan menerima amalan kebajikan sedikitpun kecuali dengan ikhlas karena-Nya. Rasulullah s.a.w bersabda:

Lihat Juga :  One Day One Hadist: Peringatan Rasulullah untuk Kaum Ibu

“Tiga hal yang membinasakan : Kekikiran yang diperturutkan, hawa nafsu yang diumbar dan kekaguman seseorang pada dirinya sendiri.” (HR. Thabrani).

Nabi s.a.w bersabda, “Seseorang yang menyesali dosanya, maka ia menanti rahmat Allah. Sedang seseorang yang merasa ‘ujub, maka ia menanti murka Allah.” (HR. Baihaqi)

Perasaan ‘ujub menyebabkan murka Allah, karena ‘ujub telah mengingkari karunia Allah yang seharusnya kita syukuri.

3.Terjerumus ke dalam sikap ghurur (terperdaya) dan takabur.

Orang yang kagum pada diri sendiri akan lupa melakukan instropeksi diri. Bersamaan dengan perjalanan waktu, hal itu akan menjadi penyakit hatinya. Pada akhirnya ia terbiasa meremehkan orang lain atau merasa dirinya lebih tinggi daripada orang lain dan tidak mau menghormati orang lain. Itulah yang disebut takabur. Nabi s.a.w bersabda, ”Tidak akan masuk surga seseorang yang di dalam hatinya terdapat perasaan sombong meskipun hanya sebesar biji sawi. (HR. Nasa’i)

4.Menyebabkan mengumbar nafsu dan melupakan dosa-dosa

Seseorang yang mempunyai perasaan ‘ujub akan selalu menilai dirinya baik dan tidak pernah menilai dirinya buruk dan serba kekurangan, sehingga ia selalu mengumbar keinginan hawa nafsunya dan tidak merasa kalau dirinya telah berbuat dosa. Nabi bersabda, “Andaikan kalian tidak pernah berbuat dosa sedikitpun, pasti aku khawatir kalau kalian berbuat dosa yang lebih besar, yaitu perasaan ujub, ” (HR. Al Bazzar).

5.Menyebabkan orang lain membenci pelakunya.

Pada umumnya, orang tidak suka terhadap orang yang membanggakan diri, mengagumi diri sendiri, dan sombong. Oleh karena itu, orang yang ‘ujub tidak akan banyak temannya, bahkan ia akan dibenci meskipun luas ilmunya dan terpandang kedudukannya. Syeikh Mustafa As Sibai berkata, “Separuh kepandaian yang disertai tawadhu’ lebih disenangi oleh orang banyak dan lebih bermanfaat bagi mereka daripada kepandaian yang sempurna yang disertai kecongkakan.”

 

Back to top button