BERITA TERKINIOPINI

Uang Bukanah Segalanya Dalam Mengharungi Hidup Ini

Oleh: Emil Rosmali [ Pemimpin Umum AsSAJIDIN.COM ]

ASSAJIDIN.COM – HARTA (UANG), itulah fitnah dunia yang sangat sering berhasil mengecoh manusia. Parahnya, kaum muslim yang sudah mendapat contoh dari sang Teladan, Nabi Muhammad pun, masih bisa kalah oleh fitnah ini. Cerita di atas masih sangat mengena dalam pikiran. Betapa dunia saat ini sudah sangat parah.

Permasalahan harta menjadi semacam lingkaran setan yang tidak berujung. Dibidang apapun kita berada, pelanggaran hak dan egoisme pribadi untuk mendapat uang lebih banyak selalu saja terjadi. Padahal, apa yang diajarkan Rasulullah sangatlah jauh dari semua itu. Benarkah? Memang bagaimana Rasulullah mengajarkan??

Sudah selayaknya, kita sebagai umat Islam bersyukur karena Allah telah menurunkan seorang teladan yang sangat baik hingga tidak ada dosa dalam dirinya. Seorang teladan dari kalangan manusia. Memiliki unsur yang sama, jasad, ruh, dan akal. Apalagi yang masih membuat kita ragu untuk meniru beliau??

Beberapa LSM sebagimana yang di beritakan oleh sejumlah media di Indonesia, mencoba menjelaskan beberapa alasan kenapa masih banyak anak-anak jalanan yang mengamen dan mengemis padahal seharusnya mereka bisa melakukan hal yang jauh lebih bermanfaat. Dua alasan utama adalah karena mereka menganggap mengamen, mengemis, bahkan mencuri bisa mendatangkan uang bagi mereka daripada harus pusing belajar.

Kalau dapat uang, bisa makan enak, beli baju bagus, dan lain sebagainya. Alasan lainnya adalah karena kondisi keluarga yang sama sekali tidak mendukung mereka untuk meraih pendidikan, atau melakukan pekerjaan lain yg lebih baik, meski hasilnya kecil. Selalu saja maslah uang yang menjadi ujung pangkalnya. Mari kita lihat bagaimana kondisi Rasulullah dan keluarganya.

Lihat Juga :  Hilangnya Keteladanan di Tengah Kita

Ibnu Sabiq pernah merinci sifat zuhud Rasulullah. Suatu ketika Umar bin khattab r.a melihat Rasulullah sedang tidur di atas selembar tikar yang sudah usang dan tubuh beliau terkena bekas garir-garisnya.  Umar lalu menangis, kemudian Rasululloh bertanya,”mengapa engkau menangis?”

Umar berkata, “Bagaimana keadaan Kisra (Maharaja Persi) dan Kaisar (Maharaja Romawi), tidur di atas sutra tebal dan tipis, sedangkan Tuan sebagai rasul Allah, sampai membekas di lambung Tuan hamparan tikar itu“. Rasulullah lalu menjawab,”Hai Umar, tidakkah engkau rela jikalau dunia ini mereka yang memilikinya, sedangkan kita akan memiliki akhirat“.

Tidak hanya untuk beliau saja sikap bijak terhadap harta dunia ini beliau ajarkan, namun juga terhadap istri dan anak-anaknya. Ingatkah kita tentang cerita Fatimah yang ingin memiliki seorang pembantu dirumahnya?

Fatimah, putri Rasulullah hidup serba kekurangan saat sudah berkeluarga dengan Ali. Ia tidak memiliki pembantu padahal pekerjaannya sehari-hari cukup melelahkan. Ia harus menggiling gandum hingga tangannya melepuh, mengambil air dengan geriba hingga dadanya sakit, dan beberapa pekerjaan lain. Hal ini membuat sang suami terenyuh dan akhirnya menyarankan Fatimah untuk meminta salah seorang tawanan perang Rasulullah untuk dijadikan pembantu. Ketika Rasulullah selesai berperang dan membawa banyak tawanan, Fatimah pun memberanikan diri untuk memintanya kepada Sang Ayah.

Lihat Juga :  Mengambil Hikmah  dari Kisah Kepahlawanan dalam Alquran

Akan tetapi Rasulullah dengan tegas menjawab, “Demi Alloh aku tidak akan memberikan seorang pelayan pun kepada kalian berdua karena aku tidak mau membiarkan ahli suffah (orang2 fakir yang tinggal di Serambi Masjid Nabawi) melipat perutnya karena lapar…” (shahih bukhari). Padahal kita tahu, Fatimah adalah putri kesayangan Rasulullah.

Subhanallah…dimana kita bisa menemukan akhlak seperti ini di zaman sekarang?? Pasti masih ada, tapi mereka sangat amat sedikit jumlahnya. Adapun kaum fakir yang sering kita temui saat ini kebanyakan adalah mereka yang menjadikan pengemis sbg sebuah profesi. Naudzubillah.. Oleh karena itu, mari buka mata, mendekatlah. Jangan hanya memandang rendah, karena bisa jadi kitalah yang lebih rendah. Jadilah salah seorang penyeru yang mampu memperbaiki akhlak, memperbaiki dunia meski sedikit. Awalnya, jadilah contoh. Jika ingin mengajarkan sebuah kesederhanaan yang bijaksana, maka sederhanakan dulu diri kita.Karena dalam kesederhanaan itu seringkali mampu menunjukkan lebih banyak makna.(*)

 

Tags

Berita Terkait

Close