Jadwal imsakiyah Wilayah Palembang

-- --- 2026

Imsak: --:--| Shubu: --:-- | Maghrib: --:--

HALAL

Berkunjung ke Malaysia (7-habis) : Mampir Sejenak di Pasar Chow Kit Kuala Lumpur 

ASSAJIDIN.COM — Siapa yang tak kenal dengan pasar satu ini. Chow Kit, itu nama pasarnya.

Dikenal luas di Kuala Lumpur, Malaysia. Bukan hanya warga lokal tapi juga warga pendatang.

Tak terkecuali mahasiswa Indonesia yang tengah melanjutkan studi di sana atau mahasiswa yang ikut program pertukaran pelajaran.

Mereka belanja di sini atau sekadar melepas kerinduan menikmati ragam menu khas di Pasar Chow Kit.

Tepatnya, setahun yang lalu, persisnya 8/6/2023), orang pertama di Tanah Air Joko Widodo berkesempatan berkunjung ke Pasar Chow Kit di Kuala Lumpur, Malaysia.

Dalam kunjungannya, Jokowi ditemani oleh sejumlah tokoh, di antaranya Perdana Menteri Malaysia Anwar Ibrahim, Menteri Luar Negeri Retno Marsudi, dan Menteri Perdagangan Zulkifli Hasan.

“Pak Jokowi ini terus ke lapangan, enggak capek-capek,” kata Perdana Menteri Malaysia Anwar Ibrahim, dikutip dari laman resmi Sekretariat Negara, Jumat (9/6/2023).

Mengenakan pakaian khasnya berupa kemeja putih, Jokowi berkeliling pasar selama kurang lebih 45 menit.

Ia juga menyempatkan diri berbincang-bincang dengan pedagang, termasuk menanyakan harga sayuran dan durian.

Warung Soto Lamongan (Wasola) di Wisma Sabaruddin yang ada di Jalan Alang, Chow Kit, Kuala Lumpur. (Foto : ANTARA)

 

Fakta Unik

Adapun Pasar Chow Kit atau Chow Kit Market memiliki berbagai fakta unik. Berikut beberapa di antaranya: Fakta Pasar Chow Kit di Malaysia

1. Dijuluki “Little Jakarta”

Pasar Chow Kit dikenal sebagai tempat berburu kuliner khas Indonesia. Bahkan, pasar ini dijuluki “Little Jakarta” berkat banyaknya Warga Negara Indonesia (WNI) di tempat tersebut.

Aneka makanan khas Tanah Air yang bisa ditemukan di pasar ini, antara lain hidangan dari Padang, Jawa Timur, Jawa Tengah, Sunda, Aceh, dan Palembang.

Tidak hanya itu, pasar ini juga menjajakan buah-buahan, sayur-sayuran, aneka daging, dan aneka ikan.

2. Kenapa diberi nama Chow Kit?

Pasar Chow Kit terletak di antara dua jalan yakni Jalan Raja Laut dan Jalan Tuanku Abdul Rahman. Pasar ini juga berada di area permukiman yang banyak dihuni warga Malaysia dan WNI.

Mengutip Kompas.com dari The Culture Trip, nama pasar ini berasal dari nama tokoh dan penambang timah bernama Loke Chow Kit.

3. Tempat wisata kuliner

Pasar Chow Kit tidak hanya jadi tempat wisata kuliner khas Indonesia, tapi juga kuliner khas Malaysia.

Keberadaan kios-kios yang menjajakan hidangan Indonesia pun berdampingan dengan kedai dan restoran yang menyajikan makanan khas Malaysia dan India.

Sambil makan, kamu juga bisa mengamati ritme hidup atau kebiasaan penduduk Malaysia di pasar, dikutip dari laman Attractions in Malaysia. 

Jika sudah puas mengisi perut, kamu bisa hunting foto di pasar ini.

4. Sempat akan diruntuhkan

Lihat Juga :  Emado’s Hadir di Palembang, Sajikan Cita Rasa Timur Tengah

Pasar Chow Kit sempat akan diruntuhkan untuk dibangun gedung serbaguna. Untungnya, rencana tersebut kabarnya dibatalkan, alasannya berkaitan dengan kondisi perekonomian di negara tersebut.

5. Cara ke Pasar Chow Kit

Jika kamu sedang berlibur ke Malaysia dan ingin mampir ke Pasar Chow Kit, kamu bisa naik kereta monorel dari stasiun mana saja, kemudian turun di Stasiun Monorel Chow Kit.

Selanjutnya berjalan kaki sejauh kurang lebih 40 meter agar bisa sampai di Pasar Chow Kit.

 

Martabak coklat keju dari Martabak Ningrat yang ada di Jalan Raja Bot, Chow Kit, Kuala Lumpur. (Foto : ANTARA)

Kuliner Khas

Jika kamu ingin merasakan masakan Minang bisa menemukan restoran nasi kapau atau Restoran Sederhana yang terletak di Jalan Tuanku Abdul Rahman.

Atau Batagor dan Siomay Bandung Mang Ujang di Jalan Chow Kit, satai padang dan lontong sayur di Jalan Raja Alang, serta Bakso Sido Mampir di Jalan Tuanku Abdul Rahman.

Kuliner khas Indonesia lainnya seperti gado-gado, pecel, rujak lontong, satai ayam maupun satai kambing hingga pempek juga dapat dijumpai di daerah tersebut.

Bahkan cilok, jajanan khas Sunda yang biasa disajikan lengkap dengan bumbu kacang dan kecap, ada yang menjualnya di daerah tersebut.

Mengutip Antaranews com, Mintarsih Warijan, seorang WNI yang juga menggemari penganan tersebut mengaku cukup sering menikmati cilok yang dijual di rumah toko yang tidak begitu jauh letaknya dari Stasiun Monorel Chow Kit yang ada di Jalan Tuanku Abdul Rahman.

Pelanggannya, menurut dia, bukan hanya mereka yang ada di Kuala Lumpur, karena sering saat membeli ke sana bertemu juga dengan mereka yang datang dari luar kota, salah satunya dari Johor Bahru.

Beberapa kedai makanan khas Indonesia yang ada di Jalan Raja Bot dan Raja Alang, Chow Kit memang cukup ramai menerima pesanan daring dan para pengunjung

Salah satunya adalah Martabak Ningrat yang dikelola oleh pasangan suami istri asal Cirebon dan Kendal, Tono Hadi Ningrat dan Siti Rahmatun.

Menurut Tono, Martabak Ningrat tersebut dipercayakan pengelolaannya kepada dirinya dan sang istri. Pemilik usaha ini berasal dari Indonesia, tepatnya dari Surabaya.

Berdiri sejak tahun 2021, Martabak Ningrat sudah banyak digemari bukan hanya oleh WNI di sana, melainkan juga pelanggan warga Malaysia.

Bahkan, menurut Tono, mereka pernah menerima pesanan ratusan porsi untuk hidangan di sebuah pernikahan. Mereka membuat adonan hingga memasaknya di lokasi pernikahan.

Jika pada hari biasa martabaknya biasa terjual sebanyak 80 sampai dengan 90 kotak per hari, maka saat akhir pekan atau hari libur, angka penjualan bisa melejit hingga 130 kotak per hari.

Lihat Juga :  Resep Bakso Ayam Kenyal Tanpa Tepung

Wijsman Butter yang terpajang rapi di etalase toko dikirim langsung dari Indonesia sebagai salah satu bahan utama untuk mempertahankan kelezatan cita rasa asli Indonesia pada martabak yang mereka buat.

Berbagai macam menu martabak manis dengan topping (lapisan atas) keju, cokelat, dan bahkan selai bermerek maupun martabak asin dengan isian daging sapi ditawarkan di sana.

Pembeli yang mungkin sedang “mager” alias malas gerak untuk keluar rumah bisa memesan martabak ini secara daring melalui aplikasi atau menelepon langsung ke nomor Pak Tono dan pesanan akan dikirimkan menggunakan jasa Lalamove.

Selanjutnya, terdapat Warung Soto Lamongan (Wasola) yang hanya berjarak sekitar 400 meter dari tempat usaha martabak tersebut.

Warung yang banyak menyajikan menu khas Jawa Timur itu juga menjadi salah satu destinasi wajib bagi para pemburu kuliner Indonesia.

Berlokasi tepat di kompleks Wisma Sabaruddin, Chow Kit, Wasola menyediakan bermacam makanan khas Indonesia, mulai dari soto lamongan, rawon, ayam penyet, bakso, pecel lele, satai kambing, hingga satai ayam.

Dinda Noraiun, mahasiswa Indonesia yang tengah melaksanakan program pertukaran pelajar di Universiti Teknikal Malaysia Melaka, mengaku tertarik untuk mendatangi warung tersebut setelah dirinya bersama temannya melihat ulasan pada mesin pencarian Google bahwa Wasola mempunyai rating yang cukup tinggi di sana.

“Hujan, kan … terus kayak kepikiran enak nih yang kuah-kuah, terus kayak kangen rawon, soto.

Terus pas searching di Google Maps tadi yang paling tinggi di sini, walaupun jauh bintangnya tinggi 4,7,” ujar Dinda.

Ardelia Junilla, mahasiswa Indonesia asal Jakarta yang tengah melaksanakan program pertukaran pelajar di Universiti Teknikal Malaysia Melaka, mengaku terkejut karena harga yang ditawarkan relatif murah.

“Dan juga harganya enggak beda jauh sama yang di Jawa Timur. Lebih murah malah,” kata dia.

Itu kali pertama mereka menjajal makanan Jawa Timuran di Wasola dan ternyata rasanya tidak beda dengan yang dirasakannya di Jawa Timur.

Dela, sapaan akrab dari Ardelia, merupakan mahasiswa dari Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS), sehingga cukup hapal rasa rawon yang asalnya dari Jawa Timur itu.

Dengan uang RM8,5 atau sekitar Rp 30 ribu, pengunjung sudah dapat menyantap soto Lamongan beserta nasi putih.

Menu lainnya juga bisa dinikmati dengan harga rata-rata di bawah RM14 sekitar Rp 49 ribu per porsi.

Kerinduan keduanya pada makanan Indonesia terbayar dengan menikmati rawon di Wasola, yang menurut mereka rasanya autentik dan enak sesuai dengan rating yang ada dan suasana warung yang terlihat “Indonesia banget”.

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top button