Bertawasul kepada Allah, inilah Dalil dan Cara Mengamalkannya

AsSAJIDIN.COM — Hakikatnya, tawasul merupakan salah satu adab di dalam melakukan permohonan kepada Allah SWT. Seorang muslim yang bertawasul, wajib meyakini bahwa permohonan hajatnya harus senantiasa ditujukan hanya kepada Allah semata dan juga wajib meyakini bahwa Allah lah yang akan menjawab doanya.
Dalil tawasul atau dibolehkannya berdoa melalui perantara nabi dan orang-orang saleh disebutkan dalam Alquran, Surat An Nisa ayat 64.
Allah SWT berfirman:
وَما أَرْسَلْنا مِنْ رَسُولٍ إِلاَّ لِيُطاعَ بِإِذْنِ اللَّهِ وَلَوْ أَنَّهُمْ إِذْ ظَلَمُوا أَنْفُسَهُمْ جاؤُكَ فَاسْتَغْفَرُوا اللَّهَ وَاسْتَغْفَرَ لَهُمُ الرَّسُولُ لَوَجَدُوا اللَّهَ تَوَّاباً رَحِيماً
Artinya:
Dan Kami tidak mengutus seseorang rasul, melainkan untuk ditaati dengan seizin Allah. Sesungguhnya jikalau mereka ketika menganiaya dirinya datang kepadamu. lalu memohon ampun kepada Allah, dan Rasul pun memohonkan ampun untuk mereka, tentulah mereka mendapati Allah Maha Penerima Tobat lagi Maha Penyayang. (QS. An Nisa ayat 64).
Ibnu Katsir dalam tafsirnya menjelaskan sejumlah ulama antara lain Syekh Abu Mansur As-Sabbag di dalam kitabnya Asy-Syamil mengetengahkan kisah yang terkenal dari Al-Atabi yang menceritakan bahwa ketika ia sedang duduk di dekat makam Nabi SAW, datanglah seorang Arab Badui, lalu ia mengucapkan, “Assalamu’alaika, ya Rasulullah (semoga kesejahteraan terlimpahkan kepadamu, wahai Rasulullah). Aku telah mendengar Allah berfirman: ‘Sesungguhnya jikalau mereka ketika menganiaya dirinya datang kepadamu, lalu memohon ampun kepada Allah, dan Rasul pun memohonkan ampun untuk mereka, tentulah mereka menjumpai Allah Maha Penerima Tobat lagi Maha Penyayang’ (An-Nisa: 64).
Sekarang aku datang kepadamu, memohon ampun bagi dosa-dosaku (kepada Allah) dan meminta syafaat kepadamu (agar engkau memohonkan ampunan bagiku) kepada Tuhanku.” Kemudian lelaki Badui itu pergi, dan dengan serta-merta mataku terasa mengantuk sekali hingga tertidur. Dalam tidurku itu aku bermimpi bersua dengan Nabi Saw., lalu Rasulullah Saw bersabda: يَا عُتْبى، الحقْ الْأَعْرَابِيَّ فَبَشِّرْهُ أَنَّ اللَّهَ قَدْ غَفَرَ له “Hai Atabi, susullah orang Badui itu dan sampaikanlah berita gembira kepadanya bahwa Allah telah memberikan ampunan kepadanya!”. Imam asy-Syaukani (w. 1250 H) berkata dalam kitabnya Tuhfah adz-Dzakirin menjelaskan hadits tersebut merupakan dalil tentang bolehnya menjadikan Rasulullah saw sebagai wasilah kepada Allah
Namun dengan tetap meyakini bahwa Allah-lah yang menjadi pemberi hajat.
Jenis Tawasul
Ada beberapa jenis tawasul yang bisa dilakukan seorang Muslim dalam doanya.
1. Tawasul dengan Amal Saleh Tawasul bil A’mal atau tawasul dengan amal saleh yang dilakukan oleh orang yang bertawasul. Para ulama menyepakati pensyariatan tawassul dengan amal saleh.
Bertawasul dalam arti berdoa memohon kepada Allah dan mendekatkan diri kepada-Nya melalui perantara adalah suatu hal yang disyariatkan.
Hal ini berdasarkan dalil-dalil berikut: يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ وَابْتَغُوا إِلَيْهِ الْوَسِيلَةَ وَجَاهِدُوا فِي سَبِيلِهِ لَعَلَّكُمْ تُفْلِحُونَ Artinya: Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dan carilah jalan yang mendekatkan diri kepada-Nya, dan berjihad-lah pada jalan-Nya, supaya kalian mendapat keberuntungan. (QS. Al Maidah: 35)
2. Tawasul dengan Kemuliaan Orang Saleh Tawassul dengan kemuliaan orang saleh atau dzat-dzat yang memiliki keutamaan dan kemulian, apakah berupa kemulian manusia ataupun kemulian selain manusia. Secara spesifik, istilah tawasul dengan dzat untuk menyebut tawasul dengan kemulian sesuatu atau seseorang ini disebut juga dengan tabarruk. Sebagian ulama membolehkan untuk bertawasul dengan orang-orang atau benda tertentu. Sedangkan sekelompok ulama lainnya, mengharamkannya. Perbedaan tersebut bukanlah hal yang prinsipil, atau masuk dalam ranah akidah. Mencintai orang-orang saleh, khususnya Nabi Muhammad SAW merupakan bagian dari ibadah yang agung di dalam Islam. Karena itulah, Syaikh Ibnu Taimiyyah -kalangan yang termasuk berpendapat akan ketidak bolehan tawasul melalui kemulian seseorang, berpendapat bahwa jika tawasul tersebut didasarkan atas kecintaan kepada Rasulullah SAW, maka tawasul jenis ini boleh dilakukan. Tawasul kepada Nabi SAW juga termasuk hal yang wajib karena cinta kepada Nabi saw merupakan perkara yang wajib ada pada diri setiap muslim. Cinta kepada Nabi tersemasuk puncak keimanan seorang muslim. Sebab, kecintaan kepada Nabi merupakan bentuk kecintaan kepada Allah swt.
3. Tawasul dengan Asmaul Husna Para ulama sepakat bahwa disunnahkan dalam berdoa untuk menjadikan Asmaul Husna atau nama-nama Allah SAW yang mulia sebagai sarana atau wasilah agar dikabulkannya doa tersebut. Allah SWT berfirman dalam Surat A’ A’raf ayat 180: وَلِلّٰهِ الْاَسْمَاۤءُ الْحُسْنٰى فَادْعُوْهُ بِهَاۖ وَذَرُوا الَّذِيْنَ يُلْحِدُوْنَ فِيْٓ اَسْمَاۤىِٕهٖۗ سَيُجْزَوْنَ مَا كَانُوْا يَعْمَلُوْنَ ۖ – ١٨٠ Artinya: Dan Allah memiliki Asma’ul-husna (nama-nama yang terbaik), maka bermohonlah kepada-Nya dengan menyebutnya Asma’ul-husna itu dan tinggalkanlah orang-orang yang menyalahartikan nama-nama-Nya. Mereka kelak akan mendapat balasan terhadap apa yang telah mereka kerjakan. (QS. Al A’raf: 180).
4. Tawasul dengan Keimanan Para ulama juga sepakat bahwa disunnahkan dalam berdoa untuk menjadikan iman kepada Allah swt, sebagai sarana atau wasilah agar dikabulkannya doa tersebut. Hal ini berdasarkan ayat Alquran dan hadits. اَلَّذِيْنَ يَقُوْلُوْنَ رَبَّنَآ اِنَّنَآ اٰمَنَّا فَاغْفِرْ لَنَا ذُنُوْبَنَا وَقِنَا عَذَابَ النَّارِۚ – ١٦ (Yaitu) orang-orang yang berdoa, “Ya Tuhan kami, kami benar-benar beriman, maka ampunilah dosa-dosa kami dan lindungilah kami dari azab neraka.” (QS. Ali Imran: 16).
5. Tawasul dengan Orang yang Masih Hidup
Para ulama sepakat bahwa dibolehkan dalam melakukan permohonan kepada Allah dengan meminta orang lain yang masih hidup untuk berdoa baginya kepada Allah SWT. Hal ini didasarkan kepada dalil-dalil berikut: Tawasul saudara-saudara Nabi Yusuf as kepada ayahanda mereka, Nabi Ya’qub as, untuk memohon ampunan kepada Allah swt atas kesalahan mereka. Begitu pula tawassul yang dilakukan para shahabat kepada Rasulullah saw, setiap kali mereka melakukan kesalahan seperti yang termaktub dalam Surat Yusuf ayat 97-98. Allah SWT berfirman: قَالُوْا يٰٓاَبَانَا اسْتَغْفِرْ لَنَا ذُنُوْبَنَآ اِنَّا كُنَّا خٰطِـِٕيْنَ – ٩٧ Mereka berkata, “Wahai ayah kami! Mohonkanlah ampunan untuk kami atas dosa-dosa kami, sesungguhnya kami adalah orang yang bersalah (berdosa).” قَالَ سَوْفَ اَسْتَغْفِرُ لَكُمْ رَبِّيْ ۗاِنَّهٗ هُوَ الْغَفُوْرُ الرَّحِيْمُ – ٩٨ Dia (Yakub) berkata, “Aku akan memohonkan ampunan bagimu kepada Tuhanku. Sungguh, Dia Yang Maha Pengampun, Maha Penyayang.” Dari Umar bin Khattab ra, bahwa ia meminta izin kepada Nabi saw untuk melakukan ibadah umrah. Kemudian Nabi saw mengizinkan seraya bersabda: Wahai saudaraku! Jangan kau lupakan kami dalam do’amu. (HR. Abu Dawud dan Tirmizi. Imam Tirmizi berkara: hadits ii hasan shahih). Wallahu A’lam. (*/sumber: nu.or.id)
