Jadwal imsakiyah Wilayah Palembang

-- --- 2026

Imsak: --:--| Shubu: --:-- | Maghrib: --:--

LENTERA

Redam Amarahmu yang Memuncak dengan 4 Cara Elegan Ini

AsSajidin.com — Sebagian besar kita yang sudah menikah sangat berharap agar tidak terjadi pertengkaran hebat di dalam rumah tangga.

Tapi tentu saja harapan ini tidak serta merta biduk rumah tangga yang kita arungi akan aman-aman saja.

Sesekali justru terjadi pertengkaran. Sa ma-sama marah. Hanya karena per soalan yang sebenarnya gampang diselesaikan.

Jika ini terjadi pada anda, bagaimana cara meredamnya sehingga tidak me lebar ke KDRT.

Dalam kitab Minhaj al-Qashidin karya Ibnu Qudamah Al-Maqdisy yang disyarah dan ditahqiq oleh Syaikh Ridwan Jami’ Ridwan, dipaparkan tentang bagaimana mengendalikan amarah yang memuncak ini.

Pertama, berpikirlah keutamaan menahan amarah, memberi maaf, berlemah lembut, dan mengendalikan diri.

Dalam hadits Bukhari dari jalur riwayat Ibnu Abbas, dikatakan suatu ketika Umar bin Khattab pernah didatangi seseorang lalu orang tersebut menyampaikan bahwa Umar tidak memberinya banyak dan membuat keputusan yang adil untuknya.

Kemudian Umar marah bahkan hampir memukul. Lantas Al-Hurr bin Qais mengingatkan Umar dengan membacakan ayat 199 Surah Al-A’raf. Allah SWT berfirman:

Lihat Juga :  Teladan Nabi: Doa Saat Memeluk Anak yang Diajarkan Rasulullah

خُذِ الْعَفْوَ وَأْمُرْ بِالْعُرْفِ وَأَعْرِضْ عَنِ الْجَاهِلِينَ

“Jadilah pemaaf dan suruhlah orang mengerjakan yang makruf, serta jangan pedulikan orang-orang yang bodoh.” (QS Al Araf ayat 199).

Mendengar bacaan tersebut, Umar pun mengurungkan niatnya.

Kedua, mengendalikan amarah dengan berwudhu. Rasulullah SAW bersabda:

إِنَّ الْغَضَبَ مِنْ الشَّيْطَانِ وَإِنَّ الشَّيْطَانَ خُلِقَ مِنْ النَّارِ وَإِنَّمَا تُطْفَأُ النَّارُ بِالْمَاءِ فَإِذَا غَضِبَ أَحَدُكُمْ فَلْيَتَوَضَّأْ

“Marah itu berasal dari setan. Sementara setan diciptakan dari api dan api hanya dapat dipadamkan dengan air. Karena itu, jika di antara kalian ada yang marah segeralah berwudhu.” (HR Ahmad bin Hanbal, Abu Dawud dan Al-Baghawi)

Rasulullah SAW juga mengajarkan untuk duduk saat sedang marah. Bila belum reda, maka berbaring.

Abu Dzar al-Ghifari melaporkan bahwa Rasulullah SAW bersabda:

إذا غضبَ أحدُكم وهو قائمٌ فلْيجلسْ، فإن ذهبَ عنه الغضبُ وإلاَّ فلْيَضْطَجِعْ

“Apabila ada di antara kalian yang marah dalam keadaan berdiri, maka duduklah. Apabila kemarahan tersebut belum juga reda, berbaringlah.” (HR Ahmad bin Hanbal)

Lihat Juga :  Gubernur Herman Deru Resmikan Masjid Agung Al-Huda Desa Tugu Agung Lempuing OKI

Ketiga, berpikir tentang penyebab tentang apa hal yang membuatnya tidak mampu mengendalikan amarah.

Setan bisa saja menggoda agar diri kita merasa terhina, terlecehkan, dan turun harga diri karena suatu perkara dalam rumah tangga.

Maka yang bersangkutan harus ingat agar tidak memandang rendah kesabaran di dunia.

Jangan pula khawatir dianggap rendah di hadapan manusia, sementara tidak khawatir dipandang rendah di hadapan Allah SWT.

Bagaimana pun, menahan amarah justru mengangkat derajat seorang hamba di sisi Allah SWT.

Keempat, berpikir tentang akibat yang akan diterima jika menuruti hawa nafsu amarah.

Berpikir akibat-akibat apa saja yang bisa terjadi jika terus melanggengkan permusuhan dan rasa dengki.

Akibat-akibat ini bisa saja menyerang kehormatan diri dan melenyapkan kebahagiaannya.

Terlebih, tidak ada pahala yang dihasilkan dari amarahnya.

(*/ Nashih Nashrullah/https://www.republika.co.id/berita/rko847320/4-cara-redam-amarah-ketika-hadapi-pertikaian-dalam-rumah-tangga/)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top button