Jadwal imsakiyah Wilayah Palembang

-- --- 2026

Imsak: --:--| Shubu: --:-- | Maghrib: --:--

SEHAT

Stunting Masih Jadi PR di Kota Besar seperti di Palembang

ASSAJIDIN.COM — Pemerintah Kota Palembang mengklaim telah cukup berhasil menurunkan kasus stunting sebanyak 1,3% dengan upaya yang telah dilakukan.

Stunting adalah masalah kekurangan gizi kronis yang disebabkan oleh asupan gizi yang kurang dalam waktu cukup lama akibat pemberian makanan yang tidak sesuai dengan kebutuhan gizi.

Balita menderita stunting ini biasanaya ditandai dengan fisik berbadan pendek, bahkan hingga dewasa, tubuh kecil dan pendek tidak sesuai dengan usianya.

Sementara itu, berdasarkan paparan Juni 2021, dari total 121.804 anak di Kota Palrmbang, ada 80,4 persennya telah dilakukan periksaan diantaranya tercatat 1.661 anak mengalami stunting atau 7,5 persen dari total jumlah anak.

Walikota Palembang Harnojoyo mengatakan, pencegahan stunting masuk ke dalam program prioritas daerahnya dalam program kerja seluruh Organisasi Perangkat Daerah (OPD).

Lihat Juga :  7, 9 Persen Anak Balita di Palembang Terindikasi Stunting

“Berdasarkan review tahun ini stunting turun 1,3%, seluruh anak kedepannya akan terus dipantau, dan dilakukan pencegahan sejak dini,” katanya usai pertemuan kinerja tahunan aksi integrasi Stunting, Rabu (8/12/2021).

Stunting terjadi akibat balita kekurangan asupan gizi seperti protein hewani dan nabati serta zat besi. Masalah asupan gizi ini harus tercukup sejak 1000 hari masa kehidupan atau saat masih dalam kandungan. Bahkan, dari sebelum hamil  harus dipersiapkan.

“Karena itu calon ibu dapat dipersiapkan sejak remaja putri, harus menjaga kesehatannya, jangan sampai kekurangan gizi. Jika ekonomi tidak baik, sulit untuk mengonsumsi makanan yang bergizi,” katanya.

Lihat Juga :  Nitrico, Suplemen untuk Lawan Corona Temuan Peneliti Unair, ini Kandungannya

Kota Palembang berada jauh lebih rendah dari rata rata Nasional  sebesar 30 persen yang terkena stunting, yakni angka stunting hanya 1,3 persen.
“Hal ini bisa dicapai karena adanya sinergisitas dari beberapa program untuk penanganan penanggulangan stunting,” katanya.

Menurutnya, pencegahan stunting antara lain analisis situasi, penyusunan rencana kerja, rembuk stunting, pembinaan dan pemberdayaan pembangunan manusia.

“Selain itu juga sistem manajemen penanganan stunting, pelaporan dan publikasi data stunting serta akan dilakukan monitoring secara kontinyu kinerja pencegahan stunting,” katanya.

Umumnya hal ini karena konsumsi yang diberikan kepada anak berusia 0-59 bulan tidak mencukupi kebutuhan gizi, gejala stunting biasanya muncul ketika anak berusia 2 tahun. (pitria)

Back to top button