Semangat Penyandang Tunanetra Mengumpulkan Pahala dari Mengaji Al-Qur’an Braille

AsSAJIDIN.COM — Memiliki keterbatasan penglihatan tidak menjadi penghalang bagi para tunanetra untuk mengumpulkan pahala di bulan suci Ramadhan ini dengan melakukan tadarus Al-Quran.
Lantunan bacaan Al-Qur’an terdengar dari pengajian di Yayasan Panti Netra Mandiri, Lorong MS Tembusan Jalan Sukabangun 2, Sabtu (24/4/2021). Nampak para penyandang tunanetra sedang belajar Al-Qur’an braille dengan dibimbing oleh seorang guru ngaji.
Di Yayasan Panti Netra Mandiri ini para penyandang tunanetra belajar mengaji menggunakan Al-Qur’an braille. Mulai dari pengenalan huruf-huruf Arab, iqra sampai mengaji di Al-Qur’an.
Pengurus Yayasan Netra Mandiri Andre Agasi mengatakan, yayasan ini baru berdiri 2 tahun lalu dan membina diantaranya para tunanetra dari Sekolah Luar Biasa (SLB) dan yang sudah tamat sekolah dan tunanetra yang berkeinginan belajar mengaji.
“Tadarus Al-Qur’an selama Ramadhan baru tahun ini. Jadi kita secara bergantian mengaji menggunakan braille, mulai pukul 08.30-09.30,” katanya.
Andre mengatakan, Al-Qur’an braille ini sama dengan Al-Qur’an pada umumnya. Hanya saja, Al-Qur’an biasa itu dilihat dan langsung dibaca dengan lisan, sedangkan braille ini menggunakan taktil/ rabaan, kemudian disinkronkan dengan lisan/ diucapkan.
“Kesulitan dalam mengaji Al-Qur’an braille ini karena dengan indra peraba maka dibutuhkan kepekaan, menyinkronkan taktil/ rabaan dengan pengucapan,” katanya.
Ketersediaan Al-Qur’an braille saat ini cukup terjangkau karena sudah kerjasama dan bisa dipasok oleh Balai Braille Indonesia. “Hanya saja saat ini kita kekurangan tenaga pengajar, hanya ada beberapa, tapi kita maksimalkan agar para murid nantinya bisa juga jadi pengajar,” katanya.
Dengan membentuk yayasan dan mengajar mengaji para tunanetra ini diharapkan memunculkan hafiz Qur’an dari kalangan tunanetra.
“Bahkan terpenting menjadi bekal di akhirat, karena tidak ada pemakluman dalam penghisaban bagi kaum tunanetra. Karena hisabnya masih sama saja dengan umat lainnya,” katanya.
Ia juga berharap agar di tengah kemajuan teknologi ini, Al-Qur’an braille dapat abadi. Perkumpulan ini terbentuk atas kesolidaritasan para sesama tunanetra. Dengan tujuan mengaji hanya saja caranya beda.
“Kami ingin memasyarakatkan tunanetra. Kami bisa setara dengan cara kami,” katanya. (*/pitria)
