Jadwal imsakiyah Wilayah Palembang

-- --- 2026

Imsak: --:--| Shubu: --:-- | Maghrib: --:--

Uncategorized

Meneladani Makna Rukuk dan Sujud, Harusnya Dapat Meredam Sifat Egois

AsSajidin.com .—–  Islam melarang umatnya bersikap ananiah (egois)  dan mendidik umatnya agar pandai-pandai menghormati orang lain sebagaimana wajarnya. Aisyah ra berkata, “Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam menyuruh kita agar menghormati manusia sesuai dengan kedudukannya.” (HR.Muslim dari Aisyah).

Diriwayatkan pula bahwa Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam, bersabda, “Tidaklah seorang anak muda yang memuliakan orang tua karena ketuaannya, melainkan Allah akan mengadakan baginya orang yang akan memuliakan dia setelah tuanya.” (HR. Tarmizi dari Anas Bin Malik).

Akan tetapi walaupun hadits di atas dikatakan menghormati orang tua karena ketuaannya bukan berarti selain orang tua tidak dihormati, salah satu bentuk menghormati orang lain ialah menjaga diri agar tidak bersikap ananiah atau egois karena ada dampak yang akan ditimbulkan dari sifat tersebut.

Egois atau Ananiah berasal dari bahasa arab انا yang berarti Aku. Ananiah berarti aku atau keakuan. Secara istilah, ananiah berarti sikap keakuan, sikap mementingkan diri sendiri, kurang memerhatikan orang lain. Dalam bahasa Indonesia sikap seperti itu (ananiah) disebut egois . Sikap ananiah terkait erat dengan sikap takabbur. Lalu bagaimana pandangan Islam terhadap hal tersebut. Berikut AsSajidin merangkum ciri-ciri orang yang memiliki sifat ananiah (egois) dalam kehidupannya. Apakah kita termasuk ? Semoga saja tidak.

  1. Orang egois, mendustakan ayat-ayat Allah.
    Dalam hal ini cakupannya sangat luas sekali. Orang kafir bisa dikategorikan oang yang egois, karena mereka enggan memeluk Islam. Padahal agama Islam adalah agama penyempurna bagi agama – sebelumnya. Sehingga jelaslah bahwa mereka adalah orang-orang yang bisa dikatakan orang yang super egois. Orang yang mengaku muslim (orang islam) tetapi tidak melaksanakan perintah-perintah Allah maka termasuk kedalam orang-orang egois. misalnya saja tidak melaksanakan sholat lima waktu, dan amalan-amalan yang lain yang Allah perintahakan, serta tidak meninggalkan apa yang Allah larang, misalnya mabuk-mabukan, berfoya-foya, dan lain sebagianya.
  1. Ingin menang sendiri.
    Menang dan kalah dalam sebuah pertandingan merupakan hal yang lumrah, tetapi menjadi bermasalah ketika ada orang yang ingin menang sendiri. Buat apa menang kalau tidak sportif, menang seperti ini sama saja kalah. Kemenangan sesungguhnya adalah menang secara sportif, tentu lebih terhormat. Orang yang ingin menang sendiri, kurang lebih bisa dianalogikan seperti itu. Akibat sifatnya inilah ia dijauhi serta di musuhi teman-temannya.
  2. Suka mengatur tapi tidak mau diatur.
    Seorang pemimpin dituntut untuk mampu memimpin anggotanya. Tetapi masa menjadi seorang pemimpin itu ada batas dan jangka waktunya. Ketika menjadi seorang pemimpin ia bisa mengatur anggotanya seperti apa yang diinginkan, tetapi ketika ia sudah kembali menjadi anggota maka harus siap diatur seperti dirinya mengatur ketika menjadi seorang pemimpin. Saat ini, banyak sekali kita temukan orang-orang yang siap memimpin tetapi tidak siap dipimpin. Ketika ia sudah tidak lagi memegang jabatan sebagai pemimpin, ia memilih keluar. Inilah potret yang saat ini terjadi dan sudah membudaya. Akhirnya bermusuhan dan saling menjatuhkan satu sama lain sehingga perseteruan ini tanpa akhir alias jadi “musuh bebuyutan”.
  1. Keras kepala
    Identik dengan sebutan kepala batu, artinya isi kepalanya sangat keras sehingga sangat sulit untuk dihancurkan. Orang bekepala batu yaitu orang yang tidak bisa menerima masukan dari orang lain. Orang yang berkepala batu biasanya berpasangan dengan muka tembok dan tangan besi. Jika tiga unsur ini sudah menyatu, maka sangat sulit untuk mengubahnya apa lagi untuk diingatkan. Orang yang keras kepala pada masa Nabi Musa adalah Fir’aun, dan akhirnya Allah SWT tenggelamkan Fir’aun dan tentaranya di tengah lautan. Pada masa Nabi Nuh. Umatnya juga sangat keras kepala. Sehingga Allah SWT mengirimkan banjir bandang yang sangat dahsyat, sehingga tak ada yang selamat dari umatnya Nabi Nuh walau pun lari ke atas gunung. Kecuali yang ikut naik kapal dengan Nabi Nuh. Pada masa Nabi Ibrahim AS, Allah SWT jadikan Namrud orang yang egois dank keras kepala sehingga ia tewas.
Lihat Juga :  Petugas Bandara Diminta tidak Lalai, Jadi Garda Terdepan Pantau Mobilitas Warga Datang dan Pergi

Mengutip Republika.co.id,  Prof. Nasaruddin Umar,  Guru Besar UIN Syarif Hidayatullah menjelaskan jika sifat ananiah (egois) dapat di lebur dengan merenungi makna Rukuk dan sujud dalam sholat. Hal ini merupakan wujud tata krama dan keadaban individu (al-adab) dan sujud adalah wujud keakraban (al-qurb). Ini menjadi isyarat bahwa barang siapa yang ingin mendapatkan kedekatan dan keakraban dengan Allah SWT, maka terlebih dahulu ia harus melewati fase ketundukan dan keberadaban.

Jika orang gagal membangun ketundukan, biasanya juga akan gagal meraih kedekatan. Itulah sebabnya rukuk didahulukan, baru sujud. Kalangan ulama tasawuf menyebut rukuk adalah kefanaan awal (al-fana’ al-awwal) dan sujud adalah kefanaan sempurna (al-fana’ al-kamil). Bermacam-macam orang mengapresiasi rukuk. Seorang sufi bernama Rabi’ ibn Haitham diceritakan pernah rukuk mulai tengah malam sampai Subuh dalam satu rukuk. Ia sangat menikmati indahnya rukuk.

Lihat Juga :  Ria Irawan, Berjuang Jalani Terapi Melawan Tumor dan Kanker Kelenjar Getah Bening

Sebuah riwayat yang disandarkan kepada peristiwa Mi’raj Nabi Muhammad SAW, ketika sedang rukuk ia menyaksikan makam paling tinggi, yakni ‘Arasy yang menakjubkan, lalu di dalam rukuknya ia mengucapkan, “Subhana Rabbiyal ‘Adhim wa bihamdih” (Mahasuci Tuhan Yang Mahabesar dan segala pujian hanya untuk-Nya).

Dengan mengedepankan iman, Insya Allah sifat-sifat egois yang terdapat dalam diri kita akan bisa diredam. Bantuan Allah SWT  lah yang menjadi tumpuan terakhir  kita agar  terbebas dari sifat-sifat buruk sepeti halnya ananiah tersebut. Dan semoha kita selalu dalam bimbingan-Nya, semoga kita termasuk kedalam hamba-hamba yang mendapat perlindungan Allah Subhanahu wa ta’ala, aamiin.

Editor : Jemmy Saputera

 

 

Back to top button