Jadwal imsakiyah Wilayah Palembang

-- --- 2026

Imsak: --:--| Shubu: --:-- | Maghrib: --:--

Uncategorized

Mengenang Gus Dur, Sudahkah Kita Menertawakan Diri Sendiri 

ASSAJIDIN.COM –Rendahkan dirimu serendah-rendahnya, agar tidak ada lagi orang yang dapat merendahkanmu.

Hinakanlah dirimu sehina-hinanya, agar tidak ada lagi orang yang dapat menghinamu.

Inilah yang sering dilakukan oleh salah satu guru bangsa, yaitu KH. Abdurrahman Wahid alias Gus Dur.

Gus Dur tidak pernah mengagungkan atau mengunggulkan dirinya sendiri, malah tidak malu menertawakan diri sendiri, bahkan menertawakan NU? Ah, yang bennneeer? Masa iya sih?

Bukankah dia seorang kyai? Keturunan pendiri NU dan mantan Ketua Umum PB NU lagi! Tidak mungkin deh beliau merendahkan “diri sendiri”!

Eiiit… Menertawakan bukan berarti menghina loh! Makanya jangan suka memahami kata secara harfiah! Jadi, dijamin seribu persen deh NU tidak bakal terlecehkan.

Meskipun Gus Dur semasa hidupnya sering menertawakan dirinya sendiri, serta tidak jarang menjadikan organisasi kaum nahdliyin ini sebagai bahan kelakar, beliau pasti tak bermaksud menghina, wong ini cuma canda alias lelucon bin guyonan kok. Lagi pula, kalau Gus Dur benar-benar menertawakan NU, siapa yang berani protes, hayo…!

Dalam keseharian, sikap menertawakan orang lain tanpa disadari cukup sering kita lakukan, seakan-akan menjadi sebuah kebiasaan tersendiri. Kita sering menertawakan keluguan orang lain, menertawakan kelemahan serta kekurangan orang lain.

Biasanya sebagian orang yang berkecukupan suka menertawakan orang yang lebih rendah dari mereka karena cara berpakaian dan bersikapnya dianggap sangat norak, sebaliknya, sebagian orang yang hidupnya hanya apa adanya suka menertawakan sikap orang kaya yang senang bermewah-mewah, menghamburkan kekayaan. Begitu juga orang yang merasa pintar suka menertawakan kebodohan orang lain, sebaliknya orang yang bodoh suka menertawakan sikap orang pintar yang dianggap sering sok tau. Orang dari kota menertawakan orang desa, juga sebaliknya, dan seterusnya.

Lihat Juga :  Gubernur Sumsel akan Lantik Dewan Dakwah Islamiyah Sumsel, Berikut Nama Ketua Majelis Syuro dan Ketua Harian Serta Pengurus Inti

Sikap menertawakan orang lain memang sangatlah mudah dan bisa dilakukan kapan saja. Namun yang sering terabaikan dan mungkin sulit untuk dilakukan adalah menertawakan diri sendiri.

Kita sering lupa menertawakan sikap kita yang suka mengejek orang lain, menghina, menyakiti orang lain, membuka dan menyebarkan aib orang lain, dan seterusnya. Padahal sikap menertawakan diri sendiri dapat menjadi cermin diri agar kedepannya kita dapat melakukan yang terbaik.

Konon, Umar ibn Khatab sahabat Rasulullah SAW kadang suka menertawakan dirinya sendiri ketika mengingat masa lalunya yang ia anggap lucu. Betapa tidak, ia membuat patung dari roti untuk kemudian disembah, ketika dia merasa lapar, patung itu ia makan sendiri.

Gus Dur memang sangat lihai memainkan lelucon penertawaan diri sendiri sekaligus mencairkan ketegangan politik lewat humor. Dengan begitu, politik tak lagi muram dan hubungan sosial tidak kehilangan makna.

Seperti beliau katakan; “Kemampuan untuk menertawakan diri sendiri adalah petunjuk adanya keseimbangan antara tuntutan kebutuhan dan rasa hati di satu pihak, dan kesadaran akan keterbatasan diri di pihak lain.”

Jika Gus Dur masih hidup, mungkin Gus Dur akan cengar-cengir saja melihat politik Indonesia hari ini yang penuh caci makian tapi miskin imajinasi dan kekurangan lelucon. Barangkali ia cengar-cengar juga ketika melihat meme yang menghina salah satu putrinya, Alissa Qotrunnada Munawaroh, dengan sebutan “anak si buta”.

Ketika desakan pengunduran diri kepada Gus Dur sebagai Presiden RI makin kencang di mana-mana, Cak Nun alias Emha Ainun Nadjib, mampir ke istana. Cak Nun mendatangi Gus Dur sebagai seorang sahabat yang bermaksud mengingatkan.

Lihat Juga :  Tuan Rumah Proliga 2019, Bank SumselBabel Targetkan Empat Besar

“Gus, sudahlah, mundur saja. Mundur tidak akan mengurangi kemuliaan sampeyan,” kira-kira begitu kata Cak Nun kepada Gus Dur.

Jawaban Gus Dur: “Aku ini maju aja susah, harus dituntun, apalagi suruh mundur.”

Dan dua anak bangsa itu ngakak.

Setelah turun dari jabatan presiden, Gus Dur tetap sibuk dan tetap lucu. Ia masih melakukan safari ke daerah-daerah. Biasanya untuk berkunjung ke teman-temannya atau mengisi pengajian sampai kampung-kampung yang jauh.

Pada suatu ceramah di sebuah kampung, Gus Dur mengajak semua yang hadir di situ bershalawat barsama-sama. Para hadirin senang sekali melafalkan shalawat yang dipimpin seorang kiai besar.

Di akhir ceramah, Gus Dur nyeletuk.

“Saya minta Anda semua bershalawat agar saya tahu berapa banyak jumlah yang hadir. Saya, kan, gak bisa melihat.”

Lagi-lagi Gus Dur membuat orang satu lapangan terpingkal-pingkal.

Salah satu ulah Gus Dur yang paling dikenal adalah leluconnya soal kedekatan Tuhan dengan umat beragama. Ini juga mengandung unsur penertawaan diri terhadap sesuatu yang dianggap sakral tapi sering dipahami secara kaku, yaitu agama.

“Orang Hindu merasa paling dekat dengan Tuhan karena mereka memanggilnya ‘Om’. Orang Kristen apalagi, mereka memanggil Tuhannya dengan sebutan ‘Bapak’. Orang Islam? Boro-boro dekat, manggil Tuhannya aja pakai Toa.”

Lagi dan lagi, Gus Dur membuat seluruh Indonesia, tentu saja, tertawa.

Aaahhhhh, seandainya Gus Dur mengucapkannya di zaman sekarang ini, mungkin beliau akan didemo oleh 7 juta umat karena dianggap menistakan agama.
Guuuus, pagi ini saya sangat rindu padamu. (*/Sumber: artikel di fb pesantren alfisbuky)

Back to top button