Jadwal imsakiyah Wilayah Palembang

-- --- 2026

Imsak: --:--| Shubu: --:-- | Maghrib: --:--

MOZAIK ISLAM

Sejarah Masjid Agung Palembang, Pertama Berdiri hingga Kini Mampu Tampung 15 Ribu Jemaah

AsSAJIDIN.COM — Masjid Agung menjadi salah satu icon atau landmark kota Palembang. Setiap pengunjung muslim yang datang ke Palembang, biasanya menyempatkan diri untuk shalat di masjid yang berada persis di titik 0 Jalan Sudirman, pusat kota Palembang.

Dikutip dari pelajaran-dunia.blogspot.com, Masjid Agung pada mulanya disebut Masjid Sultan. Perletakan batu pertama pada tahun 1738, dan peresmiannya pada hari Senin tanggal 28 Jumadil Awal 115 H atau 26 Mei 1748.

Masjid Agung didirikan oleh Sultan Mahmud Badaruddin I yang dikenal pula dengan Jayo Wikramo (tahun 1724-1758).

Masjid Agung Palembang bagian dari peninggalan Kesultanan Palembang Darussalam, dan menjadi salah satu masjid tertua di Kota Palembang.

Masjid ini berada di utara Istana Kesultanan Palembang, di belakang Benteng Kuto Besak yang berdekatan dengan aliran sungai Musi. Secara administratif, berada di Kelurahan 19 Ilir, Kecamatan Ilir Barat I, tepat di pertemuan Jalan Merdeka dan Jalan Sudirman, pusat Kota Palembang.Masjid Agung Palembang mulai dibangun pada tahun 1738 oleh Sultan Mahmud Badaruddin I Jayo Wikramo.

Pembangunan berlangsung selama 10 tahun dan resmi digunakan sebagai tempat peribadatan umat muslim Palembang pada tanggal 28 Jumadil Awal 1161 H atau 26 Mei 1748 M.

Awalnya masjid ini bernama Masjid Sultan, dan belum memiliki menara. Bentuk masjid hampir bujursangkar, memiliki ukuran 30 meter x 36 meter. Dengan luas mencapai 1080 meter persegi, konon, Masjid Sultan merupakan masjid terbesar di nusantara yang mampu menampung 1200 jema’ah.

Lihat Juga :  Kisah Hidup, Pesan dan Detik-detik Wafatnya Siti Khadijah, Istri Tercinta Rasulullah
Foto: Leni — Masjid Agung SMB II Palembang

Arsitektur
Masjid Sultan dirancang oleh seorang arsitek dari Eropa. Konsep bangunan masjid memadukan keunikan arsitektur Nusantara, Eropa dan Cina. Gaya khas arsitektur Nusantara adalah pola struktur bangunan utama berundak tiga dengan puncaknya berbentuk limas. Undakan ketiga yang menjadi puncak masjid atau mustaka memiliki jenjang berukiran bunga tropis. Pada bagian ujung mustaka terdapat mustika berpola bunga merekah. Bentuk undakan bangunan masjid dipengaruhi bangunan dasar candi Hindu-Jawa, yang kemudian diserap Masjid Agung Demak.

Renovasi Masjid Agung

Perluasan pertama Masjid Sultan dilaksanakan pada tahun 1897 oleh Pangeran Nata Agama Karta Manggala Mustofa Ibnu Raden Kamaluddin. Lahan yang dijadikan areal kawasan masjid merupakan wakaf dari Sayyid Umar bin Muhammad Assegaf Althoha dan Sayyid Achmad bin Syech Shahab. Kemudian nama Masjid Sultan diubah menjadi Masjid Agung.
Perbaikan dan perluasan masjid dilakukan kembali pada tahun 1893. Pada tahun 1916 bangunan menara masjid disempurnakan. Kemudian pada tahun 1930, dilakukan perubahan struktur pilar masjid. Yakni menambah jarak pilar dengan atap menjadi 4 meter.
Pada kurun tahun 1966-1969 dibangun lantai kedua. Luas mesjid menjadi 5.520 meter persegi dengan daya tampung 7.750 jema’ah. Pada tanggal 22 Januari 1970 dimulai pembangunan menara baru yang disponsori oleh Pertamina. Menara baru ini setinggi 45 meter, mendampingi menara asli bergaya Cina. Renovasi Masjid Agung diresmikan pada tanggal 1 Februari 1971.
Sejak tahun 2000, Masjid Agung dilakukan renovasi kembali, dan selesai pada tanggal 16 Juni 2003 bertepatan dengan peresmiaannya oleh Presiden RI Hj. Megawati Soekarno Putri. Masjid Agung Palembang yang megah dan berdiri kokoh itu mampu menampung 9000 Jama’ah.

Lihat Juga :  Sejarah Terciptanya Harmonisasi Kalangan Ulama-Umaro dalam Islam

Tampung 15 Ribu Jemaah
Salah satu pengurus masjid Agung, Syukri kepada Assajidin.com mengatakan restorasi dan renovasi Masjid Agung kembali dilakukan dengan menambah tiga bangunan yaitu bangunan arah selatan dan bangunan arah utara, bangunan tiga lantai di arah timur, serta bangunan kuba. Sekarang bangunan utara ada serambi dalam bentuk U seluas 4, 20 m2, setelah di renovasi ruangan terbuka berbentuk U di perluas menjadi 9 m2. Atap berundak dengan limas di puncaknya (mustaka), atap tersebut mempunyai jumlah jurai kelompok simbar dan duri yang berbeda pada tiap sisi. Pada dua sisi memiliki masing-masing 13 jurai, sedangkan dua sisi lainnya ada 12 jurai, setelah di renovasi jurai pada tiap sisi memiliki jumlah yang sama yaitu 11 jurai duri. Namun bukan jumlah pembangunannya saja yang mengalami perubahaan, lantainya pun semula dari batu tehel merah menjadi batu granit. Renovasi ini menelan biaya Rp 32 miliar. Pembebasan tanah yang selama ini pemukiman penduduk mencapai Rp 10 miliar. “Luas masjid Agung yang dahulunya 15.400 m2 menjadi 1.512 m2. Daya tampung 8.500 jamaah menjadi 15.000 jamaah,” katanya.(*)

Kiriman Tulisan: Leni Rusmita

Back to top button