KISAH

Kehilangan dan Mengikhlaskan Adalah Cara Allah Menjadikan Kita Pribadi yang Kuat

Oleh : Ardilah Aquariani ( Wartawati di Palembang)

AsSajidin.com Palembang.——“Kehilangan”, satu kata yang dapat merubah kehidupan seseorang, dan mengikhlaskan sangat kuat kaitannya dengan kata diatas, karena kehilangan dan mengikhlaskan adalah cara Allah menjadikan kita pribadi yang kuat.

Itulah yang saat ini sedang terjadi pada Intan seorang wanita berusia 35 tahun, seorang ibu rumah tangga dengan tiga orang anak.

Kehidupannya berubah drastis dalam hitungan detik. Tanpa peringatan, ia harus menghadapi kenyataan pahit, kehilangan suami yang ia cintai untuk selamanya, hanya dalam hitungan menit.

Suaminya tidak sakit dan masih melukiskan cerita indah untuk keluarga kecil ini beberapa jam sebelumnya.

“Suami saya tidak sakit, memang beberapa hari yang lalu ia sempat mengeluhkan nyeri di dada dan kami sudah berobat, Alhamdulillah ia merasa sudah lebih baik.” Ujarnya

Intan juga menambahkan, “beberapa jam sebelum suami meninggal dunia, ia masih bersendau gurau bermain bersama saya dan anak-anak, mengantarkan saya ke pasar dan membereskan rumah, serta mengecet pagar dibantu dengan satu orang temannya.” Jelas wanita yang berpostur tinggi tersebut.

Ketika suaminya meminta dibuatkan minuman, akhirnya Intan bergegas ke dapur untuk membuatkan segelas minuman, tapi alangkah terkejutnya Intan saat kembali keruang tengah untuk memberikan segelas minuman yang diminta suaminya itu, ia sudah mendapati suaminya tak bernyawa.

Lihat Juga :  Masjid Ar Rodiah Matdiah Jadi Pusat Ibadah dan Syiar Islam di SMAN 5 Prabumulih

Bagaikan disambar petir disiang bolong. Ia tak menyangka bahwa dirinya akan ditinggalkan suaminya secepat ini.

Intan mengatakan “Waktu kecil saya sudah merasakan kehilangan ditinggalkan ibu saya meninggal dunia, lalu ketika saya baru beranjak dewasa saya kehilangan ayah saya juga, dan ketika saya baru merasakan kehangatan berkeluarga memiliki suami yang luar biasa baiknya, tetapi Allah juga mengambil suami saya tanpa satu kata pun sebagai pesan terakhirnya.” Ungkapnya dengan air mata yang membasahi pipinya

Kini Kesedihan mendalam menyelimuti dirinya, dan ketiga buah hatinya yang masih kecil-kecil, tetapi tanggung jawab baru menantinya, ia kini menjadi satu-satunya orang tua bagi ketiga anak mereka yang masih kecil.

“Ini seperti mimpi buruk yang tidak pernah terpikirkan sebelumnya, tiba-tiba, saya harus menjadi ayah sekaligus ibu bagi anak-anak saya.”ungkapnya

Ia menyadari bahwa Allah berhak mengambil siapa pun dan kapan pun seperti dalam surat Al-Ankabut Ayat 57

“Setiap yang bernyawa pasti akan merasakan kematian. Kemudian, hanya kepada Kami kamu dikembalikan”

“Hanya saja saat ini saya masih sangat syok, kenapa begitu cepat dan kenapa harus saya yang merasakan kepahitan yang bertubi-tubi harus kehilangan orang-orang yang saya cintai.”

Saat ini keluarga, sahabat, dan tetangga berusaha memberikan dukungan penuh. Mereka tahu bahwa perjalanan ini tidak akan mudah, terutama bagi seseorang yang harus belajar mengurus anak seorang diri di tengah duka yang masih mengguncang hatinya.

Lihat Juga :  Di Ta'if, Batu yang Hendak Ditimpakan ke Rasulullah SAW Saat Berdakwah Masih Ada Hingga Kini

Meskipun diliputi kesedihan, Intan bertekad untuk menjadi sosok yang kuat bagi anak-anaknya. “saya ingin mereka tetap merasakan kasih sayang dan kehangatan keluarga, meskipun keadaan telah berubah,” katanya.

Kisah Intan menggugah banyak orang dan mengingatkan bahwa dalam kesedihan, selalu ada harapan. Kehidupan memang penuh dengan ketidakpastian, tetapi cinta dan keteguhan hati akan selalu menjadi cahaya di tengah kegelapan.

Allah pun telah menjelaskan pada surat Al-Mulk Ayat 2: “Allah lah yang menjadikan mati dan hidup, supaya Dia menguji kamu, siapakah di antara kamu yang lebih baik amalnya. Dan Dia Maha Perkasa lagi Maha Pengampun”

Maka sebagai pengingat diri untuk kita yang masih diberikan nafas, kematian adalah kepastian yang telah ditetapkan oleh Allah SWT, dan tidak ada seorang pun yang bisa menghindarinya.

Semoga kisah ini menjadi pengingat bagi kita untuk selalu mempersiapkan diri dengan amal baik dan belajar menguatkan diri bahwa hidup adalah tempat dimana Allah akan berikan ujian yang tak disangka-sangka agar kita menyadari kebahagiaan yang sesungguhnya bukan di dunia tetapi di akhirat kelak.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top button