Jadwal imsakiyah Wilayah Palembang

-- --- 2026

Imsak: --:--| Shubu: --:-- | Maghrib: --:--

TAFSIR & HADIST

La Yukallifullahu Nafsan illa Wus’aha

لَا يُكَلِّفُ ٱللَّهُ نَفْسًا إِلَّا وُسْعَهَا ۚ لَهَا مَا كَسَبَتْ وَعَلَيْهَا مَا ٱكْتَسَبَتْ ۗ رَبَّنَا لَا تُؤَاخِذْنَآ إِن نَّسِينَآ أَوْ أَخْطَأْنَا ۚ رَبَّنَا وَلَا تَحْمِلْ عَلَيْنَآ إِصْرًا كَمَا حَمَلْتَهُۥ عَلَى ٱلَّذِينَ مِن قَبْلِنَا ۚ رَبَّنَا وَلَا تُحَمِّلْنَا مَا لَا طَاقَةَ لَنَا بِهِۦ ۖ وَٱعْفُ عَنَّا وَٱغْفِرْ لَنَا وَٱرْحَمْنَآ ۚ أَنتَ مَوْلَىٰنَا فَٱنصُرْنَا عَلَى ٱلْقَوْمِ ٱلْكَٰفِرِينَ

Artinya: “Allah tidak membebani seseorang, kecuali menurut kesanggupannya. Baginya ada sesuatu (pahala) dari (kebajikan) yang diusahakannya dan terhadapnya ada (pula) sesuatu (siksa) atas (kejahatan) yang diperbuatnya. (Mereka berdoa,) “Wahai Tuhan kami, janganlah Engkau hukum kami jika kami lupa atau kami salah. Wahai Tuhan kami, janganlah Engkau bebani kami dengan beban yang berat sebagaimana Engkau bebankan kepada orang-orang sebelum kami. Wahai Tuhan kami, janganlah Engkau pikulkan kepada kami apa yang tidak sanggup kami memikulnya. Maafkanlah kami, ampunilah kami, dan rahmatilah kami. Engkaulah pelindung kami. Maka, tolonglah kami dalam menghadapi kaum kafir.” (QS Al Baqarah: 286)

 

 

ASSAJIDIN.COM — Mari kita simak tafsir ayat di atas sebagaimana dikutip dari Tafsirweb.com berikut ini :

– Hidayatul Insan bi Tafsiril Qur’an / Ustadz Marwan Hadidi bin Musa, M.Pd.I

Agama Allah adalah mudah, tidak ada kesulitan di dalamnya. Oleh karena itu, Allah SWT tidak membebani sesuatu yang mereka tidak sanggup memikulnya.

Pada asalnya perintah dan larangan tidaklah memberatkan seseorang, bahkan hal itu merupakan makanan bagi ruh dan obat bagi badan serta menjaganya dari bahaya.

Allah SWT memerintahkan hamba-hamba-Nya sebagai rahmat dan ihsan-Nya. Oleh karena itu, apabila ada udzur yang mengakibatkan berat melaksanakan perintah itu, maka ada keringanan dan kemudahan, baik dengan digugurkan kewajiban itu atau digugurkan sebagiannya pada keringanan-keringanan bagi musafir dan orang yang sakit.

Oleh karena itu, seseorang tidaklah dihukum karena dosa orang lain dan tidak dihukum karena was-was yang menimpa hatinya selama tidak diucapkan atau dikerjakan. Demikian juga amal baik yang dilakukan seseorang tidaklah diberikan kepada orang lain.

Yakni niatnya hendak melakukan perbuatan yang boleh dilakukan, namun ternyata malah terjatuh ke dalam perbuatan yang dilarang, atau melakukan kesalahan tanpa disengaja. Kedua hal ini (lupa dan tersalah) dimaafkan oleh Allah SWT.

Berdasarkan ayat ini, maka barang siapa shalat memakai baju bekas rampasan, memakai baju bernajis, ada najis yang menimpa badannya, berbicara ketika shalat dan sebagainya. Semua itu dilakukan karena lupa atau berbuka puasa karena lupa, mengerjakan larangan-larangan ihram yang tidak termasuk perbuatan yang membinasakan karena lupa, maka dimaafkan.

Demikian juga, jika seorang yang bersumpah untuk tidak melakukan sesuatu, ternyata malah dikerjakan karena lupa, maka dimaafkan.

Termasuk juga jika seseorang melakukan sesuatu ternyata malah membinasakan jiwa atau harta orang lain, maka dia tidak berdosa, akan tetapi wajib menanggung karena telah membinasakan.

Demikian pula pada tempat atau keadaan yang mewajibkan membaca basmalah, namun ia lupa membacanya, maka tidak mengapa.

Lihat Juga :  Larangan Diskriminasi dalam Islam 

Imam Abu Hanifah berkata: “Jika seseorang sengaja tidak membaca (basmalah ketika menyembelih), maka haram dimakan. Namun jika tidak membacanya karena lupa, maka halal.”

Seperti yang menimpa Bani Israil, di mana tobat mereka dengan membunuh dirinya, zakatnya dengan mengeluarkan seperempat harta dan pakaian yang terkena najis harus dipotong.

Yakni Engkau-lah Tuhan kami, Penguasa kami, sesembahan Kami, Engkau mengurus kami sejak Engkau ciptakan kami. Nikmat-Mu kepada kami begitu banyak, bergulir terus dengan berjalannya waktu. Engkau pula yang melimpahkan kepada kami nikmat yang sangat besar, di mana semua nikmat mengikutinya, yaitu nikmat Islam.

Dengan menegakkan hujjah dan memenangkan peperangan ketika melawan mereka.

Doa yang dipanjatkan kaum mukminin ini diterima oleh Allah sebagaimana yang diberitakan oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam.

– Tafsir Ringkas Kementrian Agama RI

Tidak ada yang berat dalam beragama, dan tidak perlu ada kekhawatiran tentang tanggung jawab atas bisikan-bisikan hati, sebab Allah tidak membebani seseorang melainkan sesuai dengan kesanggupannya.

Dia, yakni setiap manusia, mendapat pahala dari kebajikan yang dikerjakannya walaupun baru dalam bentuk niat dan belum wujud dalam kenyataan, dan dia mendapat siksa dari kejahatan yang diperbuatnya dan wujud dalam bentuk nyata.

Mereka berdoa, ya Tuhan kami, janganlah engkau hukum kami jika kami lupa dalam melaksanakan apa yang engkau perintahkan atau kami melakukan kesalahan karena suatu dan lain sebab.

Ya Tuhan kami, janganlah engkau bebani kami dengan beban yang berat sebagaimana engkau bebankan kepada orang-orang sebelum kami seperti orang-orang yahudi yang mendapat tugas yang cukup sulit karena ulah mereka sendiri, misalnya untuk bertobat harus membunuh diri sendiri.

Ya Tuhan kami, janganlah engkau pikulkan kepada kami apa yang tidak sanggup kami memikulnya, baik berupa ketentuan dalam beragama maupun musibah dalam hidup dan lainnya.

Maafkanlah kami, yakni hapuslah dosa-dosa kami, ampunilah kami dengan menutupi aib kami dan tidak menghukum kami akibat pelanggaran, dan rahmatilah kami dengan sifat kasih dan rahmat-Mu yang luas, melebihi penghapusan dosa dan penutupan aib.

Engkaulah pelindung kami, karena itu maka tolonglah kami dengan argumentasi dan kekuatan fisik dalam menghadapi orang-orang kafir.

Alif laam miim. Huruf-huruf hijaiah ini juga menunjukkan kemukjizatan Al-Quran, sebab di situ terkandung tantangan kepada orang-orang musyrik untuk mendatangkan yang serupa dengannya.

Satu hal yang tidak pernah bisa mereka lakukan, dan tidak akan pernah ada seorang pun yang bisa melakukannya, padahal ayat Al-Quran terdiri atas rangkaian huruf-huruf yang biasa digunakan dalam bahasa arab, dan mereka yang hidup pada saat itu sedang berada pada puncak kemahiran berbahasa.

 

Penjelasan Ibnu Katsir 

Dengan kata lain, seperti diterangkan dalam Tafsir Ibnu Katsir, seseorang tidak dibebani melainkan sebatas kemampuannya.

Ibnu Katsir mengatakan, hal itu merupakan salah satu sifat lemah-lembut Allah SWT kepada makhluk-Nya dan kasih sayang-Nya serta kebaikan-Nya pada mereka.

Lebih lanjut Ibnu Katsir menjelaskan bahwa ayat tersebut me-nasakh dan merevisi kekhawatiran pada sahabat dalam firman Allah SWT,

Lihat Juga :  Tafsir Surat Al-Baqarah Ayat 128

وَإِنْ تُبْدُوا مَا فِي أَنْفُسِكُمْ أَوْ تُخْفُوهُ يُحَاسِبْكُمْ بِهِ اللَّه

Artinya: “Dan jika kalian melahirkan apa yang ada di dalam hati kalian atau kalian menyembunyikannya, niscaya Allah akan membuat perhitungan dengan kalian tentang perbuatan itu.” (QS Al Baqarah: 284)

 

Keutamaan

Melansir Detik.com dan Cnnindonesia.com, Imam Jalaluddin as-Suyuthi dalam kitabnya Al Itqan fi ‘Ulumil Qur’an memaparkan sebuah hadits yang menyebut keutamaan membaca ayat terakhir surah Al Baqarah.

Dikatakan, ayat tersebut menjadi pelindung bagi orang yang membacanya pada malam hari.

Enam imam hadits (As-Sittah) meriwayatkan hal itu dari Ibnu Mas’ud,

“Barang siapa membaca dua ayat terakhir dari surah Al Baqarah pada malam hari maka keduanya akan melindunginya.

Al-Hakim turut meriwayatkan dari an-Nu’man bin Basyir bahwa Rasulullah SAW bersabda,

“Sesungguhnya Allah Ta’ala menulis kitab-Nya sebelum menciptakan langit dan bumi dalam jangka dua ribu tahun. Dia menurunkan dua ayat darinya yang menutup surah Al Baqarah dengan keduanya. 

Tidakkah kedua ayat tersebut dibaca di dalam sebuah rumah, kecuali setan tidak ada yang berani mendekatinya selama tiga malam.”

Berikut bunyi dari 2 ayat terakhir surah Al-Baqarah (Ayat 285 dan 286) bersama artinya.

– Surah Al-Baqarah ayat 285

ءَامَنَ ٱلرَّسُولُ بِمَآ أُنزِلَ إِلَيْهِ مِن رَّبِّهِۦ وَٱلْمُؤْمِنُونَ ۚ كُلٌّ ءَامَنَ بِٱللَّهِ وَمَلَٰٓئِكَتِهِۦ وَكُتُبِهِۦ وَرُسُلِهِۦ لَا نُفَرِّقُ بَيْنَ أَحَدٍ مِّن رُّسُلِهِۦ ۚ وَقَالُوا۟ سَمِعْنَا وَأَطَعْنَا ۖ غُفْرَانَكَ رَبَّنَا وَإِلَيْكَ ٱلْمَصِيرُ

Artinya: “Rasul telah beriman kepada Alquran yang diturunkan kepadanya dari Tuhannya, demikian pula orang-orang beriman. Semuanya berima kepada Allah, malaikat-malaikat-Nya, kitab-kitab-Nya dan rasul-rasul-Nya.”

Mereka mengatakan: “Kami tidak membeda-bedakan antara seorang pun (dengan yang lain) dari rasul-rasul-Nya,” dan mereka mengatakan “Kami dengar dan kami taat.” Mereka berdoa, “Ampunilah kami ya Tuhan dan kepada Engkaulah tempat kembali.”

– Surah Al-Baqarah ayat 286

لَا يُكَلِّفُ ٱللَّهُ نَفْسًا إِلَّا وُسْعَهَا ۚ لَهَا مَا كَسَبَتْ وَعَلَيْهَا مَا ٱكْتَسَبَتْ ۗ رَبَّنَا لَا تُؤَاخِذْنَآ إِن نَّسِينَآ أَوْ أَخْطَأْنَا ۚ رَبَّنَا وَلَا تَحْمِلْ عَلَيْنَآ إِصْرًا كَمَا حَمَلْتَهُۥ عَلَى ٱلَّذِينَ مِن قَبْلِنَا ۚ رَبَّنَا وَلَا تُحَمِّلْنَا مَا لَا طَاقَةَ لَنَا بِهِۦ ۖ وَٱعْفُ عَنَّا وَٱغْفِرْ لَنَا وَٱرْحَمْنَآ ۚ أَنتَ مَوْلَىٰنَا فَٱنصُرْنَا عَلَى ٱلْقَوْمِ ٱلْكَٰفِرِينَ

Artinya: “Allah tidak membebani seseorang melainkan sesuai dengan kesanggupannya. Ia mendapat pahala (dari kebajikan) yang diusahakannya dan ia mendapat siksa (dari kejahatan) yang dikerjakannya.”

Mereka berdoa: “Ya Tuhan kami, janganlah Engkau hukum kami jika kami lupa atau kami tersalah. Ya Tuhan kami, janganlah Engkau membebankan kepada kami beban yang berat sebagaimana Engkau membebankan kepada orang-orang sebelum kami.”

“Ya Tuhan kami, janganlah Engkau pikulkan kepada kami apa yang tak sanggup kami memikulnya. Beri maaf kami, ampuni kami, dan rahmati kami. Engkaulah penolong kami, maka tolonglah kami terhadap kaum yang kafir.”

Wallahu a’lam bishshawab.

 

 

 

 

 

 

 

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top button