Jadwal imsakiyah Wilayah Palembang

-- --- 2026

Imsak: --:--| Shubu: --:-- | Maghrib: --:--

TAFSIR & HADIST

Ghibah dalam Islam

يٰۤـاَيُّهَا الَّذِيۡنَ اٰمَنُوا اجۡتَنِبُوۡا كَثِيۡرًا مِّنَ الظَّنِّ اِنَّ بَعۡضَ الظَّنِّ اِثۡمٌ‌ۖ وَّلَا تَجَسَّسُوۡا وَلَا يَغۡتَبْ بَّعۡضُكُمۡ بَعۡضًا‌ ؕ اَ يُحِبُّ اَحَدُكُمۡ اَنۡ يَّاۡكُلَ لَحۡمَ اَخِيۡهِ مَيۡتًا فَكَرِهۡتُمُوۡهُ‌ ؕ وَاتَّقُوا اللّٰهَ‌ ؕ اِنَّ اللّٰهَ تَوَّابٌ رَّحِيۡمٌ

“Wahai orang-orang yang beriman! Jauhilah banyak dari prasangka, sesungguhnya sebagian prasangka itu dosa dan janganlah kamu mencari-cari kesalahan orang lain dan janganlah ada di antara kamu yang menggunjing sebagian yang lain.

Apakah ada di antara kamu yang suka memakan daging saudaranya yang sudah mati? Tentu kamu merasa jijik. Dan bertakwalah kepada Allah, sesungguhnya Allah Maha Penerima tobat, Maha Penyayang.” (QS Al-Hujurat 12)

 

ASSAJIDiN.COM — Menurut Syekh Muhammad Yusuf Qardhawi dalam bukunya Halal dan Haram dalam Islam, Ghibah adalah keinginan untuk menghancurkan orang, suatu keinginan untuk menodai harga diri, kemuliaan dan kehormatan orang lain, sedangkan mereka itu tidak ada di hadapannya.

Hal ini, kata Buya Yusuf, menunjukkan kelicikannya, sebab sama dengan menusuk dari belakang.

Sikap ini merupakan salah satu bentuk penghancuran. Karena pengumpatan ini berarti melawan orang yang tidak berdaya.

 

Tafsir Ayat

Merujuk Zubdatut Tafsir Min Fathil Qadir / Syaikh Dr. Muhammad Sulaiman Al Asyqar, mudarris tafsir Universitas Islam Madinah, yang dikutip Tafsirweb.com, ini penjelasannya :

12. يٰٓأَيُّهَا الَّذِينَ ءَامَنُوا۟ اجْتَنِبُوا۟ كَثِيرًا مِّنَ الظَّنِّ

(Hai orang-orang yang beriman, jauhilah kebanyakan prasangka)

Yaitu berprasangka buruk terhadap orang baik. Adapun terhadap orang jahat dan fasik maka kita diperbolehkan berprasangka sesuai apa yang nampak dari mereka.

إِنَّ بَعْضَ الظَّنِّ إِثْمٌ ۖ

( karena sebagian dari prasangka itu dosa)

Yakni sebagian prasangka yang mengandung dosa ini adalah prasangka buruk terhadap orang baik.

وَلَا تَجَسَّسُوا۟( Dan janganlah mencari-cari keburukan orang)

Makna (التجسس) yakni mencari-cari aib dan keburukan yang tersembunyi.

وَلَا يَغْتَب بَّعْضُكُم بَعْضًا ۚ

( dan janganlah menggunjingkan satu sama lain)

Yakni janganlah kalian saling membicarakan keburukan orang lain tanpa sepengetahuannya.

Makna menggunjing yakni membicarakan keburukan seseorang ketika ia tidak bersama orang yang membicarakan itu, meskipun apa yang dibicarakan benar-benar ada dalam diri orang tersebut.

Adapun jika apa yang dibicarakan itu tidak benar maka itu termasuk tuduhan terhadapnya.

أَيُحِبُّ أَحَدُكُمْ أَن يَأْكُلَ لَحْمَ أَخِيهِ مَيْتًا

(Adakah seorang diantara kamu yang suka memakan daging saudaranya yang sudah mati?)

Allah mengumpamakan ghibah (menggunjing) seperti orang yang memakan bangkai orang yang sudah mati; sebab orang yang sudah mati tidak akan mengetahui bahwa dagingnya dimakan, begitu pula orang yang digunjing tidak mengetahui gunjingan tersebut, sehingga ia tidak mampu membela dirinya seperti mayat yang dimakan dagingnya.

Lihat Juga :  Burung yang Taat kepada Allah SWT

Adapun orang yang hadir dalam perbincangan bisa jadi ia mampu membela diri dari ucapan buruk yang ditujukan kepadanya.

Ayat ini adalah sebagai penjauh seseorang agar tidak melakukannya. Sebab memakan daging manusia merupakan hal yang dijauhi oleh tabiat manusia yang sehat, disamping itu adalah hal haram secara syariat.

فَكَرِهْتُمُوهُ ۚ

( Maka tentulah kamu merasa jijik kepadanya)

Yakni sebagaimana kalian tidak menyukai hal ini maka janganlah kalian menggunjingnya.

Sedangkan menurut yang tertera di Li Yaddabbaru Ayatih / Markaz Tadabbur di bawah pengawasan Syaikh Prof. Dr. Umar bin Abdullah al-Muqbil, professor fakultas syari’ah Universitas Qashim – Saudi Arabia:

1). Peringatan dari dosa dan penyebabnya jelas dalam Kitab Allah sebagaimana firman Allah ta’ala:

{ يَٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُوا۟ ٱجْتَنِبُوا۟ كَثِيرًا مِّنَ ٱلظَّنِّ إِنَّ بَعْضَ ٱلظَّنِّ إِثْمٌ ۖ وَلَا تَجَسَّسُوا۟ وَلَا يَغْتَب بَّعْضُكُم بَعْضًا }

“Hai orang-orang yang beriman, jauhilah kebanyakan purba-sangka (kecurigaan), karena sebagian dari purba-sangka itu dosa. Dan janganlah mencari-cari keburukan orang dan janganlah menggunjingkan satu sama lain”

Coba perhatikan pengaturan ini: Jika seseorang memikirkan sesuatu tentang saudaranya, dia memata-matainya; Jika dia memata-matai, maka dia telah memfitnahnya.

2). Ayat ini menjadi dasar saddu adz-dzari’ah (pentupan dalih) dan mengajarkan waro’. Untuk sebagian prasangka, maka kita menghindari banyak hal!

3). Allah memerintahkan orang-orang yang beriman untuk menghindari kecurigaan, seolah-olah itu adalah sesuatu yang terlihat jelas oleh seseorang, sehingga orang yang berakal harus menghindarinya sepenuhnya.

Karena sebagian dari kecurigaan itu, yaitu sedikitnya, adalah dosa, maka karena sedikit ini, dia meninggalkan yang banyak, seandainya orang-orang mengikuti pedoman ini dan menghindari kecurigaan – kecuali adanya bukti-bukti yang mendukung hal ini sangat banyak – mereka tidak akan memikirkannya; Mereka akan merasa tenang.

4). Saya mencoba untuk berburuk sangka kepada orang lain dan berbaik sangka kepada mereka. Aku mendapati yang pertama adalah sepotong nyala api, dan yang kedua adalah hembusan angin dari kebahagiaan surga, berjalan di tengah-tengah manusia dengan penuh kasih dan percaya diri.

5). Perhatikanlah bagaimana Al-Quran sangat fasih menolak ghibah, dengan cara mengarahkan cinta kepada hal-hal yang tidak disukai oleh sifat seseorang – yaitu memakan daging orang mati –, Dan gambaran yang lebih mengerikan lagi adalah bahwa dia menjadikan mayat itu sebagai manusia, dan saudara bagi orang yang memakannya, dan hanya seekor binatang buas yang tidak tunduk pada hal ini, ia tidak tunduk pada aturan, dan tidak ada ikatan janji untuk mengaturnya.

Lihat Juga :  Memberi Makan Orang Miskin

6). Berapa banyak prasangka buruk menghancurkan sebuah rumah tangga dan berapa banyak hati yang telah dipatahkan olehnya.

Salah seorang dari kita ketika ada kecurigaan sekecil apa pun itu, dengan sengaja memata-matai atau menguji dengan mengirimkan pesan seluler atau mengatur panggilan, dan semua itu diharamkan menurut naskah Al-Quran { وَلَا تَجَسَّسُوا۟ } “Dan janganlah mencari-cari keburukan orang”.

 

Alasan Dilarang Agama

Dikutip dari Detik.com, berikut beberapa alasan kenapa Ghibah dilarang agama.

1. Mengakibatkan Permusuhan

Ghibah dilarang agama karena dapat mengakibatkan permusuhan antar sesama. Bahkan, bisa saling membenci, pertengkaran, dan tidak menutup kemungkinan pertumpahan darah.

Hal ini sebagaimana dijelaskan oleh R. Syamsul B., dan M. Nielda dalam Tuntunan Ibadah Ramadhan dan Hari Raya.

2. Membuat Orang yang Bersangkutan Malu

Ustadz Adi Hidayat menjelaskan dalam buku  Ustadz Adi Hidayat oleh Rusydie Anwar, bahwa alasan mengapa perbuatan Ghibah dilarang agama karena berpotensi membuat orang yang bersangkutan malu karena aibnya dibongkar.

Allah SWT saja dengan segala kekuasaan-Nya dan belas kasih-Nya berkenan menutupi aib hamba-Nya, lantas apa hak kita sehingga perlu membeberkan aib orang lain?

3. Balasan bagi Orang yang Berbuat Buruk

Salah satu alasan menyebarkan aib dengan cara Ghibah adalah ingin memberi pelajaran bagi sang pelaku. Namun hal ini merupakan cara yang salah.

Alasan mengapa Ghibah dilarang agama adalah karena Allah SWT akan memberi balasan amalan seseorang sesuai dengan apa yang dikerjakannya, sebagaimana firman-Nya,

“Tiap-tiap diri bertanggung jawab atas apa yang telah diperbuatnya.” (Al-Mudatsir: 38)

Orang-orang yang menjelek-jelekkan orang lain pada hakikatnya bukan hanya Ghibah kepada seseorang, melainkan juga mencaci dan merendahkan ciptaan Allah SWT. Inilah yang dibenci oleh syariat

Foto : IST

Dampak Buruk 

Selain alasan-alasan tadi, perbuatan Ghibah juga dilarang agama karena menimbulkan berbagai dampak buruk.

Jondra Pianda dalam bukunya yang berjudul Blak-Blakan Bahas Mapel Pendidikan Agama Islam SMP, dampak negatif Ghibah yaitu:

1. Mengakibatkan rusaknya hubungan baik dengan orang lain

2. Menimbulkan kebencian, dendam, dan permusuhan

3. Merusak keharmonisan dalam hidup bermasyarakat

4. Berdosa kepada Allah SWT

5. Mengurangi iman.

 

Wallahu a’lam.

 

 

 

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top button