Jadwal imsakiyah Wilayah Palembang

-- --- 2026

Imsak: --:--| Shubu: --:-- | Maghrib: --:--

MOZAIK ISLAM

Sholawat Ummi dan Pengertian Nabi Muhammad yang Ummi

AsSAJIDIN.COM  — Terdapat sholawat ummi.

اَللّهُمَّ صَلِّ عَلىَ مُحَمَّدٍ عَبْدِكَ وَنَبِيِّكَ وَرَسُوْلِكَ النَّبِيِّ اْلأُمِّيِّ

Allahumma Sholli ‘Alaa Muhammadin ‘Abdika wa Rosulika An-Nabiyyil Ummi.

Artinya: “Ya Allah, limpahkanlah sholawat-Mu kepada Muhammad, hamba, Nabi dan Rasul-Mu, seorang Nabi yang ummi.

 

Ummi dalam bahasa Arab memiliki arti tidak bisa membaca ayat menulis. Sholawat ini erat kaitannya dengan dengan peristiwa Nabi Muhammad SAW menerima wahyu pertama saat Malaikat Jibril meminta beliau untuk membaca.

Sholawat ummi ini diciptakan oleh Syeikh Abu Abbas Al-Mursy, salah satu tokoh muslim ternama di zamannya. Biasanya, orang-orang yang rutin bersalawat, termasuk sholawat ummi ini, akan rajin mengerjakan shalat, ibadah, dan selalu berbuat baik.

Kebiasaan-kebiasaan baik inilah bahkan dapat membuatnya untuk bertemu dengan Rasulullah SAW di alam mimpi.

KH Abu Nur Jazuli Nahrawi Amaith ulama kharismatik dari Bumiayu, kyai penghafal Al-Qur‟an, Beliau juga mursyid Thoriqoh Qodiriyyah Wan Naqsabandiyyah dan pengarang Nuskhoh Sholawat Ummi.

Sholawat ini bisa diamalkan setelah shalat wajib maupun sunnah, sesudah mengaji, atau setelah mengikuti majelis taklim, pengajian, ceramah, khutbah, maupun kajian keislaman lainnya. Membaca sholawat bukan hanya mengharap fadhilah dan keutamaannya saja. Akan tetapi, rutin bersholawat akan menumbuhkan rasa istiqomah di dalam diri.

Lihat Juga :  MUI Palembang Kembali Imbau Umat Islam untuk Ibadah Ramadan di Rumah Saja

Hal ini akan membuat kita terbiasa untuk selalu mendoakan Rasulullah SAW, sebagai wujud rasa cinta umat Islam kepada nabinya. Pada dasarnya, tidak ada ketentuan khusus mengenai waktu pembacaan sholawat nabi.

Maksud Nabi Muhammad Seorang yang Ummi

Dikutip dari nu.or.id, kata ummi menunjukkan makna seorang yang tidak bisa membaca dan menulis. Namun tidak bisa baca dan tulis bukan berarti lambang kebodohan, sebab masyarakat tempat di mana beliau hidup memang tidak punya budaya baca tulis. Mengapa demikian?

Ada beberapa analisa yang sempat mengemuka. Salah satunya adalah fakta bahwa orang Arab punya kelebihan dalam mengingat kalimat dengan teramat sempurna. Buat mereka, menghafal 100 bait syair cukup dengan sekali mendengar. Sehingga kalau semua hal bisa dihafal, buat apa lagi ditulis.

Maka budaya baca tulis nyaris tidak terlalu banyak berkembang di tanah Arab di masa itu. Sebaliknya, mereka terbiasa menghafal begitu saja jutaan kata yang kalau ditulis bisa menjadi ribuan lembar buku.

Namun ada juga yang berpendapat bahwa yang dimaksud dengan ummi bukanlah tidak bisa baca dan tulis. Meski memang kenyataannya demikian, namun lafadz ummi lebih dimaksudkan sebagai orang yang tidak punya akses kepada kitab dan literatur agama samawi sebelumnya.

Lihat Juga :  Asmaul Husna Ar Rahman dan Arti Ar Rahim, Makna dan Penerapannya dalam Kehidupan

 

Nabi Muhammad SAW adalah seorang Arab yang tinggal di Makkah, beliau berbahasa Arab dan tidak paham bahasa Suryani atau Ibrani, dua bahasa yang digunakan oleh umat Nasrani dan Yahudi. Beliau tidak melek kitab samawi terdahulu. Maksudnya, beliau tidak bisa baca kitab Taurat, Injil dan Zabur.

Lalu apa hubungannya? Hubungannya adalah agar tidak ada alasan bagi umat yahudi atau nasrani untuk mengatakan bahwa nabi Muhammad hanyalah sekedar ‘menyontek’ dari kitab-kitab mereka. Sebab salah satu kilah mereka untuk tidak mau beriman kepada Nabi Muhammad SAW adalah karena mereka menuduh beliau sekedar menjiplak apa yang ada dalam kitab mereka.

Apalagi ternyata memang banyak hukum syariah yang memiliki kesamaan dengan hukum yang ada pada kalangan yahudi dan nasrani. Bahkan jenis hukumannya pun nyaris sama. Agama Yahudi dan Nasrani sama-sama mengharamkan babi, khamar, zina, pembunuhan, serta memberlakukan hukum hudud dan potong tangan. Ternyata, Al-Qur’an juga turun dengan esensi yang serupa, meski dengan beberapa penyesuaian.

Maka untuk menepis tuduhan itu, disebutlah bahwa nabi Muhammad SAW adalah seorang yang ummi, yaitu orang yang tidak mengerti bahasa Injil, Taurat dan Zabur. Maka tuduhan itu menjadi mentah dengan sendirinya. (*)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top button