Cara Menenangkan Hati dan Pikiran Menurut Alquran
AsSAJIDIN.COM — c Bagaimana cara menenangkan hati dan pikiran menurut ajaran islam? Simak pembahasannya berikut ini.
Seiring dengan makin jauhnya zaman dari masa kenabian shallallahu โalaihi wa sallam, maka semakin banyak pula kesesatan dan bidโah yang tersebar di tengah kaum muslimin[1], sehingga indahnya sunnah Nabi shallallahu โalaihi wa sallam dan kebenaran makin asing dalam pandangan mereka. Bahkan lebih dari itu, mereka menganggap perbuatan-perbuatan bidโah yang telah tersebar sebagai kebenaran yang tidak boleh ditinggalkan, dan sebaliknya jika ada sunnah Rasulullah shallallahu โalaihi wa sallam yang dihidupkan dan diamalkan kembali, mereka akan mengingkarinya dan memandangnya sebagai perbuatan buruk.
Sahabat yang mulia, Hudzaifah bin al-Yaman radhiallahu โanhu berkata, โDemi Allah yang jiwaku di tangan-Nya, sungguh perbuatan-perbuatan bidโah akan bermunculan (di akhir jaman) sehingga kebenaran (sunnah Rasulullah shallallahu โalaihi wa sallam) tidak lagi terlihat kecuali (sangat sedikit) seperti cahaya yang (tampak) dari celah kedua batu (yang sempit) ini. Demi Allah, sungguh perbuatan-perbuatan bidโah akan tersebar (di tengah kaum muslimin), sampai-sampai jika sebagian dari perbuatan bidโah tersebut ditinggalkan, orang-orang akan mengatakan: sunnah (Nabi shallallahu โalaihi wa sallam) telah ditinggalkan.โ[2]
Keadaan ini semakin diperparah kerusakannya dengan keberadaan para tokoh penyeru bidโah dan kesesatan, yang untuk mempromosikan dagangan bidโah, mereka tidak segan-segan memberikan iming-iming janji keutamaan dan pahala besar bagi orang-orang yang mengamalkan ajaran bidโah tersebut.
Oleh karena itu, tidaklah mengherankan kalau pada saat ini tidak sedikit kaum muslimin yang terpengaruh dengan propaganda tersebut, sehingga banyak di antara mereka yang lebih giat dan semangat mengamalkan berbagai bentuk zikir, wirid maupun shalawat bidโah yang diajarkan para tokoh tersebut daripada mempelajari dan mengerjakan amalan yang bersumber dari petunjuk Nabi shallallahu โalaihi wa sallam dan para sahabat beliau radhiallahu โanhum.
Tentu saja ini termasuk tipu daya setan untuk memalingkan manusia dari jalan Allah Subhanahu wa Taโala yang lurus. Allah Subhanahu wa Taโala berfirman,
ููููุฐููููู ุฌูุนูููููุง ููููููู ููุจูููู ุนูุฏููููุง ุดูููุงุทูููู ุงูุฅููุณู ููุงููุฌูููู ูููุญูู ุจูุนูุถูููู ู ุฅูููู ุจูุนูุถู ุฒูุฎูุฑููู ุงูููููููู ุบูุฑููุฑูุง
โDan demikianlah Kami jadikan bagi tiap-tiap nabi itu musuh, yaitu setan-setan (dari kalangan) manusia dan (dari kalangan) jin, yang mereka satu sama lain saling membisikkan perkataan-perkataan yang indah untuk menipu (manusia)โ (Qs. al-Anโam: 112).
Bahkan, setan berusaha menghiasi perbuatan-perbuatan bidโah dan sesat tersebut sehingga terlihat indah dan baik di mata manusia, dengan mengesankan bahwa dengan mengerjakan amalan bidโah tersebut hati menjadi tenang dan semua kesusahan yang dihadapi akan teratasi (??!!). Pernyataan-pernyataan seperti ini sangat sering terdengar dari para pengikut ajaran-ajaran bidโah tersebut, sebagai bukti kuatnya cengkraman tipu daya setan dalam diri mereka. Allah Subhanahu wa Taโala berfirman,
ุฃูููู ููู ุฒูููููู ูููู ุณููุกู ุนูู ููููู ููุฑูุขูู ุญูุณูููุง ููุฅูููู ุงูููููู ููุถูููู ู ููู ููุดูุงุกู ููููููุฏูู ู ููู ููุดูุงุกู
โApakah orang yang dihiasi perbuatannya yang buruk (oleh setan) lalu ia menganggap perbuatannya itu baik, (sama dengan dengan orang yang tidak diperdaya setan?), maka sesungguhnya Allah menyesatkan siapa yang dikehendaki-Nya dan memberi petunjuk kepada siapa yang dikehendaki-Nyaโ (Qs. Faathir:8).
Sumber ketenangan dan penghilang kesusahan yang hakiki
Setiap orang yang beriman kepada Allah Subhanahu wa Taโala wajib meyakini, bahwa sumber ketenangan jiwa dan ketentraman hati yang hakiki adalah dengan berzikir kepada kepada Allah Subhanahu wa Taโala, membaca al-Qurโan, berdoa kepada-Nya dengan menyebut nama-nama-Nya yang maha Indah, dan mengamalkan ketaatan kepada-Nya.
Allah Subhanahu wa Taโala berfirman,
ุงูููุฐูููู ุขู ููููุง ููุชูุทูู ูุฆูููู ูููููุจูููู ู ุจูุฐูููุฑู ุงูููููู ุฃููุง ุจูุฐูููุฑู ุงูููููู ุชูุทูู ูุฆูููู ุงูููููููุจู
โOrang-orang yang beriman dan hati mereka menjadi tenteram dengan berzikir (mengingat) Allah. Ingatlah, hanya dengan mengingat Allah hati menjadi tenteramโ (Qs. ar-Raโdu: 28).
Artinya dengan berzikir kepada Allah Subhanahu wa Taโala segala kegalauan dan kegundahan dalam hati mereka akan hilang dan berganti dengan kegembiraan dan kesenangan[3].
Bahkan, tidak ada sesuatupun yang lebih besar mendatangkan ketentraman dan kebahagiaan bagi hati manusia melebihi berzikir kepada Allah Subhanahu wa Taโala [4].
Salah seorang ulama salaf berkata, โSungguh kasihan orang-orang yang cinta dunia, mereka (pada akhirnya) akan meninggalkan dunia ini, padahal mereka belum merasakan kenikmatan yang paling besar di dunia ini.โ maka ada yang bertanya, โApakah kenikmatan yang paling besar di dunia ini?โ Ulama ini menjawab, โCinta kepada Allah, merasa tenang ketika mendekatkan diri kepada-Nya, rindu untuk bertemu dengan-Nya, serta merasa bahagia ketika berzikir dan mengamalkan ketaatan kepada-Nya.โ[5]
Inilah makna ucapan yang masyhur dari Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah โsemoga Allah merahmatinyaโ, โSesungguhnya di dunia ini ada jannnah (surga), barangsiapa yang belum masuk ke dalam surga di dunia ini maka dia tidak akan masuk ke dalam surga di akhirat nanti.โ[6]
Makna โsurga di duniaโ dalam ucapan beliau ini adalah kecintaan (yang utuh) dan maโrifah (pengetahuan yang sempurna) kepada Allah Subhanahu wa Taโala (dengan memahami nama-nama dan sifat-sifat-Nya dengan cara baik dan benar) serta selalu berzikir kepada-Nya, yang dibarengi dengan perasaan tenang dan damai (ketika mendekatkan diri) kepada-Nya, serta selalu mentauhidkan (mengesakan)-Nya dalam kecintaan, rasa takut, berharap, bertawakkal (berserah diri) dan bermuamalah, dengan menjadikan (kecintaan dan keridhaan) Allah Subhanahu wa Taโala satu-satunya yang mengisi dan menguasai pikiran, tekad dan kehendak seorang hamba. Inilah kenikmatan di dunia yang tiada bandingannya yang sekaligus merupakan qurratul โain (penyejuk dan penyenang hati) bagi orang-orang yang mencintai dan mengenal Allah Subhanahu wa Taโala [7].
Demikian pula jalan keluar dan penyelesaian terbaik dari semua masalah yang di hadapi seorang manusia adalah dengan bertakwa kepada Allah, sebagaimana dalam firman-Nya,
ููู ููู ููุชูููู ุงูููููู ููุฌูุนููู ูููู ู ูุฎูุฑูุฌุงู. ููููุฑูุฒููููู ู ููู ุญูููุซู ูุง ููุญูุชูุณูุจู
โBarangsiapa yang bertakwa kepada Allah niscaya Dia akan memberikan baginya jalan keluar (dalam semua masalah yang dihadapinya), dan memberinya rezeki dari arah yang tidak disangka-sangkanya.โ (QS. ath-Thalaaq: 2-3).
Ketakwaan yang sempurna kepada Allah tidak mungkin dicapai kecuali dengan menegakkan semua amal ibadah, serta menjauhi semua perbuatan yang diharamkan dan dibenci oleh Allah Subhanahu wa Taโala.[8]
Dalam ayat berikutnya Allah berfirman,
ููู ููู ููุชูููู ุงูููููู ููุฌูุนููู ูููู ู ููู ุฃูู ูุฑููู ููุณูุฑุงู
โBarangsiapa yang bertakwa kepada Allah niscaya Dia akan menjadikan baginya kemudahan dalam (semua) urusannya.โ (Qs. ath-Thalaaq: 4).
Artinya: Allah akan meringankan dan memudahkan (semua) urusannya, serta menjadikan baginya jalan keluar dan solusi yang segera (menyelesaikan masalah yang dihadapinya).[9]
Adapun semua bentuk zikir, wirid maupun shalawat yang tidak bersumber dari petunjuk Rasulullah shallallahu โalaihi wa sallam, meskipun banyak tersebar di masyarakat muslim, maka semua itu adalah amalan buruk dan tidak mungkin akan mendatangkan ketenangan yang hakiki bagi hati dan jiwa manusia, apalagi menjadi sumber penghilang kesusahan mereka. Karena, semua perbuatan tersebut termasuk bidโah[10] yang jelas-jelas telah diperingatkan keburukannya oleh Rasulullah shallallahu โalaihi wa sallam dalam sabda Beliau shallallahu โalaihi wa sallam, โSesungguhnya semua perkara yang diada-adakan adalah bidโah, dan semua bidโah adalah sesat, dan semua yang sesat (tempatnya) dalam neraka.โ[11]
Hanya amalan ibadah yang bersumber dari petunjuk al-Qurโan dan hadits Rasulullah shallallahu โalaihi wa sallam yang bisa membersihkan hati dan mensucikan jiwa manusia dari noda dosa dan maksiat yang mengotorinya, yang dengan itulah hati dan jiwa manusia akan merasakan ketenangan dan ketentraman.
Allah Subhanahu wa Taโala berfirman,
ููููุฏู ู ูููู ุงูููููู ุนูููู ุงููู ูุคูู ูููููู ุฅูุฐู ุจูุนูุซู ูููููู ู ุฑูุณูููุงู ู ููู ุฃูููููุณูููู ู ููุชูููู ุนูููููููู ู ุขููุงุชููู ููููุฒูููููููู ู ููููุนููููู ูููู ู ุงููููุชูุงุจู ููุงููุญูููู ูุฉู ููุฅููู ููุงูููุง ู ููู ููุจููู ููููู ุถููุงูู ู ูุจูููู
โSungguh, Allah telah memberi karunia (yang besar) kepada orang-orang yang beriman ketika Allah mengutus kepada mereka seorang Rasul dari kalangan mereka sendiri, yang membacakan kepada mereka ayat-ayat Allah, menyucikan (jiwa) mereka, dan mengajarkan kepada mereka al-Kitab (al-Qur-an) dan al-Hikmah (as-Sunnah). Dan sesungguhnya sebelum (kedatangan Rasul) itu, mereka benar-benar dalam kesesatan yang nyata.โ (Qs. Ali โImraan: 164).
Makna firman-Nya โmenyucikan (jiwa) merekaโ adalah membersihkan mereka dari keburukan akhlak, kotoran jiwa dan perbuatan-perbuatan jahiliyyah, serta mengeluarkan mereka dari kegelapan-kegelapan menuju cahaya (hidayah Allah Subhanahu wa Taโala).[12]
Dalam ayat lain Allah Subhanahu wa Taโala berfirman,
ููุง ุฃููููููุง ุงููููุงุณู ููุฏู ุฌูุงุกูุชูููู ู ู ูููุนูุธูุฉู ู ููู ุฑูุจููููู ู ููุดูููุงุกู ููู ูุง ููู ุงูุตููุฏููุฑู ููููุฏูู ููุฑูุญูู ูุฉู ููููู ูุคูู ูููููู
โHai manusia, sesungguhnya telah datang kepadamu pelajaran dari Rabbmu (al-Qurโan) dan penyembuh bagi penyakit-penyakit dalam dada (hati manusia), dan petunjuk serta rahmat bagi orang-orang yang beriman.โ (Qs. Yuunus: 57).
Oleh karena itu, Rasulullah shallallahu โalaihi wa sallam menyebutkan perumpaan petunjuk dari Allah Subhanahu wa Taโala yang beliau bawa seperti hujan baik yang Allah Subhanahu wa Taโala turunkan dari langit, karena hujan yang turun akan menghidupkan dan menyegarkan tanah yang kering, sebagaimana petunjuk Allah Subhanahu wa Taโala akan menghidupkan dan menentramkan hati manusia. Beliau shallallahu โalaihi wa sallam bersabda, โSesungguhnya perumpaan bagi petunjuk dan ilmu yang Allah wahyukan kepadaku adalah seperti air hujan (yang baik) yang Allah turunkan ke bumiโฆโ[13]. (*/sumber: muslim.or.id)
