Jadwal imsakiyah Wilayah Palembang

-- --- 2026

Imsak: --:--| Shubu: --:-- | Maghrib: --:--

MOZAIK ISLAM

Cara Menenangkan Hati dan Pikiran Menurut Alquran

AsSAJIDIN.COM — c Bagaimana cara menenangkan hati dan pikiran menurut ajaran islam? Simak pembahasannya berikut ini.

Seiring dengan makin jauhnya zaman dari masa kenabian shallallahu โ€˜alaihi wa sallam, maka semakin banyak pula kesesatan dan bidโ€™ah yang tersebar di tengah kaum muslimin[1], sehingga indahnya sunnah Nabi shallallahu โ€˜alaihi wa sallam dan kebenaran makin asing dalam pandangan mereka. Bahkan lebih dari itu, mereka menganggap perbuatan-perbuatan bidโ€™ah yang telah tersebar sebagai kebenaran yang tidak boleh ditinggalkan, dan sebaliknya jika ada sunnah Rasulullah shallallahu โ€˜alaihi wa sallam yang dihidupkan dan diamalkan kembali, mereka akan mengingkarinya dan memandangnya sebagai perbuatan buruk.

Sahabat yang mulia, Hudzaifah bin al-Yaman radhiallahu โ€˜anhu berkata, โ€œDemi Allah yang jiwaku di tangan-Nya, sungguh perbuatan-perbuatan bidโ€™ah akan bermunculan (di akhir jaman) sehingga kebenaran (sunnah Rasulullah shallallahu โ€˜alaihi wa sallam) tidak lagi terlihat kecuali (sangat sedikit) seperti cahaya yang (tampak) dari celah kedua batu (yang sempit) ini. Demi Allah, sungguh perbuatan-perbuatan bidโ€™ah akan tersebar (di tengah kaum muslimin), sampai-sampai jika sebagian dari perbuatan bidโ€™ah tersebut ditinggalkan, orang-orang akan mengatakan: sunnah (Nabi shallallahu โ€˜alaihi wa sallam) telah ditinggalkan.โ€[2]

Keadaan ini semakin diperparah kerusakannya dengan keberadaan para tokoh penyeru bidโ€™ah dan kesesatan, yang untuk mempromosikan dagangan bidโ€™ah, mereka tidak segan-segan memberikan iming-iming janji keutamaan dan pahala besar bagi orang-orang yang mengamalkan ajaran bidโ€™ah tersebut.

Oleh karena itu, tidaklah mengherankan kalau pada saat ini tidak sedikit kaum muslimin yang terpengaruh dengan propaganda tersebut, sehingga banyak di antara mereka yang lebih giat dan semangat mengamalkan berbagai bentuk zikir, wirid maupun shalawat bidโ€™ah yang diajarkan para tokoh tersebut daripada mempelajari dan mengerjakan amalan yang bersumber dari petunjuk Nabi shallallahu โ€˜alaihi wa sallam dan para sahabat beliau radhiallahu โ€˜anhum.

Tentu saja ini termasuk tipu daya setan untuk memalingkan manusia dari jalan Allah Subhanahu wa Taโ€™ala yang lurus. Allah Subhanahu wa Taโ€™ala berfirman,

ูˆูŽูƒูŽุฐูŽู„ููƒูŽ ุฌูŽุนูŽู„ู’ู†ูŽุง ู„ููƒูู„ู‘ู ู†ูŽุจููŠู‘ู ุนูŽุฏููˆู‘ู‹ุง ุดูŽูŠูŽุงุทููŠู†ูŽ ุงู„ุฅู†ู’ุณู ูˆูŽุงู„ู’ุฌูู†ู‘ู ูŠููˆุญููŠ ุจูŽุนู’ุถูู‡ูู…ู’ ุฅูู„ูŽู‰ ุจูŽุนู’ุถู ุฒูุฎู’ุฑูููŽ ุงู„ู’ู‚ูŽูˆู’ู„ู ุบูุฑููˆุฑู‹ุง

โ€œDan demikianlah Kami jadikan bagi tiap-tiap nabi itu musuh, yaitu setan-setan (dari kalangan) manusia dan (dari kalangan) jin, yang mereka satu sama lain saling membisikkan perkataan-perkataan yang indah untuk menipu (manusia)โ€ (Qs. al-Anโ€™am: 112).

Bahkan, setan berusaha menghiasi perbuatan-perbuatan bidโ€™ah dan sesat tersebut sehingga terlihat indah dan baik di mata manusia, dengan mengesankan bahwa dengan mengerjakan amalan bidโ€™ah tersebut hati menjadi tenang dan semua kesusahan yang dihadapi akan teratasi (??!!). Pernyataan-pernyataan seperti ini sangat sering terdengar dari para pengikut ajaran-ajaran bidโ€™ah tersebut, sebagai bukti kuatnya cengkraman tipu daya setan dalam diri mereka. Allah Subhanahu wa Taโ€™ala berfirman,

ุฃูŽููŽู…ูŽู†ู’ ุฒููŠู‘ูู†ูŽ ู„ูŽู‡ู ุณููˆุกู ุนูŽู…ูŽู„ูู‡ู ููŽุฑูŽุขู‡ู ุญูŽุณูŽู†ู‹ุง ููŽุฅูู†ู‘ูŽ ุงู„ู„ู‘ูŽู‡ูŽ ูŠูุถูู„ู‘ู ู…ูŽู†ู’ ูŠูŽุดูŽุงุกู ูˆูŽูŠูŽู‡ู’ุฏููŠ ู…ูŽู†ู’ ูŠูŽุดูŽุงุกู

โ€œApakah orang yang dihiasi perbuatannya yang buruk (oleh setan) lalu ia menganggap perbuatannya itu baik, (sama dengan dengan orang yang tidak diperdaya setan?), maka sesungguhnya Allah menyesatkan siapa yang dikehendaki-Nya dan memberi petunjuk kepada siapa yang dikehendaki-Nyaโ€ (Qs. Faathir:8).

Lihat Juga :  Aisyiyah Sumsel Gelar Beragam Kegiatan Ramadhan, Dari Kajian hingga Peduli Dhuafa

 

Sumber ketenangan dan penghilang kesusahan yang hakiki

 

Setiap orang yang beriman kepada Allah Subhanahu wa Taโ€™ala wajib meyakini, bahwa sumber ketenangan jiwa dan ketentraman hati yang hakiki adalah dengan berzikir kepada kepada Allah Subhanahu wa Taโ€™ala, membaca al-Qurโ€™an, berdoa kepada-Nya dengan menyebut nama-nama-Nya yang maha Indah, dan mengamalkan ketaatan kepada-Nya.

Allah Subhanahu wa Taโ€™ala berfirman,

ุงู„ู‘ูŽุฐููŠู†ูŽ ุขู…ูŽู†ููˆุง ูˆูŽุชูŽุทู’ู…ูŽุฆูู†ู‘ู ู‚ูู„ููˆุจูู‡ูู…ู’ ุจูุฐููƒู’ุฑู ุงู„ู„ู‘ูŽู‡ู ุฃูŽู„ุง ุจูุฐููƒู’ุฑู ุงู„ู„ู‘ูŽู‡ู ุชูŽุทู’ู…ูŽุฆูู†ู‘ู ุงู„ู’ู‚ูู„ููˆุจู

โ€œOrang-orang yang beriman dan hati mereka menjadi tenteram dengan berzikir (mengingat) Allah. Ingatlah, hanya dengan mengingat Allah hati menjadi tenteramโ€ (Qs. ar-Raโ€™du: 28).

Artinya dengan berzikir kepada Allah Subhanahu wa Taโ€™ala segala kegalauan dan kegundahan dalam hati mereka akan hilang dan berganti dengan kegembiraan dan kesenangan[3].

Bahkan, tidak ada sesuatupun yang lebih besar mendatangkan ketentraman dan kebahagiaan bagi hati manusia melebihi berzikir kepada Allah Subhanahu wa Taโ€™ala [4].

Salah seorang ulama salaf berkata, โ€œSungguh kasihan orang-orang yang cinta dunia, mereka (pada akhirnya) akan meninggalkan dunia ini, padahal mereka belum merasakan kenikmatan yang paling besar di dunia ini.โ€ maka ada yang bertanya, โ€œApakah kenikmatan yang paling besar di dunia ini?โ€ Ulama ini menjawab, โ€œCinta kepada Allah, merasa tenang ketika mendekatkan diri kepada-Nya, rindu untuk bertemu dengan-Nya, serta merasa bahagia ketika berzikir dan mengamalkan ketaatan kepada-Nya.โ€[5]

Inilah makna ucapan yang masyhur dari Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah โ€“semoga Allah merahmatinyaโ€“, โ€œSesungguhnya di dunia ini ada jannnah (surga), barangsiapa yang belum masuk ke dalam surga di dunia ini maka dia tidak akan masuk ke dalam surga di akhirat nanti.โ€[6]

Makna โ€œsurga di duniaโ€ dalam ucapan beliau ini adalah kecintaan (yang utuh) dan maโ€™rifah (pengetahuan yang sempurna) kepada Allah Subhanahu wa Taโ€™ala (dengan memahami nama-nama dan sifat-sifat-Nya dengan cara baik dan benar) serta selalu berzikir kepada-Nya, yang dibarengi dengan perasaan tenang dan damai (ketika mendekatkan diri) kepada-Nya, serta selalu mentauhidkan (mengesakan)-Nya dalam kecintaan, rasa takut, berharap, bertawakkal (berserah diri) dan bermuamalah, dengan menjadikan (kecintaan dan keridhaan) Allah Subhanahu wa Taโ€™ala satu-satunya yang mengisi dan menguasai pikiran, tekad dan kehendak seorang hamba. Inilah kenikmatan di dunia yang tiada bandingannya yang sekaligus merupakan qurratul โ€˜ain (penyejuk dan penyenang hati) bagi orang-orang yang mencintai dan mengenal Allah Subhanahu wa Taโ€™ala [7].

Demikian pula jalan keluar dan penyelesaian terbaik dari semua masalah yang di hadapi seorang manusia adalah dengan bertakwa kepada Allah, sebagaimana dalam firman-Nya,

ูˆูŽู…ูŽู†ู’ ูŠูŽุชู‘ูŽู‚ู ุงู„ู„ู‘ูŽู‡ูŽ ูŠูŽุฌู’ุนูŽู„ู’ ู„ูŽู‡ู ู…ูŽุฎู’ุฑูŽุฌุงู‹. ูˆูŽูŠูŽุฑู’ุฒูู‚ู’ู‡ู ู…ูู†ู’ ุญูŽูŠู’ุซู ู„ุง ูŠูŽุญู’ุชูŽุณูุจู

โ€œBarangsiapa yang bertakwa kepada Allah niscaya Dia akan memberikan baginya jalan keluar (dalam semua masalah yang dihadapinya), dan memberinya rezeki dari arah yang tidak disangka-sangkanya.โ€ (QS. ath-Thalaaq: 2-3).

Ketakwaan yang sempurna kepada Allah tidak mungkin dicapai kecuali dengan menegakkan semua amal ibadah, serta menjauhi semua perbuatan yang diharamkan dan dibenci oleh Allah Subhanahu wa Taโ€™ala.[8]

Lihat Juga :  Kembali Kepada Allah, Kaji Diri Sendiri Hadapi Berbagai Masalah Termasuk PPKM

Dalam ayat berikutnya Allah berfirman,

ูˆูŽู…ูŽู†ู’ ูŠูŽุชู‘ูŽู‚ู ุงู„ู„ู‘ูŽู‡ูŽ ูŠูŽุฌู’ุนูŽู„ู’ ู„ูŽู‡ู ู…ูู†ู’ ุฃูŽู…ู’ุฑูู‡ู ูŠูุณู’ุฑุงู‹

โ€œBarangsiapa yang bertakwa kepada Allah niscaya Dia akan menjadikan baginya kemudahan dalam (semua) urusannya.โ€ (Qs. ath-Thalaaq: 4).

Artinya: Allah akan meringankan dan memudahkan (semua) urusannya, serta menjadikan baginya jalan keluar dan solusi yang segera (menyelesaikan masalah yang dihadapinya).[9]

Adapun semua bentuk zikir, wirid maupun shalawat yang tidak bersumber dari petunjuk Rasulullah shallallahu โ€˜alaihi wa sallam, meskipun banyak tersebar di masyarakat muslim, maka semua itu adalah amalan buruk dan tidak mungkin akan mendatangkan ketenangan yang hakiki bagi hati dan jiwa manusia, apalagi menjadi sumber penghilang kesusahan mereka. Karena, semua perbuatan tersebut termasuk bidโ€™ah[10] yang jelas-jelas telah diperingatkan keburukannya oleh Rasulullah shallallahu โ€˜alaihi wa sallam dalam sabda Beliau shallallahu โ€˜alaihi wa sallam, โ€œSesungguhnya semua perkara yang diada-adakan adalah bidโ€™ah, dan semua bidโ€™ah adalah sesat, dan semua yang sesat (tempatnya) dalam neraka.โ€[11]

Hanya amalan ibadah yang bersumber dari petunjuk al-Qurโ€™an dan hadits Rasulullah shallallahu โ€˜alaihi wa sallam yang bisa membersihkan hati dan mensucikan jiwa manusia dari noda dosa dan maksiat yang mengotorinya, yang dengan itulah hati dan jiwa manusia akan merasakan ketenangan dan ketentraman.

Allah Subhanahu wa Taโ€™ala berfirman,

ู„ูŽู‚ูŽุฏู’ ู…ูŽู†ู‘ูŽ ุงู„ู„ู‘ูŽู‡ู ุนูŽู„ูŽู‰ ุงู„ู’ู…ูุคู’ู…ูู†ููŠู†ูŽ ุฅูุฐู’ ุจูŽุนูŽุซูŽ ูููŠู‡ูู…ู’ ุฑูŽุณููˆู„ุงู‹ ู…ูู†ู’ ุฃูŽู†ู’ููุณูู‡ูู…ู’ ูŠูŽุชู’ู„ููˆ ุนูŽู„ูŽูŠู’ู‡ูู…ู’ ุขูŠูŽุงุชูู‡ู ูˆูŽูŠูุฒูŽูƒู‘ููŠู‡ูู…ู’ ูˆูŽูŠูุนูŽู„ู‘ูู…ูู‡ูู…ู ุงู„ู’ูƒูุชูŽุงุจูŽ ูˆูŽุงู„ู’ุญููƒู’ู…ูŽุฉูŽ ูˆูŽุฅูู†ู’ ูƒูŽุงู†ููˆุง ู…ูู†ู’ ู‚ูŽุจู’ู„ู ู„ูŽูููŠ ุถูŽู„ุงู„ู ู…ูุจููŠู†ู

โ€œSungguh, Allah telah memberi karunia (yang besar) kepada orang-orang yang beriman ketika Allah mengutus kepada mereka seorang Rasul dari kalangan mereka sendiri, yang membacakan kepada mereka ayat-ayat Allah, menyucikan (jiwa) mereka, dan mengajarkan kepada mereka al-Kitab (al-Qur-an) dan al-Hikmah (as-Sunnah). Dan sesungguhnya sebelum (kedatangan Rasul) itu, mereka benar-benar dalam kesesatan yang nyata.โ€ (Qs. Ali โ€˜Imraan: 164).

Makna firman-Nya โ€œmenyucikan (jiwa) merekaโ€ adalah membersihkan mereka dari keburukan akhlak, kotoran jiwa dan perbuatan-perbuatan jahiliyyah, serta mengeluarkan mereka dari kegelapan-kegelapan menuju cahaya (hidayah Allah Subhanahu wa Taโ€™ala).[12]

Dalam ayat lain Allah Subhanahu wa Taโ€™ala berfirman,

ูŠูŽุง ุฃูŽูŠู‘ูู‡ูŽุง ุงู„ู†ู‘ูŽุงุณู ู‚ูŽุฏู’ ุฌูŽุงุกูŽุชู’ูƒูู…ู’ ู…ูŽูˆู’ุนูุธูŽุฉูŒ ู…ูู†ู’ ุฑูŽุจู‘ููƒูู…ู’ ูˆูŽุดูููŽุงุกูŒ ู„ูู…ูŽุง ูููŠ ุงู„ุตู‘ูุฏููˆุฑู ูˆูŽู‡ูุฏู‹ู‰ ูˆูŽุฑูŽุญู’ู…ูŽุฉูŒ ู„ูู„ู’ู…ูุคู’ู…ูู†ููŠู†ูŽ

โ€œHai manusia, sesungguhnya telah datang kepadamu pelajaran dari Rabbmu (al-Qurโ€™an) dan penyembuh bagi penyakit-penyakit dalam dada (hati manusia), dan petunjuk serta rahmat bagi orang-orang yang beriman.โ€ (Qs. Yuunus: 57).

Oleh karena itu, Rasulullah shallallahu โ€˜alaihi wa sallam menyebutkan perumpaan petunjuk dari Allah Subhanahu wa Taโ€™ala yang beliau bawa seperti hujan baik yang Allah Subhanahu wa Taโ€™ala turunkan dari langit, karena hujan yang turun akan menghidupkan dan menyegarkan tanah yang kering, sebagaimana petunjuk Allah Subhanahu wa Taโ€™ala akan menghidupkan dan menentramkan hati manusia. Beliau shallallahu โ€˜alaihi wa sallam bersabda, โ€œSesungguhnya perumpaan bagi petunjuk dan ilmu yang Allah wahyukan kepadaku adalah seperti air hujan (yang baik) yang Allah turunkan ke bumiโ€ฆโ€œ[13]. (*/sumber: muslim.or.id)

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top button