Jadwal imsakiyah Wilayah Palembang

-- --- 2026

Imsak: --:--| Shubu: --:-- | Maghrib: --:--

KALAM

Lakukan Amalan yang Membawamu ke Surga

“Bila Allah ridho  maka tiada yang tak mungkin”

Oleh: Bangun Lubis ( wartawan Assajidin.com )

MASUK surga adalah harapan paling mulia dan itu tujuan hidup ini. Bertemu dengan Allah dan kekasih umat Islam Rasulullah Saw., beserta sahabat dan mukmin sekalian. Tiada yang diharapkan di dunia ini kecuali secara keseluruhan hidup hanya memohon masuk ke dalam surga jannatunna’im.

Bila Allah meridhoi untuk masuk ke dalam suganya, berarti kita adalah umat pilihan Allah, yang tiada tandingan atas harapan manusia di dunia ini. Seorang yang dipilih Allah, berarti telah menjalankan seluruh perintah Allah dan Rasulullah serta larangan-Nya di dunia ini. Bukanlah orang yang hubbundunya.  Segala macam cara dilakukan untuk bisa luruh imannya, lalu termasuk seorang diantara manusia pilihan yang masuk surga.

Menangis hati ini, bila mendengar bila Allah tak meridhoi kita maka tiada jalan menuju surga. Makanya kita selalu memohon ampun dan memohon menjadi orang yang masuk surga di akhir hidup nanti. Sebab masuk surga adalah hak prerogatif Allah memberikannya.

Kita umat Islam ini baik laki-laki maupun perempuan, haruslah selalu rendah hati  dan takut kepada Allah, bahkan atas kesombongannya sendiri yang barangkali terbersit di dalam hatinya tanpa disadari.” Bukankah amalan itu tergantung pada niatnya,”  kata Rasulullah. Niat haruslah terpancang dan tertuju pada keinginan luhur kita. Meskipun kita sering melakukan amalan kebaikan atau ibadah sepanjang waktu, tetapi jika niat keliru, apalagi hanya sekadar pencitraan, maka amalan kebaikan itu bisa tak ada artinya sama sekali.

Rendah hati termasuk dalam sikap yang terpuji, karena orang yang rendah hati tidak menyombongkan diri di hadapan manusia lain. Dalam bahasa Arab, rendah hati disebut juga tawadhu dengan arti sikap yang menyayangi terhadap sesama dan patuh kepada perintah Allah. Seseorang yang memiliki sikap tawadhu mampu mengukur pengetahuan dan kemampuan dirinya sendiri sehingga tak merasa lebih tinggi dibanding orang lain, laman bandung.go.id melansir.

Walau dirinya mempunyai banyak kelebihan dan kemampuan, namun ia menyadari bahwa semua kelebihan tersebut adalah karunia dari Allah Subhanahu wata’ala yang bisa sekejab saja hilang jika Allah Swt. berkehendak. Dengan tawadhu yang selalu tertanam di dalam diri, maka seorang muslim akan tunduk pada kebenaran yang disampaikan oleh pihak lain yang lebih sesuai dan berdasar pada Al-Qur’an dan hadist, walau pendapatnya sendiri berbeda dengan kebenaran yang disampaikan tersebut.

Ayat – ayat Al-Qur’an tentang rendah hati dikutip situs Walisongo, seorang yang tawadhu akan bersikap lemah lembut kepada kaum muslim dan orang-orang yang beriman lainnya, seperti disampaikan dalam Surat Al-Hijr ayat 88 berikut ini Artinya: “Janganlah sekali-kali kamu menunjukkan pandanganmu kepada kenikmatan hidup yang telah Kami berikan kepada beberapa golongan di antara mereka (orang-orang kafir itu), dan janganlah kamu bersedih hati terhadap mereka dan berendah dirilah kamu terhadap orang-orang yang beriman.” (QS. Al-Hijr [15] : 88). Seorang pemimpin jika memiliki sikap tawadhu, ia akan jauh dari sikap zalim, arogan dan sewenang-wenang, bahkan selalu merendahkan diri kepada pengikutnya.

Al-Qur’an surat Asy-Syu’araa’ ayat 215 menyebutkan hal tersebut: Artinya: “Dan rendahkanlah dirimu terhadap orang-orang yang mengikutimu, yaitu orang-orang yang beriman”. (QS. Asy-Syu’araa’ [62] : 215). Rendah hati berbeda dengan minder (rendah diri), hal ini perlu diingat bahwa rendah hati adalah sikap yang terpuji sementara minder atau rendah diri bukan sikap terpuji. Rendah hati bukan kehinaan namun merupakan sikap yang dianjurkan untuk meraih kemuliaan dan keselamatan dunia akhirat. Surah Al-Furqan: 63 menjelaskan lebih lanjut tentang sikap rendah hati. Artinya: “Dan hamba-hamba Tuhan yang Maha Penyayang itu (ialah) orang-orang yang berjalan di atas bumi dengan rendah hati dan apabila orang-orang jahil menyapa mereka, mereka mengucapkan kata-kata (yang mengandung) keselamatan”. (QS. Al-Furqan [25]: 63).

Lihat Juga :  Surat Al-A’la Ayat 17: Kehidupan Akhirat Lebih Kekal 

Dalam sebuah hadist yang diriwayatkan oleh Muslim, Rasulullah shalallahu ‘alaihi wassalam bersabda: “Tidak akan masuk surga siapa yang dalam hatinya terdapat kesombongan walaupun hanya sebesar zarrah”. (HR. Muslim). Zarrah adalah biji sawi yang ukurannya sangat kecil. Tawadhu mencegah seseorang menjadi sombong, karena sejatinya yang berhak sombong di dunia ini hanya Allah Subhanahu wata’ala saja, karena Dia adalah pemilik segala dan menciptakan semua yang ada di alam semesta.

Sikap sombong dan memalingkan wajah dari seseorang karena merasa lebih baik, terlarang untuk dilakukan. Surat Al-Luqman ayat 18 menjelaskan hal tersebut: Artinya: “Dan janganlah kamu memalingkan mukamu dari manusia (karena sombong) dan janganlah kamu berjalan di muka bumi dengan angkuh. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang sombong lagi membanggakan diri.” (QS. Al-Luqman [31]: 18) Merujuk pada tafsir Jalalain, makna dari ayat tersebut adalah orang yang tawadhu berjalan di muka bumi dalam keadaan haunan yaitu dalam keadaan tenang dan tidak angkuh.

Sebaliknya, justru ketika kita melakukan amalan kebaikan yang ‘ringan’, yang barangkali selama ini sering dianggap ‘sepele’, jika dilakukan dengan niat yang benar, semata-mata karena Allah, bisa menjadi sangat mulia dan bernilai istimewa di sisi Allah. Meskipun tanpa ada cahaya kamera yang menyorotnya. Amalan kebaikan yang sepele tersebut dijanjikan dapat membuka pintu surga-Nya. Coba kita lihat banyak amalan yang dinilai sepele dan ringan, begitu besar manfaatnya diakhirat nanti. Dan justru itulah yang dapat memasukkan kita ke dalam surga.  Ada satu kisah yang dikutip dari kitab para ulama dahulu yang menjelaskan dan menerangkan bahwa banyak peristiwa seperti itu, yang begitu mulia dan disebutkan menjadikan orang itu masuk ke dalam surga. Seperti memberikan minum binatang, sebagaimana kisah dan ikhtibar bagi kita.  Kita sudah tahu, bahwa saat ini, jangankan memberi minum binatang. Kita saat ini rasanya sudah banyak yang tak peduli lagi kepada binatang. Padahal, memberi minum binatang ini menjadi salah satu amalan kebaikan yang dapat menghantarkan seseorang ke dalam surganya Allah.

Kita ingat cerita¸ Rasullullah menjelaskan bahwa seorang laki-laki yang memberi minum seekor anjing hingga kemudian Allah mengampuni dosa-dosa laki-laki itu dan memasukkannya ke dalam surga? Iya, dalam hadist yang diriwayatkan Bukhori dan Muslim, diceritakan dari Abu Hurairah, Rasullullah Saw. bersabda “Ketika sedang melakukan perjalanan, seorang laki-laki merasa haus, lalu ia menuju ke sebuah sumur dan minum air. Setelah ia keluar, ternyata ada seekor anjing yang menjulurkan lidahnya dan memakan pasir karena kehausan. Lelaki itu bergumam “Anjing ini telah merasa kehausan seperti yang telah aku rasakan”.

Lihat Juga :  25 Warga Meninggal karena Corona, Masjid Agung Paris Batalkan Shalat Jumat

 

*Rahasia Ridho Allah*

Lelaki itu pun kembali menuju sumur dan memenuhi sepatunya dengan air, lalu memberikan minum anjing tersebut. Maka Allah berterima kasih kepadanya dan mengampuni segala dosanya. Mereka (para sahabat) bertanya: Wahai Rasullullah, apakah kita akan mendapatkan pahala dengan memberi minum binatang? Beliau menjawab: “Pada setiap limpa yang basah, terdapat pahala”.  Kemudian ada juga seseorang yang menyingkirkan rintangan dari jalanan. Kalaulah kita berjalan, entah itu naik kendaraan atau jalan kaki, dan kita menemukan rintangan di jalan berupa batu yang tergeletak di tengah jalan, bambu yang menghalang, atau mungkin kulit pisang yang dibuang sembarangan, lantas kemudian secara spontan kita menyingkirkan rintangan tersebut. Maka, itu akan dicatat sebagai amalan kebaikan di sisi Allah.

Rasulullah bersabda: “Barangsiapa menyingkirkan gangguan dari jalan kaum muslimin, maka akan dicatat untuknya satu kebaikan, maka ia akan masuk surga”. (HR. Bukhari). Menjenguk orang yang sakit, juga termasuk amalan yang bisa menghantarkan kita ke surga.  Sesibuk-sibuk apapun kita, sempatkanlah untuk menjenguk saudara, teman, dan kolega kita yang sedang sakit. Selain merupakan panggilan kemanusiaan, amalan kebaikan ini dicatat sebagai pahala yang tinggi di sisi Allah. Allah menjanjikan mereka yang menjenguk orang-orang sakit, posisi yang mulia di Surga-Nya kelak.  Rasulullah bersabda: “Barang siapa menjenguk orang sakit atau mengunjungi saudaranya karena Allah, maka malaikat berseru: “Engkau adalah orang yang baik, langkahmu adalah langkah yang baik, dan engkau telah mendapatkan suatu posisi di surga”. (HR Tirmidzi dari Abu Hurairah).

Kemudian senyum ceria nan tulus, atau menebar senyum dan salam pada semua orang merupakan sebuah kebajikan yang dijanjikan ganjaran pahala dan surga oleh Allah. Oleh sebab itu, kita sebagai orang Islam harus menyebarkan sikap yang ramah dan penuh ceria terhadap orang lain, sehingga Islam juga benar-benar dirasakan membawa rahmat bagi semua. “Kebaikan akhlak adalah keceriaan wajah dan menjauhi amarah,” sabda Rasulullah. Menutup aib orang lain, pun merupakan sebuah ibadah yang begitu besar manfaatnya.

Dalam Islam, Allah sangat membenci ghibah. Orang yang bergunjing tentang keburukan saudaranya sendiri, dianggap sama dengan memakai bangkai saudaranya tersebut. Menahan diri untuk tidak bergunjing dan menutup aib orang lain sangat dianjurkan bagi seorang muslim dan muslimah. Amalan kebaikan ini dijanjikan ganjaran surga oleh Allah. Rasulullah bersabda: “Tidaklah seorang hamba menutup aib seorang hamba di dunia, melainkan Allah akan menutup aibnya pada hari kiamat”.(H.R. Muslim).

Tentu banyak lagi amalan yang berkemungkinan besar dapat menghantarkan kita ke surganya Allah. Jauhilah dosa yang akan membuat kita sulit untuk masuk ke dalam surga, tapi teruslah berbuat kebaikan, sabar dan ikhlas, tidak membuat orang lain merasa jengkel dengan kita. Bisa jadi itulah salah satu amalah rahasia yang menghantarkan kita ke dalam surganya Allah.(*)

 

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top button