Jadwal imsakiyah Wilayah Palembang

-- --- 2026

Imsak: --:--| Shubu: --:-- | Maghrib: --:--

Uncategorized

Empat Sosok Ibu yang Istimewa Disebutkan dalam Alquran yang Patut Diteladani

Oleh:  Ustadz Thoriq Abdul Aziz At-Tamimi, LC.MA

Ada empat sosok ibu yang istimewa disebutkan dalam Al-Quran, sungguh kita amat butuh untuk mengenal mereka dari dekat. Agar bisa menimba pelajaran dan faidah tarbiyah dari mereka. Kesemuanya mempersembahkan pengorbanan yang gigih nan luar biasa untuk keluarga dan anak mereka.

Pertama, Hajar ibunda Ismail ‘alaihissalam. Saat beliau dan putranya ditinggal oleh suaminya Ibrahim ‘alaihissalam di tengah gurun pasir yang tandus. Beliau bertanya kepada suaminya, “Allah kah yang menyuruh anda melakukan ini? Ibrahim ‘alaihissalam menjawab, “ya”. Hajar menimpali, “Jika demikian pergilah! Karena Dia takkan menyia-nyiakan kami”. Keduanya diserahkan kepada Rabb mereka oleh sang suami, lalu Allah Ta’ala menjaga dan menghidupi mereka dengan air zam-zam karena beliau sebagai wanita yang beriman juga berkeyakinan teguh bahwa Allah Subhanah takkan menyia-nyiakannya.

Kedua, ibunda Musa ‘alaihissalam. Dimana beliau menyusui putranya yang masih bayi merah, lantas Allah Subhanah perintahkan sang ibu guna merelakan bayinya dibuang dalam kotak ke sungai demi keselamatan bayi tersebut dari kejaran fir’aun dan bala tentaranya. Ketika ia mentaati perintah Rabbnya, hatinya Allah jadikan lega. Keluarga fir’aun pun dibuat jatuh hati pada bayi lucu tersebut dan istri fir’aun langsung menjadikannya anak angkat. Allah jadikan Musa ‘alaihissalam tidak mau menyusu kecuali pada ibunya, sampai penghuni istana menemukan wanita yang cocok untuk bayi itu (ibunya sendiri tanpa sepengetahuan mereka). Bahkan Allah Ta’ala bukan hanya menjaganya, tapi mengangkatnya sebagai Nabi sekaligus Rasul ulul azmi pula. Bagi yang merenungkan kisah ini tentu mendapati bahwa usaha dan tawakal yang benar adalah nilai tarbiyah yang ampuh untuk memproteksi anak. Allah lah yang menjaga bayi tadi dan menyampaikan cita ibunya yang jujur kepada Allah saat mendidik anaknya lalu Allah pun memenuhi janji-Nya.
Allah Ta’ala berfirman,

فَرَدَدْنَٰهُ إِلَىٰٓ أُمِّهِۦ كَىْ تَقَرَّ عَيْنُهَا وَلَا تَحْزَنَ وَلِتَعْلَمَ أَنَّ وَعْدَ ٱللَّهِ حَقٌّ وَلَٰكِنَّ أَكْثَرَهُمْ لَا يَعْلَمُونَ
“Maka kami kembalikan Musa kepada ibunya, supaya senang hatinya dan tidak berduka cita dan supaya ia mengetahui bahwa janji Allah itu adalah benar, tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahuinya”. (QS. Al-Qashash: 13)

Lihat Juga :  Sumsel Putuskan tak Naikkan UMP 2021

Ketiga, istri Imran yang bernama Hinnah binti Faqudza. Ketika hamil -setelah 30th penantian- bernadzar akan menjadikan putranya hamba yang merdeka dari kehinaan dunia dan menjadi pengurus Baitul Maqdis. Saat lahir ternyata yang keluar anak perempuan, lalu dinamailah Maryam yang ditinggal ayahnya ketika masih di perut ibunya. Keluarga dan kerabat sekitar berebut untuk mengasuh Maryam, namun Zakariya ‘alaihissalam atas izin Allah memenangkan undian untuk itu 3 kali berturut-turut. Selanjutnya Allah menumbuhkan Maryam dengan tumbuh kembang yang baik nan kondusif.
Hal ini menunjukkan bahwa tarbiyah tidak terbatas pada upaya keras kedua orang tua saja. Boleh jadi ortu memilih sekolah terbaik dan membesarkan anak mereka semaksimal mungkin. Akan tetapi ortu sendiri tidak salih karena tidak meminta dalam doanya, tidak memohon pertolongan maupun bimbingan Allah Ta’ala juga tidak menerapkan metode rabbani dalam penggemblengan iman anaknya.
Hinnah binti Faqudza berkata saat hamil seperti dikisahkan Al-Quran,

إِذْ قَالَتِ ٱمْرَأَتُ عِمْرَٰنَ رَبِّ إِنِّى نَذَرْتُ لَكَ مَا فِى بَطْنِى مُحَرَّرًا فَتَقَبَّلْ مِنِّىٓ ۖ إِنَّكَ أَنتَ ٱلسَّمِيعُ ٱلْعَلِيمُ
“(Ingatlah), ketika isteri ‘Imran berkata: “Ya Tuhanku, sesungguhnya aku menazarkan kepada Engkau anak yang dalam kandunganku menjadi hamba yang salih dan berkhidmat (di Baitul Maqdis). Karena itu terimalah (nazar) itu dariku. Sesungguhnya Engkaulah Zat Yang Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui”.
(QS.Al-Imran: 35)

Beliau juga berdoa,
وَإِنِّىٓ أُعِيذُهَا بِكَ وَذُرِّيَّتَهَا مِنَ ٱلشَّيْطَٰنِ ٱلرَّجِيمِ
“Dan aku mohon perlindungan untuknya serta anak-anak keturunannya kepada (pemeliharaan) Engkau dari setan yang terkutuk”.
(QS.Al-Imran: 36)

Adapun soal penggemblengan iman, tidak perlu ditanya. Karena Zakariya ‘alaihissalam adalah yang menjadi ayah angkatnya. Lihat saja diantara hasilnya adalah karomah yang Allah berikan pada Maryam ‘alaihassalam,

Lihat Juga :  Awalnya Salah Paham, Hidayah Datang kepada Rachel Membuat Kisah Cinta Berakhir Bahagia

كُلَّمَا دَخَلَ عَلَيْهَا زَكَرِيَّا ٱلْمِحْرَابَ وَجَدَ عِندَهَا رِزْقًا ۖ قَالَ يَٰمَرْيَمُ أَنَّىٰ لَكِ هَٰذَا ۖ قَالَتْ هُوَ مِنْ عِندِ ٱللَّهِ ۖ إِنَّ ٱللَّهَ يَرْزُقُ مَن يَشَآءُ بِغَيْرِ حِسَابٍ
“Setiap Zakariya masuk untuk menemui Maryam di mihrab, ia dapati makanan di sisinya. Zakariya berkata: “Hai Maryam dari mana kamu memperoleh (makanan) ini?” Maryam menjawab: “Makanan itu dari sisi Allah”. Sesungguhnya Allah memberi rezeki kepada siapa yang dikehendaki-Nya tanpa hisab.” (QS. Al-Imran: 37)

Keempat, Maryam ‘alaihassalam. Kisahnya adalah tentang mukjizat Allah Ta’ala yang mana beliau melahirkan seorang bayi tanpa ayah atau suami baginya. Sebagaimana sebelumnya Allah kuasa menciptakan Adam ‘alaihissalam tanpa ayah ibu, lalu menciptakan Hawa ‘alaihassalam dari seorang lelaki tanpa ibu.
Dari kisah singkatnya dalam Al-Quran kita dapat merasakan kuatnya hubungan dan komunikasi beliau dengan Allah Ta’ala. Saat ada lelaki asing (malaikat yang menyamar) di dekatnya, beliau langsung berlindung kepada-Nya,

قَالَتْ إِنِّىٓ أَعُوذُ بِٱلرَّحْمَٰنِ مِنكَ إِن كُنتَ تَقِيًّا
“Maryam berkata: “Sesungguhnya aku berlindung dari padamu kepada Tuhan Yang Maha pemurah, jika kamu seorang yang bertakwa”. (QS.Maryam: 18)

Iman kokoh itulah yang menjadikan Maryam ‘alaihassalam mampu menanggung kejadian besar dalam sejarah manusia dan memikul beban mental yang tak terperikan; hamil tanpa suami dan melahirkan seorang diri serta menghadapi cibiran plus komentar miring dan negatif kaumnya. Sedang beliau saat itu masih bocah cilik (13 tahun seperti disebutkan oleh beberapa riwayat), minim pengalaman hidup akan tetapi Allah teguhkan keimanan beliau.

Keempat kisah ini menunjukkan pentingnya tarbiyah iman yang merupakan titik utama dari tarbiyah keluarga dan anak. Tarbiyah iman haruslah mendapat porsi yang teratas. (*/sumber: SamudraTauhid)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top button