Tidak Miliki Gelar Pendidikan di Bidang Agama, Prof Yuwono : Berdakwah Bil Hikmah

ASSAJIDIN.COM – Dalam menyampaikan kebaikan kepada masyarakat dengan cara berdakwah tidak melulu di latar belakangi gelar pendidikan di bidang agama. Namun, dalam berdakwah harus memahami Al Quran dan Hadist serta sampaikanlah berdakwah bil hikmah.
Penceramah harus memiliki keilmuan dan kecakapan Islam yaitu memiliki pemahaman Islam, cara komunikasi dan penyampaian pesan Islam yang efektif dan memiliki akhlaqul karimah.
Salah satu tokoh mayarakat kota Palembang. Prof. Dr. dr. Yuwono, M. Biomed yang memiliki latar belakang akademisi Indonesia juga menjadi salah satu penceramah agama islam terkenal di daerah “Wong Kito Galo”.
Di lahirkan di Trenggalek Jawa Timur pada tanggal 10 Oktober 1971, Prof Yuwono mencapai jenjang akademik tertinggi dengan bidang keahlian Mikrobiologi Kdokteran yaitu berkaitan dengan penyakit infeksi dan DNA.
Dalam ceramah agama nya, Prof Yuwono pernah membahas bahwa setiap ummat dapat berdakwah, Namun sampaikan lah Dakwah bil Hikmah yaitu menyampaikan dakwah dengan cara arif bijaksana dengan melakukan pendekatan sedemikian rupa sehingga pihak objek dakwah mampu melaksanakan dakwah atas kemauannya sendiri, tidak merasa ada paksaan, tekanan maupun konflik.
Al Hikmah adalah ilmu yang membahas di dalamnya tentang hakikat-hakikat sesuatu terhadap yang dialami dengan kadar kemampuan manusia.
Sama halnya yang dilakukan oleh Prof. Yuwono, ceramah agama yang disampaikan selain mengulik Al Quran dan Hadist, Ia juga selalu mengaitkan pembahasan tentang kesehatan.
Pada tahun 2020 saat pandemi virus corona menyerang Indonesia, ia ditunjuk menjadi juru bicara pemerintah Sumatera Selatan terkait penanganan pandemi.
Di sela-sela kehidupannya menjadi Dokter dan juga Dosen di Universitas Sriwijaya Palembang, ia juga aktif keluar masuk masjid dan tempat majelis agama untuk menyampaikan ceramah agamanya.
Dalam postingan di media sosial Instagram Prof Yuwono menyampaikan berilmu sekedar tahu, terus belajar maka makin ia berilmu hingga jadi ahli. Ilmu akan mewarnai keinginan (gairah) dan niat (keikhlasan). Pada akhirnya akan tampak sebagai perilaku.
“Mau berperilaku baik bermanfaat ataupun buruk merusak adalah pilihan bebas. Tapi ingat, segalanya dalam genggaman Ilmu dan Takdir Allah. Suatu saat kita akan mengakui perilaku kita dan menerima konsekuensinya, Yaa Rabb, bimbinglah kami,”ucapnya dalam postingan Instagram beberapa hari lalu. (*/Tri jumartini)
