KALAMKELUARGASYARIAH

Kisah Abu Dujanah yang Membuat Rasulullah SAW Berurai Air Mata

ASSAJIDIN.COM –– Kisah ini bermula dari seorang sahabat Nabi.

Abu Dujanah Simak bin Kharasha, na manya.

Salah satu sahabat Nabi Muhammad SAW yang sangat taat kepada Allah SWT.

Hidup pria yang berasal dari kabilah Khazraj ini serba kekurangan.

Kisah hidupnya sangat membekas di hati Rasulullah.

Bahkan, Rasulullah pernah menangis setelah mendengar cerita kelaparan yang dialami keluarga Abu Dujanah.

***

Suatu hari, Rasulullah SAW menegur Abu Dujanah karena setiap usai menjalankan ibadah salat subuh berjamaah, dia langsung pulang ke rumah.

Abu Dujanah tak pernah menunggu pembacaan doa yang dipanjatkan Rasulullah selesai.

“Hai, apakah kamu ini tidak punya permintaan yang perlu kamu sampaikan pada Allah SWT sehingga kamu tidak pernah menungguku selesai berdoa?

Kenapa kamu buru-buru pulang begitu? Ada apa?” tanya Nabi.

“Ya Rasulullah, kami punya satu alasan,” jawabnya.

“Apa alasanmu? Coba kamu utarakan!” perintah Nabi.

“Begini. Rumah kami berdampingan persis dengan rumah seorang laki-laki. Nah, di atas pekarangan rumah milik tetangga kami ini terdapat satu pohon kurma menjulang, dahannya menjuntai ke rumah kami.

Setiap kali ada angin bertiup di malam hari, kurma-kurma tetanggaku tersebut saling berjatuhan, mendarat di rumah kami,” kata Abu Dujanah mulai bercerita.

“Ya Rasul, kami keluarga orang yang tak berpunya. Anakku sering kelaparan, kurang makan. Saat anak-anak kami bangun, apa pun yang didapat, mereka makan.

Oleh karena itu, setelah selesai salat, kami bergegas segera pulang sebelum anak-anak kami tersebut terbangun dari tidurnya.

Kami kumpulkan kurma-kurma milik tetangga kami tersebut yang berceceran di rumah, lalu kami haturkan kepada pemiliknya,” sambungnya.

Suatu saat, kata Abu Dujanah,  dia terlam bat pulang ke rumah. Anaknya terbangun dan menemukan kurma tetangga yang jatuh dari pohonnya.

Tak menunggu lama, sang anak langsung memakan kurma tersebut.

Lihat Juga :  Ingin Dosa Setahun Lalu Dihapus, Jangan Lupa Besok, Rabu 19 September Puasa Tasu'a dan Lusa Puasa Asyura, Ini Niatnya  

“Mata kepala saya sendiri menyaksikan, tampak ia sedang mengunyah kurma basah di dalam mulutnya. Ia habis memungut kurma yang telah jatuh di rumah kami semalam.

Mengetahui itu, lalu jari-jari tangan kami masukkan ke mulut anakku itu. Kami keluarkan apa pun yang ada di sana,” jelasnya.

***

Wahai saudara- saudaraku …

Abu Dujanah tak pernah membiarkan anaknya memakan kurma milik orang lain.

Dia tak ingin makanan haram itu menyebabkan keluarganya mendapat siksaan pedih di akhirat kelak.

“Kami katakan, ‘Nak, janganlah kau permalukan ayahmu ini di akhirat kelak.’

Anakku menangis, kedua pasang kelopak matanya mengalirkan air karena sangat kelaparan.

Wahai Baginda Nabi, kami katakan kembali kepada anakku itu, ‘Hingga nyawamu lepas pun, aku tidak akan rela meninggalkan harta haram dalam perutmu.

Seluruh isi perut yang haram itu akan aku keluarkan dan akan aku kembalikan bersama kurma-kurma yang lain kepada pemiliknya yang berhak’.”

Mata Rasulullah langsung berkaca-kaca mendengar pengakuan Abu Dujanah. Butiran air mata mulianya berderai begitu deras.

Rasulullah mulai mencari tahu siapa sebenarnya pemilik pohon kurma yang dimaksud Abu Dujanah itu.

Abu Dujanah pun menjelaskan, pohon kurma tersebut milik seorang laki-laki munafik.

Tanpa basa-basi, Nabi Muhammad SAW mengundang pemilik pohon kurma. Rasulullah menawar pohon kurma dengan harga yang sangat tinggi.

“Bisa tidak jika aku minta kamu menjual pohon kurma yang kamu miliki itu? Aku akan membelinya dengan sepuluh kali lipat dari pohon kurma itu sendiri.

Pohonnya terbuat dari batu zamrud berwarna biru. Disirami dengan emas merah, tangkainya dari mutiara putih. Di situ tersedia bidadari yang cantik jelita sesuai dengan hitungan buah kurma yang ada,” kata Rasulullah.

Pria munafik itu lantas menjawab dengan tegas, “Saya tak pernah berdagang dengan memakai sistem jatuh tempo.

Lihat Juga :  Alquran Bukti Nyata, Surat Al Bayyinah, Bacaan Arab, Latin dan Terjemahannya

Saya tidak mau menjual apa pun kecuali dengan uang kontan dan tidak pakai janji kapan-kapan.”

Tiba-tiba, Abu Bakar as-Shiddiq datang. Ia menegaskan langsung melunasi pembayaran pohon kurma tersebut.

“Ya sudah, aku beli dengan sepuluh kali lipat dari tumbuhan kurma milik Pak Fulan yang varietasnya tidak ada di kota ini (lebih bagus jenisnya),” ujar Abu Bakar.

***

Pria munafik terlihat sangat kegirangan. Dia akhirnya menyerahkan pohon kurma secara simbolis kepada Abu Bakar.

Selanjutnya Abu Bakar menyerahkan pohon kurma itu kepada Abu Dujanah.

Rasulullah kemudian bersabda, “Hai Abu Bakar, aku yang menanggung gantinya untukmu.”

Mendengar sabda Nabi ini, Abu Bakar bergembira bukan main. Begitu pula Abu Dujanah.

Sedangkan si munafik berlalu. Dia berjalan mendatangi istrinya, lalu menyampaikan kisah yang baru saja terjadi.

“Aku telah mendapat untung banyak hari ini. Aku dapat sepuluh pohon kurma yang lebih bagus.

Padahal kurma yang aku jual itu masih tetap berada di pekarangan rumahku. Aku tetap yang akan memakannya lebih dahulu dan buah-buahnya pun tidak akan pernah aku berikan kepada tetangga kita itu sedikit pun,” ucapnya.

***

Malamnya, si munafik tertidur pulas. Keesokan harinya dia bangun dan melihat pohon kurma sudah berpindah posisi, kini berdiri di atas tanah milik Abu Dujanah.

Seolah-olah tak pernah sekalipun tampak pohon tersebut tumbuh di atas tanah si munafik. Tempat asal pohon itu tumbuh, rata dengan tanah.

Dia keheranan tiada tara.

Wahai saudaraku …

Begitulah kisahnya.

Semoga kita semua bisa mengambil pelajaran berharga dari kisah Abu Dujanah dan pohon kurma ini.

Wallahu a’lam bishshawab.  (*/Merdeka. com)

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top button