NASIONAL

Khawatir Stok Hewan Kurban akan Terganggu, Tiga Sapi di Palembang Positif Kena PMK

Dr. drh Jafrizal MM: Sangat Mudah Menular Terutama Radius 3-10 KM Lewat Angin

AsSAJIDIN.COM  — Masyarakat Kota Palembang harus mewaspadai pembelian hewan ternak. Sebab sudah ditemukan ada 3 Sapi yang positif mengidap penyakit mulut kuku (PMK). Penyakit ini jangan dianggap sepele, dan dibiarkan karena khawatir akan mempengaruhi ketersediaan hewan kurban jelang Idul Adha nanti.

Penyakit mulut dan kuku (PMK) adalah penyakit hewan yang cepat menular serta menyerang hewan berkuku belah (cloven hoop), seperti sapi, kerbau, domba, kambing, babi, rusa/kijang, onta dan gajah.

Penyakit PMK disebabkan oleh virus Foot and Mouth Disease (FMDV) yang masuk dalam famili Picornaviridae dan genus Aphtovirus.

Sekretaris Daerah Kota Palembang Ratu Dewa sekaligus ketua Tim satgas penanggulangan penyakit PMK, mengatakan 3 sapi yang kena PMK itu didatangkan dari luar Kota Palembang.

Lihat Juga :  10 Aturan Terkait Pelaksanaan Salat Idul Adha dan Penyembelihan Hewan Kurban di Masa Pandemi Covid-19

“Yang kita temukan di Kecamatan Ilir Barat 1, 2 ekor sudah dipotong untuk dimusnahkan dan 1 ekor masih dikarantina,” katanya, Senin (30/5/2022).

Kepala Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan Kota Palembang Sayuti mengatakan, terutama untuk menjelang Idul Adha ini diharapkan ada satu tempat khusus penjualan Sapi agar terpusat dan memudahkan pemeriksaan oleh dokter hewan.

“Kami mengusulkan meminjam lahan pembangunan kantor gubernur di Keramasan, karena dokter hewan tidak banyak, maka jika satu tempat maka akan terkoordinir,” katanya.

Ketua Perhimpunan Dokter Hewan Indonesia (PDHI) Sumsel Dr drh Jefrizal mengatakan, PMK ini sangat ditakuti oleh berbagai negara karena bisa menular.

Lihat Juga :  Gerakan Serentak Berkurban Upaya Lebih Banyak Berbagi untuk Masyarakat

“Petunjuk dari badan kesehatan dunia, bahwa tidak ada pengobatan untuk penyakit ini, maka jika ada yang tertular harus dipotong untuk dimusnahkan, dianjurkan dikubur,” katanya.

Persoalannya adalah mengendalikan perilaku masyarakat yang sulit ketika ditemukan penyakit ini pada hewan ternak. Pengawasan harus ketat oleh tim.

“Karena penyakit ini dari inangnya bisa menyebar dibawa angin 3-6 kilometer, jadi harus diwaspadai,” katanya. (pitria)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top button