Jadwal imsakiyah Wilayah Palembang

-- --- 2026

Imsak: --:--| Shubu: --:-- | Maghrib: --:--

KALAM

Lahirnya  “Sribuza” Kerajaan Islam di Sriwijaya dan Nusantara

Oleh : Jemmy Saputera, S.I.Kom

Berawal Dari  Surat Raja Sri Indrawarman (Sriwijaya) Untuk Khalifah Ummar bin Abdul Aziz.

AsSajidin.com—- Melihat dari literasi sejarah yang ada dapat dikatakan bahwa Islam masuk ke Nusantara pada awal abad ke 13 sebagaimana para peneliti Barat nyatakan dapat dikatakan tidak benar, melainkan Islam telah datang ke Nusantara pada kisaran abad ke 6 M. Hal itu diperkuat dari temuan surat dalam kearsipan Dinasti Umayyah mengenai kerajaan Sriwijaya yang dikenal dengan sebutan Sribuza yang Islam, dimana Raja Sri Indrawarman (Sriwijaya) telah memeluk  agama Islam.

Akan tetapi temuan ini menjadi benang misteri dalam sejarah peradaban Nusantara, dimana selama ini pemerintahan lebih cendrung mengkaji dan menggali situs, artefak, dan kronik yang berkaitan dengan peninggalan agama Hindu-Buddha. Sehingga catatan sejarah Islam menjadi pudar dimakan zaman, sebenarnya jika pemerintah memberikan ruang yang luas untuk mengkaji tentang sejarah Islam Nusantara itu dahulu dapat dimulai ketika ditemukannya catatan Sulaiman (851 M) dan juga catatan Abu Yazid Hasan (916 M).

Bukti sejarah Islam yang menurut Mansoer (1970) masih tersimpan rapi di Museum Spanyol yang berisikan surat dari kerajaan Sriwijaya oleh Raja Sri Indrawarman (702-728 M) kepada Khalifah Muawiyyah bin Abu Sofyan (662-681 M) dan Khalifah Umar bin Abdul Aziz (720-722 M), tentunya hal ini menjadi titik terang dari semberawutnya masalah sejarah Nusantara, Sriwijaya dan Islam yang harus dan wajib diteliti, di kaji, ditelusuri sehingga dapat menyingkap tabir yang selama ini tersembunyi atau sengaja disembunyikan.

Melihat literasi sejarah tersebut, tidaklah salah jika penilaian terhadap Masuknya Islam di Nusantara justru bermula dari Raja Sri Indrawarman (Sri Indravarman) yang merupakan raja Kerajaan Sriwijaya setelah Dapunta Hyang (671-702 M).

Raja Sri Indrawarman yang dalam kronik Tiongkok dikenal sebagai Shih Li T’o Pa Mo merupakan Maharaja Sriwijaya yang bertahta kisaran 702-728 M, menurut Prof. Azyumardi Azra (2006) nama Sri Indrawarman muncul berdasarkan surat yang di kirim kepada Khalifah Ummar bin Abdul Aziz, bahkan ada juga peneliti yang menyebutkan bahwa Sri Indrawarman mengirim surat sebelumnya kepada Khalifah Muawiyyah bin Abu Sufyan, hal ini cukup beralasan dikarnakan pada tahun (644-656M) Khalifah Utsman pernah mengirim armada yang dikomandoi oleh Muawiyyah bin Abu Sufyan menuju Jawa.

Dalam buku karangan H.A. Dt. Rajo Mangkuto menuliskan pada 89 H atau 708 M Khalifah Walid bin Abdul bin Marwan (707-717 M) pernah mengirim armada ke pulau Sumatera, sedangkan Buzurg bin Shahriyar Al Ramhurmuii (1000M) mengabarkan pada masa keemasan kerajaan Sriwijaya sudah ada perkampungan muslim di wilayah kerajaan Sriwijaya.

Hal ini menunjukkan bahwa pada masa itu kerajaan Sriwijaya memiliki kedekatan yang erat dengan Kekhalifahan Islam. Hal itu dapat dilihat dari sebuah surat pertama yang ditemukan dalam lemari arsip Bani Umayyah oleh Abdul Malik bin Umary.

S.Q. Fatimi seorang sejarawan Malaysia  mengatakan dua surat Raja Sriwijaya kepada Khalfah Islam yang diambil dari kitab Al Hayawan karya Abu Utsman ‘Amr Ibnu Bahr Al Qinanih Al Fuqaymih Al Basri atau yang lebih dikenal dengan nama Al Jahiz (776 M)  yang di kutip oleh Azyumardi Azra (2004) menceritakan kembali isi pendahuluan surat tersebut yang jika diterjemahkan kurang lebih sebagai berikut:

Lihat Juga :  Tiga Rahasia Pengobatan Islam, dari Pengusaha Tuan Haji Ismail bin Haji Ahmad

“Dari Maha Raja Al-Hind yang kandang binatangnya berisikan seribu gajah, dan istananya terbuat dari emas dan perak, yang dilayani putri raja-raja, dan yang memiliki dua sungai besar yang mengairi gaharu, kepada Muawiyyah…”

Adapun dalam versi terjemahan lain surat tersebut berisikan sebagai berikut:
“Dari Maha Raja yang Istalnya berisi ribuan gajah, istananya berkilau emas dan perak, dilayani oleh ribuan puteri raja, yang menguasai dua sungai yang mengairi gaharu, untuk Muawiyyah…”

Sedangkan surat kedua sedikit lebih lengkap karna terdapat pembukaan dan isi surat sebagaimana yang terdapat dalam buku karangan Ibu ‘Abd Rabbih (246-329 M) yang berjudul Al Iqd al Farid , adapun potongan surat tersebut antara lain sebagai berikut:“Dari Raja Di Raja…yang adalah keturunan seribu raja..kepada raja Arab (Umar bin Abdul Aziz) yang tidak menyekutukan tuhan-tuhan lain selain Tuhan. Saya telah mengirimkan kepada anda hadiah yang sebenarnya merupakan hadiah yang tidak begitu banyak, tetapi sekedar tanda persahabatan; dan saya ingin anda mengirimkan kepada saya seseorang yang dapat mengajarkan Islam kepada saya, dan jelaskan kepada saya hukum,-hukumnya…

Adapun dalam redaksi lainnya surat tersebut berbunyi sebagai berikut:
“Dari Rajadiraja yang keturunan ribuan raja, yang di istalnya terdapat ribuan gajah, dan menguasai dua sungai yang mengairi gaharu, tanaman harum, pala dan barus, yang keharumannya menyebar sejauh dua belas mil…untuk Raja Arab, yang bertuhan Esa. Saya memberimu hadiah yang tidak seberapa sebagai tanda sapa dan saya harap anda berkenan mengirim seseorang yang bisa mengajar tentang islam dan menerangkannya kepada saya..”

Sedangkan dalam Al Nujum Al Jazirah  Fi Muluk Misr wa Al-Qahirah yang di Ta’lif oleh Jamaludin Abi Al-Mahasin Yusuf Ibnu Taghri Birdi Al Atabiki (1950) mempunyai tambahan pada akhir surat tersebut, yang berbunyi antara lain :“Saya mengirim hadiah jebat (musk), batu ratna, dupa dan barus. Terimalah dari saudara Islammu…”

Menurut Prof Ayzumardi Azra (2016) surat tersebut diterima Khalifah Umar bin Abdul Aziz kisaran tahun 100 H (717M) dimana kemudian Khalifah Umar bin Abdul Aziz memberikan hadiah utusan kerajaan Sriwijaya dan kembali dengan membawa Zanji (budak wanita berkulit hitam), dan Raja Sri Indrawarman  diperkirakan masuk Islam pada tahun 718 M, Sejak saat itu bangsa Arab mengenal kerajaannya dengan nama “Kerajaan Sribuza yang Islam”.

Sementara itu menurut Ricklefs ada dua proses terhadap Islam di Nusantara. Pertama, komunikasi orang Muslim dan orang Nusantara kedua, pada awal era Islam pada masa Khalifah Ustman bin Affan (644-656) telah banyak utusan dagang muslim yang melintasi nusantara bahkan dalam kurun tahun 904 hingga abad ke-12 terlibat komunikasi dengan kerajaan maritime Sriwijaya.

Lihat Juga :  PBB Tolak Pengakuan AS Terkait Status Yerusalem

HAMKA (2017) berpendapat bahwa pada tahun 625 M telah ada kelompok bangsa Arab yang bermukim di pantai Barat Sumatera (Barus) yang mana masuk dalam kerajaan Sriwijaya, hal ini sebagaimana yang tertulis dalam kronik tiongkok yang ditemukan berasal dari Dinasti Tang (618-902 M) dan catatan Sulaiman Akhbar Shin wal Hindi (851M) serta catatan Abu Yazid Hasan (916 M).

Lebih lanjut Zainal Abidin Ahmad (1979 ) mengatakan pada tahun 30 H atau 651 M  pada masa khalifah Utsman bin Affan (644-656 M) mengirim utusan Muawiyyah bin Abu Sufyan ke tanah jawa, dimana hasil daripada pengiriman itu masuknya Raja Jay Sima putra dari Ratu Sima dari Kalingga masuk Islam, namun menurut Abdul Malik Karim Amrullah (2017) peristiwa itu terjadi pada kurang lebih pada  tahun 42 H atau 672 M.

Sementara itu, Sultan Palembang, Sultan Iskandar Mahmud Badaruddin yang mengingatkan saya pada leluhurnya Raja Sri Indrawarman yang telah menjalin relasi dengan Daulah Umayyah. Juga tentang sejarah masuknya Islam di nusantara yang ditulis Buya Hamka.

Fakta sejarah ini tak cukup “populer” karena tak sama dengan pelajaran di bangku sekolah. Yang menyebutkan Islam baru masuk nusantara pada abad ke 13 M. Sedang menurut Buya Hamka dengan sederet bukti yang dipaparkannya, cahaya hidayah telah sampai ke nusantara sejak abad ke 7 M.

Dalam bukunya “Dari Pembendaharaan Lama: Menyingkap Sejarah Islam di Indonesia”, Buya menuliskan, sejak tahun 625 M sekelompok bangsa Arab telah bermukim di pantai Barat Sumatera (Barus), yang menjadi bagian dari wilayah kerajaan Sriwijaya pada waktu itu.

Bukti menarik lainnya adalah adanya surat yang dikirim oleh Raja Sri Indrawarman (702-728 M) yang merupakan raja Kerajaan Sriwijaya setelah Dapunta Hyang (671-702 M) kepada Khalifah Muawiyyah bin Abi Sufyan dan Khalifah Umar ibn Abd Azis (720-722 M).

(Diolah dari berbagai sumber )..

 

Daftar Pustaka
Abdul Malik Karim Amrullah, “Dari Pembendaharaan Lama: Menyingkap Sejarah Islam di Indonesia” Gema Insani, Jakarta
Azyumardi Azra, 2006 “Islam In The Indonesia World : an Account of Institutional Formation, Mizan Pustaka

Ali Muhammad Ash Shalabi, “Bangkit dan Runtuhnya Khalifah Utmaniyah”, Pustaka Kautsar, Jakarta

Merle Calvin Ricklefs  (1991) “A history of modern Indonesia”, Macmillan, London
Nana Supratna, 2008 “Sejarah Untuk Kelas XI Sekolah Menengah Atas: Program Bahasa”, Grasindo, bandung
Raghib As Sirjani, 2009 “Madza Qaddamal Muslimuna lil ‘Alam Ishamaatu Al Muslimin fi Al Hadharah Al Insaniyah”, Mu’assasah Iqro, Mesir
Raden Abdulkadir Widjojoatmodjo, 1942 “Islam in the Netherlans East Indes” TT
Saifullah, 2010 “Sejarah dan Kebudayaan Islam di Asia Tenggara”, Pustaka Pelajar, Yogyakarta
Slamet Muljana, 2006, Sriwijaya (Dalam Bahasa Indonesia), LKiS Yogyakarta
Tim Riset dan Studi Islam Mesir, 2005 “ Mausu’ah Al Muyasar Tarikh Islami”, Mu’asasah Iqro’, Mesir

 

 

 

 

 

Back to top button