Pesan Nabi Ibrahim dan Muhammad di Hari Raya Kurban untuk Kemanusiaan

ASSAJIDIN.COM — Marilah kita senantiasa meningkatkan rasa takwa kepada Allah subhanahu wataโala dengan menjalankan perintah-perintah-Nya dan meninggalkan segala larangan-Nya.
Pada hari ini yang dimulai setelah kita menyelesaikan shalat โId, kita disunnahkan untuk berkurban, yakni menyembelih binatang seperti kambing atau sapi yang kemudian dagingnya kita makan, kita hadiahkan dan kita sedekahkan kepada saudara-saudara kita yang membutuhkan.
Kesunnahan berkurban ini berkaitan dengan sejarah Nabi Ibrahim โalaihissalam yang diuji keimanannya oleh Allah untuk melepaskan sesuatu yang paling ia cintai di dunia ini, yakni dengan menyembelih putranya. Pada malam tanggal8 Dzulhijjah, Nabi Ibrahim mendapatkan wahyu melalui mimpinya bahwa Allah memerintahkan kepadanya untuk menyembelih anak yang paling ia sayangi.
Nabi Ibrahim merenung panjang, โHaruskah ia mengikuti perintah Tuhannya untuk melepaskan hal yang paling ia sayangi, hal yang paling ia sukai? Apakah mimpi ini benar dari Allah atau bukan?โ Nabi Ibrahim sangat sedih dalam permenungan yang sangat panjang itu. Karenanya, pada tanggal 8 Dzulhijjah yang kita semua disunnahkan untuk berpuasa disebut dengan hari โtarwiyahโ yang berarti โhari merenungโ, yakni hari di mana Nabi Ibrahim โalaihissalam melakukan permenungan panjang atas mimpinya.
Kegalauan Nabi Ibrahim โalaihissalam mendapatkan jawabannya pada malam hari berikutnya, yakni pada malam hari 9 Dzulhijjah, bahwa ia benar-benar diperintahkan oleh Allah untuk menyembelih anak kesayangannya yang bernama Ismaโil.
Karenanya, tanggal 9 Dzulhijjah yang kita semua, umat Islam disunnahkan berpuasa disebut dengan โhari โArafahโ yang berarti โpengetahuanโ, yakni hari di mana Nabi Ibrahim โalaihissalam mendapatkan jawaban atau pengetahuan atas perintah Allah yang ia ragukan sebelumnya.
Dengan dasar ketaatan kepada Allah yang sangat tulus, dengan latar belakang rasa cinta kepada Tuhan yang mengalahkan segalanya, Nabi Ibrahim โalaihissalam benar-benar mantap dan bertekad akan menjalankan perintah-Nya, yaitu menyembelih Ismaโil, orang yang paling ia sayangi.
Kita tidak bisa membayangkan bagaimana perasaan Nabi Ibrahim โalaihissalam saat itu. Seorang ayah yang sudah lama sekali menanti memiliki keturunan, namun ketika dikaruniai anak melalui pernikahannya dengan Dewi Hajar, anak yang beliau impi-impikan itu harus disembelih dengan tangannya sendiri, padahal Nabi Ibrahim โalaihissalam memiliki anak ketika usianya sudah sangat sepuh, yakni 86 tahun.
Dalam QS. Ash-Shรขffรขt 100-101 diceritakan bahwa Nabi Ibrahim โalaihissalam meminta kepada Allah diberi keturunan yang saleh, lalu Allah mengabulkannya dengan memberi anak yang sabar. ุฑูุจูู ููุจู ููู ู ููู ุงูุตููุงููุญูููู. ููุจูุดููุฑูููุงูู ุจูุบูููุงู ู ุญููููู ู.
Kita juga tidak bisa membayangkan bagaimana dialog Nabi Ibrahim โalaihissalam dengan istrinya ketika meminta izin untuk menjalankan perintah Allah, yakni menyembelih anaknya. Sudah pasti perasaan keduanya hancur karena harus melepas kesayangannya. Perasaan keduanya gundah dan berkeping-keping karena orang yang paling ia sayangi akan mati di tangannya.
Tapi, rupanya cinta Nabi Ibrahim โalaihissalam dan istrinya kepada Allah subhanahu wataโala melebihi segala-galanya. Demi mengikuti perintah Allah, keduanya rela melepaskan orang yang paling dicintai. Begitu juga, kita tidak bisa membayangkan bagaimana perasaan suami istri itu ketika meminta izin kepada anaknya yang akan dikorbankan, yakni Ismaโil โalaihissalam.
Tapi Ismaโil sendiri justru menguatkan tekad ayah dan ibundanya untuk menunaikan perintah Allah subhanahu wataโala. ููููู ููุง ุจูููุบู ู ูุนููู ุงูุณููุนููู ููุงูู ููุง ุจูููููู ุฅููููู ุฃูุฑูู ููู ุงููู ูููุงู ู ุฃููููู ุฃูุฐูุจูุญููู ููุงููุธูุฑู ู ูุงุฐูุง ุชูุฑูู ููุงูู ููุง ุฃูุจูุชู ุงููุนููู ู ูุง ุชูุคูู ูุฑู ุณูุชูุฌูุฏูููู ุฅููู ุดูุงุกู ุงูููููู ู ููู ุงูุตููุงุจูุฑูููู.
โKetika anak itu memasuki usia dewasa, sudah berkembang, sudah bisa bepergian dan berjalan, Nabi Ibrahim โalaihissalam berkata kepada anaknya: Wahai anakku, sesungguhnya aku bermimpi bahwa aku menyembelihmu. Maka pikirkanlah apa pendapatmu? Ismaโil anak Ibrahim menjawab: Wahai bapakku, lakukanlah apa yang diperintah (Allah) kepadamu, insyaallah engkau akan mendapatiku bagian dari orang-orang yang sabarโ (QS Ash-Shรขffรขt 102).
Setelah Nabi Ibrahim โalaihissalam dan Ismaโil, anak yang akan dikurbankannya itu sampai di tempat yang diperintahkan (menurut Ubaid bin Umair di tempat yang di kemudian hari disebut โMaqรขm Ibrahimโ; menurut Mujรขhid, di Mina), tiba-tiba Allah memberikan wahyu untuk menggantinya dengan kambing. Atas dasar cinta kepada Allah yang melebihi segala-galanya, keluarga Nabi Ibrahim menjadi keluarga yang terberkati.
Nabi Ibrahim diberi gelar โkhalรฎlullahโ atau kekasih Allah, dan dari keluarga ini lahirlah keturunan-keturunan para nabi seperti Nabi Ishรขq, Nabi Yaโqรปb, Nabi Musa, Nabi Isa dan Nabi Muhammad shallallahu โalaihi wasallam. ููุฐููููู ููุฌูุฒูู ุงููู ูุญูุณูููููู
โDemikianlah Kami memberi balasan kepada orang-orang yang berbuat baik.โ (QS. Ash-Shรขffรขt 110) ุงูููู ุฃูููุจูุฑูุ ุงูููู ุฃูููุจูุฑูุ ุงูููู ุฃูููุจูุฑู ูููู ุงูุญู ุฏ Hadirin-hadirat yang dimuliakan Allah, Peristiwa Nabi Ibrahim yang sangat mendebarkan hati ini, bukan semata-mata arsip sejarah yang perlu dikenang jika dibutuhkan, tapi kisah ini memiliki makna, โibrah atau pelajaran yang perlu diambil dan diperhatikan bagi seluruh umat manusia.
Kisah Nabi Ibrahim โalaihissalam adalah simbol pengorbanan di dalam beragama. Di antara pelajaran itu, pertama, beriman atau beragama pada dasarnya melawan hawa nafsu atau kesenangan yang ada di dalam diri kita masing-masing. Setiap manusia cenderung mengikuti keinginan nafsunya, yakni ingin melakukan hal yang enak, menikmati segala kesenangan tanpa batas, merasakan segala keindahan dan yang lainnya tanpa mempedulikan hal tersebut menyakiti, merugikan atau membahayakan diri sendiri maupun orang lain atau tidak.
Di sinilah agama hadir memberikan seperangkat aturan, yakni mengatur perbuatan ini haram dan perbuatan itu halal, tindakan ini boleh dan tindakan itu tidak boleh, hal ini baik dan hal itu buruk, dan seterusnya. Dengan demikian masing-masing dari orang yang beragama seharusnya mematuhi aturan agama, bukan mengikuti kesenangan atau kehendak nafsunya. Dalam kisah Nabi Ibrahim, kenikmatan tertinggi disimbolkan dengan memiliki anak, tapi Nabi Ibrahim berhasil mengalahkan hawa nafsu kecintaan kepada putranya dengan mengikuti perintah Allah subhanahu wataโala.
Pelajaran atau โibrah yang kedua dari kisah Nabi Ibrahim โalaihissalam di atas yaitu penegasan bahwa hak asasi manusia harus dijunjung tinggi, dalam hal ini hak hidup. Perintah Allah kepada Nabi Ibrahim โalaihissalam untuk menyembelih putranya bertujuan untuk menguji keimanannya atau ibtilรข` (ุฅูููู ููุฐูุง ูููููู ุงููุจูููุงุกู ุงููู ูุจูููู), sehingga ketika beliau tulus hendak menunaikannya, Allah subhanahu wataโala mengganti objek sesembelihannya dengan binatang.
Penggantian โobjek kurbanโ dari manusia ke binatang mengandung makna bahwa manusia memiliki hak untuk hidup yang seorang pun atas nama apa saja tidak boleh menghilangkannya. ุงูููู ุฃูููุจูุฑูุ ุงูููู ุฃูููุจูุฑูุ ุงูููู ุฃูููุจูุฑู ูููู ุงูุญู ุฏ
Ajaran menjunjung tinggi kemanusiaan dalam agama Ibrahim pada masa itu benar-benar sangat langka mengingat ada banyak kepercayaan suku yang melakukan persembahan kepada โtuhannyaโ atau qurbรขn dengan menggunakan darah manusia, sementara ajaran agama Nabi Ibrahim โalaihissalam yang kemudian diteruskan Nabi Muhammad shallallahu โalaihi wasallam sedari awal dengan tegas mengharamkan meneteskan darah manusia.
Penegasan akan hak hidup dan hak-hak dasar lain yang dimiliki manusia di kemudian hari disampaikan secara jelas oleh Nabi Muhammad shallallahu โalaihi wasallam secara berturut-turut, yakni dalam khutbah di Padang Arafah ketika beliau menjalankan ibadah haji yang dilakukan hanya sekali dalam seumur hidupnya atau dikenal dengan hajjah al-wadรขโ (haji perpisahan) pada tanggal 9 Dzulhijjah tahun ke 10 H atau bertepatan pada tahun 632 M, dan dalam khutbah Idul Adha, sehari setelahnya pada tanggal 10 Dzulhijjah pada tahun yang sama.
Dalam kedua khutbah itu, Nabi Muhammad shallallahu โalaihi wasallam berpesan kepada semua orang yang hadir bahwa jiwa, harta, dan harga diri manusia memiliki kemuliaan yang tidak boleh dihilangkan oleh siapapun.
Nabi shallallahu โalaihi wasallam bersabda: ุฃููููููุง ุงููููุงุณูุ ุงูุณูู ูุนูููุง ููููููููุ ููุฅูููููู ููุง ุฃูุฏูุฑููู ููุนูููููู ููุง ุฃูููููุงููู ู ุจูุนูุฏู ุนูุงู ููู ููุฐูุง ุจูููุฐูุง ุงููู ููููููู ุฃูุจูุฏูุงุ ุฃููููููุง ุงููููุงุณูุ ุฅูููู ุฏูู ูุงุกูููู ู ููุฃูู ูููุงููููู ู ููุฃูุนูุฑูุงุถูููู ู ุนูููููููู ู ุญูุฑูุงู ูุ ููุญูุฑูู ูุฉู ููููู ูููู ู ููุฐูุงุ ููููุญูุฑูู ูุฉู ุดูููุฑูููู ู ููุฐูุงุ ููุณูุชููููููููู ุฑูุจููููู ูุ ููููุณูุฃูููููู ู ุนููู ุฃูุนูู ูุงููููู ูุ ุฃูููุง ููููุง ุชูุฑูุฌูุนููุง ุจูุนูุฏููู ุถูููุงููุง ููุถูุฑูุจู ุจูุนูุถูููู ู ุฑูููุงุจู ุจูุนูุถู.
โWahai sekalian manusia, dengarkanlah perkataanku. Sesungguhnya aku tidak tahu, barangkali setelah tahun ini aku tak bisa lagi berjumpa dengan kalian selama-lamanya. Wahai umat manusia, sesungguhnya darah kalian, harta dan harga diri kalian itu mulia, sebagaimana mulianya hari ini dan bulan ini.
Kalian kelak akan bertemu Tuhan, dan Ia akan bertanya kepada kalian tentang perbuatan yang kalian lakukan. Ingatlah, setelah aku wafat janganlah kalian kembali ke dalam kesesatan, di mana sebagian di antara kalian memukul atau membunuh sebagian yang lain.โ
ุฃููููููุง ุงููููุงุณูุ ุฅูููู ุฑูุจููููู ู ููุงุญูุฏู ููุฅูููู ุฃูุจูุงููู ู ููุงุญูุฏู. ูููููููู ู ููุฃูุฏูู ูุ ููุฃูุฏูู ู ู ููู ุชูุฑูุงุจู. ุฅูููู ุฃูููุฑูู ูููู ู ุนูููุฏู ุงููู ู ุฃูุชูููุงููู ู. ููููุณู ููุนูุฑูุจูููู ุนูููู ุนูุฌูู ููููุ ููููุง ููุนูุฌูู ูููู ุนูููู ุนูุฑูุจููููุ ููููุง ููุฃูุญูู ูุฑู ุนูููู ุฃูุจูููุถูุ ููููุง ููุฃูุจูููุถู ุนูููู ุฃูุญูู ูุฑู ููุถููู ุฅููููุง ุจูุงูุชููููููู.
โWahai umat manusia, sesungguhnya Tuhan kalian satu, leluhur kalian juga satu. Kalian berasal dari Adam, dan Adam berasal dari tanah. Sesungguhnya paling mulianya kalian di sisi Allah adalah yang paling bertakwa. Orang Arab tidak lebih utama daripada Non Arab atau โajam, Non Arab tidak lebih utama daripada orang Arab.
Orang kulit merah tidak lebih utama daripada yang berkulit putih, orang kulit putih tidak lebih utama dari yang berkulit merah kecuali (disebabkan) tingkat ketakwaannya.โ
Khutbah Nabi Muhammad shallallahu โalaihi wasallam di atas, baik yang disampaikan dalam khutbah di Padang Arafah maupun pada hari raya Idul Adha menegaskan, bahwa Islam, agama yang dibawa Nabi Muhammad shallallahu โalaihi wasallam pada abad ke 7 M sejak awal sangat menjunjung tinggi nilai-nilai kemanusiaan. ุงูููู ุฃูููุจูุฑูุ ุงูููู ุฃูููุจูุฑูุ ุงูููู ุฃูููุจูุฑู ูููู ุงูุญู ุฏ
Pada hari raya Idul Adha ini, meski kita semua berada dalam kondisi dan situasi yang kurang mengenakkan karena pandemi, tapi dengan segala rasa syukur kepada Allah subhanahu wataโala kita masih diberi kesehatan dan keselamatan, sehingga kita dapat berusaha menggunakan kesempatan ini untuk menunaikan kewajiban-kewajiban kita sebagai seorang Muslim.
Kisah Nabi Ibrahim โalaihissalam di atas mengajarkan kepada kita bahwa beragama adalah pengorbanan melawan hawa nafsu yang ada di dalam diri kita masing-masing.
Beragama adalah usaha menjadikan diri kita sebagai manusia seutuhnya, yakni manusia yang tidak diperbudak oleh nafsu atau manusia lainnya, melainkan manusia yang menghamba dengan seutuhnya di hadapan Allah subhanahu wataโala.
Semoga pandemi yang sedang kita alami segera berakhir, kita semua selalu diberi kesehatan dan keselamatan, serta selalu berada di dalam lindungan Allah subhanahu wataโala.(*/sumber: nu online)
