Jadwal imsakiyah Wilayah Palembang

-- --- 2026

Imsak: --:--| Shubu: --:-- | Maghrib: --:--

Uncategorized

Edisi Terbaru Juli 20 : New Normal Bersama Islam

New Normal Bersama Islam

Lembaga pendidikan pondok pesantren (Ponpes) di berbagai kota di Provinsi Sumatera Selatan (Sumsel) mulai menerima kembali para santrinya ketika memasuki era new normal atau normal baru, pasca Pandemi Covid-19.
Akhir bulan lalu, Gubernur Sumsel H.Herman Deru melepas ratusan santri Ponpes Moderen Gontor yang kembali bejalar di Jawa Timur.

Begitu pun ponpes di kota Palembang, seperti Ponpes Ar Riyadh di 10 Ulu yang sudah kembali melakukan proses belajar mengajar kepada santrinya. Namun semua itu harus tetap mematuhi protokol kesehatan sebagaimana layak masa pandemic Covid-19 di era new normal ini.
Biro Keuangan ponpes Ar Riyadh, Habib Zen Al Habsyi mengatakan pesantren telah menyiapkan berbagai prosedur dan sistem yang disesuai…
New Normal Bersama Islam

Lembaga pendidikan pondok pesantren (Ponpes) di berbagai kota di Provinsi Sumatera Selatan (Sumsel) mulai menerima kembali para santrinya ketika memasuki era new normal atau normal baru, pasca Pandemi Covid-19.
Akhir bulan lalu, Gubernur Sumsel H.Herman Deru melepas ratusan santri Ponpes Moderen Gontor yang kembali bejalar di Jawa Timur.

Begitu pun ponpes di kota Palembang, seperti Ponpes Ar Riyadh di 10 Ulu yang sudah kembali melakukan proses belajar mengajar kepada santrinya. Namun semua itu harus tetap mematuhi protokol kesehatan sebagaimana layak masa pandemic Covid-19 di era new normal ini.
Biro Keuangan ponpes Ar Riyadh, Habib Zen Al Habsyi mengatakan pesantren telah menyiapkan berbagai prosedur dan sistem yang disesuaikan dengan protokoler kesehatan menghadapi new normal.

“Kita sediakan cuci tangan di depan, hand sanitizer dan pengecekan suhu,” katanya.

Pada tahun ajaran baru penerimaan santri baru di mulai tanggal 5 Agustus 2020 dan menerima hanya 100 santri baik dari Tsanawiyah dan Aliyah, sedangkan santri lama mulai di tanggal 7 Agustus 2020. Untuk para santri yang akan memasuki ponpes diharapkan memenuhi beberapa syarat salah satunya surat keterangan covid test.

“Kita sudah penerimaan berkas dan santri membawa surat keterangan dari dokter dan surat test covid, memakai masker, kita sediakan wastafel cuci tangan dan setiap hari santri dicek suhu,” ujarnya saat ditemui Selasa, 30 Juni 2020.

Habib Zen mengatakan, pondok pesantren sebetulnya lebih aman dari penyebaran virus karena tidak berbaur dengan dunia luar.

“Untuk sekarang wali santri setiap ahad jika menemui anaknya harus tunggu diluar pagar dan tidak boleh masuk, parkir motor juga diluar, ” kata Habib Zen.

Kegiatan sehari-hari di lingkungan pondok pesantren tetap berjalan normal, namun untuk kegiatan yang diadakan di luar lingkup ponpes kita hentikan sementara.

“Biasanya kegiatan diluar santri main futsal, dakwah seminggu dua kali ke SD tiap jum’at bagi junior dan malam ahad ke mushola/masjid bagi aliyah. Namun dihentikan dulu keluar untuk sementara waktu,” katanya.
Sebagaimana diketahui bahwa pemerintah sudah mengobar-ngobarkan bahwa pandemi covid-19 akan memasuki suatu kondisi normal, hanya saja normal yang baru, new normal. Maksudnya, hidup normal setelah sebelumnya nggak normal karena pandemi: isolasi diri, karantina, lock down, lebih banyak di rumah, nggak boleh pergi-pergi kalo nggak penting, karyawan dan siswa diliburkan, rumah makan, tempat wisata ditutup. Maka, ketika sudah lebih dari tiga bulan masa “mendem” itu, akhirnya bersiap “bebas”. Nah, konon ini disebut new normal.

Sebagaimana dikutip As SAJIDIN dari rubrik portal gaulislam.com, kalo mau diperhatikan, kondisi karantina, PSBB (Pembatasan Sosial Berskala Besar), lock down dan sejenisnya itu ada baiknya juga dalam beberapa hal. Selain dalam masalah kesehatan, juga dalam perilaku. Contoh yang bagus ya, misalnya penerapan PSBB, orang yang ngumpul-ngumpul nggak jelas, seperti bercampur baurnya laki dan perempuan yang bukan mahram, otomatis jadi berkurang. Semoga seterusnya begitu, bahkan nggak ada yang ngumpul-ngumpul model begitu lagi.

Lihat Juga :  Yuk Wujudkan New Normal Menjadi Islamic Life Style

Pengendara sepeda motor yang berboncengan akan dicek KTP-nya. Kalo sama alamat rumahnya, dianggap aman, kecil kemungkinan menularkan covid-19. Begitu alasannya ketika pemberlakukan PSBB. Nah, dilihat dari sisi Islam, ada positifnya juga lho. Iya, coba kalo yang boncengan ternyata anak remaja putra dan putri, hanya punya kartu pelajar. Pas dicek, beda alamat. Otomatis dugaan pertama adalah bukan mahram. Maka, ini terlarang. Nah, adanya PSBB dengan poin ini, bisa menekan berboncengannya mereka yang bukan mahram. Semoga saat new normal nanti benar-benar diterapkan, khususnya pemahanan bahwa ada larangan pergaulan bebas, meski hanya jalan bareng atau boncengan di sepeda motor.

Nah, itu dari sisi sosial ya, khususnya pergaulan remaja muslim. Kalo untuk urusan shalat agak repot karena banyak juga yang takut ke masjid kemarin-kemarin. Namun, insya Allah seiring dengan berjalannya waktu, semoga shalat berjamaah di masjid, termasuk shalat Jumat berjalan seperti sebelumnya. Walau di beberapa daerah yang zona hijau sih, selama ini tetap jalan kok. Shalat berjamaah setiap hari di masjid, dan shalat Jumat juga di masjid, dengan shaf yang normal. Bukan jarang-jarang dengan alasan menganggap perlu jaga jarak.
Insya Allah di new normal nanti, siapa pun yang kemarin-kemarin mengajak warga agar tidak shalat di masjid, nanti harus lebih giat ngajak warga untuk shalat fardhu dan shalat Jumat di masjid. Harus lebih gigih ketimbang kemarin-kemarin saat bersemangat ngelarang warga ke masjid karena khawatir kena Corona. Tanggung jawab, lho. Beneran!

Iya sih, itu tanggung jawab semua. Namun yang kemarin paling getol ngajak warga shalat di rumah, lebih bertanggung jawab lagi untuk ngajak warga shalat di masjid. Khawatir jadi kebiasaan nggak di masjid, jadi pemalas. Pengen enaknya aja. Maklum, tipu daya setan itu selalu ada. Setan, tentu ngajak kepada keburukan, bukan kebaikan.

Sebagai muslim, standar kita dalam menentukan baik dan buruk, terpuji dan tercela, benar dan salah, halal dan haram suatu perbuatan, dinilai menurut aturan Islam. Bukan aturan yang lain. Ini yang dimaksud dengan standar yang benar.

Kehidupan saat ini, jika dinilai menurut ajaran Islam, adalah kehidupan yang tidak islami. Bukan masyarakat Islam, bukan negara Islam. Apakah ini normal? Kalo menurut Islam, ya nggak normal. Salah. Seperti yang udah ditulis di paragraf sebelumnya, bahwa maraknya pacaran, perjudian, perzinaan, riba adalah bagian dari kerusakan masyarakat liberal saat ini. Sebab, dalam pandangan Islam, semua itu adalah bentuk kemaksiatan.
Islam itu menyelamatkan

Islam adalah penyelamat kehidupan manusia, baik di dunia maupun di akhirat. Bagaimana Islam menyelamatkan umat manusia? Begini, Islam itu memiliki seperangkat aturan. Terutama yang tercantum dalam al-Quran dan as-Sunnah (hadits). Kalo ninggalin al-Quran dan as-Sunnah, itu artinya nggak menjadikan keduanya sebagai pedoman kehidupan. Iya, kan? Padahal, sudah disampaikan dalam sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wassalam, bahwa kita wajib berpegang teguh pada al-Quran dan as-Sunnah.

Dalil untuk berpegang teguh dengan al-Quran dan as-Sunnah disebutkan dalam Kitab al-Muwatha’ Imam Malik rahimahullah, “Aku telah tinggalkan bagi kalian dua perkara yang kalian tidak akan sesat selamanya jika berpegang teguh dengan keduanya yaitu: al-Quran dan Sunnah Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam” (HR al-Hakim, sanadnya shahih kata al-Hakim)

Lihat Juga :  Ini Dia Kisah Barsisha, Ahli Ibadah yang Menyembah Iblis Jelang Mati

Allah Ta’ala berfirman (yang artinya), “Orang-orang yang terdahulu lagi yang pertama-tama (masuk Islam) dari (kalangan) orang-orang muhajirin dan anshar serta orang-orang yang mengikuti mereka dengan baik, Allah ridha kepada mereka dan merekapun ridha kepada-Nya, dan Allah menyediakan bagi mereka surga-surga yang mengalir sungai-sungai di dalamnya; mereka kekal di dalamnya selama-lamanya. Itulah kemenangan yang besar.” (QS at-Taubah [9]: 100)

Ini memang menjelaskan karakter para sahabat nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Namun, ini juga membuktikan bahwa Islam memang menyelamatkan manusia. Seorang muslim akan mendapat kebahagiaan di akhirat dengan pahala mendapatkan surga. Maka, jadilah muslim terbaik! Inilah yang disebut normal. Maka, kalo sekarang gembar-gembor new normal, maka yang pantas adalah new normal bersama Islam. Beneran!
Oya, kita pasti sering membaca surah al-Fatihah, dan itu minimal kita baca sehari 17 kali dalam shalat wajib lima waktu. Sesuai pembahasan pada subjudul ini, adalah ayat ke-6 dan ke-7, yang artinya, “Tunjukilah kami jalan yang lurus, (yaitu) jalan orang-orang yang telah Engkau beri nikmat kepada mereka; bukan (jalan) mereka yang dimurkai dan bukan (pula jalan) mereka yang sesat.” (QS al-Fatihah [1]: 6-7)

Dalam Tafsir Ibnu Katsir diterangkan yang diminta dalam ayat di atas adalah hidayah al-irsyad wa at-taufiq, yaitu hidayah untuk bisa menerima kebenaran dan mengamalkannya, bukan sekadar hidayah untuk dapat ilmu. Jadi maksudnya kata beliau, kita minta pada Allah, tunjukkankah kita pada jalan yang lurus.
Adapun makna shirathal mustaqim, sebagaimana dijelaskan oleh Ibnu Katsir dengan menukil perkataan dari Imam Abu Ja’far bin Jarir bahwa para ulama sepakat bahwa shirathal mustaqim yang dimaksud adalah jalan yang jelas yang tidak bengkok.

Adh-Dhahak berkata dari Ibnu ‘Abbas bahwa jalan tersebut adalah jalan yang diberi nikmat dengan melakukan ketaatan dan ibadah pada Allah. Jalan tersebut telah ditempuh oleh para malaikat, para nabi, para shiddiqin, para syuhada dan orang-orang shalih. Hal ini seperti yang dikatakan oleh Allah Ta’ala dalam firman-Nya (yang artinya), “Dan barangsiapa yang mentaati Allah dan Rasul-(Nya), mereka itu akan bersama-sama dengan orang-orang yang dianugerahi nikmat oleh Allah, yaitu: Nabi-nabi, para shiddiiqiin, orang-orang yang mati syahid, dan orang-orang shalih. Dan mereka itulah teman yang sebaik-baiknya.” (QS an-Nisa’ [4]: 69)

Mengikuti Allah Ta’ala dan Rasul-Nya, berarti menjadikan al-Quran dan as-Sunnah sebagai pedoman hidup kita. Itu sebabnya, memang hanya Islam yang bakalan menyelamatkan umat manusia. Menyelamatkan di dunia dan juga di akhirat. So, berbahagialah dan bersyukurlah menjadi muslim.

Cuma persoalannya nih, sebagaimana ditulis oleh [O. Solihin | IG @osolihin]
di gaulislam.com, banyak kaum muslimin sendiri yang saat ini malah jauh dari Islam. Kenapa? Ya, gampangnya, karena kehidupan bernegara dan bermasyarakat saat ini tidak islami, tetapi sebaliknya dikendalikan dalam kehidupan bernegara yang kapitalistik, akidahnya sekular nan liberal. Celakanya, sebagian besar kaum muslimin justru menikmatinya. Tugas berat memang bagi kita. Namun jangan khawatir, yang perlu kita lakukan adalah kesungguhan dalam berjuang dan mengharap ridho serta pertolongan Allah Ta’ala. Semoga mendapat hasil terbaik.

Jadi bagaimana? Ok. Dicatat, ya. Kehidupan sebelum wabah nggak normal, saat wabah lebih nggak normal, saat ini belum normal juga. Maka, jika pun mau pake embel-embel new normal, manfaatkan sebagai kesempatan untuk menjadikan Islam sebagai pedoman hidup kita, secara individu, dalam bermasyarakat, dan tentunya lebih afdhal dalam bernegara. Itulah sejatinya new normal, yakni bersama kebangkitan peradaban Islam.[]Tri Jumartini

Back to top button