Melawat ke Singapura (1) : Cerita Masjid Sultan yang Menawan
ASSAJIDIN.COM — Masjid ini bernama Masjid Sultan. Tempat ibadah dan landmark terkenal di Asia Tenggara.
Dibangun pada tahun 1824 oleh Sultan Hussein Shah dari Johor, memiliki eksterior dan interior yang sangat memukau dan mengesankan.
Masjid ini terbuka untuk pengunjung non-muslim, dan tersedia tur dengan pemandu wisata yang akan memberikan wawasan menarik tentang sejarah Islam dan berbagai praktik keagamaannya secara gratis.
Mengutip Kba.one, menariknya lagi, lokasinya yang berada di Kampong Glam membuat masjid ini menjadi pusat aktivitas sosial, budaya, dan keagamaan yang penting.
Area di sekitar masjid juga ramai dengan toko-toko tradisional, kafe, dan pusat budaya, menjadikannya ideal untuk pengunjung biasa maupun peziarah muslim.

Masjid Tertua
Bangunan bertajuk dua kubah emas ini disebut-sebut sebagai masjid tertua di Singapura. Meskipun mungkin namanya kurang populer, Anda tidak akan kesulitan untuk menemukannya.
Tempat ibadah ini bisa dijumpai di kawasan Melayu, Kampung Glam. Hanya beberapa meter jaraknya dari Victoria Street dan Ophir Road serta stasiun MRT Bugis.
Berdiri di atas lahan seluas 4.109 meter persegi, kompleks ibadah umat Islam ini bisa menampung lima ribu orang jamaah. Bahkan, kapasitasnya bisa melampaui itu ketika sekat-sekat ruangannya dilipat serta bagian aula dilibatkan.
Biasanya, daya tampung itu ditambah pihak pengelola menjelang penyelenggaraan khusus semisal, shalat Jumat atau shalat hari raya.
Semula, bentuk tempat ini menyerupai masjid-masjid Nusantara pada umumnya. Atapnya berbentuk limas dan bersusun tiga.

Direnovasi
Memasuki abad ke-20, masjid yang didirikan tak jauh dari Istana Sultan Hussain Shah ini mulai terasa sempit. Sebab, kian banyak jamaah yang mendirikan shalat di sana.
Pada 1924 atau tepat satu abad usianya, masjid tersebut mulai direnovasi. Tokoh-tokoh masyarakat Muslim setempat sepakat untuk mendirikan masjid baru yang lebih besar. Itu akan menggantikan bangunan masjid sebelumnya di lokasi yang sama.
Untuk merancang masjid baru itu, pihak pengelola mendatangkan arsitek Denis Santry dari Swan and Maclaren.
Pembangunan tempat ibadah ini tuntas dikerjakan pada 1928. Sejak saat itu, jamaah terus memakmurkan Masjid Sultan.
Renovasi berikutnya dilakukan pada 1960 untuk memperluas ruangan utama. Selanjutnya, pada 1993 pemugaran untuk bagian auditorium dan ruang serbaguna.
Apa yang menarik dari bangunan baru ini?
Santry mengadopsi gaya arsitektur Gotik, Indo-Sarasen, dan Neo-Mughal. Semuanya berpadu untuk menampilkan kesan klasik di sana.
Kalau desain Masjid Sultan dahulu yang khas Nusantara, tanpa disertai menara. Kini, ada penambahan menara pada sisi bangunan utama.
Ketiga corak arsitektur yang diadopsi Santry itu sampai di Singapura melalui Inggris. Bangsa kolonial itu sebelumnya menguasai India. Mereka menyaksikan keindahan rupa-rupa bangunan peradaban Islam di sana.
Maka, begitu Sir Thomas Stamford Raffles mendirikan Singapura modern di Tumasik, gaya rancang bangun itu turut terbawa.

Kampung Glam
Inggris mulai menancapkan kuku kekuasaannya di pulau ini pada 1819. Penguasa Tumasik kala itu, Temenggung Abdul Rahman, mendapatkan sedikit keistimewaan dari Britania Raya.
Demikian pula halnya dengan Sultan Hussain Shah dari Johor yang dianggap sebagai “pemilik” Tumasik.
Sebagai imbalan atas penyerahan hak kuasa mereka atas Singapura ke Inggris, bangsa Eropa ini memberikan beberapa pengecualian untuk keduanya.
Misalnya, diberikan wilayah Kampung Glam sebagai tempat tinggalnya. Selain itu, para tokoh ini akan memperoleh dana tunjangan hidup.
Sejak saat itu, Kampung Glam menjadi kawasan tempat tinggal orang-orang Melayu-Muslim. Di sana, Sultan Hussain lantas membangun rumah besar—menyerupai istana pribadi—tempat diri, keluarga, serta para pengikutnya tinggal. Tokoh berdarah Riau tersebut tidak lupa mendirikan masjid, tak jauh dari istananya itu.
Inilah cikal-bakal Masjid Sultan Singapura. Dana pembangunan masjid dikucurkan dari sumbangan East India Company (EIC), kongsi dagang Inggris.
Tentunya, sumbangsih dari para pedagang Nusantara, khususnya Jawa, tak sedikit jumlahnya. Pengerjaan proyek ini dipimpin cucu sang sultan, Alauddin Shah.

Nilai Historis
Melansir Republika.id, Masjid Sultan dihiasi dengan motif-motif hasil buatan tangan. Pola-pola floral itu berwarna keemasan sehingga menambah keindahannya.
Ada pula lukisan kaligrafi dengan desain yang rumit. Struktur masjid dari zaman Alauddin Shah ini bertahan hingga 100 tahun kemudian.
Kini, Masjid Sultan hasil renovasi terus menjadi kebanggan umat Islam negara ini. Tidak hanya berstatus paling tua, ia juga menyimpan nilai historis.
Alhasil, para turis yang menyambangi Singapura semestinya tidak melewatkan kesempatan jalan-jalan untuk melihat bangunan ini.
Statusnya pun kini dimiliki dan dikelola oleh Majelis Ulama Islam Singapura (MUIS).

Bersih dan Terawat
Meski menjadi destinasi wisata muslim unggulan yang banyak dikunjungi wisatawan, Masjid Sultan selalu tampak bersih dan terawat.
Kalian bisa berfoto di depan bangunan masjid dan diperbolehkan masuk ke dalamnya untuk membaca informasi sejarah berdirinya Masjid Sultan.
Pada tahun 1975, Masjid Sultan Singapura dikukuhkan sebagai monumen nasional. Meski mengalami berbagai proses renovasi namun lingkungan sekitarnya tetap dipertahankan.
Seperti nama-nama jalannya yang klasik, juga bangunan raksasa dan modern.

Aura Madjid
Saat kalian berkunjung ke Singapura, cobalah merasakan sendiri aura Masjid Sultan yang bersahaja. Meski diapit Parkview Square, Golden Landmark Hotel, Raffles Hospital, Bugis Junction, dan Hotel Inter-Continental. Kegiatan harian di dalam masjid pun tidak terpengaruh.
Selain kegiatan harian shalat rutin lima waktu dan shalat Jumat, masjid Sultan rutin mengadakan kajian harian serta menerima kunjungan wisata.
Untuk mempermudah memahami sejarah dan wawasan tentang keislaman, pengurus Masjid Sultan menyediakan pemandu wisata gratis dalam berbagai bahasa. Sangat memudahkan saat kamu menjelajahi masjid ini suatu hari nanti.
Di hari biasa, deretan café dan restoran di kawasan Masjid Sultan berpadu dengan harmonisnya. Wisatawan biasanya melepaskan lelah sejenak mencicipi berbagai sajian khas Singapura yang dijajakan di sana.
Area kuliner di sini biasanya cukup ramai jelang sore hari. Deretan bangku-bangku ditata apik di pedestriannya dan prawusajinya dengan ramah menawarkan berbagai menu andalan restorannya.

Bazaar Ramadhan
Serunya lagi, saat bulan suci Ramadhan tiba, kawasan Masjid Sultan ramai dengan bazaar beratapkan tenda yang berjualan makanan dan minuman untuk berbuka puasa. Asyiknya makanan yang ada di bazaar ini tidak hanya dari Singapura saja.
Kamu bisa menemukan makanan ala Timur Tengah, India, hingga Indonesia saat ngabuburit di sana.
Masjid Sultan memang luar biasa menarik untuk dijelajahi setiap saat. Apalagi cukup mudah dijangkau dengan naik MRT jalur hijau EW12 atau jalur biru DT14.
Turun di Stasiun Bugis dan pilih pintu keluar menuju Halte Bus Kota. Alamat Masjid Sultan Singapura sangat mudah dijangkau, tepatnya 3 Muscat Street, Singapura 198833.
