MOZAIK ISLAM

Silakan Mengucapkan Minal A’idin Wal Faidzin

ASSAJIDIN.COM –Tersebar BC yg menyalah-nyalahkan ucapan _minal aidin_ yang sudah berlaku di Indonesia selama puluhan tahun, bahkan mungkin berabad lamanya. Bagaimana sikap kita?

Ucapan “Minal Aidin”  bukan kesalahan, dan tidak terlarang, sebab tidak ada dalil larangannya.

Asalnya adalah _“ja’alanallah wa iyyakum minal ‘aaidin wal faaizin”_ – semoga Allah menjadikan kami dan anda termasuk orang yang kembali (suci) dan menang/beruntung.

Tidak ada yang salah dalam kalimat ini. Imam Asy Syafi’iy mengatakan, bahwa perkataan itu jika baik maka itu adalah baik, jika buruk maka itu adalah buruk.

Syaikh Muhammad bin  Shalih Al Utsaimin Rahimahullah mengatakan:

التهنئة بالعيد جائزة ، وليس لها تهنئة مخصوصة ، بل ما اعتاده الناس فهو جائز ما لم يكن إثماً

Lihat Juga :  Waspada, Jantungmu Bisa Berhenti Berdetak Gara Gara Kebiasaan ini

_Ucapan selamat hari raya itu boleh, dan TIDAK ADA KALIMAT YANG KHUSUS, tetapi disesuaikan dengan kebiasan di tengah manusia, selama tidak mengandung dosa._

Beliau juga berkata tentang bersalam-salaman dan berpelukan saat di hari raya, yang biasa dilakukan manusia:

هذه الأشياء لا بأس بها ؛ لأن الناس لا يتخذونها على سبيل التعبد والتقرب إلى الله عز وجل ، وإنما يتخذونها على سبيل العادة ، والإكرام والاحترام ، ومادامت عادة لم يرد الشرع بالنهي عنها فإن الأصل فيها الإباحة

_Semua ini tidak apa-apa, karena manusia tidak menjadikannya sebagai ibadah ritual dan sarana taqarrub ilallah, mereka hanyalah menjadikan itu sebagai kebiasaan saja, pemuliaan dan penghormatan. Maka, selama sebuah kebiasaan tidak ada larangan dalam syariat maka itu diperbolehkan._
(Majmu’ Fatawa Ibni ‘Utsaimin, 16/208-210)

Lihat Juga :  Kembali Fitrah dengan Syariat Islam

Mengucapkan Minal ‘Aidin wal Faaizin, silahkan .. ini adalah kebiasaan baik lagi benar (al ‘urf ash shahih) yang ada di negeri ini. Sebagaimana kata Syaikh Utsaimin, jika sebuah kebiasaan itu tidak mengandung dosa maka hal itu diperbolehkan.

Para ulama mengatakan:
الثابت بالعرف كالثابت بالنص

_Ketetapan hukum karena tradisi itu  seperti ketetapan hukum dengan Nash/dalil._ (Syaikh Muhammad ‘Amim Al Mujadidiy At Turkiy,  Qawa’id Al Fiqhiyah, no. 101)

Agama ini mudah, dan jangan persulit sendiri dan umat manusia, dengan ekstrimitas yang tidak perlu.Demikian. Wallahu a’lam. (*/sumber: alfamu.id)

Back to top button