KELUARGA

Bunuh Diri Itu akan Menetap Di Neraka

Tapi banyak yang memilih bunih diri hanya karena tak kuasa membendung emosi yang bergejolak dalam jiwanya

Miris hati ini ketika melihat sejumlah kasus pertahanan diri seseorang ibarat tanggul yang jebol. Tumpah hawa nafsunya yang sama seperti air bah yang mengalir kemana-mana bahkan tak jarang melukai hati dan marusak masa depan diri sendiri.

ASSAJIDIN.Com – Begitulah kiranya, kita melihat sejumlah kasus yang menyelimuti banyak anak manusia yang merupakan saudara kita bahkan seiman dengannya. Mereka tega membunuh orang lain, dan menghacurkan masa depannya, bahkan tidak sedikit yang nekad membunuh dirinya sendiri. Tak lain, hanya masalah sepele tak mampu bertahan hidup atau tak mampu menahan hawa nafsunya untuk tidak melakukan aksi yang menyedihkan itu.

Manusia macam apa sebenarnya kita ini, sehingga bisa kehilangan kendali dan melakukan hal-hal buruk yang mempengaruhi fisik dan mental bahkan mengorbankan orang lain. Melukai, memperkosa bahkan membunuh pun dilakukan, hanya alasan kecil.

Bunih Diri

Cobalah kita ingat kasus yang terjadi di kawasan Lorong Oxindo Kelurahan 1 Ulu Kecamatan Seberang Ulu  (SU) I Palembang.  Warga sekitar heboh, ketika menemukan seseorang yang gantung diri hingga tewas. Kejadian yang ramai dan menjadi hiruk pikuk di masyarakat itu, menyiratkan kepada kita betapa nekadnya  dia bunuh diri. Nama pria yang gantung diri itu adalah Teguh Lekat (25 tahun). Tapi kita tidak mengetahui secara jelas apa penyebab dia nekad bunuh diri. Walau ada dugaan masalah keluarga tengah menyelimutinya.

Begitu juga  kasus yang tak kalah mirisnya, ketika seseorang pria di Pondok Indah Mall, nekad meloncat dari lantai tiga ke lantai dasar.  Adalah  Agust  Purnawan Hidayat (32) yang melakukan aksi nekad bunuh diri itu, karena   diduga takut diceraikan istrinya. Polisi menduga – dari hasil penyelidikan – bahwa  istrinya tengah mengajukan cerai kepadanya. Ini membuat kalut  pikiran pria itu. “Hubungan dengan istri sepertinya ada keretakan,” kata   Kasatreskrim Polrestro Jakarta Selatan, Kompol Andi Sinjaya di Mapolrestro Jaksel, menduga kasus tersebut.

Perkosa Anak

Kasus lain yang juga demikian membuat hati dan jiwa kita terguncang, adalah ketika seorang pria bernama Ya (45) yang tinggal di desa Linggar Jaya, Kecamatan Kikin Timur, Lahat,  tega mencabuli anaknya Roh(15). Syetan apa yang telah mengerayangi pria Ya sehingga tega melakukan itu? Tentulah  syetan telah bergelayut dalam jiwanya.

Lihat Juga :  Adab Minum yang Benar Sesuai Sunnah Rasulullah

Ia tega melakukan melakukan itu kepada anak kandungnya sendiri, tentu kita semua tidak habis pikir. Namun begitulah kenyataan akhir-akhir ini, betapa banyak orang yang melakukan perkara yang tidak masuk akal, namun kenyataan terjadi di depan mata kita. Kejadian semacam ini tak hanya terjadi di Sumsel, tetapi di banyak daerah di Indonesia ini, tengah menyeruak isu-isu ayah melakukan pencabulan kepada anaknya sendiri. Pilu rasanya hati bila mendengar berita seperti ini

Narkoba

Terkadang terpikir jangan-jangan saking lemahnya pertahanan diri seseorang sebagaimana banyak kita dengan belakangan ini, sehingga muncul berbagai persoalan yang mengerikan dan keji seperti itu. Tentu bisa saja karena tipisnya kemampuan menahan diri seseorang, sehingga tergoda kepada hal-hal yang tidak masuk akal tadi.

Kita terhenyak juga mendengar data dari Badan Narkotika Nasional (BNN) Provinsi Sumsel yang menyebutkan, bahwa hamper 102.000 warga dari 8,2 juta penduduk Sumsel merupakan pecandu narkoba dari prevalensi nasional 1,77%.

Ini menjadi bukti dari masalah yang timbul sehari-hari di masyarakat. Adakah kaitannya? Bisa saja ada, bisa karena memakai narkoba lalu melakukan hal-hal buruk, atau bisa jadi karena banyaknya masalah dalam kehidupan lalu memakai narkoba. “Mereka sudah menjadi pecandu narkoba. Sumsel masih darurat narkoba dan ini harus kita kikis,” ujar Kepala BNN Sumsel Brigjen Pol Jhon Turman Panjaitan di Palembang. Tentu hal ini juga terjadi di banyak kota dan daerah. Kabarnya narkoba telah menyeruak hingga ke desa-desa.

Pilu tentu hati kita melihat banyaknya peristiwa yang menyedihkan itu. Dulu kasus-kasu ini menjadi tabu, sekarang kia menyaksikannya dengan terang benderang. Kadang rasa marah kita muncul, tetapi perasaan sedih juga ada menggelayut dalam hati kita karena banyaknya anak negeri ini yang tak mampu mempertahankan sikap emosionalnya sehingga nekat berprilaku tak berprikemanusiaan dan bahkan mmelukai hingga bunuh diri.

Lihat Juga :  Muslimah, Mungkin tidak Ada yang Sempurna Betul, tapi Inilah Ciri-ciri Suami Idaman

Ada yang patut kita ambil dari banyak peristiwa ini, adalah bagaiman caranya menjaga anak-anak kandung maupun anak-anak muda generasi penerus keluarga dan bangsa, agar tyidak menjadi anak yang lemah dalam pertahanan diri, serta mereka mampu menjaga hawa nafsunya serta gejolak jiwa yang mengarah kepada hal-hal yang buruk. Tanamkan keimnan dan ajari mereka pelajaran agamanya.

Kita semua sudah faham bahwa bunuh diri dan menyakiti diri dan orang lain adalah sikap yang tidak terpuji di mata Allah. Allah berfirman ;’Dan janganlah kamu membunuh dirimu; sesungguhnya Allah adalah Maha Penyayang kepadamu. [an-Nisâ’/4:29]

Bahkan orang yang mati karena bunuh diri diancam dengan siksaan yang serupa di akhirat, sebagaimana disebutkan di dalam hadits di bawah ini: “Barangsiapa menjatuhkan dirinya dari sebuah gunung sehingga membunuh dirinya, maka di dalam neraka Jahannam dia (juga) menjatuhkan dirinya dari sebuah gunung. Dia akan tinggal di dalam neraka Jahannam selama-lamanya. Barangsiapa meminum racun sehingga membunuh dirinya, maka racunnya akan berada di tangannya. Dia akan meminumnya di dalam neraka Jahannam. Dia tinggal di dalam neraka Jahannam selama-selamanya. Barangsiapa membunuh dirinya dengan besi, maka besinya akan berada di tangannya. Di dalam neraka Jahannam ia  akan menikam perutnya. Dia akan tinggal di dalam neraka Jahannam selama-lamanya”. [HR. Bukhâri, no. 5778; Muslim, no. 109; dari Abu Hurairah; lafazh bagi Bukhâri]

Dari sabda Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam tentang orang yang bunuh diri “Dia kekal dan abadi di dalam neraka Jahannam.”, firqah Mu’tazilah dan orang-orang yang sependapat dengan mereka berdalil tentang kekalnya para pelaku maksiat di dalam neraka. Walaupun kemudian bagaimana Allah bisa mengampuninya. Walloho’alam.

Penulis: Bangun Lubis

 

Tags

Berita Terkait

Close