Allah yang Menjamin Rezekimu
Barangsiapa bertakwa kepada Allah niscaya Dia akan mengadakan baginya jalan keluar.
Oleh: Bangun Lubis ( Jurnalis)
ASSAJIDIN. com – Kita sibuk, kesana kemari dalam bekerja mencari rezeki. Dan kita sangat khawatir terhadap rezeki itu. Takut tidak ada dan tidak cukup.
Coba simak Firman-Nya Allah mengatakan; âArtinya: âDan tidak ada suatu binatang melata pun di bumi melainkan Allah-lah yang memberi rezekinya, dan Dia mengetahui tempat berdiam binatang itu dan tempat penyimpanannya.  Semuanya tertulis dalam Kitab yang nyata (Lauhil mahfuz)â..â (Q.S. Hud : 6).
Ayat ini menjelaskan secara terang benderang tiada arti manusia merasa gelisah atas rezekinya, karena semua mahkluk Allah telah dijamis rezekinya melalui firman Allah tersebut. Malah ada ayat yang dikatakan orang sebagai ayat âseribu dinarâ,
inilah terjemahannya: AyatnyaââŚâŚâBarangsiapa bertakwa kepada Allah niscaya Dia akan mengadakan baginya jalan keluar.(QS (65) ; Ath Thalaq: 2). Â
Dan memberinya rezeki dari arah yang tiada disangka-sangkanya.       Dan barangsiapa yang bertawakkal kepada Allah niscaya Allah akan mencukupkan (keperluan)nya. Sesungguhnya Allah melaksanakan urusan yang (dikehendaki)Nya. Sesungguhnya Allah telah mengadakan ketentuan bagi tiap-tiap sesuatu. ” (QS (65) Ath-Thalaq : 3).
Ketika mendengar kalimat ini, kebanyakan orang berpikir bahwa obyek yang sedang dibicarakan dalam kalimat tersebut adalah rezeki duniawi semata, lebih khusus lagi adalah rezeki berupa harta (Materi). Â Kalau kita mau mencermati, sebenarnya rezeki berupa harta adalah sebagian saja dari rezeki yang Allah berikan kepada makhluk-Nya. Padahal, kesehatan dan ketenangan juga adalah rezeki.
Namun, sifat kebanyakan manusia yang jauh dari rasa syukur dan lebih berorientasi kepada gemerlap dunia fana, terkadang hanya membatasi rezeki dengan harta duniawi semata. Padahal sesungguhnya Allah Taâala telah banyak memberi rezeki kepada manusia dengan bentuk yang beragam.
Firma Allah dalam Alquran: âDan berapa banyak binatang yang tidak (dapat) membawa (mengurus) rezekinya sendiri. Allahlah yang memberi rzki kepadanya dan kepadamu dan Dia Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui.â(QS Al-Ankabut [29]:60) .
Dalam Surat Al-Aâraf (7) Ayat 96 :Artinya: âJikalau sekiranya penduduk negeri-negeri beriman dan bertakwa, pastilah Kami akan melimpahkan kepada mereka berkah dari langit dan bumi, tetapi mereka mendustakan (ayat-ayat Kami) itu, maka Kami siksa mereka disebabkan perbuatannyaâ.
Kemudian Surat Ar-Raâd (13) : 26: Artinya: âAllah meluaskan rezeki dan menyempitkannya bagi siapa yang Dia kehendaki. Mereka bergembira dengan kehidupan di dunia, padahal kehidupan dunia itu (dibanding dengan) kehidupan akhirat, hanyalah kesenangan (yang sedikit)â. Maka manusia harus bertakwa dan harus menegerjakan semua perintah Allah SWT.
Â
Rizki Hadir
Ada banyak cara yang dianjurkan dalam agama agar rezeki cepat dan datang dengan penuh keberkahan, maka Rasulullah bersabda, aku katakan kepada mereka; Memohon ampunlah (Beristighfarlah ) kepada Tuhanmu, sesungguhnya Dia adalah Maha Pengampun, pasti Dia akan mengirimkan hujan kepadamu dengan lebat, dan memperbanyak harta dan anak-anakmu dan mengadakan untukmu kebun-kebun  dan mengadakan pula untukmu (di dalamnya) untukmu sungai-sungai.â (Q.S. Nuh (71): 10-11-12).
Pada ayat lainnya, âDan kawinkanlah orang-orang yang sedirian diantara kamu, dan orang-orang yang layak (berkawin) dari hamba-hamba sahayamu yang lelaki dan hamba-hamba sahayamu yang perempuan. Jika mereka miskin Allah akan memampukan mereka dengan kurnia-Nya. Dan Allah Maha luas (pemberian-Nya) lagi Maha Mengetahui.â (Q.S. An-Nur (24) : 32).
Nabi Isa Alaihissalam pun berdoa tiada henti agar rezeki diberikan oleh Allah SWT;â doanya: “Ya Tuhan kami turunkanlah kiranya kepada kami suatu hidangan dari langit (yang hari turunnya) akan menjadi hari raya bagi kami yaitu orang-orang yang bersama kami dan yang datang sesudah kami, dan menjadi tanda bagi kekuasaan Engkau; beri rezekilah kami, dan Engkaulah pemberi rezeki Yang Paling Utama”.
Begitulah hendaknya kita mencerdasi soal rezeki, bukan malah bekerja tanpa kenal waktu, ketika lelah lupa mengerjakan ibadah seperti salat dan ibadah lainnya.
Janji Allah, sebagaimana firmannya; Â âPerumpamaan (nafkah yang dikeluarkan oleh) orang-orang yang menafkahkan hartanya di jalan Allah adalah serupa dengan sebutir benih yang menumbuhkan tujuh bulir, pada tiap-tiap bulir berisi seratus biji. Allah melipat gandakan (ganjaran) bagi siapa yang Dia kehendaki. dan Allah Maha Luas (karunia-Nya) lagi Maha mengetahui.â (Al-Baqarah (2):261).
Firman Allah âDan (Ingatlah) ketika Rabbmu memaklumkan;Â Â âSesungguhnya jika kalian bersyukur, niscaya Aku akan menambah (nikmat) kepadamu, tetapi jika kalian mengingkari (nikmat-Ku), maka pasti azab-Ku sangat beratâ. QS. Ibrahim (14): 7.
Rezeki Pencari Ilmu
Nabi Muhammad Saw bersabda, menjelaskan keutamaan-keutamaan para pencari ilmu.
Diantaranya hadis Nabi Saw. dalam Musnad Asy Syihab karya Muhammad Al Qudhaâi (w. 454 H) diriwayatkan oleh Sayyidina Zaid bin Haritsah (w. 8 H) :n  Barangsiapa yang mencari ilmu, maka Allah Swt. akan menjamin dengan rezeki-Nya.
Nabi Muhammad Saw. memberikan kabar bahwasanya Allah Swt. akan menjamin rezeki pencari ilmu, maka tidak sepatutnya bagi para pencari ilmu khawatir akan rezeki yang akan mereka dapatkan. Dan hendaknya seorang pencari ilmu fokus dengan ilmunya.
Jaminan Allah Swt. yang diberikan kepada pencari ilmu adalah rezeki yang memiliki hubungan dengan kebahagiaan, kemuliaan, dan keselamatan dari tabir Allah Swt. Para pencari ilmu mendapatkan rezeki yang menyenangkan tanpa ada hijab (tabir penutup antara seorang hamba dengan Tuhannya) di dunia, tanpa ada pertanyaan, dan perhitungan, serta hukuman di akhirat.
Ibnu Qayyim al Jauziyah (w. 751 H) berkata : âPusatkanlah perhatianmu kepada hal-hal yang diperintahkan Allah kepada mu. Jangan menyibukkan diri untuk memikirkan rezeki yang sudah dijamin Allah kepada mu. Rezeki dan ajal adalah perkara yang telah dijamin, maka selama masih ada umur, rezeki pun akan ada.â
Allah Swt. memerintahkan kita untuk beribadah kepada-Nya dan tidak dapat seseorang itu beribadah tanpa ilmu, maka mencari ilmu adalah perkara yang wajib dilaksanakan seorang hamba.
Rezekimu Dilangit
âDan di langit terdapat (sebab-sebab) rezekimu dan terdapat (pula) apa yang dijanjikan kepadamu. Maka demi Tuhan langit dan bumi, sesungguhnya apa yang dijanjikan itu adalah benar-benar (akan terjadi) seperti perkataan yang kamu ucapkan.â(QS Adz-Dzariyat [51]:22-23)
Mengenai rezeki dari Al-Qurâan:1. Rezeki adalah sesuatu yang menjadi kepastian yang telah ditetapkan Allah Swt sehingga mustahil ada makhluk yang dapat hidup tanpa rezeki yang ditetapkan Allah Swt untuknya.
âDan berapa banyak binatang yang tidak (dapat) membawa (mengurus) rezekinya sendiri. Allahlah yang memberi rezeki kepadanya dan kepadamu dan Dia Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui.â(QS Al-Ankabut [29]:60)
Setiap Dosa Menjauhkan Rezeki
Rezeki tidak akan datang bila kita melakukan pelanggaran atau maksiat kepada Allah Swt.
Maka tatkala mereka melupakan peringatan yang telah diberikan kepada mereka, Kamipun membukakan semua pintu-pintu kesenangan untuk mereka, sehingga apabila mereka bergembira dengan apa yang telah diberikan kepada mereka, Kami siksa mereka dengan sekonyong-konyong, maka ketika itu mereka terdiam berputus asa.â(QS Al-Anâam [6]:44)
Seorang sahabat mengeluhkan kegelisahannya yang saat ini sangat jauh dari hadirnya rezeki kepadanya. âsaya sekarang dalam kesulitan. Bekerja tak tahan lama. Kalaupun ada rezeki ..aduh tidak cukup. Berbagai cara saya lakukan, namun rerzeki seolah menjauh,âujar sahabat itu.
Uangkapan demikian tentu bukan hanya muncul dari seseorang saja, tapi banyak sahabat kita yang terus menerus mengeluh soal rezki yang begitu sulit. Akibatnya, jiwa tak tentram, beribadah pun tidak konsentrasi, bekerja pun tidak serius bahkan asal-asalan. Akibatnya, pemikiran kusut dan bahkan bisa membuat orang jatuh sakit.
Ichsanuddin K, Dosen UIN Walisongo, Semarang, membuat sebuah buku Quantum Working dalam tulisannya menyebutkan, keluhan seperti itu banyak muncul dari sahabat dan saudara serta teman-teman kita. Mereka sampai tak habis pikir dan kemudian menjadi stres dibuatnya.
Dalam Hadist, Rasulullah Shollollohuâalauhi wassallam bersabda.â Sesungguhnya perbuatan dosa yang dilakukan akan menghalangi datangnya rezeki.â( HR. Ibnu Hibban).
Dosa yang kita lakukan menjadi sebab musabab terhalangnya rizki dan bahkan terhalangnya doâa kita untuk dikabulkan Allah Taâala. Rasulullah shallallaahu âalaihi wasallam bersabda:
âWahai sekalian manusia, sesungguhnya Allah itu baik. Dia tidak akan menerima sesuatu melainkan yang baik pula. Dan sesungguhnya Allah telah memerintahkan kepada orang-orang muâmin seperti yang diperintahkanNya kepada para Rasul.â(HR. Muslim).
Dalam Firman Allah SWT; âWahai para Rasul! Makanlah makanan yang baik-baik (halal) dan kerjakanlah amal shalih. Sesungguhnya Aku Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan.â[QS Al-Mu’minuun : 51]. âWahai orang-orang yang beriman! Makanlah rezeki yang baik-baik yang telah kami berikan kepadamu.â[QS Al-Baqarah : 172]
Ichsanuddin pun bercerita ketika Nabi shallallaahu âalaihi wasallam bercerita tentang seorang laki-laki yang telah lama berjalan karena jauhnya jarak yang ditempuh sehingga rambutnya kusut, acak-acakan dan berdebu.
Orang itu mengangkat tangannya ke langit seraya berdoâa, âWahai Tuhanku, wahai Tuhanku,â Padahal, makanannya dari barang yang haram, minumannya dari barang yang haram, pakaiannya dari barang yang haram dan diberi makan dengan makanan yang haram, maka bagaimanakah Allah akan memperkenankan doâanya?.â(HR. Muslim)
Oleh karena itu, Allah Taâala menganjurkan kita agar tidak melupakan taubat dan memohon ampun, agar kita senantiasa diberi rizki dan kenikmatan olehNya. Allah Taâala berfirman : Dan hendaklah kamu memohon ampun kepada Tuhanmu dan bertaubat kepada-Nya. (Jika kamu, mengerjakan yang demikian), niscaya Dia akan memberi kenikmatan yang baik (terus menerus) kepadamu sampai kepada waktu yang telah ditentukan dan Dia akan memberi kepada tiap-tiap orang yang mempunyai keutamaan (balasan) keutamaannya.[QS Huud : 3].
Ibnu âAbbaas berkata, âAllah tidak menerima shalat seseorang yang didalam perutnya terdapat sesuatu yang haram.â Abu Dzar berkata, âCukupkan doâamu bersama dengan ketaâatan (kepada Allah), sebagaimana engkau cukupkan makananmu dengan garam.â [Al-Kaafii. 10-11]
Lepasnya ketawakalan dari hati, karena menggantungkan diri kepada selain Allah. Kita berusaha, namun usaha yang kita lakukan tidak dikaitkan dengan-Nya. Padahal, Allah itu sesuai prasangka hamba-Nya. âBarang siapa yang bertawakal kepada Allah niscaya Allah akan mencukupkan (keperluan)-nya.â (QS. Ath-Thalaq [63]: 3).
Biar Rezeki Bertambah
âBarangsiapa yang bertaqwa kepada Allah niscaya Dia akan mengadakan baginya jalan ke luar. Dan memberinya rezki dari arah yang tidada disangka-sangkanya.â (QS. At Thalaq 2-3)
Istighfar dan Taubat
Termasuk sebab yang mendatang kan rizki adalah istighfar dan taubat, sebagaimana firman Allah yang mengisahkan tentang Nabi Nuh Alaihissalam , âMaka aku katakan kepada mereka:âMohonlah ampun kepada Rabbmu, sesungguhnya Dia adalah Maha Pengampunâ niscaya Dia akan mengirimkan hujan kepadamu dengan lebat, dan membanyakkan harta dan anak-anakmu, dan mengadakan untukmu kebun-kebun dan mengadakan (pula di dalamnya) untukmu sungai-sungai.â (QS. 71:10-12)
Artinya: “Hendaklah orang yang mampu memberi nafkah menurut kemampuannya. Dan orang yang disempitkan rezekinya hendaklah memberi nafkah dari harta yang diberikan Allah kepadanya. Allah tidak memikulkan beban kepada seseorang melainkan sekedar apa yang Allah berikan kepadanya. Allah kelak akan memberikan kelapangan sesudah kesempitan.” (QS. Al-Talaq: 7)
Artinya: “Bukanlah kewajibanmu menjadikan mereka mendapat petunjuk, akan tetapi Allah-lah yang memberi petunjuk (memberi taufiq) siapa yang dikehendaki-Nya. Dan apa saja harta yang baik yang kamu nafkahkan (di jalan allah), maka pahalanya itu untuk kamu sendiri. Dan janganlah kamu membelanjakan sesuatu melainkan karena mencari keridhaan Allah. Dan apa saja harta yang baik yang kamu nafkahkan, niscaya kamu akan diberi pahalanya dengan cukup sedang kamu sedikitpun tidak akan dianiaya (dirugikan).” (QS. Al-Baqarah: 272)
Allah swt berfirman, artinya, Katakanlah: “Sesungguhnya Tuhanku melapangkan rezeki bagi siapa yang dikehendaki-Nya di antara hamba-hamba-Nya dan menyempitkan bagi (siapa yang dikehendaki-Nya)”. Dan barang apa saja yang kamu nafkahkan, maka Allah akan menggantinya dan Dialah Pemberi rezeki yang sebaik-baiknya. (QS. Saba (34) : 39).
