Setelah Mudik, Apa yang Harus Kita Lakukan?
ASSAJIDIN.COM — Acara mudik ke kampung halaman ba ru saja berakhir. Semua kini sudah tiba dengan selamat di kota tempat asal ma sing-masing.
Pasalnya, sejak Senin (9/5) kemarin, sebagian besar pegawai sudah masuk ker ja seperti semula.
Lantas, apa yang bisa kita lakukan sete lah mudik lebaran?
Berikut 4 di antaranya …
1. Membiasakan berbagi
Selama ramadhan dan saat mudik leba ran kemarin kita bawa oleh-oleh dan se jumlah pemberian kepada orangtua, sau dara, sanak saudara dan handai tolan di kampung halaman.
Kegiatan amal kita terus dilanjutkan se telah tiba kembali di kota tempat kita mencari nafkah.
Kita bisa mulai dari tetangga, teman se kerja dan mereka yang hidup dalam ke susahan.
Jangan pilih kasih dan ada pamrih. Ber bagilah dengan tulus ikhlas dan niat suci semata-mata karena Allah SWT.
Allah SWT sangat senang dengan ham ba-Nya yang suka berbagi.
“Orang-orang yang menafkahkan hartanya di malam dan di siang hari secara tersembunyi dan terang-terangan, maka mereka mendapat pahala di sisi Tuhannya. Tidak ada kekhawatiran terhadap mereka dan tidak (pula) mereka bersedih hati. ” (QS Al-Baqarah : 274)
“Tidak satu hari pun di mana pada pagi harinya seorang hamba ada padanya melainkan dua Malaikat turun kepadanya, salah satu di antara keduanya berkata: ‘Ya Allah, berikanlah ganti bagi orang yang berinfak.’ Dan yang lainnya berkata: ‘Ya Allah, hancurkanlah (harta) orang kikir.” (Al-Hadist).
2. Membudayakan Silaturahmi
Ketika kita mudik banyak hal yang kita lakukan. Di antaranya sanjo ke rumah kerabat dan handai tolan.
Nah, setibanya kita di kota, aktivitas ini kita lanjutkan dan jika sudah berlanjut harus ditingkatkan frekuensinya.
Tentu, karena suasana di kota dan desa berbeda, di kota harus bekerja, kita harus bisa menyesuaikan diri.
Silaturahmi jalan, kerja mencari nafkah jangan sampai terganggu.
Allah SWT berfirman:
“Maka apakah kiranya jika kamu berkuasa kamu akan membuat kerusakan di muka bumi dan memutuskan hubungan tali silaturahmi (kekeluargaan)? Mereka itulah orang-orang yang dilaknati Allah dan ditulikan telinga mereka dan dibutakan penglihatan mereka.” (QS. Muhammad: 22-23)
Nabi SAW bersabda :
“Engkau menyembah Allah SWT dan tidak menyekutukan sesuatu dengan-Nya, mendirikan salat, menunaikan zakat, dan menyambung tali silaturahmi.” (HR Bukhari dan Muslim).
“Barangsiapa yang ingin diluaskan rezekinya dan dipanjangkan umurnya, maka sambunglah tali silaturahmi.” (HR Bukhari – Muslim).
“Tak akan masuk surga pemutus tali silaturahmi.” (HR. Bukhari dan Muslim).
3. Tolong Menolong
Tolong menolong ini sangat perlu dibu dayakan. Bukan hanya per individu tetapi juga di luar itu.
Misalnya, di tempat kita ada gelaran go tong royong. Kita harus ikut serta. Kalau pun tak bisa ada yang mewakili kita.
Kalau semua ikut dan kompak, sukses lah gotong royong itu.
Contoh lain. Yang kecil misalnya. Ada sepeda motor mogok di jalan. Jangan sungkan.
Kita bantulah sebisa kita.
Tanpa pamrih.
Betapa senangnya si pengendara motor, tak perlu lama mogok, diutak-atik sedi kit, meluncur lagi.
Sikap saling peduli dan membantu menjadi salah satu ciri khas dalam budaya Islam. Hal ini karena Allah secara langsung mengamanatkannya da lam Al-Quran kepada seluruh umat manusia.
“Dan tolong bantulah kamu dalam (mengerjakan) kebajikan dan takwa, dan jangan tolong bantu menolong dalam dosa dan pelanggaran”. (Al-Maidah: 2).
4. Saling Memaafkan
Sesama kita harus bisa saling memaaf kan satu sama lain atas kesalahan yang disengaja mau pun tidak disengaja.
Memang tidak mudah.
Terutama bagi orang yang memberi ma af. Sakit hati tentu masih ada.
Tapi jika kita bisa mengesampingkan rasa sakit hati dan perasaan, dengan tulus memberi maaf, betapa mulianya kita dihadapan Allah SWT.
Sifat pemaaf adalah kunci persahabatan sejati. Bukti saling mencintai hanya karena Allah.
Allah berfirman dalam hadist Qudsi:
“Cintaku wajib untuk mereka yang saling mencintai karena-Ku”.
Asy-Syaikh Muhammad bin Shalih al-‘Utsaimin rahimahullah berkata:
فإن الله تعالى يحب العافين عن الناس فإذا وجدت في قلبك بغضاء لشخص فحاول أن تزيل هذه البغضاء وذكر نفسك بمحاسنه.
“Sesungguhnya Allah SWT menyukai seorang yang memaafkan kesalahan orang lain. Apabila dalam hatimu terdapat kebencian terhadap seseorang, maka upayakanlah untuk menghilangkan kebencian ini dan ingatkan dirimu dengan kebaikan-kebaikannya.”
“Tidaklah seseorang memaafkan kecuali Allah akan menambah kemuliaannya.” (HR Muslim).
“Jika hari kiamat tiba, terdengarlah suara panggilan, “Manakah orang-orang yang suka mengampuni dosa sesama manusianya?” Datanglah kamu kepada Tuhan-mu dan terimalah pahala-pahalamu. Dan menjadi hak setiap muslim jika ia memaafkan kesalahan orang lain untuk masuk surga. (HR. Adh-Dhahak dari Ibnu Abbas).
“Jadilah pemaaf dan suruhlah orang mengerjakan yang makruf, serta jangan pedulikan orang-orang yang bodoh.” (QS Al-A’raf ayat 199).
Wallahua’lam bish-shawab.
______
Sumber Literasi :
– Kumparan.com
– Liputan6.com
– AmanahGhita.com
– Tafsir.id
– Republika.co.id
– Mu Khadijah Malang
