Jadwal imsakiyah Wilayah Palembang

-- --- 2026

Imsak: --:--| Shubu: --:-- | Maghrib: --:--

MOZAIK ISLAM

Cara Menghadapi Orang yang Hasad dan Sebab Hasad (Dengki)

AsSAJIDIN.COM – Apa itu hasad? Apa saja sebab-sebab terjadinya hasad (iri hati, dengki)? Lalu bagaimana cara menghadapi orang yang hasad?

Kalau kita melihat dari sisi pengertian hasad sebenarnya lebih dari sekadar iri hati dan dengki. Baiknya bahasan ini dikaji lebih mendalam.

PENGERTIAN HASAD

Menurut jumhur ulama, hasad adalah berharap hilangnya nikmat Allah pada orang lain. Nikmat ini bisa berupa nikmat harta, kedudukan, ilmu, dan lainnya. Demikian penjelasan Syaikh Ibnu ā€˜Utsaimin dalamĀ Syarh Al-Arba’in An-Nawawiyyah, hlm. 368.

Perkataan jumhur ulama di atas diungkapkan oleh Syaikh Musthafa Al-ā€˜AdawiĀ hafizhahullah,

Ų§Ł„Ų­ŁŽŲ³ŁŽŲÆŁ Ł‡ŁŁˆŁŽ ŲŖŁŽŁ…ŁŽŁ†ŁŽŁ‘Ł‰ Ų²ŁŽŁˆŁŽŲ§Ł„ŁŽ Ų§Ł„Ł†ŁŁ‘Ų¹Ł’Ł…ŁŽŲ©Ł Ų¹ŁŽŁ†Ł’ ŲµŁŽŲ§Ų­ŁŲØŁŁ‡ŁŽŲ§

ā€œHasad adalah menginginkan hilangnya nikmat yang ada pada orang lain.ā€ (At-Tashiil li Ta’wil At-Tanziil Juz ā€˜Amma fii Sual wa Jawab, hlm. 720)

Hasad menurut Ibnu Taimiyah adalah,

Ų§Ł„Ł’Ų­ŁŽŲ³ŁŽŲÆŁŽ Ł‡ŁŁˆŁŽ Ų§Ł„Ł’ŲØŁŲŗŁ’Ų¶Ł ŁˆŁŽŲ§Ł„Ł’ŁƒŁŽŲ±ŁŽŲ§Ł‡ŁŽŲ©Ł Ł„ŁŁ…ŁŽŲ§ ŁŠŁŽŲ±ŁŽŲ§Ł‡Ł مِنْ Ų­ŁŲ³Ł’Ł†Ł Ų­ŁŽŲ§Ł„Ł Ų§Ł„Ł’Ł…ŁŽŲ­Ł’Ų³ŁŁˆŲÆŁ

ā€œHasad adalah membenci dan tidak suka terhadap keadaan baik yang ada pada orang yang dihasad.ā€ (Majmu’ah Al-Fatawa, 10:111).

 

LARANGAN HASAD

Dari Abu HurairahĀ radhiyallahu ā€˜anhu, ia berkata, RasulullahĀ shallallahu ā€˜alaihi wa sallamĀ bersabda,

Ā«Ł„Ų§ŁŽ ŲŖŁŽŲ­ŁŽŲ§Ų³ŁŽŲÆŁŁˆŲ§ŲŒ ŁˆŁŽŁ„Ų§ŁŽŲŖŁŽŁ†ŁŽŲ§Ų¬ŁŽŲ“ŁŁˆŲ§ŲŒ ŁˆŁŽŁ„Ų§ŁŽ ŲŖŁŽŲØŁŽŲ§ŲŗŁŽŲ¶ŁŁˆŲ§ŲŒ ŁˆŁŽŁ„Ų§ŁŽ ŲŖŁŽŲÆŁŽŲ§ŲØŁŽŲ±ŁŁˆŲ§ŲŒ ŁˆŁŽŁ„Ų§ŁŽ ŁŠŁŽŲØŁŲ¹Ł’ ŲØŁŽŲ¹Ł’Ų¶ŁŁƒŁŁ…Ł’ Ų¹ŁŽŁ„ŁŽŁ‰ ŲØŁŽŁŠŁ’Ų¹Ł ŲØŁŽŲ¹Ł’Ų¶ŁŲŒ ŁˆŁŽŁƒŁŁˆŁ’Ł†ŁŁˆŲ§ Ų¹ŁŲØŁŽŲ§ŲÆŁŽ اللهِ Ų„ŁŲ®ŁˆŁŽŲ§Ł†Ų§Ł‹. Ų§Ł„Ł…ŁŲ³Ł’Ł„ŁŁ…Ł Ų£ŁŽŲ®ŁŁˆ Ų§Ł„Ł…ŁŲ³Ł’Ł„ŁŁ…ŁŲŒ Ł„Ų§ŁŽ ŁŠŁŽŲøŁ’Ł„ŁŁ…ŁŁ‡ŁŲŒ ŁˆŁŽŁ„Ų§ŁŽ ŁŠŁŽŲ®Ų°ŁŁ„ŁŁ‡ŁŲŒ ŁˆŁŽŁ„ŁŽŲ§ ŁŠŁŽŁƒŁ’Ų°ŁŲØŁŁ‡ŁŲŒ ŁˆŁŽŁ„ŁŽŲ§ŁŠŁŽŲ­Ł’Ł‚ŁŲ±ŁŁ‡Ł. Ų§Ł„ŲŖŁŽŁ‘Ł‚Ł’ŁˆŁŽŁ‰ Ł‡ŁŽŲ§Ł‡ŁŁ†ŁŽŲ§ -ŁˆŁŽŁŠŁŲ“ŁŁŠŁ’Ų±Ł Ų„ŁŁ„ŁŽŁ‰ ŲµŁŽŲÆŁ’Ų±ŁŁ‡Ł Ų«ŁŽŁ„Ų§ŁŽŲ«ŁŽ Ł…ŁŽŲ±ŁŽŁ‘Ų§ŲŖŁ- ŲØŁŲ­ŁŽŲ³Ł’ŲØŁ Ų§Ł…Ł’Ų±ŁŁ‰Ų”Ł Ł…ŁŁ†ŁŽ Ų§Ł„Ų“ŁŽŁ‘Ų±ŁŁ‘ Ų£ŁŽŁ†Ł’ ŁŠŁŽŲ­Ł’Ł‚ŁŲ±ŁŽ Ų£ŁŽŲ®ŁŽŲ§Ł‡Ł Ų§Ł„Ł…ŁŲ³Ł’Ł„ŁŁ…ŁŽ. ŁƒŁŁ„ŁŁ‘ Ų§Ł„Ł…ŁŲ³Ł’Ł„ŁŁ…Ł Ų¹ŁŽŁ„ŁŽŁ‰ Ų§Ł„Ł…ŁŲ³Ł’Ł„ŁŁ…Ł Ų­ŁŽŲ±ŁŽŲ§Ł…ŁŒ: ŲÆŁŽŁ…ŁŁ‡Ł ŁˆŁŽŁ…ŁŽŲ§Ł„ŁŁ‡Ł ŁˆŁŽŲ¹ŁŲ±Ł’Ų¶ŁŁ‡ŁĀ».

ā€œJanganlah kalian saling hasad (mendengki), janganlah saling tanajusy (menyakiti dalam jual beli), janganlah saling benci, janganlah saling membelakangi (mendiamkan), dan janganlah menjual di atas jualan saudaranya. Jadilah hamba Allah yang bersaudara. Seorang muslim adalah saudara untuk muslim lainnya. Karenanya, ia tidak boleh berbuat zalim, menelantarkan, berdusta, dan menghina yang lain. Takwa itu di sini–beliau memberi isyarat ke dadanya tiga kali–. Cukuplah seseorang berdosa jika ia menghina saudaranya yang muslim. Setiap muslim atas muslim lainnya itu haram darahnya, hartanya, dan kehormatannya.ā€™ā€ (HR. Muslim, no. 2564)

 

SIFAT MANUSIA SAAT HASAD

Hasad itu sifatnya manusiawi. Setiap orang pasti punya rasa tidak suka jika ada orang yang setipe dengannya melebihi dirinya dari sisi keutamaan.

Manusia dalam hal hasad ada empat keadaan yaitu:

Pertama: Ada yang berusaha menghilangkan nikmat pada orang yang ia hasad. Ia berbuat melampaui batas dengan perkataan ataupun perbuatan.Ā Inilah hasad yang tercela.

Kedua: Ada yang hasad pada orang lain. Namun, ia tidak menjalankan konsekuensi dari hasad tersebut di mana ia tidak bersikap melampaui batas dengan ucapan dan perbuatannya. Al-Hasan Al-Bashri berpandangan bahwa hal ini tidaklah berdosa.

Ketiga: Ada yang hasad dan tidak menginginkan nikmat orang lain hilang. Bahkan ia berusaha agar memperoleh kemuliaan semisal. Ia berharap bisa sama dengan yang punya nikmat tersebut. Hal ini dirinci menjadi dua, yaitu dalam urusan dunia dan urusan agama.

Jika kemuliaan yang dimaksud hanyalah urusan dunia, tidak ada kebaikan di dalamnya. Contohnya adalah keadaan seseorang yang ingin seperti Qarun.

ŁŠŁŽŲ§ Ł„ŁŽŁŠŁ’ŲŖŁŽ Ł„ŁŽŁ†ŁŽŲ§ Ł…ŁŲ«Ł’Ł„ŁŽ Ł…ŁŽŲ§ Ų£ŁŁˆŲŖŁŁŠŁŽ Ł‚ŁŽŲ§Ų±ŁŁˆŁ†Ł

ā€œMoga-moga kiranya kita mempunyai seperti apa yang telah diberikan kepada Qarun.ā€ (QS. Al-Qasas: 79)

Jika kemuliaan yang dimaksud adalah urusan agama, inilah yang baik.Ā  Inilah yang disebutĀ ghib-thah.

Dari Ibnu ā€˜UmarĀ radhiyallahu ā€˜anhuma, RasulullahĀ shallallahu ā€˜alaihi wa sallambersabda,

لا Ų­ŁŽŲ³ŁŽŲÆŁŽ Ų„Ł„ŁŽŁ‘Ų§ على Ų§Ų«Ł†ŲŖŁŽŁŠŁ†Ł: Ų±Ų¬ŁŁ„ŁŒ Ų¢ŲŖŲ§Ł‡Ł Ų§Ł„Ł„Ł‡Ł Ł…Ų§Ł„Ł‹Ų§ŲŒ ŁŁ‡Łˆ ŁŠŁŁ†Ł’ŁŁŁ‚Ł Ł…ŁŁ†Ł‡Ł Ų¢Ł†Ų§Ų”ŁŽ Ų§Ł„Ł„ŁŽŁ‘ŁŠŁ„Ł ŁˆŲ¢Ł†Ų§Ų”ŁŽ Ų§Ł„Ł†ŁŽŁ‘Ł‡Ų§Ų±ŁŲŒ ŁˆŲ±Ų¬ŁŁ„ŁŒ Ų¢ŲŖŲ§Ł‡Ł Ų§Ł„Ł„Ł‡Ł Ų§Ł„Ł‚ŁŲ±Ų¢Ł†ŁŽŲŒ ŁŁ‡Łˆ ŁŠŁŽŁ‚ŁˆŁ…Ł به Ų¢Ł†Ų§Ų”ŁŽ Ų§Ł„Ł„ŁŽŁ‘ŁŠŁ„Ł ŁˆŲ¢Ł†Ų§Ų”ŁŽ Ų§Ł„Ł†ŁŽŁ‘Ł‡Ų§Ų±Ł.

ā€œTidak boleh ada hasad kecuali pada dua perkara: ada seseorang yang dianugerahi harta lalu ia gunakan untuk berinfak pada malam dan siang, juga ada orang yang dianugerahi Al-Qur’an, lantas ia berdiri dengan membacanya malam dan siang.ā€ (HR. Bukhari, no. 5025, 7529 dan Muslim, no. 815)

Keempat: Jika dapati diri hasad, ia berusaha untuk menghapusnya.Ā Bahkan ia ingin berbuat baik pada orang yang ia hasad.Ā Ia mendoakan kebaikan untuknya. Ia pun menyebarkan kebaikan-kebaikannya. Ia ganti sifat hasad itu dengan rasa cinta. Ia katakan bahwa saudaranya itu lebih baik dan lebih mulia.

Bentuk keempat inilah tingkatan paling tinggi dalam iman. Yang memilikinya itulah yang memiliki iman yang sempurna, di mana ia mencintai saudaranya sebagaimana ia mencintai dirinya sendiri.

LihatĀ Jaami’ Al-ā€˜Ulum wa Al-Hikam, 2:260-263.

 

TINGKATAN HASAD

1- Berkeinginan nikmat yang ada pada orang lain hilang meski tidak berpindah padanya. Orang yang hasad lebih punya keinginan besar nikmat orang lain itu hilang, bukan bermaksud nikmat tersebut berpindah padanya.

Seharusnya setiap orang memperhatikan bahwa setiap nikmat sudah pas diberikan oleh Allah pada setiap makhluknya sehingga tak perlu iri dan hasad. AllahĀ Ta’alaĀ berfirman,

ŁˆŁŽŁ„ŁŽŲ§ ŲŖŁŽŲŖŁŽŁ…ŁŽŁ†ŁŽŁ‘ŁˆŁ’Ų§ Ł…ŁŽŲ§ ŁŁŽŲ¶ŁŽŁ‘Ł„ŁŽ Ų§Ł„Ł„ŁŽŁ‘Ł‡Ł بِهِ ŲØŁŽŲ¹Ł’Ų¶ŁŽŁƒŁŁ…Ł’ Ų¹ŁŽŁ„ŁŽŁ‰ ŲØŁŽŲ¹Ł’Ų¶Ł Ł„ŁŁ„Ų±ŁŁ‘Ų¬ŁŽŲ§Ł„Ł Ł†ŁŽŲµŁŁŠŲØŁŒ Ł…ŁŁ…ŁŽŁ‘Ų§ Ų§ŁƒŁ’ŲŖŁŽŲ³ŁŽŲØŁŁˆŲ§ ŁˆŁŽŁ„ŁŁ„Ł†ŁŁ‘Ų³ŁŽŲ§Ų”Ł Ł†ŁŽŲµŁŁŠŲØŁŒ Ł…ŁŁ…ŁŽŁ‘Ų§ Ų§ŁƒŁ’ŲŖŁŽŲ³ŁŽŲØŁ’Ł†ŁŽ ŁˆŁŽŲ§Ų³Ł’Ų£ŁŽŁ„ŁŁˆŲ§ Ų§Ł„Ł„ŁŽŁ‘Ł‡ŁŽ مِنْ ŁŁŽŲ¶Ł’Ł„ŁŁ‡Ł Ų„ŁŁ†ŁŽŁ‘ Ų§Ł„Ł„ŁŽŁ‘Ł‡ŁŽ ŁƒŁŽŲ§Ł†ŁŽ ŲØŁŁƒŁŁ„ŁŁ‘ Ų“ŁŽŁŠŁ’Ų”Ł Ų¹ŁŽŁ„ŁŁŠŁ…Ł‹Ų§

ā€œDan janganlah kamu iri hati terhadap apa yang dikaruniakan Allah kepada sebahagian kamu lebih banyak dari sebahagian yang lain. (Karena) bagi orang laki-laki ada bahagian dari pada apa yang mereka usahakan, dan bagi para wanita (pun) ada bahagian dari apa yang mereka usahakan, dan mohonlah kepada Allah sebagian dari karunia-Nya. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui segala sesuatu.ā€ (QS. An-Nisaa’: 32)

Lihat Juga :  Mana yang Lebih Utama Membayar Utang Puasa atau MelaksanakanĀ Puasa Syawal?

2- Berkeinginan nikmat yang ada pada orang lain hilang, lalu berkeinginan nikmat tersebut berpindah padanya. Misalnya, ada wanita cantik yang sudah menjadi istri orang lain, ia punya hasad seandainya suaminya mati atau ia ditalak, lalu ingin menikahinya. Atau bisa jadi pula ada yang punya kekuasaan atau pemerintahan yang besar, ia sangat berharap seandainya raja atau penguasa tersebut mati saja biar kekuasaan tersebut berpindah padanya.

Tingkatan hasad kedua ini sama haramnya, tetapi lebih ringan dari yang pertama.

3- Tidak punya maksud pada nikmat orang lain, tetapi ia ingin orang lain tetap dalam keadaannya yang miskin dan bodoh. Hasad seperti ini membuat seseorang akan mudah merendahkan dan meremehkan orang lain.

4- Tidak menginginkan nikmat orang lain hilang, tetap ia ingin orang lain tetap sama dengannya. Jika keadaan orang lain lebih dari dirinya, barulah ia hasad dengan menginginkan nikmat orang lain hilang sehingga tetap sama dengannya. Yang tercela adalah keadaan kedua ketika menginginkan nikmat saudaranya itu hilang.

5- Menginginkan sama dengan orang lain tanpa menginginkan nikmat orang lain hilang. Inilah yang disebut denganĀ ghib-thahĀ sebagaimana terdapat dalam hadits berikut.

Dari ā€˜Abdullah bin Mas’udĀ radhiyallahu ā€˜anhu, ia berkata bahwa Rasulullah shallallahu ā€˜alaihi wa sallam bersabda,

Ł„Ų§ŁŽ Ų­ŁŽŲ³ŁŽŲÆŁŽ Ų„ŁŁ„Ų§ŁŽŁ‘ فِى Ų§Ų«Ł’Ł†ŁŽŲŖŁŽŁŠŁ’Ł†Ł Ų±ŁŽŲ¬ŁŁ„ŁŒ Ų¢ŲŖŁŽŲ§Ł‡Ł Ų§Ł„Ł„ŁŽŁ‘Ł‡Ł Ł…ŁŽŲ§Ł„Ų§Ł‹ ŁŁŽŲ³ŁŁ„ŁŁ‘Ų·ŁŽ Ų¹ŁŽŁ„ŁŽŁ‰ Ł‡ŁŽŁ„ŁŽŁƒŁŽŲŖŁŁ‡Ł فِى Ų§Ł„Ł’Ų­ŁŽŁ‚ŁŁ‘ ، ŁˆŁŽŲ±ŁŽŲ¬ŁŁ„ŁŒ Ų¢ŲŖŁŽŲ§Ł‡Ł Ų§Ł„Ł„ŁŽŁ‘Ł‡Ł Ų§Ł„Ł’Ų­ŁŁƒŁ’Ł…ŁŽŲ©ŁŽ ، ŁŁŽŁ‡Ł’ŁˆŁŽ ŁŠŁŽŁ‚Ł’Ų¶ŁŁ‰ ŲØŁŁ‡ŁŽŲ§ ŁˆŁŽŁŠŁŲ¹ŁŽŁ„ŁŁ‘Ł…ŁŁ‡ŁŽŲ§

ā€œTidak boleh hasad (ghibtoh) kecuali pada dua orang, yaitu orang yang Allah anugerahkan padanya harta lalu ia infakkan pada jalan kebaikan dan orang yang Allah beri karunia ilmu (Al-Qur’an dan As-Sunnah), ia menunaikan dan mengajarkannya.ā€ (HR. Bukhari, no. 73 dan Muslim, no. 816)

Inilah maksud berlomba-lomba dalam kebaikan,

ŁˆŁŽŁŁŁŠ Ų°ŁŽŁ„ŁŁƒŁŽ ŁŁŽŁ„Ł’ŁŠŁŽŲŖŁŽŁ†ŁŽŲ§ŁŁŽŲ³Ł Ų§Ł„Ł’Ł…ŁŲŖŁŽŁ†ŁŽŲ§ŁŁŲ³ŁŁˆŁ†ŁŽ

ā€œDan untuk yang demikian itu hendaknya orang berlomba-lomba.ā€ (QS. Al-Muthaffifin: 26)

Ini adalah ringkasan dariĀ Fiqh Al-HasadĀ karya Syaikh Musthafa Al-ā€˜AdawiĀ hafizhahullah.

 

CARA MENGHADAPI DAMPAK JELEK ORANG YANG HASAD

Pertama: Bertawakal kepada Allah.

AllahĀ Ta’alaĀ berfirman,

ŁˆŁŽŁ…ŁŽŁ†Ł’ ŁŠŁŽŲŖŁŽŁˆŁŽŁƒŁŽŁ‘Ł„Ł’ Ų¹ŁŽŁ„ŁŽŁ‰ Ų§Ł„Ł„ŁŽŁ‘Ł‡Ł ŁŁŽŁ‡ŁŁˆŁŽ Ų­ŁŽŲ³Ł’ŲØŁŁ‡Ł

ā€œDan barangsiapa yang bertawakkal kepada Allah niscaya Allah akan mencukupkan (keperluan)nya.ā€Ā (QS. Ath-Thalaq: 3)

Kedua: Bertakwa kepada Allah.

AllahĀ Ta’alaĀ berfirman,

ŁˆŁŽŲ„ŁŁ†Ł’ ŲŖŁŽŲµŁ’ŲØŁŲ±ŁŁˆŲ§ ŁˆŁŽŲŖŁŽŲŖŁŽŁ‘Ł‚ŁŁˆŲ§ Ł„ŁŽŲ§ ŁŠŁŽŲ¶ŁŲ±ŁŁ‘ŁƒŁŁ…Ł’ ŁƒŁŽŁŠŁ’ŲÆŁŁ‡ŁŁ…Ł’ Ų“ŁŽŁŠŁ’Ų¦Ł‹Ų§ Ū— Ų„ŁŁ†ŁŽŁ‘ Ų§Ł„Ł„ŁŽŁ‘Ł‡ŁŽ ŲØŁŁ…ŁŽŲ§ ŁŠŁŽŲ¹Ł’Ł…ŁŽŁ„ŁŁˆŁ†ŁŽ Ł…ŁŲ­ŁŁŠŲ·ŁŒ

ā€œJika kamu bersabar dan bertakwa, niscaya tipu daya mereka sediki tpun tidak mendatangkan kemudaratan kepadamu. Sesungguhnya Allah mengetahui segala apa yang mereka kerjakan.ā€Ā (QS. Ali ā€˜Imran: 120)

Ketiga: Meminta perlindungan kepada Allah dari kejahatan orang yang hasad.

Dari hadits Mu’adz bin ā€˜Abdillah bin Khubaib dari bapaknya, ia berkata, ā€œKami pernah keluar pada malam yang hujan dan sangat gelap. Kami meminta RasulullahĀ shallallahu ā€˜alaihi wa sallamĀ agar mau mendoakan kebaikan untuk kami. Kami pun mendapati beliau. Beliau berkata, ā€˜Ucapkanlah’. Aku tidak mengucapkan apa pun. Beliau berkata lagi, ā€˜Ucapkanlah’. Aku pun tidak mengucapkan apa pun. Beliau berkata lagi, ā€˜Ucapkanlah’. Aku lantas bertanya, ā€œApa yang mesti aku ucapkan?’ Beliau menjawab,

Ł‚ŁŁ„Ł’ (Ł‡ŁŁˆŁŽ Ų§Ł„Ł„ŁŽŁ‘Ł‡Ł Ų£ŁŽŲ­ŁŽŲÆŁŒ) ŁˆŁŽŲ§Ł„Ł’Ł…ŁŲ¹ŁŽŁˆŁŁ‘Ų°ŁŽŲŖŁŽŁŠŁ’Ł†Ł Ų­ŁŁŠŁ†ŁŽ ŲŖŁŁ…Ł’Ų³ŁŁ‰ ŁˆŁŽŲŖŁŲµŁ’ŲØŁŲ­Ł Ų«ŁŽŁ„Ų§ŁŽŲ«ŁŽ Ł…ŁŽŲ±ŁŽŁ‘Ų§ŲŖŁ ŲŖŁŽŁƒŁ’ŁŁŁŠŁƒŁŽ مِنْ ŁƒŁŁ„ŁŁ‘ Ų“ŁŽŁ‰Ł’Ų”Ł

ā€˜Bacalah: surah Al-Ikhlas, lalu surah al-mu’awwidzatain (surah Al-Falaq dan An-Naas) ketika petang dan pagi sebanyak tiga kali, maka itu akan mencukupimu dari segala sesuatu.ā€™ā€ (HR. Tirmidzi, no. 3575. Al-Hafizh Abu Thahir mengatakan bahwa sanad hadits ini hasan).

Syaikh Musthafa Al-ā€˜AdawiĀ hafizhahullahĀ mengatakan, ā€œBenteng yang paling kuat untuk melindungi diri dari kejahatan orang yang hasad adalah dengan berpegang pada Al-Qur’an dan ajaran Nabi Muhammad shallallahu ā€˜alaihi wa sallam, lalu meminta perlindungan kepada Allah Rabb semesta alam.ā€ (At-Tashiil li Ta’wil At-Tanziil Juz ā€˜Amma fii Sual wa Jawab, hlm. 726)

Keempat: Jangan beritahu orang yang hasad tentang nikmatmu.

Coba ambil pelajaran dari apa yang dikatakan oleh Nabi Ya’qub pada putranya Nabi Yusuf ā€˜alaihimas salam,

Ł‚ŁŽŲ§Ł„ŁŽ ŁŠŁŽŲ§ ŲØŁŁ†ŁŽŁŠŁŽŁ‘ Ł„ŁŽŲ§ ŲŖŁŽŁ‚Ł’ŲµŁŲµŁ’ Ų±ŁŲ¤Ł’ŁŠŁŽŲ§ŁƒŁŽ Ų¹ŁŽŁ„ŁŽŁ‰Ł° Ų„ŁŲ®Ł’ŁˆŁŽŲŖŁŁƒŁŽ ŁŁŽŁŠŁŽŁƒŁŁŠŲÆŁŁˆŲ§ Ł„ŁŽŁƒŁŽ ŁƒŁŽŁŠŁ’ŲÆŁ‹Ų§ Ū– Ų„ŁŁ†ŁŽŁ‘ Ų§Ł„Ų“ŁŽŁ‘ŁŠŁ’Ų·ŁŽŲ§Ł†ŁŽ Ł„ŁŁ„Ł’Ų„ŁŁ†Ł’Ų³ŁŽŲ§Ł†Ł Ų¹ŁŽŲÆŁŁˆŁŒŁ‘ Ł…ŁŲØŁŁŠŁ†ŁŒ

ā€œAyahnya berkata: ā€œHai anakku, janganlah kamu ceritakan mimpimu itu kepada saudara-saudaramu, maka mereka membuat makar (untuk membinasakan)mu. Sesungguhnya setan itu adalah musuh yang nyata bagi manusiaā€.ā€Ā (QS. Yusuf: 5)

Dalam hadits NabiĀ shallallahu ā€˜alaihi wa sallamĀ menceritakan tentang mimpi baik dan mimpi buruk,

Ā« Ų§Ł„Ų±ŁŁ‘Ų¤Ł’ŁŠŁŽŲ§ Ų§Ł„Ł’Ų­ŁŽŲ³ŁŽŁ†ŁŽŲ©Ł Ł…ŁŁ†ŁŽ Ų§Ł„Ł„ŁŽŁ‘Ł‡Ł ، ŁŁŽŲ„ŁŲ°ŁŽŲ§ Ų±ŁŽŲ£ŁŽŁ‰ Ų£ŁŽŲ­ŁŽŲÆŁŁƒŁŁ…Ł’ Ł…ŁŽŲ§ ŁŠŁŲ­ŁŲØŁŁ‘ ŁŁŽŁ„Ų§ŁŽ ŁŠŁŲ­ŁŽŲÆŁŁ‘Ų«Ł’ بِهِ Ų„ŁŁ„Ų§ŁŽŁ‘ Ł…ŁŽŁ†Ł’ ŁŠŁŲ­ŁŲØŁŁ‘ ، ŁˆŁŽŲ„ŁŲ°ŁŽŲ§ Ų±ŁŽŲ£ŁŽŁ‰ Ł…ŁŽŲ§ ŁŠŁŽŁƒŁ’Ų±ŁŽŁ‡Ł ŁŁŽŁ„Ł’ŁŠŁŽŲŖŁŽŲ¹ŁŽŁˆŁŽŁ‘Ų°Ł’ ŲØŁŲ§Ł„Ł„ŁŽŁ‘Ł‡Ł مِنْ Ų“ŁŽŲ±ŁŁ‘Ł‡ŁŽŲ§ ، ŁˆŁŽŁ…ŁŁ†Ł’ Ų“ŁŽŲ±ŁŁ‘ Ų§Ł„Ų“ŁŽŁ‘ŁŠŁ’Ų·ŁŽŲ§Ł†Ł ŁˆŁŽŁ„Ł’ŁŠŁŽŲŖŁ’ŁŁŁ„Ł’ Ų«ŁŽŁ„Ų§ŁŽŲ«Ł‹Ų§ ŁˆŁŽŁ„Ų§ŁŽ ŁŠŁŲ­ŁŽŲÆŁŁ‘Ų«Ł’ ŲØŁŁ‡ŁŽŲ§ Ų£ŁŽŲ­ŁŽŲÆŁ‹Ų§ ŁŁŽŲ„ŁŁ†ŁŽŁ‘Ł‡ŁŽŲ§ Ł„ŁŽŁ†Ł’ ŲŖŁŽŲ¶ŁŲ±ŁŽŁ‘Ł‡Ł Ā»

ā€œMimpi yang baik itu dari Allah. Jika salah seorang di antara kalian bermimpi sesuatu yang disenangi, janganlah menceritakannya selain pada orang yang menyukai saja. Namun, jika bermimpi yang tidak disukai, mintalah perlindungan kepada Allah dari keburukan mimpi tersebut dan juga dari kejahatan setan. Kemudian, meludahlah sebanyak tiga kali dan jangan menceritakan hal tadi kepada seorang pun. Karena mimpi tersebut tidak akan memudaratkan orang yang bermimpi tadi.ā€ (HR. Bukhari, no. 7044 dan Muslim, no. 2261, dari Abu QatadahĀ radhiyallahu ā€˜anhu)

Kelima: Jangan ambil peduli dengan orang yang hasad, sibukkan diri dan tidak banyak memikirkan dia.

Lihat Juga :  Doa untuk Ibu di Hari Ibu 2023

Ibnul QayyimĀ rahimahullahĀ secara ringkas mengatakan bahwa jika ada yang hasad pada kita, tidak usah dipedulikan, tidak perlu takut, dan hati kita tidak usah memikirkan dia. LihatĀ At-Tashiil li Ta’wil At-Tanziil Juz ā€˜Amma fii Sual wa Jawab. Syaikh Musthafa Al-ā€˜Adawi, hlm. 727-728.

Keenam: Menghadap dan ikhlas kepada Allah, dengan menyibukkan hati untuk mencintai, rida, dan bertaubat kepada-Nya.

AllahĀ Ta’alaĀ berfirman,

Ų„ŁŁ†ŁŽŁ‘Ł‡Ł Ł„ŁŽŁŠŁ’Ų³ŁŽ Ł„ŁŽŁ‡Ł Ų³ŁŁ„Ł’Ų·ŁŽŲ§Ł†ŁŒ Ų¹ŁŽŁ„ŁŽŁ‰ Ų§Ł„ŁŽŁ‘Ų°ŁŁŠŁ†ŁŽ Ų¢Ł…ŁŽŁ†ŁŁˆŲ§ ŁˆŁŽŲ¹ŁŽŁ„ŁŽŁ‰Ł° Ų±ŁŽŲØŁŁ‘Ł‡ŁŁ…Ł’ ŁŠŁŽŲŖŁŽŁˆŁŽŁƒŁŽŁ‘Ł„ŁŁˆŁ†ŁŽ , Ų„ŁŁ†ŁŽŁ‘Ł…ŁŽŲ§ Ų³ŁŁ„Ł’Ų·ŁŽŲ§Ł†ŁŁ‡Ł Ų¹ŁŽŁ„ŁŽŁ‰ Ų§Ł„ŁŽŁ‘Ų°ŁŁŠŁ†ŁŽ ŁŠŁŽŲŖŁŽŁˆŁŽŁ„ŁŽŁ‘ŁˆŁ’Ł†ŁŽŁ‡Ł ŁˆŁŽŲ§Ł„ŁŽŁ‘Ų°ŁŁŠŁ†ŁŽ Ł‡ŁŁ…Ł’ بِهِ Ł…ŁŲ“Ł’Ų±ŁŁƒŁŁˆŁ†ŁŽ

ā€œSesungguhnya setan itu tidak ada kekuasaannya atas orang-orang yang beriman dan bertawakkal kepada Rabbnya. Sesungguhnya kekuasaannya (setan) hanyalah atas orang-orang yang mengambilnya jadi pemimpin dan atas orang-orang yang mempersekutukannya dengan Allah.ā€ (QS. An-Nahl: 99-100)

Ketujuh: Tabah (sabar) dalam menghadapi orang yang hasad.

AllahĀ Ta’alaĀ berfirman,

Ūž Ų°ŁŽŁ°Ł„ŁŁƒŁŽ ŁˆŁŽŁ…ŁŽŁ†Ł’ Ų¹ŁŽŲ§Ł‚ŁŽŲØŁŽ بِمِثْلِ Ł…ŁŽŲ§ Ų¹ŁŁˆŁ‚ŁŲØŁŽ بِهِ Ų«ŁŁ…ŁŽŁ‘ ŲØŁŲŗŁŁŠŁŽ Ų¹ŁŽŁ„ŁŽŁŠŁ’Ł‡Ł Ł„ŁŽŁŠŁŽŁ†Ł’ŲµŁŲ±ŁŽŁ†ŁŽŁ‘Ł‡Ł Ų§Ł„Ł„ŁŽŁ‘Ł‡Ł Ū— Ų„ŁŁ†ŁŽŁ‘ Ų§Ł„Ł„ŁŽŁ‘Ł‡ŁŽ Ł„ŁŽŲ¹ŁŽŁŁŁˆŁŒŁ‘ ŲŗŁŽŁŁŁˆŲ±ŁŒ

ā€œDemikianlah, dan barangsiapa membalas seimbang dengan penganiayaan yang pernah ia derita kemudian ia dianiaya (lagi), pasti Allah akan menolongnya. Sesungguhnya Allah benar-benar Maha Pemaaf lagi Maha Pengampun.ā€ (QS. Al-Hajj: 60). Jika Allah benar-benar memberikan jaminan, padahal ia telah membalas sesuai dengan haknya. Bagaimana lagi jika seseorang yang tidak membalas sama sekali, berarti ia bersabar, ia terus dizalimi dan ia mau bersabar. Bukankah kita tahu sendiri bahwa hukuman bagi orang yang bertindak zalim dan memutus silaturahim itu lebih cepat mendapatkan hukuman. Ingatlah bahwa sudah jadiĀ sunnatullah:

Ł„ŁŽŁˆŁ’ ŲØŁŽŲŗŁŽŁ‰ Ų¬ŁŽŲØŁŽŁ„ŁŒ Ų¹ŁŽŁ„ŁŽŁ‰ Ų¬ŁŽŲØŁŽŁ„Ł Ų¬ŁŽŲ¹ŁŽŁ„ ŁŽŲ§Ł„ŲØŁŽŲ§ŲŗŁŁŠ Ł…ŁŁ†Ł’Ł‡ŁŁ…ŁŽŲ§ ŲÆŁŽŁƒŁ‹Ł‘Ų§

Jika satu gunung menzalimi gunung yang lain, salah satu yang zalim nantinya akan rata dengan tanah. Ini yang disebutkan oleh Ibnul Qayyim dalamĀ Badai’ Al-Fawaid.

Kedelapan: Berbuat baik pada orang yang hasad.

AllahĀ Ta’alaĀ berfirman,

ŁˆŁŽŁ„ŁŽŲ§ ŲŖŁŽŲ³Ł’ŲŖŁŽŁˆŁŁŠ Ų§Ł„Ł’Ų­ŁŽŲ³ŁŽŁ†ŁŽŲ©Ł ŁˆŁŽŁ„ŁŽŲ§ Ų§Ł„Ų³ŁŽŁ‘ŁŠŁŁ‘Ų¦ŁŽŲ©Ł ۚ Ų§ŲÆŁ’ŁŁŽŲ¹Ł’ ŲØŁŲ§Ł„ŁŽŁ‘ŲŖŁŁŠ Ł‡ŁŁŠŁŽ Ų£ŁŽŲ­Ł’Ų³ŁŽŁ†Ł ŁŁŽŲ„ŁŲ°ŁŽŲ§ Ų§Ł„ŁŽŁ‘Ų°ŁŁŠ ŲØŁŽŁŠŁ’Ł†ŁŽŁƒŁŽ ŁˆŁŽŲØŁŽŁŠŁ’Ł†ŁŽŁ‡Ł Ų¹ŁŽŲÆŁŽŲ§ŁˆŁŽŲ©ŁŒ ŁƒŁŽŲ£ŁŽŁ†ŁŽŁ‘Ł‡Ł ŁˆŁŽŁ„ŁŁŠŁŒŁ‘ Ų­ŁŽŁ…ŁŁŠŁ…ŁŒ, ŁˆŁŽŁ…ŁŽŲ§ ŁŠŁŁ„ŁŽŁ‚ŁŽŁ‘Ų§Ł‡ŁŽŲ§ Ų„ŁŁ„ŁŽŁ‘Ų§ Ų§Ł„ŁŽŁ‘Ų°ŁŁŠŁ†ŁŽ ŲµŁŽŲØŁŽŲ±ŁŁˆŲ§ ŁˆŁŽŁ…ŁŽŲ§ ŁŠŁŁ„ŁŽŁ‚ŁŽŁ‘Ų§Ł‡ŁŽŲ§ Ų„ŁŁ„ŁŽŁ‘Ų§ Ų°ŁŁˆ Ų­ŁŽŲøŁŁ‘ Ų¹ŁŽŲøŁŁŠŁ…Ł , ŁˆŁŽŲ„ŁŁ…ŁŽŁ‘Ų§ ŁŠŁŽŁ†Ł’Ų²ŁŽŲŗŁŽŁ†ŁŽŁ‘ŁƒŁŽ Ł…ŁŁ†ŁŽ Ų§Ł„Ų“ŁŽŁ‘ŁŠŁ’Ų·ŁŽŲ§Ł†Ł Ł†ŁŽŲ²Ł’ŲŗŁŒ ŁŁŽŲ§Ų³Ł’ŲŖŁŽŲ¹ŁŲ°Ł’ ŲØŁŲ§Ł„Ł„ŁŽŁ‘Ł‡Ł Ū– Ų„ŁŁ†ŁŽŁ‘Ł‡Ł Ł‡ŁŁˆŁŽ Ų§Ł„Ų³ŁŽŁ‘Ł…ŁŁŠŲ¹Ł Ų§Ł„Ł’Ų¹ŁŽŁ„ŁŁŠŁ…Ł

ā€œDan tidaklah sama kebaikan dan kejahatan. Tolaklah (kejahatan itu) dengan cara yang lebih baik, maka tiba-tiba orang yang antaramu dan antara dia ada permusuhan seolah-olah telah menjadi teman yang sangat setia. Sifat-sifat yang baik itu tidak dianugerahkan melainkan kepada orang-orang yang sabar dan tidak dianugerahkan melainkan kepada orang-orang yang mempunyai keuntungan yang besar. Dan jika syetan mengganggumu dengan suatu gangguan, maka mohonlah perlindungan kepada Allah. Sesungguhnya Dialah yang Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui.ā€Ā (QS. Fussilat: 34-36).

Juga dalam ayat,

Ų£ŁŁˆŁ„ŁŽŁ°Ų¦ŁŁƒŁŽ ŁŠŁŲ¤Ł’ŲŖŁŽŁˆŁ’Ł†ŁŽ Ų£ŁŽŲ¬Ł’Ų±ŁŽŁ‡ŁŁ…Ł’ Ł…ŁŽŲ±ŁŽŁ‘ŲŖŁŽŁŠŁ’Ł†Ł ŲØŁŁ…ŁŽŲ§ ŲµŁŽŲØŁŽŲ±ŁŁˆŲ§ ŁˆŁŽŁŠŁŽŲÆŁ’Ų±ŁŽŲ”ŁŁˆŁ†ŁŽ ŲØŁŲ§Ł„Ł’Ų­ŁŽŲ³ŁŽŁ†ŁŽŲ©Ł Ų§Ł„Ų³ŁŽŁ‘ŁŠŁŁ‘Ų¦ŁŽŲ©ŁŽ ŁˆŁŽŁ…ŁŁ…ŁŽŁ‘Ų§ Ų±ŁŽŲ²ŁŽŁ‚Ł’Ł†ŁŽŲ§Ł‡ŁŁ…Ł’ ŁŠŁŁ†Ł’ŁŁŁ‚ŁŁˆŁ†ŁŽ

ā€œMereka itu diberi pahala dua kali disebabkan kesabaran mereka, dan mereka menolak kejahatan dengan kebaikan, dan sebagian dari apa yang telah Kami rezekikan kepada mereka, mereka nafkahkan.ā€ (QS. Al-Qasas: 54)

Lihat pula bagaimana sikap para nabi ketika mereka disakiti dan dizalimi oleh kaumnya. NabiĀ shallallahu ā€˜alaihi wa sallamĀ sendiri saat perang Uhud malah berdoa,

Ų§Ł„Ł„ŁŽŁ‘Ł‡ŁŁ…ŁŽŁ‘ اغْفِرْ Ł„ŁŁ‚ŁŽŁˆŁ’Ł…ŁŁ‰ ŁŁŽŲ„ŁŁ†ŁŽŁ‘Ł‡ŁŁ…Ł’ Ł„Ų§ŁŽ ŁŠŁŽŲ¹Ł’Ł„ŁŽŁ…ŁŁˆŁ†ŁŽ

ā€œYa Allah ampunilah kaumku karena mereka sejatinya tidak mengetahui.ā€ (HR. Bukhari, no. 3477 dan Muslim, no. 1792). Doa ini mengandung pelajaran bagaimanakah keburukan dibalas dengan kebaikan dalam empat bentuk:

Ų£ŁŽŲ­ŁŽŲÆŁŁ‡ŁŽŲ§ Ų¹ŁŽŁŁ’ŁˆŁŁ‡Ł Ų¹ŁŽŁ†Ł’Ł‡ŁŁ…Ł’ ŁˆŁŽŲ§Ł„Ų«ŁŽŁ‘Ų§Ł†ŁŁŠ Ų§ŁŲ³Ł’ŲŖŁŲŗŁ’ŁŁŽŲ§Ų±ŁŁ‡Ł Ł„ŁŽŁ‡ŁŁ…Ł’ Ų§Ł„Ų«ŁŽŁ‘Ų§Ł„ŁŲ«Ł Ų§ŁŲ¹Ł’ŲŖŁŲ°ŁŽŲ§Ų±ŁŁ‡Ł Ų¹ŁŽŁ†Ł’Ł‡ŁŁ…Ł’ ŲØŁŲ£ŁŽŁ†ŁŽŁ‘Ł‡ŁŁ…Ł’ Ł„Ų§ŁŽ ŁŠŁŽŲ¹Ł’Ł„ŁŽŁ…ŁŁˆŁ’Ł†ŁŽ Ų§Ł„Ų±ŁŽŁ‘Ų§ŲØŁŲ¹Ł Ų§ŁŲ³Ł’ŲŖŁŲ¹Ł’Ų·ŁŽŲ§ŁŁŁ‡Ł Ł„ŁŽŁ‡ŁŁ…Ł’ ŲØŁŲ„ŁŲ¶ŁŽŲ§ŁŁŽŲŖŁŁ‡ŁŁ…Ł’ Ų„ŁŁ„ŁŽŁŠŁ’Ł‡Ł

  1. Memaafkan.
  2. Memintakan ampun untuk yang berbuat zalim.
  3. Memberikan uzur pada mereka karena mereka tidak tahu.
  4. Para nabi itu begitu sayang dan simpati pada kaumnya sendiri karena mereka tetap menyatakan itu kaumnya.

Empat hal di atas disampaikan oleh Ibnul Qayyim dalamĀ Badai’ Al-Fawaid.

Kesembilan: Segera bertaubat atas dosa.

Kesepuluh: Orang yang hasad itu mandi dan airnya disiramkan pada orang yang kena hasad.

Dari Ibnu ā€˜AbbasĀ radhiyallahu ā€˜anhuma, RasulullahĀ shallallahu ā€˜alaihi wa sallambersabda,

Ų§Ł„Ł’Ų¹ŁŽŁŠŁ’Ł†Ł Ų­ŁŽŁ‚ŁŒŁ‘ ŁˆŁŽŁ„ŁŽŁˆŁ’ ŁƒŁŽŲ§Ł†ŁŽ Ų“ŁŽŁ‰Ł’Ų”ŁŒ Ų³ŁŽŲ§ŲØŁŽŁ‚ŁŽ Ų§Ł„Ł’Ł‚ŁŽŲÆŁŽŲ±ŁŽ Ų³ŁŽŲØŁŽŁ‚ŁŽŲŖŁ’Ł‡Ł Ų§Ł„Ł’Ų¹ŁŽŁŠŁ’Ł†Ł ŁˆŁŽŲ„ŁŲ°ŁŽŲ§ Ų§Ų³Ł’ŲŖŁŲŗŁ’Ų³ŁŁ„Ł’ŲŖŁŁ…Ł’ ŁŁŽŲ§ŲŗŁ’Ų³ŁŁ„ŁŁˆŲ§

ā€œā€˜Ain itu benar adanya. Segala sesuatu terjadi dengan takdir, termasuk pula ā€˜ain terjadi dengan takdir. Apabila kalian diminta untuk mandi (karena memberi dampak ā€˜ain), maka mandilah.ā€ (HR. Muslim, no. 2188. Lihat Syarh Shahih Muslim tentang hadits ini).

Kesebelas: Lakukan ruqyah syariyyah.

Kedua belas: Memiliki iman dan tauhid yang kuat.

Cara menghadapi hasad ini diringkas dari kitab karya Syaikh Musthafa Al-ā€˜Adawi yaituĀ At-Tashiil li Ta’wil At-Tanziil Juz ā€˜Amma fii Sual wa Jawab, hlm. 723-740.

 

SEBAB TERJADINYA HASAD

  1. Permusuhan dan kebencian.
  2. Cinta dunia terutama terkait dengan kekuasaan dan kepemimpinan.
  3. Pelit membagi kebaikan pada orang lain.
  4. Lemahnya iman.
  5. Kesombongan.
  6. Tidak ingin dikalahkan yang lain.
  7. Takut disaingi.
  8. Takut diejek orang lain.

Sebab-sebab di atas disebutkan oleh Syaikh Musthafa Al-ā€˜Adawi di kitabĀ At-Tashiil li Ta’wil At-Tanziil Juz ā€˜Amma fii Sual wa Jawab, hlm. 752-753.

Semoga bahasan hasad ini bermanfaat. Semoga Allah menjauhkan kita dari sifat hasad.Ā (*/sumber : Rumaysho.comĀ )

 

Back to top button