Cara Menghadapi Orang yang Hasad dan Sebab Hasad (Dengki)

AsSAJIDIN.COM – Apa itu hasad? Apa saja sebab-sebab terjadinya hasad (iri hati, dengki)? Lalu bagaimana cara menghadapi orang yang hasad?
Kalau kita melihat dari sisi pengertian hasad sebenarnya lebih dari sekadar iri hati dan dengki. Baiknya bahasan ini dikaji lebih mendalam.
PENGERTIAN HASAD
Menurut jumhur ulama, hasad adalah berharap hilangnya nikmat Allah pada orang lain. Nikmat ini bisa berupa nikmat harta, kedudukan, ilmu, dan lainnya. Demikian penjelasan Syaikh Ibnu āUtsaimin dalamĀ Syarh Al-Arbaāin An-Nawawiyyah, hlm. 368.
Perkataan jumhur ulama di atas diungkapkan oleh Syaikh Musthafa Al-āAdawiĀ hafizhahullah,
Ų§ŁŲŁŲ³ŁŲÆŁ ŁŁŁŁ ŲŖŁŁ ŁŁŁŁŁ Ų²ŁŁŁŲ§ŁŁ Ų§ŁŁŁŁŲ¹ŁŁ ŁŲ©Ł Ų¹ŁŁŁ ŲµŁŲ§ŲŁŲØŁŁŁŲ§
āHasad adalah menginginkan hilangnya nikmat yang ada pada orang lain.ā (At-Tashiil li Taāwil At-Tanziil Juz āAmma fii Sual wa Jawab, hlm. 720)
Hasad menurut Ibnu Taimiyah adalah,
Ų§ŁŁŲŁŲ³ŁŲÆŁ ŁŁŁŁ Ų§ŁŁŲØŁŲŗŁŲ¶Ł ŁŁŲ§ŁŁŁŁŲ±ŁŲ§ŁŁŲ©Ł ŁŁŁ ŁŲ§ ŁŁŲ±ŁŲ§ŁŁ Ł ŁŁŁ ŲŁŲ³ŁŁŁ ŲŁŲ§ŁŁ Ų§ŁŁŁ ŁŲŁŲ³ŁŁŲÆŁ
āHasad adalah membenci dan tidak suka terhadap keadaan baik yang ada pada orang yang dihasad.ā (Majmuāah Al-Fatawa, 10:111).
LARANGAN HASAD
Dari Abu HurairahĀ radhiyallahu āanhu, ia berkata, RasulullahĀ shallallahu āalaihi wa sallamĀ bersabda,
Ā«ŁŲ§Ł ŲŖŁŲŁŲ§Ų³ŁŲÆŁŁŲ§Ų ŁŁŁŲ§ŁŲŖŁŁŁŲ§Ų¬ŁŲ“ŁŁŲ§Ų ŁŁŁŲ§Ł ŲŖŁŲØŁŲ§ŲŗŁŲ¶ŁŁŲ§Ų ŁŁŁŲ§Ł ŲŖŁŲÆŁŲ§ŲØŁŲ±ŁŁŲ§Ų ŁŁŁŲ§Ł ŁŁŲØŁŲ¹Ł ŲØŁŲ¹ŁŲ¶ŁŁŁŁ Ł Ų¹ŁŁŁŁ ŲØŁŁŁŲ¹Ł ŲØŁŲ¹ŁŲ¶ŁŲ ŁŁŁŁŁŁŁŁŁŲ§ Ų¹ŁŲØŁŲ§ŲÆŁ Ų§ŁŁŁŁ Ų„ŁŲ®ŁŁŲ§ŁŲ§Ł. Ų§ŁŁ ŁŲ³ŁŁŁŁ Ł Ų£ŁŲ®ŁŁ Ų§ŁŁ ŁŲ³ŁŁŁŁ ŁŲ ŁŲ§Ł ŁŁŲøŁŁŁŁ ŁŁŁŲ ŁŁŁŲ§Ł ŁŁŲ®Ų°ŁŁŁŁŁŲ ŁŁŁŁŲ§ ŁŁŁŁŲ°ŁŲØŁŁŁŲ ŁŁŁŁŲ§ŁŁŲŁŁŁŲ±ŁŁŁ. Ų§ŁŲŖŁŁŁŁŁŁŁ ŁŁŲ§ŁŁŁŁŲ§ -ŁŁŁŁŲ“ŁŁŁŲ±Ł Ų„ŁŁŁŁ ŲµŁŲÆŁŲ±ŁŁŁ Ų«ŁŁŲ§ŁŲ«Ł Ł ŁŲ±ŁŁŲ§ŲŖŁ- ŲØŁŲŁŲ³ŁŲØŁ Ų§Ł ŁŲ±ŁŁŲ”Ł Ł ŁŁŁ Ų§ŁŲ“ŁŁŲ±ŁŁ Ų£ŁŁŁ ŁŁŲŁŁŁŲ±Ł Ų£ŁŲ®ŁŲ§ŁŁ Ų§ŁŁ ŁŲ³ŁŁŁŁ Ł. ŁŁŁŁŁ Ų§ŁŁ ŁŲ³ŁŁŁŁ Ł Ų¹ŁŁŁŁ Ų§ŁŁ ŁŲ³ŁŁŁŁ Ł ŲŁŲ±ŁŲ§Ł Ł: ŲÆŁŁ ŁŁŁ ŁŁŁ ŁŲ§ŁŁŁŁ ŁŁŲ¹ŁŲ±ŁŲ¶ŁŁŁĀ».
āJanganlah kalian saling hasad (mendengki), janganlah saling tanajusy (menyakiti dalam jual beli), janganlah saling benci, janganlah saling membelakangi (mendiamkan), dan janganlah menjual di atas jualan saudaranya. Jadilah hamba Allah yang bersaudara. Seorang muslim adalah saudara untuk muslim lainnya. Karenanya, ia tidak boleh berbuat zalim, menelantarkan, berdusta, dan menghina yang lain. Takwa itu di siniābeliau memberi isyarat ke dadanya tiga kaliā. Cukuplah seseorang berdosa jika ia menghina saudaranya yang muslim. Setiap muslim atas muslim lainnya itu haram darahnya, hartanya, dan kehormatannya.āā (HR. Muslim, no. 2564)
SIFAT MANUSIA SAAT HASAD
Hasad itu sifatnya manusiawi. Setiap orang pasti punya rasa tidak suka jika ada orang yang setipe dengannya melebihi dirinya dari sisi keutamaan.
Manusia dalam hal hasad ada empat keadaan yaitu:
Pertama: Ada yang berusaha menghilangkan nikmat pada orang yang ia hasad. Ia berbuat melampaui batas dengan perkataan ataupun perbuatan.Ā Inilah hasad yang tercela.
Kedua: Ada yang hasad pada orang lain. Namun, ia tidak menjalankan konsekuensi dari hasad tersebut di mana ia tidak bersikap melampaui batas dengan ucapan dan perbuatannya. Al-Hasan Al-Bashri berpandangan bahwa hal ini tidaklah berdosa.
Ketiga: Ada yang hasad dan tidak menginginkan nikmat orang lain hilang. Bahkan ia berusaha agar memperoleh kemuliaan semisal. Ia berharap bisa sama dengan yang punya nikmat tersebut. Hal ini dirinci menjadi dua, yaitu dalam urusan dunia dan urusan agama.
Jika kemuliaan yang dimaksud hanyalah urusan dunia, tidak ada kebaikan di dalamnya. Contohnya adalah keadaan seseorang yang ingin seperti Qarun.
ŁŁŲ§ ŁŁŁŁŲŖŁ ŁŁŁŁŲ§ Ł ŁŲ«ŁŁŁ Ł ŁŲ§ Ų£ŁŁŲŖŁŁŁ ŁŁŲ§Ų±ŁŁŁŁ
āMoga-moga kiranya kita mempunyai seperti apa yang telah diberikan kepada Qarun.ā (QS. Al-Qasas: 79)
Jika kemuliaan yang dimaksud adalah urusan agama, inilah yang baik.Ā Inilah yang disebutĀ ghib-thah.
Dari Ibnu āUmarĀ radhiyallahu āanhuma, RasulullahĀ shallallahu āalaihi wa sallambersabda,
ŁŲ§ ŲŁŲ³ŁŲÆŁ Ų„ŁŁŁŲ§ Ų¹ŁŁ Ų§Ų«ŁŲŖŁŁŁŁ: Ų±Ų¬ŁŁŁ Ų¢ŲŖŲ§ŁŁ Ų§ŁŁŁŁ Ł Ų§ŁŁŲ§Ų ŁŁŁ ŁŁŁŁŁŁŁŁ Ł ŁŁŁŁ Ų¢ŁŲ§Ų”Ł Ų§ŁŁŁŁŁŁŁ ŁŲ¢ŁŲ§Ų”Ł Ų§ŁŁŁŁŁŲ§Ų±ŁŲ ŁŲ±Ų¬ŁŁŁ Ų¢ŲŖŲ§ŁŁ Ų§ŁŁŁŁ Ų§ŁŁŁŲ±Ų¢ŁŁŲ ŁŁŁ ŁŁŁŁŁ Ł ŲØŁ Ų¢ŁŲ§Ų”Ł Ų§ŁŁŁŁŁŁŁ ŁŲ¢ŁŲ§Ų”Ł Ų§ŁŁŁŁŁŲ§Ų±Ł.
āTidak boleh ada hasad kecuali pada dua perkara: ada seseorang yang dianugerahi harta lalu ia gunakan untuk berinfak pada malam dan siang, juga ada orang yang dianugerahi Al-Qurāan, lantas ia berdiri dengan membacanya malam dan siang.ā (HR. Bukhari, no. 5025, 7529 dan Muslim, no. 815)
Keempat: Jika dapati diri hasad, ia berusaha untuk menghapusnya.Ā Bahkan ia ingin berbuat baik pada orang yang ia hasad.Ā Ia mendoakan kebaikan untuknya. Ia pun menyebarkan kebaikan-kebaikannya. Ia ganti sifat hasad itu dengan rasa cinta. Ia katakan bahwa saudaranya itu lebih baik dan lebih mulia.
Bentuk keempat inilah tingkatan paling tinggi dalam iman. Yang memilikinya itulah yang memiliki iman yang sempurna, di mana ia mencintai saudaranya sebagaimana ia mencintai dirinya sendiri.
LihatĀ Jaamiā Al-āUlum wa Al-Hikam, 2:260-263.
TINGKATAN HASAD
1- Berkeinginan nikmat yang ada pada orang lain hilang meski tidak berpindah padanya. Orang yang hasad lebih punya keinginan besar nikmat orang lain itu hilang, bukan bermaksud nikmat tersebut berpindah padanya.
Seharusnya setiap orang memperhatikan bahwa setiap nikmat sudah pas diberikan oleh Allah pada setiap makhluknya sehingga tak perlu iri dan hasad. AllahĀ TaāalaĀ berfirman,
ŁŁŁŁŲ§ ŲŖŁŲŖŁŁ ŁŁŁŁŁŁŲ§ Ł ŁŲ§ ŁŁŲ¶ŁŁŁŁ Ų§ŁŁŁŁŁŁ ŲØŁŁŁ ŲØŁŲ¹ŁŲ¶ŁŁŁŁ Ł Ų¹ŁŁŁŁ ŲØŁŲ¹ŁŲ¶Ł ŁŁŁŲ±ŁŁŲ¬ŁŲ§ŁŁ ŁŁŲµŁŁŲØŁ Ł ŁŁ ŁŁŲ§ Ų§ŁŁŲŖŁŲ³ŁŲØŁŁŲ§ ŁŁŁŁŁŁŁŁŲ³ŁŲ§Ų”Ł ŁŁŲµŁŁŲØŁ Ł ŁŁ ŁŁŲ§ Ų§ŁŁŲŖŁŲ³ŁŲØŁŁŁ ŁŁŲ§Ų³ŁŲ£ŁŁŁŁŲ§ Ų§ŁŁŁŁŁŁ Ł ŁŁŁ ŁŁŲ¶ŁŁŁŁŁ Ų„ŁŁŁŁ Ų§ŁŁŁŁŁŁ ŁŁŲ§ŁŁ ŲØŁŁŁŁŁŁ Ų“ŁŁŁŲ”Ł Ų¹ŁŁŁŁŁ ŁŲ§
āDan janganlah kamu iri hati terhadap apa yang dikaruniakan Allah kepada sebahagian kamu lebih banyak dari sebahagian yang lain. (Karena) bagi orang laki-laki ada bahagian dari pada apa yang mereka usahakan, dan bagi para wanita (pun) ada bahagian dari apa yang mereka usahakan, dan mohonlah kepada Allah sebagian dari karunia-Nya. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui segala sesuatu.ā (QS. An-Nisaaā: 32)
2- Berkeinginan nikmat yang ada pada orang lain hilang, lalu berkeinginan nikmat tersebut berpindah padanya. Misalnya, ada wanita cantik yang sudah menjadi istri orang lain, ia punya hasad seandainya suaminya mati atau ia ditalak, lalu ingin menikahinya. Atau bisa jadi pula ada yang punya kekuasaan atau pemerintahan yang besar, ia sangat berharap seandainya raja atau penguasa tersebut mati saja biar kekuasaan tersebut berpindah padanya.
Tingkatan hasad kedua ini sama haramnya, tetapi lebih ringan dari yang pertama.
3- Tidak punya maksud pada nikmat orang lain, tetapi ia ingin orang lain tetap dalam keadaannya yang miskin dan bodoh. Hasad seperti ini membuat seseorang akan mudah merendahkan dan meremehkan orang lain.
4- Tidak menginginkan nikmat orang lain hilang, tetap ia ingin orang lain tetap sama dengannya. Jika keadaan orang lain lebih dari dirinya, barulah ia hasad dengan menginginkan nikmat orang lain hilang sehingga tetap sama dengannya. Yang tercela adalah keadaan kedua ketika menginginkan nikmat saudaranya itu hilang.
5- Menginginkan sama dengan orang lain tanpa menginginkan nikmat orang lain hilang. Inilah yang disebut denganĀ ghib-thahĀ sebagaimana terdapat dalam hadits berikut.
Dari āAbdullah bin MasāudĀ radhiyallahu āanhu, ia berkata bahwa Rasulullah shallallahu āalaihi wa sallam bersabda,
ŁŲ§Ł ŲŁŲ³ŁŲÆŁ Ų„ŁŁŲ§ŁŁ ŁŁŁ Ų§Ų«ŁŁŁŲŖŁŁŁŁŁ Ų±ŁŲ¬ŁŁŁ Ų¢ŲŖŁŲ§ŁŁ Ų§ŁŁŁŁŁŁ Ł ŁŲ§ŁŲ§Ł ŁŁŲ³ŁŁŁŁŲ·Ł Ų¹ŁŁŁŁ ŁŁŁŁŁŁŲŖŁŁŁ ŁŁŁ Ų§ŁŁŲŁŁŁŁ Ų ŁŁŲ±ŁŲ¬ŁŁŁ Ų¢ŲŖŁŲ§ŁŁ Ų§ŁŁŁŁŁŁ Ų§ŁŁŲŁŁŁŁ ŁŲ©Ł Ų ŁŁŁŁŁŁ ŁŁŁŁŲ¶ŁŁ ŲØŁŁŁŲ§ ŁŁŁŁŲ¹ŁŁŁŁŁ ŁŁŁŲ§
āTidak boleh hasad (ghibtoh) kecuali pada dua orang, yaitu orang yang Allah anugerahkan padanya harta lalu ia infakkan pada jalan kebaikan dan orang yang Allah beri karunia ilmu (Al-Qurāan dan As-Sunnah), ia menunaikan dan mengajarkannya.ā (HR. Bukhari, no. 73 dan Muslim, no. 816)
Inilah maksud berlomba-lomba dalam kebaikan,
ŁŁŁŁŁ Ų°ŁŁŁŁŁ ŁŁŁŁŁŁŲŖŁŁŁŲ§ŁŁŲ³Ł Ų§ŁŁŁ ŁŲŖŁŁŁŲ§ŁŁŲ³ŁŁŁŁ
āDan untuk yang demikian itu hendaknya orang berlomba-lomba.ā (QS. Al-Muthaffifin: 26)
Ini adalah ringkasan dariĀ Fiqh Al-HasadĀ karya Syaikh Musthafa Al-āAdawiĀ hafizhahullah.
CARA MENGHADAPI DAMPAK JELEK ORANG YANG HASAD
Pertama: Bertawakal kepada Allah.
AllahĀ TaāalaĀ berfirman,
ŁŁŁ ŁŁŁ ŁŁŲŖŁŁŁŁŁŁŁŁ Ų¹ŁŁŁŁ Ų§ŁŁŁŁŁŁ ŁŁŁŁŁŁ ŲŁŲ³ŁŲØŁŁŁ
āDan barangsiapa yang bertawakkal kepada Allah niscaya Allah akan mencukupkan (keperluan)nya.āĀ (QS. Ath-Thalaq: 3)
Kedua: Bertakwa kepada Allah.
AllahĀ TaāalaĀ berfirman,
ŁŁŲ„ŁŁŁ ŲŖŁŲµŁŲØŁŲ±ŁŁŲ§ ŁŁŲŖŁŲŖŁŁŁŁŁŲ§ ŁŁŲ§ ŁŁŲ¶ŁŲ±ŁŁŁŁŁ Ł ŁŁŁŁŲÆŁŁŁŁ Ł Ų“ŁŁŁŲ¦ŁŲ§ Ū Ų„ŁŁŁŁ Ų§ŁŁŁŁŁŁ ŲØŁŁ ŁŲ§ ŁŁŲ¹ŁŁ ŁŁŁŁŁŁ Ł ŁŲŁŁŲ·Ł
āJika kamu bersabar dan bertakwa, niscaya tipu daya mereka sediki tpun tidak mendatangkan kemudaratan kepadamu. Sesungguhnya Allah mengetahui segala apa yang mereka kerjakan.āĀ (QS. Ali āImran: 120)
Ketiga: Meminta perlindungan kepada Allah dari kejahatan orang yang hasad.
Dari hadits Muāadz bin āAbdillah bin Khubaib dari bapaknya, ia berkata, āKami pernah keluar pada malam yang hujan dan sangat gelap. Kami meminta RasulullahĀ shallallahu āalaihi wa sallamĀ agar mau mendoakan kebaikan untuk kami. Kami pun mendapati beliau. Beliau berkata, āUcapkanlahā. Aku tidak mengucapkan apa pun. Beliau berkata lagi, āUcapkanlahā. Aku pun tidak mengucapkan apa pun. Beliau berkata lagi, āUcapkanlahā. Aku lantas bertanya, āApa yang mesti aku ucapkan?ā Beliau menjawab,
ŁŁŁŁ (ŁŁŁŁ Ų§ŁŁŁŁŁŁ Ų£ŁŲŁŲÆŁ) ŁŁŲ§ŁŁŁ ŁŲ¹ŁŁŁŁŲ°ŁŲŖŁŁŁŁŁ ŲŁŁŁŁ ŲŖŁŁ ŁŲ³ŁŁ ŁŁŲŖŁŲµŁŲØŁŲŁ Ų«ŁŁŲ§ŁŲ«Ł Ł ŁŲ±ŁŁŲ§ŲŖŁ ŲŖŁŁŁŁŁŁŁŁ Ł ŁŁŁ ŁŁŁŁŁ Ų“ŁŁŁŲ”Ł
āBacalah: surah Al-Ikhlas, lalu surah al-muāawwidzatain (surah Al-Falaq dan An-Naas) ketika petang dan pagi sebanyak tiga kali, maka itu akan mencukupimu dari segala sesuatu.āā (HR. Tirmidzi, no. 3575. Al-Hafizh Abu Thahir mengatakan bahwa sanad hadits ini hasan).
Syaikh Musthafa Al-āAdawiĀ hafizhahullahĀ mengatakan, āBenteng yang paling kuat untuk melindungi diri dari kejahatan orang yang hasad adalah dengan berpegang pada Al-Qurāan dan ajaran Nabi Muhammad shallallahu āalaihi wa sallam, lalu meminta perlindungan kepada Allah Rabb semesta alam.ā (At-Tashiil li Taāwil At-Tanziil Juz āAmma fii Sual wa Jawab, hlm. 726)
Keempat: Jangan beritahu orang yang hasad tentang nikmatmu.
Coba ambil pelajaran dari apa yang dikatakan oleh Nabi Yaāqub pada putranya Nabi Yusuf āalaihimas salam,
ŁŁŲ§ŁŁ ŁŁŲ§ ŲØŁŁŁŁŁŁ ŁŁŲ§ ŲŖŁŁŁŲµŁŲµŁ Ų±ŁŲ¤ŁŁŁŲ§ŁŁ Ų¹ŁŁŁŁŁ° Ų„ŁŲ®ŁŁŁŲŖŁŁŁ ŁŁŁŁŁŁŁŲÆŁŁŲ§ ŁŁŁŁ ŁŁŁŁŲÆŁŲ§ Ū Ų„ŁŁŁŁ Ų§ŁŲ“ŁŁŁŁŲ·ŁŲ§ŁŁ ŁŁŁŁŲ„ŁŁŁŲ³ŁŲ§ŁŁ Ų¹ŁŲÆŁŁŁŁ Ł ŁŲØŁŁŁŁ
āAyahnya berkata: āHai anakku, janganlah kamu ceritakan mimpimu itu kepada saudara-saudaramu, maka mereka membuat makar (untuk membinasakan)mu. Sesungguhnya setan itu adalah musuh yang nyata bagi manusiaā.āĀ (QS. Yusuf: 5)
Dalam hadits NabiĀ shallallahu āalaihi wa sallamĀ menceritakan tentang mimpi baik dan mimpi buruk,
Ā« Ų§ŁŲ±ŁŁŲ¤ŁŁŁŲ§ Ų§ŁŁŲŁŲ³ŁŁŁŲ©Ł Ł ŁŁŁ Ų§ŁŁŁŁŁŁ Ų ŁŁŲ„ŁŲ°ŁŲ§ Ų±ŁŲ£ŁŁ Ų£ŁŲŁŲÆŁŁŁŁ Ł Ł ŁŲ§ ŁŁŲŁŲØŁŁ ŁŁŁŲ§Ł ŁŁŲŁŲÆŁŁŲ«Ł ŲØŁŁŁ Ų„ŁŁŲ§ŁŁ Ł ŁŁŁ ŁŁŲŁŲØŁŁ Ų ŁŁŲ„ŁŲ°ŁŲ§ Ų±ŁŲ£ŁŁ Ł ŁŲ§ ŁŁŁŁŲ±ŁŁŁ ŁŁŁŁŁŁŲŖŁŲ¹ŁŁŁŁŲ°Ł ŲØŁŲ§ŁŁŁŁŁŁ Ł ŁŁŁ Ų“ŁŲ±ŁŁŁŁŲ§ Ų ŁŁŁ ŁŁŁ Ų“ŁŲ±ŁŁ Ų§ŁŲ“ŁŁŁŁŲ·ŁŲ§ŁŁ ŁŁŁŁŁŁŲŖŁŁŁŁŁ Ų«ŁŁŲ§ŁŲ«ŁŲ§ ŁŁŁŲ§Ł ŁŁŲŁŲÆŁŁŲ«Ł ŲØŁŁŁŲ§ Ų£ŁŲŁŲÆŁŲ§ ŁŁŲ„ŁŁŁŁŁŁŲ§ ŁŁŁŁ ŲŖŁŲ¶ŁŲ±ŁŁŁŁ Ā»
āMimpi yang baik itu dari Allah. Jika salah seorang di antara kalian bermimpi sesuatu yang disenangi, janganlah menceritakannya selain pada orang yang menyukai saja. Namun, jika bermimpi yang tidak disukai, mintalah perlindungan kepada Allah dari keburukan mimpi tersebut dan juga dari kejahatan setan. Kemudian, meludahlah sebanyak tiga kali dan jangan menceritakan hal tadi kepada seorang pun. Karena mimpi tersebut tidak akan memudaratkan orang yang bermimpi tadi.ā (HR. Bukhari, no. 7044 dan Muslim, no. 2261, dari Abu QatadahĀ radhiyallahu āanhu)
Kelima: Jangan ambil peduli dengan orang yang hasad, sibukkan diri dan tidak banyak memikirkan dia.
Ibnul QayyimĀ rahimahullahĀ secara ringkas mengatakan bahwa jika ada yang hasad pada kita, tidak usah dipedulikan, tidak perlu takut, dan hati kita tidak usah memikirkan dia. LihatĀ At-Tashiil li Taāwil At-Tanziil Juz āAmma fii Sual wa Jawab. Syaikh Musthafa Al-āAdawi, hlm. 727-728.
Keenam: Menghadap dan ikhlas kepada Allah, dengan menyibukkan hati untuk mencintai, rida, dan bertaubat kepada-Nya.
AllahĀ TaāalaĀ berfirman,
Ų„ŁŁŁŁŁŁ ŁŁŁŁŲ³Ł ŁŁŁŁ Ų³ŁŁŁŲ·ŁŲ§ŁŁ Ų¹ŁŁŁŁ Ų§ŁŁŁŲ°ŁŁŁŁ Ų¢Ł ŁŁŁŁŲ§ ŁŁŲ¹ŁŁŁŁŁ° Ų±ŁŲØŁŁŁŁŁ Ł ŁŁŲŖŁŁŁŁŁŁŁŁŁŁŁ , Ų„ŁŁŁŁŁ ŁŲ§ Ų³ŁŁŁŲ·ŁŲ§ŁŁŁŁ Ų¹ŁŁŁŁ Ų§ŁŁŁŲ°ŁŁŁŁ ŁŁŲŖŁŁŁŁŁŁŁŁŁŁŁŁ ŁŁŲ§ŁŁŁŲ°ŁŁŁŁ ŁŁŁ Ł ŲØŁŁŁ Ł ŁŲ“ŁŲ±ŁŁŁŁŁŁ
āSesungguhnya setan itu tidak ada kekuasaannya atas orang-orang yang beriman dan bertawakkal kepada Rabbnya. Sesungguhnya kekuasaannya (setan) hanyalah atas orang-orang yang mengambilnya jadi pemimpin dan atas orang-orang yang mempersekutukannya dengan Allah.ā (QS. An-Nahl: 99-100)
Ketujuh: Tabah (sabar) dalam menghadapi orang yang hasad.
AllahĀ TaāalaĀ berfirman,
Ū Ų°ŁŁ°ŁŁŁŁ ŁŁŁ ŁŁŁ Ų¹ŁŲ§ŁŁŲØŁ ŲØŁŁ ŁŲ«ŁŁŁ Ł ŁŲ§ Ų¹ŁŁŁŁŲØŁ ŲØŁŁŁ Ų«ŁŁ ŁŁ ŲØŁŲŗŁŁŁ Ų¹ŁŁŁŁŁŁŁ ŁŁŁŁŁŁŲµŁŲ±ŁŁŁŁŁŁ Ų§ŁŁŁŁŁŁ Ū Ų„ŁŁŁŁ Ų§ŁŁŁŁŁŁ ŁŁŲ¹ŁŁŁŁŁŁ ŲŗŁŁŁŁŲ±Ł
āDemikianlah, dan barangsiapa membalas seimbang dengan penganiayaan yang pernah ia derita kemudian ia dianiaya (lagi), pasti Allah akan menolongnya. Sesungguhnya Allah benar-benar Maha Pemaaf lagi Maha Pengampun.ā (QS. Al-Hajj: 60). Jika Allah benar-benar memberikan jaminan, padahal ia telah membalas sesuai dengan haknya. Bagaimana lagi jika seseorang yang tidak membalas sama sekali, berarti ia bersabar, ia terus dizalimi dan ia mau bersabar. Bukankah kita tahu sendiri bahwa hukuman bagi orang yang bertindak zalim dan memutus silaturahim itu lebih cepat mendapatkan hukuman. Ingatlah bahwa sudah jadiĀ sunnatullah:
ŁŁŁŁ ŲØŁŲŗŁŁ Ų¬ŁŲØŁŁŁ Ų¹ŁŁŁŁ Ų¬ŁŲØŁŁŁ Ų¬ŁŲ¹ŁŁ ŁŲ§ŁŲØŁŲ§ŲŗŁŁ Ł ŁŁŁŁŁŁ ŁŲ§ ŲÆŁŁŁŁŲ§
Jika satu gunung menzalimi gunung yang lain, salah satu yang zalim nantinya akan rata dengan tanah. Ini yang disebutkan oleh Ibnul Qayyim dalamĀ Badaiā Al-Fawaid.
Kedelapan: Berbuat baik pada orang yang hasad.
AllahĀ TaāalaĀ berfirman,
ŁŁŁŁŲ§ ŲŖŁŲ³ŁŲŖŁŁŁŁ Ų§ŁŁŲŁŲ³ŁŁŁŲ©Ł ŁŁŁŁŲ§ Ų§ŁŲ³ŁŁŁŁŁŲ¦ŁŲ©Ł Ū Ų§ŲÆŁŁŁŲ¹Ł ŲØŁŲ§ŁŁŁŲŖŁŁ ŁŁŁŁ Ų£ŁŲŁŲ³ŁŁŁ ŁŁŲ„ŁŲ°ŁŲ§ Ų§ŁŁŁŲ°ŁŁ ŲØŁŁŁŁŁŁŁ ŁŁŲØŁŁŁŁŁŁŁ Ų¹ŁŲÆŁŲ§ŁŁŲ©Ł ŁŁŲ£ŁŁŁŁŁŁ ŁŁŁŁŁŁŁ ŲŁŁ ŁŁŁ Ł, ŁŁŁ ŁŲ§ ŁŁŁŁŁŁŁŲ§ŁŁŲ§ Ų„ŁŁŁŁŲ§ Ų§ŁŁŁŲ°ŁŁŁŁ ŲµŁŲØŁŲ±ŁŁŲ§ ŁŁŁ ŁŲ§ ŁŁŁŁŁŁŁŲ§ŁŁŲ§ Ų„ŁŁŁŁŲ§ Ų°ŁŁ ŲŁŲøŁŁ Ų¹ŁŲøŁŁŁ Ł , ŁŁŲ„ŁŁ ŁŁŲ§ ŁŁŁŁŲ²ŁŲŗŁŁŁŁŁŁ Ł ŁŁŁ Ų§ŁŲ“ŁŁŁŁŲ·ŁŲ§ŁŁ ŁŁŲ²ŁŲŗŁ ŁŁŲ§Ų³ŁŲŖŁŲ¹ŁŲ°Ł ŲØŁŲ§ŁŁŁŁŁŁ Ū Ų„ŁŁŁŁŁŁ ŁŁŁŁ Ų§ŁŲ³ŁŁŁ ŁŁŲ¹Ł Ų§ŁŁŲ¹ŁŁŁŁŁ Ł
āDan tidaklah sama kebaikan dan kejahatan. Tolaklah (kejahatan itu) dengan cara yang lebih baik, maka tiba-tiba orang yang antaramu dan antara dia ada permusuhan seolah-olah telah menjadi teman yang sangat setia. Sifat-sifat yang baik itu tidak dianugerahkan melainkan kepada orang-orang yang sabar dan tidak dianugerahkan melainkan kepada orang-orang yang mempunyai keuntungan yang besar. Dan jika syetan mengganggumu dengan suatu gangguan, maka mohonlah perlindungan kepada Allah. Sesungguhnya Dialah yang Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui.āĀ (QS. Fussilat: 34-36).
Juga dalam ayat,
Ų£ŁŁŁŁŁ°Ų¦ŁŁŁ ŁŁŲ¤ŁŲŖŁŁŁŁŁ Ų£ŁŲ¬ŁŲ±ŁŁŁŁ Ł Ł ŁŲ±ŁŁŲŖŁŁŁŁŁ ŲØŁŁ ŁŲ§ ŲµŁŲØŁŲ±ŁŁŲ§ ŁŁŁŁŲÆŁŲ±ŁŲ”ŁŁŁŁ ŲØŁŲ§ŁŁŲŁŲ³ŁŁŁŲ©Ł Ų§ŁŲ³ŁŁŁŁŁŲ¦ŁŲ©Ł ŁŁŁ ŁŁ ŁŁŲ§ Ų±ŁŲ²ŁŁŁŁŁŲ§ŁŁŁ Ł ŁŁŁŁŁŁŁŁŁŁŁ
āMereka itu diberi pahala dua kali disebabkan kesabaran mereka, dan mereka menolak kejahatan dengan kebaikan, dan sebagian dari apa yang telah Kami rezekikan kepada mereka, mereka nafkahkan.ā (QS. Al-Qasas: 54)
Lihat pula bagaimana sikap para nabi ketika mereka disakiti dan dizalimi oleh kaumnya. NabiĀ shallallahu āalaihi wa sallamĀ sendiri saat perang Uhud malah berdoa,
Ų§ŁŁŁŁŁŁŁ ŁŁ Ų§ŲŗŁŁŁŲ±Ł ŁŁŁŁŁŁŁ ŁŁ ŁŁŲ„ŁŁŁŁŁŁŁ Ł ŁŲ§Ł ŁŁŲ¹ŁŁŁŁ ŁŁŁŁ
āYa Allah ampunilah kaumku karena mereka sejatinya tidak mengetahui.ā (HR. Bukhari, no. 3477 dan Muslim, no. 1792). Doa ini mengandung pelajaran bagaimanakah keburukan dibalas dengan kebaikan dalam empat bentuk:
Ų£ŁŲŁŲÆŁŁŁŲ§ Ų¹ŁŁŁŁŁŁŁ Ų¹ŁŁŁŁŁŁ Ł ŁŁŲ§ŁŲ«ŁŁŲ§ŁŁŁ Ų§ŁŲ³ŁŲŖŁŲŗŁŁŁŲ§Ų±ŁŁŁ ŁŁŁŁŁ Ł Ų§ŁŲ«ŁŁŲ§ŁŁŲ«Ł Ų§ŁŲ¹ŁŲŖŁŲ°ŁŲ§Ų±ŁŁŁ Ų¹ŁŁŁŁŁŁ Ł ŲØŁŲ£ŁŁŁŁŁŁŁ Ł ŁŲ§Ł ŁŁŲ¹ŁŁŁŁ ŁŁŁŁŁ Ų§ŁŲ±ŁŁŲ§ŲØŁŲ¹Ł Ų§ŁŲ³ŁŲŖŁŲ¹ŁŲ·ŁŲ§ŁŁŁŁ ŁŁŁŁŁ Ł ŲØŁŲ„ŁŲ¶ŁŲ§ŁŁŲŖŁŁŁŁ Ł Ų„ŁŁŁŁŁŁŁ
- Memaafkan.
- Memintakan ampun untuk yang berbuat zalim.
- Memberikan uzur pada mereka karena mereka tidak tahu.
- Para nabi itu begitu sayang dan simpati pada kaumnya sendiri karena mereka tetap menyatakan itu kaumnya.
Empat hal di atas disampaikan oleh Ibnul Qayyim dalamĀ Badaiā Al-Fawaid.
Kesembilan: Segera bertaubat atas dosa.
Kesepuluh: Orang yang hasad itu mandi dan airnya disiramkan pada orang yang kena hasad.
Dari Ibnu āAbbasĀ radhiyallahu āanhuma, RasulullahĀ shallallahu āalaihi wa sallambersabda,
Ų§ŁŁŲ¹ŁŁŁŁŁ ŲŁŁŁŁ ŁŁŁŁŁŁ ŁŁŲ§ŁŁ Ų“ŁŁŁŲ”Ł Ų³ŁŲ§ŲØŁŁŁ Ų§ŁŁŁŁŲÆŁŲ±Ł Ų³ŁŲØŁŁŁŲŖŁŁŁ Ų§ŁŁŲ¹ŁŁŁŁŁ ŁŁŲ„ŁŲ°ŁŲ§ Ų§Ų³ŁŲŖŁŲŗŁŲ³ŁŁŁŲŖŁŁ Ł ŁŁŲ§ŲŗŁŲ³ŁŁŁŁŲ§
āāAin itu benar adanya. Segala sesuatu terjadi dengan takdir, termasuk pula āain terjadi dengan takdir. Apabila kalian diminta untuk mandi (karena memberi dampak āain), maka mandilah.ā (HR. Muslim, no. 2188. Lihat Syarh Shahih Muslim tentang hadits ini).
Kesebelas: Lakukan ruqyah syariyyah.
Kedua belas: Memiliki iman dan tauhid yang kuat.
Cara menghadapi hasad ini diringkas dari kitab karya Syaikh Musthafa Al-āAdawi yaituĀ At-Tashiil li Taāwil At-Tanziil Juz āAmma fii Sual wa Jawab, hlm. 723-740.
SEBAB TERJADINYA HASAD
- Permusuhan dan kebencian.
- Cinta dunia terutama terkait dengan kekuasaan dan kepemimpinan.
- Pelit membagi kebaikan pada orang lain.
- Lemahnya iman.
- Kesombongan.
- Tidak ingin dikalahkan yang lain.
- Takut disaingi.
- Takut diejek orang lain.
Sebab-sebab di atas disebutkan oleh Syaikh Musthafa Al-āAdawi di kitabĀ At-Tashiil li Taāwil At-Tanziil Juz āAmma fii Sual wa Jawab, hlm. 752-753.
Semoga bahasan hasad ini bermanfaat. Semoga Allah menjauhkan kita dari sifat hasad.Ā (*/sumber : Rumaysho.comĀ )
