Jadwal imsakiyah Wilayah Palembang

-- --- 2026

Imsak: --:--| Shubu: --:-- | Maghrib: --:--

MOZAIK ISLAM

Sesungguhnya Orang-orang Mukmin itu Bersaudara

AsSAJIDIN.COM — Umat islam itu bersaudara walaupun keberadaan mereka saling berjauhan, terpencar diseluruh penjuru dunia, beda negeri, suku dan bangsanya. Namun dengan pondasi tersebut mampu menyatukannya dengan menguatkan ukhuwah islamiyah, Allah Swt menegaskan melalui firman-Nya :

إِنَّمَا الْمُؤْمِنُوْنَ إِخْوَةٌ فَأَصْلِحُوْا بَيْنَ أَخَوَيْكُمْ وَاتَّقُوا اللهَ لَعَلَّكُمْ تُرْحَمُوْنَ (الحجرات: 10)

Sesungguhnya orang-orang mukmin adalah bersaudara. Karena itu, damaikanlah antara kedua saudaramu dan bertakwalah kepada Allah supaya kamu mendapat rahmat (QS. Al-Hujurat: 10).

Dipertegas oleh Nabi Muhammad SAW dalam sabdanya. Beliau bersabda : “Ketahuilah tidak ada kelebihan bagi orang Arab atas non Arab, tidak pula sebaliknya. Tidak juga bagi orang yang berwarna kulit merah dengan yang berwarna hitam, atau sebaliknya melainkan (keutamaan itu didapat) dengan ketakwaannya”. (HR Ahmad)

Hak dan kewajiban ukhuwah islamiyah, yaitu: Pertama: Hendaknya seorang muslim menolong serta membantu saudaranya sesama muslim. Seperti yang diperintahkan oleh Allah Swt dalam firman-Nya : “Dan tolong-menolonglah kamu dalam (mengerjakan) kebajikan dan takwa, dan jangan tolong-menolong dalam berbuat dosa dan pelanggaran”. (QS. Al-Maa’idah: 2).

Muslim dengan muslim lain adalah ibarat kekasih yang harus saling menyayangi, sebagaimana digambarkan oleh Allah Swt dalam firman-Nya : “Dan orang-orang yang beriman, lelaki dan perempuan, sebagian mereka (adalah) menjadi penolong bagi sebagian yang lain. mereka menyuruh (mengerjakan) yang ma’ruf, mencegah dari yang munkar, mendirikan shalat, menunaikan zakat dan mereka taat pada Allah dan Rasul -Nya. mereka itu akan diberi rahmat oleh Allah; Sesungguhnya Allah Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana”. (QS. At-Taubah : 71).

Perintah Allah Swt dalam ayat lain : “(Akan tetapi) jika mereka meminta pertolongan kepadamu dalam (urusan pembelaan) agama, Maka kamu wajib memberikan pertolongan”. (QS Al-Anfaal : 72).

Diriwayatkan oleh Imam Bukhari dari Anas bin Malik RA, beliau berkata: ‘Rasululloh SAW bersabda: “Tolonglah saudaramu yang berbuat dhalim dan yang didhalimi”. (HR. Bukhari)

Kedua, Seorang muslim tidak mendhalimi saudaranya. Karena Nabi Muhammad SAW telah melarang hal tersebut, sebagaimana yang dijelaskan dalam haditsnya Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, Nabi Muhammad SAW pernah bersabda: “Ketahuilah sesungguhnya Allah telah mengharamkan atas kalian, darah dan harta sesama kalian, seperti haramnya hari kalian ini, di negeri kalian, dan pada bulan kalian ini”. (HR.Bukhari dan Muslim)

Dalam shahih Muslim dijelaskan, bahwa Nabi Muhammad SAW bersabda :

“Satu muslim dengan muslim lainnya tidak boleh saling mendhalimi, membiarkan tidak menolongnya, tidak boleh menghinanya, yang namanya takwa letaknya disini –Beliau mengisyaratkan kearah dada sebanyak tiga kali- cukup bagi seseorang dikatakan melakukan kejelekan bila sampai menghina saudaranya muslim, tiap muslim dengan muslim lainnya haram baginya, darah, harta dan kehormatannya”. (HR. Muslim)

Ketiga: Keharusan dari bingkai Ukhuwah Islamiyah ialah saling menyayangi satu sama lain serta mencintai satu dengan lainnya. Dan Nabi Muhammad SAW telah mengilustrasikan hal tersebut dalam permisalan yang sangat sempurna untuk menjelaskan pada kita seperti apa gambaran Ukhuwah Islamiyah itu, dimana sebelumnya tidak ada hubungan apa-apa diantara mereka.

Seperti dalam shahih Bukhari dan Muslim dimana disebutkan perumpamaan tersebut dari haditsnya Nu’man bin Basyir radhiyallahu ‘anhu, beliau berkata: ‘Rasulallah SAW bersabda :

“Perumpamaan orang mukmin dalam mencintai, menyayangi dan saling menaruh simpati diantara mereka seperti satu jasad, jika ada anggota tubuh yang merasa sakit maka akan menjadikan seluruh tubuhnya ikut terjaga dan merasa sakit”. (HR Bukhari Muslim)

Dalam perumpamaan lain Rasulallah memisalkan seperti satu bangunan, seperti yang disebutkan oleh Imam Muslim dari haditsnya Abu Musa al-Asy’ari radhiyallahu ‘anhu, bahwa Nabi Muhammad SAW bersabda: “Satu mukmin dengan mukmin lainnya ibarat satu bangunan yang saling menguatkan satu sama lainnya”. (HR Bukhari dan Muslim)

Lihat Juga :  Mari Bermain Bersama Anak

Keempat: Memberi nasehat. Hendaknya seorang muslim saling memberi nasehat satu sama lain, baik dari segi permasalahan agama maupun perkara dunianya. Termasuk salah satu potret nasehat yang dibutuhkan ialah mengajari mereka yang belum tahu serta mengarahkan pada kebaikan, menyuruh pada perbuatan ma’ruf dan mencegah dari perbuatan mungkar. Dan perkara terbesar dalam hal ini ialah mengajak mereka mengetahui tauhid serta melarang perbuatan syirik. Disebutkan oleh Imam Bukhari dan Muslim dalam shahihnya sebuah hadits dari Jarir RA, beliau menceritakan: “Aku membai’at Rasulallah SAW untuk mengerjakan sholat, mengeluarkan zakat dan memberi nasehat bagi tiap muslim”. (HR Bukhari dan Muslim)

Nasehat ini sendiri bentuknya adalah saling menyuruh pada kebenaran sebagaimana secara jelas disebutkan dalam surat al-Ashr, dimana Allah SWT berfirman: “Demi masa. Sesungguhnya manusi benar-benar dalam kerugian. Kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal shaleh dan saling nasehat menasehati supaya mentaati kebenaran dan nasehat menasehati supaya menetapi kesabaran”. (QS. Al-‘Ashr : 1-3).

Kelima: Membalas ucapan salamnya, memenuhi undangannya, mendo’akan bila dirinya bersin, menjenguk jika dirinya sakit, dan mengiringi jenazahnya. Dalam sebuah hadits disebutkan bahwa Nabi Muhammad SAW bersabda: “Hak muslim atas muslim lainnya ada enam perkara”. Ada yang bertanya: ‘Apa saja enam perkara itu, wahai Rasulallah SAW? Beliau melanjutkan: “Jika engkau bertemu memberi salam padanya, apabila engkau diundang memenuhinya, jika engkau diminta nasehati maka berilah nasehat, bila bersin dan mengucapkan alhamdulillah maka do’akanlah, jika sakit engkau menjenguknya, dan bila dirinya meninggal engkau mengiringi jenazahnya”. (HR. Muslim)

Keenam: Seorang muslim mencintai saudaranya muslim seperti ia mencintai untuk dirinya sendiri. seperti perintah yang dianjurkan oleh Nabi Muhammad SAW didalam sabdanya yang diriwayatkan oleh Bukhari dan Muslim dari sahabat Anas bin Malik RA, beliau menceritakan bahwa Nabi Muhammad SAW bersabda:

لاَ يُؤْمِنُ أَحَدُكُمْ حَتَّى يُحِبَّ لِأَخِيهِ مَا يُحِبُّ لِنَفْسِهِ (رواه البخاري ومسلم والترمذي والنسائي والدارمي )

Tidaklah sempurna keimanan seorang kamu sehingga ia mencintai bagi saudaranya apa-apa yang dia cintai bagi dirinya sendiri (HR Bukhari, Muslim, Tirmidzi, Nasa’i, dan Ad-Darimi)

Ada begitu banyak ayat dan hadits yang menganjurkan pada perkara yang bisa menyebabkan hubungan sesama muslim bertambah erat, saling menyayangi, tidak saling membenci, serta bermusuhan. Salah satu diantaranya ialah hadits yang diriwayatkan oleh Imam Muslim dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, bahwa Nabi Muhammad SAW bersabda:

“Kalian tidak akan masuk surga sampai kalian beriman, tidaklah kalian beriman hingga kalian saling mencintai. Maukah kalian aku beritahu satu perkara jika kalian lakukan bisa menjadikan saling mencintai? Tebarkan salam di tengah-tengah kalian”. (HR. Muslim)

Diantara sarana agar bisa saling mencintai ialah mengabarkan pada saudaranya kalau dirinya senang dengannya, seperti hadits yang diriwayatkan oleh Tirmidzi dari Miqdam bin Ma’di Karbi radhiyallahu ‘anhu, beliau berkata : Rasulallah SAW bersabda:

“Apabila salah seorang diantara kalian mencintai saudaranya maka beritahu padanya kalau mencintainya”. HR at-Tirmdizi no: 2392. Beliau berkata hadits hasan shahih gharib.

Bisa dengan cara mendo’akan kebaikan padanya dikala sendirian. Sebagaimana anjuran yang diberikan oleh suri tauladan kita dalam haditsnya Shafwan bin Abdillah radhiyallahu ‘anhu, beliau berkata: ‘Rasulallah SAW bersabda : “Do’a seorang muslim untuk saudaranya dikala sendirian mungkin sekali untuk di ijabahi, karena disisi kepalanya ada malaikat yang ditugasi, tiap kali dia berdo’a kepada saudaranya dengan kebaikkan maka malaikat tadi mengatakan semoga Allah mengabulkan dan bagimu semisal yang engaku do’akan”. (HR. Muslim)

Dan mendo’akan saudaranya sesama muslim adalah kebiasaan dan tradisi orang-orang shaleh terdahulu, sebagaimana telah di sitir dalam salah satu ayat yang bunyinya:

Lihat Juga :  Mau Tahu Berapakah Jumlah Masjid di Jerman?

“Dan orang-orang yang datang sesudah mereka (Muhajirin dan Anshor), mereka berdoa: “Ya Rabb Kami, berilah kami ampun dan saudara-saudara kami yang telah beriman lebih dulu dari kami, dan janganlah Engkau membiarkan kedengkian dalam hati kami terhadap orang-orang yang beriman; Ya Rabb Kami, Sesungguhnya Engkau Maha Penyantun lagi Maha Penyayang.” (QS. al-Hasyr : 10).

Kita saksikan saudara kita yang berada di Palestina, Afghanistan, Iraq, Cechnya, Kasymir, serta yang lainnya dari negeri-negeri kaum muslimin, mereka dalam penindasan, dibunuh, ditawan, ditindas dan teraniaya oleh orang kafir, maka mari kita do’akan, memohon kepada Allah Swt agar mengangkat bala’ yang sedang mereka hadapi, dan mengembalikan tipu daya musuh-musuh Islam berbalik kearahnya.

Diriwayatkan oleh Imam Bukhari dan Muslim dari Ibnu Umar radhiyallahu ‘anhuma, bahwa Nabi Muhammad SAW bersabda : “Barangsiapa yang memenuhi hajat saudaranya, maka Allah akan memenuhi hajatnya. Dan barangsiapa melapangkan kesusahan saudaranya muslim, maka Allah akan melapangkan baginya kesusahan dari kesusahan yang ada pada hari kiamat. Siapa yang menutupi aib seorang muslim, maka Allah akan menutupi aibnya kelak pada hari kiamat”. (HR. Bukhari Muslim)

Imam Ibnu Qoyim mengatakan: “Bentuk menolong bagi saudara seiman itu sangat banyak sekali jenisnya, bisa dengan harta, kedudukan, dengan anggota badan dan membantu, memberi nasehat dan bimbingan, dengan do’a, memintakan ampun untuknya, menaruh kasihan padanya. Dan itu semua tentunya sesuai dengan kadar keimanannya, karena semakin kuat imannya maka semakin kuat bentuk pertolongannnya, begitu pula sebaliknya semakin rendah imannya semakin lemah pula bentuk pertolongannya.

Dan Rasulallah SAW adalah orang yang paling gemar menolong sahabatnya, dan beliau melakukan semua bentuk yang kita sebutkan diatas. Demikian pula pengikutnya dalam masalah memberi pertolongan juga sesuai dengan kadar tinggi rendah didalam sikap meneladani beliau”.

Agama yang lurus serta sangat toleransi ialah ajaran yang dibawa oleh Ibrahim ‘alaihi sallam dan Nabi Muhammad SAW yang dibangun diatas dua pondasi: Pertama, Ikhlas karena Allah ta’ala, Kedua, Loyalitas dan berlepas diri

Maka seorang muslim adalah saudaranya sesama muslim walaupun berada diujung dunia, sedangkan tiap orang kafir adalah musuh walaupun sekiranya ia ayah dan ibunya. Allah Swt yang menegaskan hal tersebut dalam firman-Nya : “Hai orang-orang yang beriman, barangsiapa di antara kamu yang murtad dari agamanya, Maka kelak Allah akan mendatangkan suatu kaum yang Allah mencintai mereka dan merekapun mencintaiNya, yang bersikap lemah lembut terhadap orang yang mukmin, yang bersikap keras terhadap orang-orang kafir”. (QS. al-Maa’idah: 54).

Dan Allah Swt mensifati Nabi -Nya serta para sahabatnya dengan mengatakan:

“Muhammad itu adalah utusan Allah dan orang-orang yang bersama dengan dia adalah keras terhadap orang-orang kafir, tetapi berkasih sayang sesama mereka”. (QS. al-Fath : 29).

Dan sangat disayangkan ternyata masih ada sebagian orang yang menisbahkan dirinya kepada Islam namun ternyata menyelisihi metode beragama semacam ini, justru mereka menjauhkan saudaranya muslim dan mendekatkan orang kafir sedekat-dekatnya, seperti yang terjadi pada sebagian perusahan dan perkantoran dimana mereka menjadikan jabatan tertinggi untuk orang kafir walaupun ada muslim yang lebih baik, dalam pekerjaan dan pembawaannya, bahkan yang lebih parah lagi mereka menjadikan orang kafir sebagai pimpinan bagi seorang muslim, ini adalah musibah.

Dimana Allah Swt telah menjelaskan bahwa perbuatan semacam ini salah satu penyebab tersebarnya kerusakan dimuka bumi, Allah Swt berfirman : “Adapun orang-orang yang kafir, sebagian mereka menjadi pelindung bagi sebagian yang lain. jika kamu (hai Para muslimin) tidak melaksanakan apa yang telah diperintahkan Allah itu, niscaya akan terjadi kekacauan di muka bumi dan kerusakan yang besar”. (QS. Al-Anfaal : 73). (*/kemenag.go.id)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top button