Emak Membawa Keimanan Sifat 20, Meninggalkan Cawisan

Oleh: H. Humaidi ( Wartawan Assajidin.com)
Assajidin.com – Hajah Halimah lahir di Palembang tahun 1935 dari ayah bernama Haji Achmad bin Anang Sapidin dan ibu bernama Seha binti Adnin. Belum lagi melewati usia tujuhbelas tahun, tepatnya baru tigabelas tahunan Halimah atau anak2nya biasa memanggilnya ‘Emak’ telah berjodoh. Ayahnya yg pedagang menjodohkannya dg lelaki bernama Hamidin bin Hasyim. Yaitu anak dari sahabat ayahnya bernama Hasyim bin Husin yg juga pedagang.
Resepsi perkawinan keduanya antara Halimah dan Hamidin berlangsung secara syariat Islam dengan pakaian adat Palembang pada masa2 awal kemerdekaan RI. Keduanya memulai mengarungi hidup berkeluarga dalam rangka menyempurnakan ibadahnya. Berharap mendapatkan rahmat Allah Maha Penyayang. Selamat hidup di dunia dan di akhirat.
Hamidin sebagai suami berdagang dan berjualan di pasar dg membuka sebuah kios kelontong di Pasar 16 Ilir. Biasa memasok kebutuhan pokok masyarakat Palembang di antaranya gula merah. Halimah sebagai istri bertanggung jawab menjaga dan memelihara rumah tangga agar tetap menjadi ‘Baiti Jannati’ bagi suaminya.
Dari rumah pemberian orangtuanya bersebelahan dg rumah orangtuanya lahirlah anak pertama ketika Emak masih berusia 16 tahun. Berupa anak lelaki diberi nama oleh Haji Achmad bin Anang Sapidin atau kakeknya atau Yainya dg nama nabi yaitu Mohammad (M) Yunus. Bertambahlah kesibukan Emak yg tadinya hanya mengurus rumah tangga suaminya kini juga menghidupi, mengasihi dan mengasuh anak.
Untuk pertama kalinya Emak menjadi seorang ibu. Punya bayi lelaki yg harus diasuhnya, diasahnya dan diasihnya. ‘Mek’ begitu Emak memanggil ibunya yaitu Seha binti Adnin membantunya sekaligus mengajarkan anaknya bagaimana membesarkan anak serupa Mek membesarkan Emak dan dua saudara kandungnya.
Emak merasakan kehadiran Mek telah mengurangi bebannya dalam memelihara bayi yg baru dilahirkannya. Perlahan-lahan Emak mulai meninggalkan keindahan masa2 gadis remajanya. Melakoni hidup di dunia sebagai seorang istri dan seorang ibu.
Kelahiran anak pertama diikuti dg kelahiran anak2nya lainnya. Berturut-turut mereka lahir dari rahim secara normal. Yaitu M Dhani, M Ansyori, dan M Idris. Membuat suasana rumah lebih ramai dari hari2 sebelumnya dg perilaku anak2nya sepanjang hari. Terkadang Emak butuh bantuan sebatang sapu buat mendisiplinkan anak2nya yg mainnya kebablasan dan pulangnya kemalaman. Termasuk juga jimbitan atau cubitan tangan.
Empat anak Emak yg dilahirkannya itu semuanya lelaki. Tapi anak kelima dan keenam yg kelahirannya kembar atau secara berbarengan waktunya -hanya berbeda dalam selisih hitungan menit saat2 keluarnya- adalah berjenis kelamin perempuan dan juga lelaki. Yg perempuan dinamakan Farida. Yg lelaki dinamakan M Harun.
Emak dan kedua orangtuanya menjadi sangat gembira dg kelahiran anak perempuan pertama karena melengkapi kelahiran anak2 lelaki sebelumnya. Terlebih lagi suaminya juga mendambakan adanya anak perempuan. Hal ini serupa dirinya yg saudara2 kandungnya kebanyakan perempuan.
Kegembiraan Halimah dan Hamidin semakin menjadi-jadi karena kelahiran anak perempuan untuk pertama kalinya itu diikuti dg kelahiran anak2 perempuan berikutnya. Berturut-turut lahir anak perempuan bernama Fauziana, Erlin dan yg terakhir atau anak bungsu Yulie Nila Yanti.
Kesibukan Emak mengurus sembilan anak terdiri dari lima anak lelaki dan empat anak perempuan dalam rumahnya dihadapinya dg tabah dan sabar. Berusaha menjaga dan memelihara anak2nya dg segala tingkah polahnya agar menjadi anak2 yg baik.
Ketabahan dan kesabaran Emak mendapat ujian tidak disangka-sangka. Pasangan hidupnya, Hamidin, meninggal dunia dalam usia empatpuluhan setelah hidup bersama selama belasan tahun dg meninggalkan sembilan anaknya.
Sejak itub Emak tidak lagi hanya sibuk mengurus rumah tangga dan mengasuh anak2nya tapi juga mencari nafkah. Selama ini masalah nafkah buat keluarga menjadi tanggung jawab suaminya sepenuhnya. Untungnya anak2 lelakinya sudah diajar Abanya mengelola kios dan berjualan kelontong. Sejak anak2 dan remaja sudah Ikut membantu mencari nafkah dg berdagang.
Emak mulai mencari nafkah dg keterampilan membuat kue2 jajanan seperti apem dan bluder lalu menjualnja. Keterampilan yg didapat semasa gadis remaja di rumah orangtuanya. Termasuk keterampilan masak memasak. Biasanya pada bulan puasa dan lebaran suaminya, anak2nya dan sanak2nya bisa merasakan kelezatan kue2 dan ayam opor buatan Emak. Masakan pavorit keluarga Hamidin.
Tiap hari Emak bangun tengah malam hingga subuh untuk membuat kue2 dari mulai adonannya hingga siap saji tanpa melupakan ibadah shalat wajibnya. Lalu kue2 buatannya dijual ke pasar dan anak2 sekolah dg perantaraan jasa penjual keliling. Keduanya berbagi keuntungan.
Seorang kawan Emak membuka peluang bisnis bagi Emak untuk berjualan kain dan barang2 kebutuhan lainnya. Pembayarannya dilakukan secara kredit atau mencicil beberapa kali sesuai kemampuan pembeli. Emak yg bertanggung jawab mencari, memilih dan membeli kainnya atau jualannya berikut modalnya. Kawannya yg menjajakannya ke pembeli yg membutuhkannya. Dari keuntungan yg didapat nantinya dibagi dua sebagian buat Emak sebagian buat penjaja keliling.
“Emak boleh makan dan boleh untung,” katanya kepada anak2nya dan mantu2nya setiap kali bercerita masa lalunya. Mengabarkan kalau jualannya laris manis dan dapat keuntungan. Boleh makan karena jualannya bisa memberi makan dirinya dan anak2nya. Boleh untung karena jualannya bisa berlanjut dan modalnya bertambah.
Sepeninggal suaminya itu pula anak2nya yg lelaki semakin sungguh2 berusaha meneruskan kios Abahnya. Pun mengembangkan jualan blau dan bumbu yg sudah berjalan selagi Abahnya masih hidup. Bisa memodali dan merintis jualan lagu2 melalui radio. Mereka juga tidak lagi hanya menunggu pembeli datang ke Pasar 16 Ilir tapi mencoba memasarkan ke pasar2 lainnya di sekitar Palembang. Termasuk memasok jualan ke dusun2 lewat sungai Musi.
Berkat rahmat Allah, doa Emak dan usaha sungguh2 anak2nya membuat jualan kios keluarga Hamidin mengalami kemajuan. Berhasil melibatkan semua anak2 Emak baik laki2 maupun perempuan dalam satu kerja sama usaha. Setiap orang terpanggil untuk menolong sesama saudaranya yg membutuhkan pertolongan.
Di tengah kegembiraan Emak dg anak2nya yg sebagiannya sudah berkeluarga dan beranak pinak serta memberi sejumlah cucu, tiba2 Emak mendapat kabar kalau anak perempuannya bernama Fauziana binti Hamidin meninggal dunia. Fauziana SE, MSi; yg berprofesi sebagai dosen Poltek Unsri meninggalkan suami dan seorang anak lelaki masih duduk di bangku SMA. Padahal biasanya orangtua yg sudah tua lebih dahulu meninggal dunia baru kemudian anak2nya yg masih muda. Dalam sekejap saja, air mata Emak tumpah berderai namun berusaha untuk bersabar. Tetap tabah menerima kematian anak perempuannya.
Beberapa tahun berikutnya Emak kembali kehilangan anaknya bernama Haji M Harun seakan menguji kesabaran dan ketabahan Emak untuk kedua kalinya. Lalu menyusul anak pertamanya Haji M Yunus juga kembali kepada Tuhannya. Saat Emak dalam sakitnya seorang anaknya juga meninggal dunia yaitu Haji M Dhani. Hanya saja Emak tidak bisa melihatnya. Hanya hatinya bisa merasakannya. Sebab dalam sakitnya Emak seringkali menanyakannya.
Ketika dihadapkan pada ujian2 kehidupan itu Emak mungkin masih teringat dg surat Tabarok atau Al Mulk ayat 2 berbunyi, “Yang menciptakan mati dan hidup, untuk menguji kamu, siapa di antara kamu yang lebih baik amalnya. Dan Dia Mahaperkasa, Maha Pengampun.” Yaitu surat ke-67 dari alquran yg dihafalnya dan suka dibacanya serta suka didengarnya bila ada orang membacanya di samping hafal surat Yassin surat ke-36 dan surat Al Waqiah surat ke-56.
Itu sebabnya kewafatan suaminya dan anak2nya dirasakan Emak sebagai ujian dan kehendak Tuhan. Terima saja dg ridla. Allah berkehendak menguji hamba2Nya dg kematian orang2 yg dicintai Emak selama ini. Emak berusaha bersikap tabah dan sabar dalam menghadapi ujian2nya dg berharap rahmatNya. Mendoakan suaminya dan anak2nya agar bebas dari siksa neraka jahanam dan Allah masukan ke dalam Jannatu Naim.
Sesudah usaha anak2 Emak bisa mencukupi hidup Emak maka kesibukan Emak berdagang berhenti dg sendirinya. Tidak lagi berjualan kue2 dan kain atau lainnya. Sebaliknya kesibukan Emak mengikuti pengajian semakin bertambah. Ditambah lagi dg shalat malamnya yaitu tahajud dan hajat tak pernah tinggal lagi. Ditegakkannya shalat sunat layaknya shalat wajib sebagai tambahan.
Biasanya setiap Jumat pagi Emak amalan mengaji atau cawisan di masjid mengikuti pengajian ibu2 dari kumpulan Wanita Islam. Kini setiap ada undangan dan ajakan pengajian didatanginya dimanapun di Palembang. Terkadang datang sendiri tanpa diantar jemput anak2nya menandai tekadnya mengaji terbilang kuat. Tampaknya bagi Emak mengikuti pengajian adalah pengamalan kewajiban menuntut ilmu dalam beragama. Jalan untuk menambah ilmu agamanya dan menguatkan ibadahnya.
Hasil pengajian Emak tidak hanya untuk Emak sendiri. Emak juga mengajarkan kepada anak2nya melalui nasehat2nya saat semuanya berkumpul di rumah. Semua anak2nya merasakan nasehat2 Emak yg terkadang terdengar agak keras. Meski begitu anak2nya berusaha mentaatinya. Bagaimanapun Emak menginginkan anak2nya selamat dalam hidupnya sekarang maupun mendatang dg selalu berpegang teguh pada petunjukNya.
Nasehat yg paling sering diingatkan Emak dan juga diingat anak2nya adalah Sifat 20. Berharap anak2nya mau mempelajarinya sebagaimana Emak mempelajarinya setiap cawisan. Kiranya anak2nya rerhindar dari perbuatan dosa syirik yg menjadi dosa yg tidak diampuni Allah Maha Pengampun. Pahami Sifat 20 sebagai akidah dan keimanan dalam setiap beribadah dan bermuamalah. Kalau akidahnya atau keimanannya salah maka agamanya menjadi roboh. Kalau akidahnya atau keimanannya benar maka agamanya menjadi kokoh.
Sifat 20 adalah Sifat Wajib Allah. 20 Sifat wajib ini hanya ada pada Allah dan tidak ada satupun yang menyamai dan menyerupai milik-Nya. Pemahaman ini membuat Emak selalu mengucapkan “LAILAHA ILLALLAH, ALMALIKUL HAQQUL MUBIN”. Artinya: “Tiada Tuhan selain Allah, Tuhan yang maha benar dan nyata”. Bahkan zikrullah ini seringkali dilantunkan Emak di tengah2 sakit lansianya dari masih bisa berbicara dg jelas hingga tak bisa berbicara sama sekali. Meski kedengarannya lirih dan bisik2 menyerupai bunyi ucapan Allah, Allah dan Allah.
Selama sakit lansianya itu Emak tidak bisa lagi mengikuti cawisan yg disenanginya. Pun tidak bisa melayani tamu2 yg datang menjenguknya dan mendoakannya. Hidupnya bergantung penuh pada perawatan lima anak yg masih hidup. Berbaring di atas pembaringan sepanjang hari dan dari hari ke hari kian kehilangan semua kekuatannya. Dari hari ke hari kondisi tubuhnya semakin melemah, melemah dan terus melemah. “Allah-lah yang menciptakan kamu dari keadaan lemah, kemudian Dia menjadikan (kamu) setelah keadaan lemah itu menjadi kuat, kemudian Dia menjadikan (kamu) setelah kuat itu lemah (kembali) dan beruban” (Ar Rum ayat 54).
Kawan2 Emak dalam pengajian selalu menanyakan kabar Emak. Mereka mendoakan kesembuhannya dalam cawisan. Mereka selalu teringat dan terkesan dg Emak. Betapa dahulu setiap kali silaturrahmi ke rumah Emak selalu saja pulang dalam keadaan kenyang. Pasalnya Emak selalu memuliakan tamu2nya siapapun yg datang dan dari manapun. Emak menyediakan makanan dan minuman lebih dari cukup buat tamu2nya.
Setelah berbaring sakit lansia selama lebih dari dua tahun, pada Rabu pagi sekitar jam 07.00 WIB tanggal 12 Oktober 2022 atau 16 Rabiul Awal 1444 Hijriah Emak kembali kepada Tuhannya. Sehari sebelumnya keponakan Emak yaitu Dokter Leny Susanti Sppd, salah satu anak dari adik kandung Emak bernama Haji Abu Bakar bin H Achmad bin Anang Sapidin –beristrikan Hajjah Halimah binti Abdul Ghafur– sudah berusaha merawat dan mengobati dg memberikan bantuan pernafasan. Termasuk juga merawat dan mengobati selama sakitnya di masa2 pandemi Covid-19. Namun ajal manusia tak bisa ditolak, dimajukan atau dimundurkan. INNA LILLAHI WA INNA ILAIHI ROJIUN. Hamba datang dari Allah dan hamba pulang kembali kepada Allah.
Bagi Leni merawat dan mengobati Wakcaknya yaitu Hajjah Halimah binti Haji Achmad bin Anang Sapidin adalah caranya berbakti kepada ayahnya atau Apaknya yg telah meninggal 27 tahun silam. Apak meninggalkan dirinya selagi masih gadis remaja dan tengah bermimpi menjadi seorang dokter. “Merawat beliau adalah caraku untuk berbakti padamu Apak. Merawat beliau adalah caraku untuk menyalurkan mimpi dan banyak keinginanku tentangmu Apak…” begitu tulis Leni dalam akunnya.
Selanjutnya Leni menulis, “Kemarin pagi –Rabu, 12 Oktober 2022– selesailah satu tugasku Apak. Merawat Wakcak Halimah binti Achmad saudara kandungmu. Semoga Allah menerima semua amal ibadah kalian berdua. Semoga Allah memaafkan semua dosa dan kekhilafan kalian berdua. Semoga sekarang Allah mempertemukan kalian berdua. Dan semoga kelak Allah mengumpulkan kita semua ke dalam Surga dengan segala kenikmatannya.”
- Jika seseorang meninggal dunia maka terputuslah amalannya kecuali tiga perkara yaitu SEDEKAH JARIYAH, ILMU YANG DIAMBIL MANFAATNYA dan DOA ANAK YANG SHALEH (HR Muslim)
