Jadwal imsakiyah Wilayah Palembang

-- --- 2026

Imsak: --:--| Shubu: --:-- | Maghrib: --:--

MOZAIK ISLAM

Sejarah Masuknya Islam di Palembang Dibawa Laksamana Cheng Ho dan Khalifah Mu’awiyah

AsSAJIDIN.COM — Islam mulai masuk ke Nusantara diperkirakan pada abad ke-7 atau 8 melalui rintisan para pelaut Arab- Persia dan Cina yang melakukan pelayaran melalui jalur hubungan niaga lintas Samudra dengan Tiongkok. Pada abad tersebut Palembang (dulu Bernama Sriwijaya) minat kepada dunia muslim. Hal ini berdasarkan pada sumber -sumber Arab yang menyimpan bukti minatnya Sriwijaya kepada dunia Muslim dengan penemuan surat dari penguasa Sriwijaya kepada Khalifah Mu’awiyah ibn Abi Sufyan yang berkuasa pada 661-680 M.

Wakil Dekan II Fakultas Adab dan Humaniora (FAHUM) Universitas Islam Negeri (UIN) Raden Fatah Palembang Dr Umi Kalsum MHum menjelaskan, masuknya Islam pada abad ke -7 masehi itu diawali dengan ketertarikan pembesar Sriwijaya terhadap dunia muslim dengan berkirim surat kepada Khalifah Mu’awiyah. Sebagaimana yang dikatakan di awal tadi belum dapat dikatakan Islam masuk pada era tersebut. “Secara pribadi, saya belum membaca langsung bukti autentiknya, dan belum dapat dikatakan sudah masuk Islam juga. Dokumen surat-surat pembesar Sriwijaya menunjukkan minatnya terhadap Islam kepada khalifah Mu’awiyah. Untuk itu, kita perlu mendapatkan bukti-bukti tentang awal masuk Islam di Palembang,” ujarnya saat diwawancarai, Rabu (27/7/2022).

Umi menerangkan, untuk menelusuri jejak-jejak sejarah islamisasi di Palembang (dulu bernama Sriwijaya) mengikuti garis waktu dimulai dari abad ke 14 di mana masa kedatuan Sriwijaya berakhir hingga berdirinya kesultanan Palembang abad ke 17.
Pada abad ke-14 kondisi perniagaan Palembang kian diwarnai oleh kehadiran para pedagang muslim jumlahnya terus bertambah. Adalah laksamana Cheng Ho seorang laksamana yang berasal dari Kaisar ketiga Dinasti Ming bersuku Hui kelompok masyarakat di Tiongkok beragama Islam, yang masuk ke wilayah Nusantara khususnya wilayah ini untuk melakukan ekspedisi perdagangan dan juga memberikan pengaruh ajarah Islam yang dibawanya. Ikatan para pedagang muslim tersebut diperkuat melalui ikatan pernikahan dengan keluarga pedagang pribumi.

Dengan adanya pernikahan Islam cepat menyebar. Jika pemimpin sudah membuat kebijakan, maka bawahnya akan mengikuti kebijakan seorang pemimpin itulah penyebaran Islam seperti itu. Tapi itu tidak serta-merta perubahan langsung total karena kita ada agama sebelumnya. Jadi tidak bisa langsung berubah tapi ada prosesnya. zaman dulu tidak pakai jilbab hanya kerudung atau selendang panjang ada juga yang sudah memakai jilbab untuk menutup aurat ada juga yang menggunakan selendang,” bebernya.

Lebih lanjut Umi mengungkapkan, sudah lama Islam di Sumsel, yang diawali dari Palembang kemudian baru menyebar ke wilayah di sekitar Palembang. Tentu yang dikuasai adalah pusat wilayah dulu kemudian baru menyebar ke daerah lain sekitar Palembang hingga ke seluruh Sumsel.

Lihat Juga :  Khitan Menurut Islam, Sejarah dan Keutamaannya

Selain itu, dalam tradisi ritual juga ada perubahan dari agama yang dianut sebelumnya. Jadi tidak serta-merta langsung berubah, misal saat ada yang meninggal sebelum masuknya Islam ada tradisi sesajen pada kuburan, setelah Islam masuk ke Palembang, diganti dengan kembang aneka warna untuk ziarah. Sebelum Islam masuk, tempat sembahyang menggunakan vhihara, setelah masuk Islam berganti dengan masjid dan masih banyak yang lainnya.
“Masuknya Islam juga berimbas tidak hanya tradisi, tapi juga tulisan. Penemuan naskah-naskah kuno Palembang – Sumatera Selatan pada umumnya menunjukkan bukti ada peralihan aksara yang digunakan di wilayah ini. Adalah tulisan Jawi yang berbahasa Palembang Melayu yang banyak ditemukan di wilayah ini. Yang dikenal oleh wong Palembang dengan tulisan Arab Melayu.” katanya.

Umi menjelaskan, awal Islam masuk sudah menerapkan tradisi-tradisi Arab. Tradisi keislamannya atau ritual-ritual keagamaan Islam di aplikasikan disesuaikan dengan syariat Islam . Islam berkembang pesat sekitar abad 17 dan 18 ada syekh Syaifudin dan Syekh Abdul Somad. Untuk Syekh Abdul Somad ini terkenal ulama Palembang di masa keemasan mereka ulama Palembang ini bukan ulama ecek-ecek. Karena Syekh Abdul Somad itu memang belajar di Timur Tengah. Kemudian ilmu yang didapatnya, diamalkan dan diajarkan lagi kepada masyarakat di Palembang itu menggunakan aksara Jawi tadi biar masyarakat bisa baca Arab Melayu. Karena para ulama belajar bacaannya bukunya adalah Arab. Karena mereka mengikuti Pendidikan di Arab ketika mereka belajar ilmu agama dan dimanfaatkan disebarkan lagi di wilayah Palembang maka menggunakan bahasa huruf Jawi. Sehingga mereka bisa memahami ternyata kajian tasawuf pada abad 17 dan 18 sampai ke abad 19 awal masih ada tasawuf sangat kental di wilayah Palembang ini khususnya tasawuf sunni mengikuti imam Ghazali.
“Syekh Abdul Somad ilmu-ilmu yang disampaikan salah satunya adalah ilmu-ilmu yang mereka dapat itu diajarkan ke masyarakat sini dalam bentuk karya-karya yang ditulis dalam aksara Jawi,” paparnya.

Umi menerangkan,masuknya Islam masa kesultanan Palembang berubah menjadi di Sultan Pertama SMB 1 bernama Kemas Hindy dan sampailah berubah menjadi kesultanan Palembang Darussalam. Ketika menjadi Islam ketika menjadi kerajaan Islam dulu kerajaan Sriwijaya ketika Palembang menjadi kesultanan itu diberi oleh Turki untuk pengakuannya pada masa sekitar abad ke-17 itu masa keemasan kepemimpinan SMB 1, itu ada pengakuan dari Turki akan kesultanan yang ditambahkan kata “Darussalam”. Di antaranya adalah”Palembang Darussalam”. Kesulatan Aceh Darussalam, dan Kesultanan Brunei Darussalam. Hanya wilayah-wilayah tertentu yang diberikan istilahnya gelar kesultanan atau kerajaan cukup besar di masa itu sehingga berkembang di masa SMB 2 dan hancurnya di masa SMB 2 pada tahun 1821,” katanya.

Lihat Juga :  Luruskan Sejarah Alasan Perubahan Nama Masjid Agung Palembang Menjadi Masjid Agung SMB I Jayo Wikramo

Dia menuturkan, ketika kesultanan Palembang Darussalam dikuasai Belanda, berbagai aspek politik, budaya mengalami perubahan. Salah satu contoh pemberlakuan tulisan latin di masa keresidenan. pada masa kesultanan huruf Jawi dipakai sebagai lingua perangka di Nusantara untuk kemudian itu beralih ke latin. Karena ada kebijakan, sejak Palembang jatuh di tangan keresidenan Belanda pada 1821. Kemudian keresidenan Belanda naik otomatis segala macam yang berbau Islam dalam khususnya aksara diputus oleh Belanda, dan diwajibkan menggunakan latin karena Belanda berupaya agar masyarakat buta huruf Arab,” ucapnya.

“Sampailah akhirnya Keresidenan Belanda masuk pada 1821, sehingga robohlah Palembang jatuhnya ke tangan Belanda. Sehingga diasingkan kesultanannya itulah masa-masa mulai terkikis Islam di Palembang sehingga tidak boleh lagi diterapkan yang ada di wilayah kita mereka berusaha menutup misalnya dulu ada cawisan itu ditutup oleh Belanda agak dibatasi. Walaupun masih juga ada tetap ada kegiatan itu tapi secara diam-diam karena saat itu Palembang dikuasai Belanda,” tambah Umi.

Untuk sekarang ini, lanjut Umi, dia melihat Islam di Palembang masih berkembang pola keislamannya merujuk pada gairah menggali lagi pada flashback kisah masa lalu agar ditingkatkan. Mereka lebih ingin lihat lagi bagaimana Palembang di zaman dulu sehingga dulu pernah populer ritual ritual ratib Saman.

” kita dulu pernah apa ritual Islami ditingkatkan lagi lebih kepada implikasi relnya itu ingin penggalian tradisi masa lalu yang pernah berkembang kemudian sempat redup di reproduksi kembali baik itu reproduksi ulang ataupun beberapa penambahan ritual itu,” urainya.

“Harapannya ke depan kepada generasi muda Islam keislaman di Palembang ini saya secara pribadi lebih kepada menggali literasi membaca. Jadi jangan sampai anak muda sekarang ini ikut-ikutan tanpa tahu apa yang dibaca itu yang dijadikan pedoman kalau tidak baca maka akan sesat. Jadi kita harap meningkatkan literasi keagamaan dari itu dari segi fashion untuk dari segi tradisi juga baca ketika kita mengikuti misalnya aliran tarekat banyak sekali sekarang ini jangan hanya ikut-ikutan. Kalau mencari guru itu juga harus tau sumber juga bacaannya. Jadi meningkatkan literasi bacaan tentang agama Islam perlu agar landasannya pedomannya sehingga kita tidak salah dalam mempraktekkannya,” tandasnya. (Yanti)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top button