Jadwal imsakiyah Wilayah Palembang

-- --- 2026

Imsak: --:--| Shubu: --:-- | Maghrib: --:--

MOZAIK ISLAM

Metode Menghafal Alquran 3T Hingga Latduni Bagi Anak-Anak

Diterapkan di Rumah Tahfidz Rahmad

AsSAJIDIN.COM — Rumah Tahfidz Rahmat (RTR) Palembang mengajarkan para penghafal Al Quran dengan metode 3T (Tahsin, Tajwid dan Tahfidz). Selain itu, khusus bagi anak-anak yang belum paham dengan tahsin dan tajwid, RTR menggunakan metode “latduni” (ilat kudu muni) atau lidah harus bunyi.

Pengasuh dan Pengalelola RTR Palembang, Imron Supriyadi, S. Ag, M.Hum mengatakan, RTR Palembang ini berdiri sejak tahun 2010. Waktu itu pendirinya Ustadz H Ahmad Fauzan atau dikenal dengan panggilan Ustadz Yayan, yang sekarang mengelola Pondok Pesantren (Ponpes) Sekolah Alam Kiai Marogan di Talang Betutu Palembang.

“Pada awal berdiri belum ada santri mukim. Kemudian, pada 2014 Rumah Tahfidz Rahmat yang berpusat di rumah almarhum Bapak Rahmad di mandatkan kepada saya. Saya mengajar di sini berbekal ilmu yang didapat dari Pondok Assalam Surakarta Jawa Tengah,” ujarnya saat diwawancarai, Senin (3/10/2022).

Lebih lanjut Dosen Fakultas Dakwah Universitas Islam Negeri (UIN) Raden Fatah Palembang ini menuturkan, pada awal 2014 belum menerima santri mukim. Sebab secara internal kala itu masih banyak yang harus ditata dan dirapikan, terutama dalam hal administrasi, juga pengeluaran anggaran untuk santri mukim.

Kemudian, pada pertengahan 2014 mulai menerima santri mukim berjumlah 13 orang laki-laki berumur 9 sampai 17 tahun, yang 90 persen santri mukim tidak berbayar.

“Seiring berjalan waktu, pada 2019 kami mohon izin untuk mandiri dan berubah berada di bawah naungan Yayasan Tazkiyah Nusantara Palembang. Sehingga sejak 2019 kami mengembangkan lembaga Rumah Tahfidz menjadi Pondok Pesantren sampai hari ini, tidak lagi menginduk di Yayasan Kiai Maorgan” ujarnya.

Sejak itu, suami dari Pustrini Hayati, S.Pd.I ini mengatakan, RTR Palembang kemudian mengembangkan metode yang diajarkan oleh Ustadz Yusuf Mansur melalui Ustadz Yayan.

Karena diakui atau tidak, lahirnya RTR dan rumah tahfidz lain di Sumsel juga tidak lepas dari rumah tahfidz yang diinisiasi Ustadz Yusuf Mansur. Sementara inisiator Rumah Tahfidz di Sumsel Ustadz Ahmad Fauzan, yang merupakan murid Ustadz Yusuf Mansur.

“Saya pemegang mandat penerus saja dari Ustadz Yayan. Jadi tidak sebagai pendiri murni, tetapi saya sebagai penerus dari ustadz Yayan dan kemudian mengembangkannya, menjadi Pondok sampai hari ini, ” katanya.

Saat ini, penulis buku “Mengubah Tinja Menjadi Cinta” ini, RTR sudah mempersiapkan untuk pengembangan perluasan area di Desa Ibul Besar II di Kabupaten Ogan Ilir (OI).

“Alhamdulillah sudah ada 4 kavling tanah untuk membangun Ponpes Rumah Tahfidz Rahmat. Ini sebagai wujud keseriusan pengelolaan untuk mengembangkan ponpes agar lebih banyak santri bermukim, dengan tujuan untuk membangun generasi Qurani dan mempersiapkan calon guru penghafal Al Quran,” ucapnya.

Untuk RTR Palembang, menurut ayah dari satu putri dan dua putra ini, saat ini ada 18 santri mukim, baik laki-laki dan perempuan. Untuk santri yang tidak bermukim atau santri kalong ada 43 santri. Mereka yang santri kalong, datang sebelum maghrib dan pulang setelah shalat isyak, sesudah mengaji dan setiran hafalan.

RTR Palembang, menurut pria kelahiran Magelang 18 Mei 1973 ini, dari awal sejak berdirinya konsepnya mengikuti jeka Ustadz Yayan dengan tidak berbayar.

“Jadi sampai sekarang kita tetap tidak berbayar. Tetapi seiring berjalan waktu, kita mengkalkulasikan konsumsi, operasional akhirnya kita mencoba untuk membuka ruang untuk beberapa santri yang berbayar. Tapi baru setahun terakhir.

Walaupun, menurut putra tunggal dari Abdul Salam (alm) dan Alfasanah (almh) ini mengakui, sampai hari ini yang berbayar hanya 3 atau 4 santri yang rutin membayar.

“Meskipun kadang-kadang juga lupa, yang harus kita ingatkan. Tapi tidak apa-apa itu sudah dari awal seperti itu dan kita sampai hari ini tidak memaksa mereka harus berbayar. Yang mau membayar syukur dan yang tidak bayar ya tidak apa-apa. Alhamdulillah santri-santri kita di Rumah Tahfidz Rahmat ini masih sehat dan tetap berjalan, meski dengan segala yang ada,” bebernya.

Tenaga Didik di RTR Palembang
Untuk tenaga didik di RTR, menurut alumnus Fakultas Ushuluddin IAIN Raden Fatah Palembang 1997 ini, masih dithandl (ditangani) sendiri. Meskipun ada 3 santri senior yang diberdayakan untuk mengajar.

“Yang mengajar, ya saya, isteri dan 3 santri senior yang sudah kita nilai layak mengajar, ada Umar Hafidz, Debi Andika dan Adjer Abdurahmansyah,” ujarnya.

Sistem Setoran Hafalan
Berbincang tentang sistem setoran hafalan, Imron menyebutkan terbagi dua. Pertama khusus bagi santri mukim dan bagi santri non mukim. Bagi santri mukim, setoran hafalan dilakukan 3 kali dalam sehari. Sementara bagi santri non mukim hanya satu kali, saat mereka datang ke RTR, usai shalat magrib.

Bagi santri mukim diwajibkan setor hafalan 1/2 halaman. Kecuali bagi santri yang belum bisa membaca Al-Quran. Bagi santri non mukim hanya diwajibkan satu kali dalam sehari untuk setoran hafalan, baik yang juz 30 atau yang sudah mulai di juz satu.

“Untuk santri yang bermukim itu 3 kali setoran yakni setelah subuh, setelah shalat dhuha dan setelah shalat ashar. Jadi santri-santri yang bermukim diwajibkan untuk setoran hafalan setengah halaman per sekali setoran. Istilah kami adalah setengah kaco atau setengah halaman itu per sekali setoran,” ujarnya.

Untuk mengulang kembali hafalan agar hafalan itu benar-benar mutqin (melelat dalam ingatan), setiap Hari Sabtu semua santri mukim wajib melakukan murojaah. Sementara setiap Hari Jumat, ada juga simaan juz. Tujuannya untuk mengulang hafalan agar tidak mudah lupa. Jadi santri mukim punya tangungjawab untuk setor hafalan mulai Senin-Jumat (habis Shubuh).

Lihat Juga :  Melihat Rumah Nabi Muhammad SAW di Madinah, 14 Abad Lalu

Usai Shalat Dhuha di Hari Jumat di RTR dilakukan Simaan hafalan, supaya menguatkan hafalan yang sudah dihafalkan dalam satu pekan.

Bagi santri yang baru mulai hafalan, masing-masing santri berkewajiban menghafal Al quran juz 30. Kecuali bagi santri senior yang hafalannya sudah mulai juz 1-29.

Menurut Imron, santri mukim dan non bermukim di RTR Palembang yang belum hafal juz 30, setiap santri berkewajiban menghafal juz 30, sebagai pembuka sebelum mereka tahsin.

“Jadi setoran wajib adalah juz 30. Itu saya terapkan berdasarkan pengalaman saya waktu masih belajar di Pondok dulu di Jawa. Setiap kali sebelum mengaji yang pokok, kami diwajibkan hafalan dulu yang juz 30,” ujar Imron mengingat perjalanannya mengaji saat masih di Pulau Jawa di era 80-an.

Tujuan menghafal juz 30 ini, untuk pembiasaan dalam shalat fardhu yang 5 waktu, sehingga saat sudah dewasa juz 30 sudah bisa diterapkan saat menjadi imam. Minimal para santri sudah mengausai halafan juz 30 dari Suroh An-Naas sampai An-Naba’.

“Nanti kalau sudah selesai juz 30 baru masuk ke juz satu, misalnya mulai dari surah Al-Baqarah sampai surah lain, misal Suroh Al Imron dan lainnya. Itu bisa dilakukan setelah mereka sudah hafal yang juz 30,” ucapnya.

Menerapkan Metode 3T

Menjelaskan metode yang diterapkan di RTR Palembang, Imron menjelaskan di lembaga yang dikelolanya saat ini menerapkan metode 3T (Tahsin, Tajwid dan Tahfidz). Pertama yang harus dilakukan santri adalah tahsin adalah perbaikan bacaan.

Para santri di RTR Palembang, sebelum menghafal, lebih didahulukan perbaikan bacaan Al Quran. Sebelum para santri menghafal Al-quran, bacaan (makhorijul huruf dan Tajwid) diperbaiki.

Di RTR Palembang menurut Imron mendahulukan benar dan baiknya bacaan, baru bukan banyaknya hafalan. Hal ini dilakukan menidaklanjuti saran dan nasihat dari Almarhum Kiai almarhum Nawawi Dencik.

“Ada rumah tahfidz yang mengedepankan banyaknya hafalan, tetapi bacaannya, tahsin dan tajwidnya itu masih kurang tajam, kurang bagus. Oleh sebab itu, saat ada pertemuan informal bersama almarhum Nawawi Dencik, beliau menyampaikan kepada sejumlah ustadz di Palembang, tolong diperhatikan lagi bacaan tahsinnya dan tajwidnya. Tolong jangan hanya banyak hapalannya, tapi benar dulu bacaan santri,” ujar Imron mengutip dilog kecil bersama almarhum Nawawi Dencik di tahun 2014.

Bermula dari sana, RTR Palembang melakukan evaluasi. Konsekuensinya, ada beberapa bacaan yang harus diperbaiki dan diulang. “Karena disaat hafalannya sudah banyak, tapi setelah dievaluasi bacaannya masih ada yang perlu dibenarkan dan diperbaiki, maka itu memperberat tugas ustadz untuk memperbaiki lagi bacaannya. Akhirnya, RTR Palembang bersama tim memutuskan untuk mengulang lagi bacaan, khususnya santri non mukim.

Bagi santri yang bacaannya belum baik, harus dimulai dari Iqro 2, supaya memperjelas dan meperbaiki makhorijul huruf (tempat keluarnya huruf).

“Alhamdulillah, kalau santri yang mukim sudah lumayan baik, karena pertemuannnya memang lebih banyak dibanding yang non mukim. Jadi semua yang belum bagus bacaannya ya harus kita mulai dari tahsin lagi supaya bagus,” katanya.

Kenapa ini harus dilakukan? Menurut Imron ada beberapa kejadian yang menjadi pelajaran bagi pengasuh RTR Palembang. Stau kali, RTR menerima santri baru non mukim yang sebelumnya sudah bisa membaca sampai 5 juz. Tapi setelah didengarkan, ada beberapa bacaan yang harus diperbaiki.

“Melihat dan mendengar cara baca yang kami nilai belum sesuai dengan hukum bacaan Al-quran, kami harus memulai lagi dari Iqro dua. Tapi bacaan yang juz lima tidak kami hentikan, tetap kami lanjutkan. Tapi bedanya, pelan-pelan kami perbaiki, sembari belajar Iqro lagi,” tukasnya.

Disampaikan kepada Orangtuanya
Pola ajar yang diterapkan bagi santri baru yang demikian, menurut Imron tidak jarang mendapat komplain dari beberapa wali santri. Mereka menyoal tentang anaknya yang harus mengulang dari Iqro.

“Ya, kami jelaskan kepada wali santri, kalau anaknya sudah bisa baca, tapi secara teknis masih perlu dibenari dan kami mohon izin kami harus mengulangi dari iqro. Dan alhamdulillah, mereka paham dan mengkuti pola ajar yang kami terapkan,” katanya.

Supaya santri tidak kecil hati dengan bacaan yang sudah dimulai, pola ajar di RTR tetap menuntun bacaan Al-quran yang sudah dibawa sebelumnya. Tetapi RTR Palembang tetap merujuk kepada dasar-dasar bacaan dari Iqro.

Karena standarnya dari iqro, RTR Palembang tetap menuntun belajar santri dari Iqro, tanpa mengurangi bacaan santri yang sudah mulai dari Al-Baqarah.

Secara bersamaan dan beriring, santri tetap membaca juz satu, sementara yang iqro tetap dimaksimalkan. Sebab yang paling pertama dan utama di RTR Palembang tahsinul qiroah, (membenarkan dan meluruskan bacaan Al-quran). Kemudian kedua tajwid, yaitu ilmu yang mempelajari hukum bacaan Al-quran. Setelah itu baru kemudian memaksimalkan Tahfidz-nya secara perlahan.

“Untuk tajwid ini fungsinya supaya anak-anak itu bukan hanya paham dengan makhorijul hurufnya tetapi paham dengan hukum-hukumnya. Apa itu Idzhar, Idgham Bighunnah, Idgham Bilaghunnah, Iqlab, Ikhfa. Itu dipelajari di tajwid, sehingga ketika paham dengan bacaan, santri juga paham hukumnya. Jadi selain bacaannya bagus, santri juga tahu hukum-hukum bacaannya. Kalau sudah paham itu sambil jalan kita anggap sudah bagus baru kita izinkan untuk tahfidz (menghafal),” tuturnya.

Mengedepankan tahsin bagi santri di RTR Palembang, untuk meringankan beban bagi ustadz dan ustadzahnya yang menerima setoran hafalan Al-quran.

Lihat Juga :  MTQ Kota Palembang Digelar, H Rhoma Irama Beri Tausyiah dan Hibur Masyarakat

Sebab, menurutnya, kalau tahsin tidak bagus dan tajwid kurang paham, sementara santri langsung menghafal Al-quran (tahfidz), maka yang menerima setoran itu jadi dua kali kerjaannya, selain mendengarkan hafalannya, yang kedua harus memperbaiki bacaan.

“Jadi pekerjaannya jadi dua kali, itu menyulitkan. Jadi jangan sampai ustadz yang menerima setoran hafalan itu dibenturkan dengan tahsin yang tidak benar, tajwid yang tidak bagus akhirnya dua kali pekerjaannya. Oleh sebab itu, kita mengedepankan pertama tahsin, kedua tajwid kemudian ketiga tahfidz. Kalau bicara metode itulah metode yang kami pakai,” ucapnya.

Metode Latduni Khusus Bagi Anak-anak
Kemudian, sambung Imron Supriyadi khusus untuk anak-anak, di RTR Palembang menggunkan metode tersendiri. Untuk anak-anak yang belum mengerti tahsin dan tajwid yakni dengan menggunakan metode “Latduni” yakni ilat kudu muni atau dikenal (lidah harus bunyi).

“Jadi anak-anak yang belum bisa membaca Al-quran, yang belum paham tahsin dan tajwid, diterapkan metode Latduni. Hal ini dilakukan untuk mengurangi kesalahan bacaan. Sebab santri tersebut belum bisa membaca Al-quran. Kalau pun, iqra ya baru iqro 1. Maka kita pakai metode latduni atau lidah harus bunyi,” ujarnya.

Metode lidah harus bunyi (latduni) ini menurut Imron sesuai dengan pola yang pernah diajarkan gurunya saat Imron masih belajar mengaji di tahun 80-an di Magelang Jawa Tengah.

“Kiai saya dulu, saat saya masih SD belum bisa baca Al Quran. Tapi, saat itu saya sudah bisa menyelesaikan hafalan juz 30 dengan bacaan yang bagus baik secara tahsin dan tajdwid. Kiai saya menggunakan metode latduni itu sebagai transfer knowlage atau transfer pengetahuan dari kiai kepada santrinya. Jadi diajarkan perkata dan berulang-ulang. Ketika anak itu hafal itu lekat, maka akan dilanjutkan dengan ayat berikutnya. Jadi mengajarkan itu perkata dan harus terus diulang ulang,” katanya.

Imron mengungkapkan, mengajar khusus untuk anak-anak itu tidak boleh dipaksa. Apalagi santri anak-anak baru belajar iqro 1. Semua harus dilakukan secara perlahan dan bertahap. Sembari anak-anak fokus belajar iqro, juga harus ada tuntutan menghafal (tahfidz) juz 30. Sebab hafalan juz 30 ini akan sering dipakai saat santri dewasa, bahkan sampai mati. Oleh sebab itu menruut Imron, selain belajar iqro, maka santri juga punya hafalan wajib juz 30.

“Santri di sini yang paling kecil ada yang umur 5 tahun. Jadi selain belajar iqro mereka wajib juga punya hafalan juz 30 dan itu orang tuanya tidak boleh memaksa cepat. Karena daya tangkap anak-anak berbeda, latar belakang kultur dan pendidikan, makanan, gizi dan lain-lain juga akan berdampak pada kualitas intelektual santri. Jadi kami tidak pernah mempersoalkan itu, artinya kami harus bersabar dan orang tua harus bersabar tidak bisa harus menuntut cepat. Kita sebagai guru ngaji harus sabar dan kita menjelaskan kepada orang tuanya,” paparnya.

Santri Lansia
Selain anak-anak usia 9-20 tahun RTR Palembang juga menerima santri ibu-ibu lansia. Meskipun santri lansia ini tidak menginap atau tudak reguler setiap hari datang. Santri lansia ini mayorias ibu-ibu pensiunan atau jemaah engajian masjid terdekat. Mereka hanya meminta belajar mengaji satu pekan dua kali pertemuan.

“Disini juga ada orang dewasa yang belajar yakni ibu-ibu. Mereka belajar seminggu dua kali. Mereka hanya tiga orang, karena sebenarnya mereka yang minta. Kalau kami prioritasnya adalah anak-anak. Ketika ada ibu-ibu ingin belajar tetap kami terima dan istri saya yang mengajarnya,:” tambah Imron.

Ketika ditanya kualitas santri di Sumsel, Imron Supriyadi menuturkan, kalau di Sumsel kualitas hafiz sudah bagus dan sudah di atas rata-rata. Hanya mungkin tidak dilahirkan oleh seluruh rumah tahfidz . Hanya beberapa rumah tahfidz yang melahirkan tapi kalau secara umum kualitas hafiz Quran di Sumsel ini luar biasa.

“Tinggal setelah mereka hafiz Quran next-nya seperti apa. Karena mereka juga harus diantarkan ke jenjang pendidikan lebih tinggi. Apalagi sudah punya modal 30 juz tinggal nanti setiap pondok dan rumah tahfifz itu harus membangun networking, membangun jaringan ke beberapa Perguruan Tinggi sehingga nanti bisa disalurkan ke perguruan tinggi syukur-syukur dapat beasiswa,” urainya.

Dia menuturkan, santri di RTR Palembang hingga kini ada tiga santri yang sudah selesai 30 juz. Satu diantaranta kuliah di perguruan tinggi di Palembang di semester akhir. Untuk yang belum melanjutkan ke perguruan tinggi mereka berhikmat (mengabdi) di RTR Palembang, sambil menunggu beasiswa yang terbuka di luar.

“Saran kepada rumah tahfidz untuk membangun networking ke perguruan tinggi. Metodenya itu setiap rumah Tahfifz punya cara baik dengan persuasif atau audiensi dan bisa mencari lewat Google. Karena ada banyak perguruan tinggi sangat responsif. Untuk santri kita ada yang di kuliah di UIN di walaupun tidak beasiswa tapi modal dia menjadi penghafal Alquran memudahkan dia untuk melanjutkan perguruan tinggi dan ada dua santri kita yang mendapat beasiswa di perguruan tinggi,” katanya.

“Peluangnya banyak sekarang, tinggal rumah tahfidz membangun networking dan jaringan ke perguruan tinggi baik di dalam maupun di luar negeri. Tinggal kiai di rumah tahfidz yang bertanggungjawab mencarikan peluangnya. Karena sayang kalau mereka sudah hafal 30 juz dan mereka tidak dinaikkan jenjangnya keperguruan tinggi S1, S2 dan S3,” tandasnya. (Yanti)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top button