Jadwal imsakiyah Wilayah Palembang

-- --- 2026

Imsak: --:--| Shubu: --:-- | Maghrib: --:--

MOZAIK ISLAMMUSLIMAHPENDIDIKAN

Masya Allah, Program “Satu Desa Satu Rumah Tahfidz” Sukses Menyebar Kemana-Mana

Assajidin.com – Terlihat sejumlah santriwati tengah asyik membaca dan menghafal ayat-ayat Alquran di sela waktu luang di musholla Desa Quran Rumah Tahfidz Yatim Dhuafa Palembang, Sumatera Selatan (Sumsel), Kamis, 14 April 2022 silam. Sebagaimana diketahui bahwa Desa Quran yang baru saja diluncurkan ini memiliki konsep Quranpreneur yang menggabungkan ilmu Alquran dan kemampuan berwirausaha para santri yatim dhuafa sebagai modal kemandirian di masyarakat. Para santri tersebut sangat menikmati kegiatan positif tersebut.

Pemandangan kegiatan santri seperti diatas juga banyak ditemui di berbagai tempat, lokasi, kota dan kabupaten yang tersebar di seluruh pelosok Sumsel. Kondisi ini memang sebagai dampak dari digencarkannya program Pemerintah Provinsi Sumsel yang diinisiasi oleh Gubernur H.Herman Deru dalam dua tahun terakhir ini.

Bahkan, orang nomor satu di Bumi Sriwijaya ini dengan gembira mengungkapkan bahwa jumlah rumah tahfidz Alquran yang sudah didirikan di daerah ini sudah hampir mencapai sebanyak 4.000 unit. Jumlah Rumah Tahfidz yang fantastis tersebut selain tersebar di 17 kabupaten kota di Sumsel, juga sudah tersebar kemana-mana, maksudnya tidak saja di masjid, pondok pesantren, sekolah, instansi, lembaga dan organisasi islam hingga ke lembaga pemasyaratkan.

“Alhamdulilah di tahun kedua pemerintahan kami tercapai, dan saat ini rumah tahfidz itu sudah mendekati 4.000 unit,” Kata H. Herman Deru didampingi Wakil Gubernur H. Mawardi Yahya di Palembang, beberapa waktu lalu.

Diproyeksikan, setiap rumah tahfidz Al Quran tersebut didirikan untuk menjadi sebagai pusat pendidikan literasi keagamaan baca tulis Alquran bagi setiap remaja muslim.

Lihat Juga :  Dua Siswa UPT SMKN 8 Diterima Kuliah di Jepang

Gubernur Herman Deru mengemukakan, pemerintah provinsi terus mendukung pendirian rumah tahfidz yang telah dicanangkan dalam “program satu desa satu rumah tahfidz”.

Pada desain besarnya program itu dibuat untuk mencetak regenerasi para penghafal kitab suci Alquran, yang kelak menjadi suri tauladan bagi lingkungan dan diharap mampu mempersembahkan prestasi untuk daerah.

Ia menjelaskan, sudah banyak para penghafal Alquran yang lahir di Indralaya, setidaknya di bawah binaan pengurus Pondok Pesantren Raudhatul Ulum yang di sana terakhir sudah ada sebanyak 170 santri yang berhasil menyelesaikan hafalan 30 juz.

“Mudah-mudahan para hafiz dan hafizah (penghafal Al Quran) itu kelak menjadi manusia yang memberi kemanfaatan melalui intelektualnya,” kata Herman Deru.

Selanjutnya, Gubernur H. Herman Deru menaruh harapan besar kepada pondok pesantren dan rumah tahfidz di Sumsel dalam menghasilkan Sumber Daya Manusia (SDM) yang memiliki kekayaan intelektual dan berakhlak mulia.

Hal itu disampaikan Herman Deru ketika menghadiri tasyakuran muwaada’ah (perpisahan) dan wisuda purna siswa akhir Ponpes Sabilul Hasanah Tahun Pelajaran 2021-2022, Selasa, 31 Mei 2022.
“Sumbangsih ponpes sangat nyata dalam mencerdaskan bangsa. Termasuk juga sumbangsih Ponpes Sabilul Hasanah ini. Selain intelektual SDM, pendidikan melalui ponpes dan rumah tahfidz juga sebagai langkah untuk memberantas buta aksara Alquran,” kata Herman Deru.
Menurut Herman Deru, pusat atau lembaga pendidikan sudah tidak terhitung lagi jumlahnya di Sumsel, namun untuk lembaga pendidikan yang berbasis agama belum banyak jumlahnya.
“Inilah yang menjadi peran ponpes dan rumah tahfidz. Lembaga pendidikan mungkin sudah sangat banyak, tapi yang berbasis agama seperti ponpes dan rumah tahfidz ini dirasa masih sedikit. Karena kita menginginkan generasi yang dihasilkan nantinya bukan hanya memiliki bekal ilmu pendidikan formal yang baik, tapi juga memiliki ilmu agama yang baik ,” imbuhnya.

Lihat Juga :  Menangis Agar tidak Keras Hati

Lebih jauh dijelaskannya, rumah tahfidz di Sumsel sendiri saat ini sudah mendekati angka 4 ribu yang tersebar di sejumlah kabupaten dan kota.
“Sumsel ini memiliki kurang lebih 3500 desa dan kelurahan. Namun rumah tahfidznya sudah mendekati angka empat ribu. Ini merupakan sarana kita untuk menghasilkan hafidz dan hafidzoh,” tuturnya.
Dimana, lanjutnya, dampak dari ilmu agama yang baik yakni terjaganya kerukunan antar masyarakat di Sumsel.
“Kita (Sumsel) dikenal dengan daerah zero konflik. Ini karena kita menyebarkan syiar agama dengan benar sehingga terwujud pergaulan yang rukun antar masyarakat. Termasuk pesantren ini yang telah berkontribusi mencetak generasi yang berakhlak,” ujar H.Herman Deru.

Ke depan, program “Satu Desa Satu Rumah Tahfidz” akan semakin menyebar kemana-mana dengan jumlah yang melebihi angka 4.000 rumah tahfidz dan ini tentunya perlu dukungan semua lapisan masyarakat dan pejabat pemerintah setempat. Sebab jikalau para generasi muda islam atau remaja islam bermodalkan hafalan alquran, tentu kehidupan mereka di masa mendatang akan lebih barokah dan akhirnya akan membawa daerah yang baldatun warobun ghofur.

 

Editor : Aspani Yasland

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top button