Agar Puasamu Lebih Bermakna, Amalkanlah 7 Amalan Berikut Ini

Oleh : Aminuddin
Pemerhati Keislaman
Saudara-saudaraku sekalian..
Tak lama lagi bulan suci Ramadhan akan tiba. Mumpung kita masih ber sua, maafkanlah momentum sekali dalam setahun ini dengan sungguh-sungguh.
Untuk apa?
Agar ibadah puasa yang kita laku kan lebih berkesan dan bermakna.
Bagaimanya caranya?
Mudah sekali wahai saudaraku.
Pertama, puasa.
Allah SWT berfirman : “Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebe lum kamu agar kamu bertaqwa” (QS Al-Baqarah : 187).
“Barang siapa yang berpuasa pada bulan Ramadhan dengan penuh keimanan dan keikhlasan, maka akan diampuni dosa-dosanya yang telah berlalu ” (HR Bukhari Muslim).
“Barangsiapa berbuka dalam bulan Ramadhan dengan tanpa udzur dan sakit, puasa itu tidak akan bisa di ganti dengan puasa sepanjang masa meskipun ia melakukannya.” [HR. Bukhari].
Kedua, shalat. Baik shalat wajib maupun shalat sunah seperti shalat tarawih, witir dan tahajud, dhuha, dan shalat rawatib.
Ibadah sunnah kita lakukan akan diberi pahala seperti ibadah wajib di bulan lainnya, dan ibadah wajib diberi pahala 70 kali lipat dari ibadah wajib yang dilakukan di bulan lainnya.
Lalu yang ketiga. Mengakhirkan sa hur dan menyegerakan berbuka puasa.
“Sahur itu seluruhnya berkah, maka jangan engkau tinggalkan, meskipun engkau hanya minum seteguk air. Karena sesungguhnya Allah subhanahu wa ta’aala dan para malaikat mendoakan orang-orang yang sahur.” (HR Ahmad).
“Manusia akan selalu berada dalam kebaikan selama mereka menyegerakan berbuka.” (HR Bukhari Muslim).
Keempat, memperbanyak tadarus dan mengkhatamkan Al-Quran.
Membaca, mengaji dan mengkaji Al-Quran sangat dianjurkan selama bulan Ramadhan.
“Barang siapa membaca satu huruf dari Al-Quran maka baginya satu kebaikan sebab bacaan tersebut, satu kebaikan dilipatkan-gandakan menjadi sepuluh kebaikan dan aku (Nabi SAW) tidak mengatakan ‘alif lam mim’ adalah satu huruf tetapi Alif adalah satu huruf, Laam adalah satu huruf dan Miim adalah satu huruf” (HR At-Tirmidzi).
Para ulama terdahulu berlomba-lomba untuk mengkhatamkan Al-Quran selama bulan suci Ramadhan.
Bahkan imam Syafi’i berhasil kha tam Al-Quran sebanyak 60 kali selama bulan Ramadhan.
Cara mengkhatamnya?
Setiap habis shalat lima waktu beliau membaca minimal 2 lembar (5-15 menit) dari Al-Quran. Jika 1 juz sama dengan 10 lembar, maka satu hari selesai 1 juz.
Kelima, banyak berinfaq, shadaqah dan mengeluarkan zakat dari harta.
Infaq terbaik di bulan Ramadhan adalah memberikan makanan atau minuman (takjil) untuk berbuka puasa kepada orang yang berpuasa.
“Barangsiapa memberi makanan berbuka kepada orang yang berpu asa, maka ia akan memperoleh pe ngampunan bagi dosanya dan kebe basan dirinya dari neraka, dan ba ginya pahala seperti pahala orang yang mengerjakan puasa itu, tanpa sedikit pun mengurangi (pahala orang yang berpuasa). “(HR Ibn Huzaimah).
Semangat berbagi di bulan penuh berkah ini, marilah kita manfaatkan untuk bersedekah, ikut program wakaf tunai maupun wakaf berupa tanah untuk masjid, panti asuhan maupun lembaga sosial lainnya.
Keenam, i’tikaf yaitu menetapnya seorang muslim di dalam masjid untuk melaksanakan ketaatan dan ibadah kepada Allah untuk beribadah, berdzikir, membaca al-Qur’an, mengkaji ilmu agama dan ibadah lainnya di masjid.
” …Janganlah kamu campuri mereka itu, sedang kamu beri’tikaf dalam mesjid. ..” (QS Al-Baqarah:187).
Dari Aisyah, “Adalah Nabi biasa I’tikaf pada sepuluh hari terakhir di bulan Ramadhan, sampai beliau wafat kemudian istri-istri beliau melaksanakan I’tikaf sepeniggalannya.” (HR Bukhari, Ahmad, dan Baihaqy).
Ketujuh, banyak berdoa, berkata baik dan tidak mudah marah.
Waktu berdoa terbaik di bulan Ramadhan adalah sepanjang hari, khususnya pada saat menjelang berbuka puasa.
“Tiga orang yang doanya tidak ditolak. Orang yang sedang berpuasa hingga berbuka, pemimpin yang adil, dan orang yang teraniaya.” (HR Tirmidzi)
Diamnya orang yang berpuasa dinilai sebagai amalan dzikir, ti durnya orang puasa diberi pahala ibadah, karenanya ketika berpuasa marilah menjaga lisan agar berbi cara dengan kata-kata yang baik, tidak mudah marah sehingga mengurangi pahala kita.
Rajin Berpuasa
Saudara-saudaraku yang dicintai Allah SWT..
Melengkapi tulisan kita kali mari ki ta simak kisah 2 sahabat yang rajin beribadah puasa.
Yang pertama adalah Abu Thalhah, salah satu sahabat nabi yang dikisahkan jenazahnya utuh karena memiliki kebiasaan berpuasa dan berjihad di dalam hidupnya.
Perjalanan hidup Abu Thalhah disebut dalam buku ‘Kisah Agung Sahabat Sahabat Mulia Nabi’ karya Dr. Abdurrahman Ra’fat Al Basya.
Abu Thalhah selalu berpuasa bahkan setiap hari. Kecuali di hari-hari besar yang memang diharam kan untuk berpuasa. Ia juga merupakan sahabat yang telah setia berjihad bersama orang-orang Islam sejak masa Nabi, Abu Bakar, dan Umar ibn Khattab.
Di masa pemerintahan Usman bin Affan, ketika orang Islam hendak melakukan jihad melawan orang kafir yang telah menghalangi dakwah orang Islam, Abu Thalhah yang sudah sangat tua itu tetap semangat ingin mengikuti jihad.
Abu Thalhah bersama orang-orang Islam lainnya melewati laut yang besar. Mereka menaiki kapal besar untuk perjalanan menuju daerah musuh. Namun di tengah perjalanan Abu Thalhah sakit, dan pada saat itu pula ia meninggal dunia.
Para muslimin tidak menemukan dataran untuk menguburkan jenazahnya hingga 7 hari. Jenazah Abu Thalhah hanya ditutupi kain saja.
Namun anehnya, jenazah Abu Thalhah tidak be rubah selama 7 hari itu. Tidak ada bau menye ngat. Ia seperti tidur biasa.
Kisah kedua tentang sahabat Abu Yusuf.
Dalam Kitab An-Nawadir karya Syaikh Syihabuddin Ahmad ibn Salamah al-Qalyubi rahimahullah diceritakan kisah sahabat Abu Yusuf yang diziarahi Rasulullah SAW berkat amalan puasanya .
Suatu hari Abu Yusuf Ya’qub bin Yusuf bercerita tentang salah seorang sahabatnya yang unik. Beliau dikenal seorang yang wara’ dan takwa meski orang-orang mengenal karibnya itu sebagai orang fasik dan pendosa.
Sudah 20 tahun Abu Yusuf melaku kan tawaf di sekitar Ka’bah bersamanya. Tak seperti Abu Yusuf yang berpuasa terus menerus (istiqomah), sahabatnya ini sehari puasa sehari berbuka.
Memasuki 10 hari bulan Dzulhijjah, sahabat Abu Yusuf ini menunaikan puasa secara sempurna kendati beliau berada di padang sahara yang tandus.
Bersama Abu Yusuf, beliau masuk Kota Thurthus dan menetap di sana untuk beberapa lama.
Di tempat gersang inilah, persisnya di sebuah kawasan reruntuhan bangunan, beliau wafat tanpa seo rang pun yang tahu kecuali Abu Yusuf.
Abu Yusuf pun keluar mencari kain kafan. Alangkah kagetnya tatkala dirinya kembali menyaksikan keru munan orang berkunjung, mengafa ni sekaligus menyalati jenazah sa habatnya di tempat yang semula tak berpenghuni itu.
Karena begitu ramainya, Abu Yusuf sampai tak bisa masuk lokasi reruntuhan bangunan itu. Para pelayat menyebut-nyebut almarhum sebagai orang yang zuhud dan termasuk dari kekasih Allah (waliyullah).
“Subhanallah, siapa yang mengumumkan kematiannya hingga orang-orang berbondong-bondong bertakziah, menyalati, dan menangisi kepergiannya?” tanya Abu Yusuf.
Setelah melalui perjuangan keras, Abu Yusuf berhasil menghampiri jenazah sahbatnya itu dan terperanjat saat melihat kain kafan yang tak biasa.
Pada kain itu tercantum tulisan berwarna hijau: هذا جزاء من آثر رضا الله على رضا نفسه وأحب لقاءنا فأحببنا لقاءه “Inilah balasan orang yang mengutamakan ridha Allah ketimbang ridha dirinya sendiri. Orang yang rindu menemui-Ku dan karenanya Aku pun rindu menemuinya.”
Selepas melaksanakan salat jenazah dan menge bumikannya, rasa kantuk berat menghampiri Abu Yusuf hingga ia pun tertidur.
Dia bermimpi menyaksikan sahabatnya yang ahli puasa ini menunggang kuda hijau serta berpaka ian hijau dengan sebuah bendera di tangannya.
Di belakangnya ada seorang pemuda tampan berbau harum. Di belakang pemuda ini ada dua orang tua diikuti di belakangnya lagi satu orang tua dan satu pemuda.
“Siapa mereka?” tanya Abu Yusuf.
“Pemuda tampan itu adalah Nabi kita Muhammad SAW. Dua orang tua itu adalah Sayyidina Abu Bakar dan Umar radhiyallahu ‘anhuma. Sementara orang tua dan pemuda itu adalah Sayyidina Utsman dan Ali,” jawab sahabat Yusuf itu.
“Dan akulah pemegang bendera di depan mereka,” kata sahabatnya dalam mimpi itu.
“Hendak ke manakah mereka?” tanya Abu Yusuf.
“Mereka ingin menziarahiku.” Abu Yusuf pun kagum.
“Bagaimana kau bisa mendapatkan kemuliaan semacam ini?”
“Sebab aku memprioritaskan ridha Allah Ta’ala dibanding ridha diriku sendiri dan aku berpuasa pada 10 hari Dzulhijjah,” jawab sahabatnya.
Abu Yusuf pun terbangun dari tidurnya. Lalu sejak itu beliau tak pernah meninggalkan amalan puasa itu hingga akhir hayatnya.
Wallahu a’lam bishshawab
___
Sumber Literasi
– TribunJogja. com
– Kompas TV
– Sindonews. com
