One Day One Ayat : QS Albaqarah Ayat 4, Pentingnya Iman dan Takwa

ASSAJIDIN.COM — Allah SWT berfirman dalam Alquran Surat Albaqarah ayat 4
وَالَّذِينَ يُؤْمِنُونَ بِمَا أُنْزِلَ إِلَيْكَ وَمَا أُنْزِلَ مِنْ قَبْلِكَ وَبِالْآخِرَةِ هُمْ يُوقِنُونَ
Walladzīna yu’minūna bi mā unzila ilayka wa mā unzila min qablika, wa bil ākhirati hum yūqinūna.
Artinya, “Dan orang yang beriman kepada apa yang diturunkan kepadamu (Muhammad) dan apa yang diturunkan sebelummu. Kepada akhirat mereka yakin.”
Keimanan pada Kitab Al-Qur’an Az-Zuhayli dalam Tafsir Al-Munir mengatakan, mereka yang bertakwa adalah mereka yang membenarkan semua wahyu yang diturunkan kepada Nabi Muhammad, dan semua nabi dan rasul. Mereka mempercayai akhirat dengan yakin tanpa keraguan, dan juga percaya kebangkitan jasad dan roh di kubur, hisab, pembalasan, mizan, sirath, surga, dan neraka.
Mereka yang disifatkan demikian, yaitu keimanan kepada hal ghaib, penegakan shalat, penginfakan zakat, keyakinan pada hari akhir, keimanan kepada Al-Qur’an serta kitab-kitab yang diturunkan sebelumnya (Taurat, Injil, Zabur, dan suhuf).
Mereka berjalan di atas cahaya dan petunjuk Tuhan. Mereka menempati kedudukan yang tinggi di sisi-Nya. Mereka peraih derajat yang tinggi di surga yang kekal. Baca juga: Tafsir Surat Al-Baqarah Ayat 1 Sifat, jalan hidup, dan peraturan mereka dalam kehidupan islami adalah keimanan yang sempurna atas segala hal ghaib yaitu zat Allah, malaikat, akhirat; keimanan pada semua yang dikabarkan Al-Qur’an dan pada semua yang ditunjukkan dalil.
Keimanan mereka dibarengi dengan amal saleh, yaitu penegakkan sembahyang wajib, infak di jalan Allah, bantuan sosial untuk fakir dan miskin serta sedekah sunnah, nafkah wajib untuk keluarga, anak, dan kerabat. Keimanan pada wahyu yang diturunkan Allah tidak dapat dipisahkan satu sama lain, yaitu keharusan beriman secara rinci pada Al-Qur’an dan keharusan beriman secara garis besar kepada kitab dan suhuf samawi sebelum Al-Qur’an. (Az-Zuhayli).
Sebagaimana dimaklum, bahwa semua itu tidak dianggap kecuali tanpa keyakinan dalam keimanan. Banyak ayat menunjukkan bahwa takwa adalah takut untuk menyalahi ketentuan Allah. Takwa merupakan inti dari semua kebaikan.
Takwa adalah wasiat Allah untuk manusia terdahulu dan manusia terkemudian. Takwa adalah kebaikan yang dapat ditarik keuntungannya oleh manusia itu sendiri sebagaimana pendapat sahabat Abu Darda. (Az-Zuhayli).
Al-Baghowi dalam Tafsir Ma’alimut Tanzil mengatakan, “Dan orang yang beriman kepada apa yang diturunkan kepadamu (Muhammad)” maksudnya Al-Qur’an. “dan apa yang diturunkan sebelummu” maksudnya Taurat, Injil, dan semua kitab yang pernah diturunkan kepada para nabi alaihimus shalatu was salam.
Ayat ini menjelaskan perihal orang beriman di kalangan ahli kitab.
Al-Baidhawi dalam Tafsir Anwarut Tanzil wa Asrarut Ta’wil mengatakan serupa. Mereka yang dimaksud dalam Surat Al-Baqarah ayat 4 ini adalah orang beriman dari kalangan ahli kitab, yaitu Abdullah bin Salam dan sahabatnya. Mereka termasuk orang yang beriman pada hal ghaib. Mereka itu orang yang beriman tanpa kemusyrikan dan keingkaran.
Ayat 3-4 merupakan rincian dari Surat Al-Baqarah ayat 2 seperti pendapat Ibnu Abbas. Tetapi bisa juga “dan” pada ayat 4 merupakan kata sambung dari ayat 2, “sebagai petunjuk bagi orang yang bertakwa” dari kemusyrikan. “Apa yang diturunkan kepadamu (Muhammad)” maksudnya adalah Al-Qur’an seutuhnya dan syariat akhirnya.
Meski menggunakan fiil madhi atau verba yang telah lalu, meski sebagian ayat waktu itu masih turun menyusul, penggunaan bentuk kata tersebut melihat dominan pada yang sudah turun dibanding yang belum turun. (Al-Baidhawi). (*/Sumber : nu.or.id)
