Heboh Buku ” Islam Ala Prabowo ” Guntur Romli : Terlalu Dipaksakan…!

AsSajidin.com Jakarta—– Baru- Baru ini publik tanah air dihebohkan dengan munculnya buku yang berjudul ” Islam Ala Prabowo “. Bukan karena konsep dalam isinya, melainkan kontroversinya, kok bisa…?
Mengutip warta ekonomi.co.id, Senin (7/9/2026). Juru Bicara PDI Perjuangan (PDIP), Guntur Romli, melontarkan kritik pedas menyoroti ramainya perbincangan terkait buku berjudul Islam Ala Prabowo ini.
Menurut Guntur, apa yang tertuang dalam terbitnya buku tersebut adalah sebuah kebohongan besar. Ia bahkan dengan gamblang mengkritisi tajam adanya dugaan pencatutan nama sejumlah tokoh agama terkemuka yang seolah-olah memberikan dukungan atau tulisan di dalam buku itu.
” Yang jauh lebih janggal, pengakuan tiga tokoh yang namanya dicatut, yakni Gus Kautsar, TGB (Tuan Guru Bajang), dan Said Aqil Siradj. Ketiganya menegaskan tidak pernah dilibatkan dan diminta tulisan dalam buku itu. Ini pencatutan nama yang pantas disebut kejahatan intelektual,” tegas Politikus yang juga dikenal sebagai cendekiawan muda Nahdlatul Ulama (NU) ini.
Selain masalah pencatutan nama tanpa izin, Guntur juga menyoroti substansi judul buku itu sendiri.
Menurutnya, frasa “Ala Prabowo” yang merujuk pada corak keislaman terasa sangat dipaksakan, mengingat Ketua Umum Partai Gerindra tersebut tidak memiliki rekam jejak yang kuat dalam diskursus pemikiran Islam.
“Sebenarnya jika makna judul itu, ‘Ala Prabowo’ artinya corak keislaman seperti apa, itu tidak masalah. Tapi Prabowo itu sosok yang tidak dikenal dengan pemikiran keislaman atau identik dengan wacana keislaman. Kesannya sangat dipaksakan,” tambahnya.
Untuk memperkuat argumennya, Guntur kemudian mengajak publik membandingkan Prabowo dengan deretan tokoh bangsa yang memang memiliki jejak historis dan kekayaan pemikiran keislaman yang jelas dan diakui.
“Bandingkan dengan Kyai Ahmad Dahlan, Islam ala Hashim Asyari, ala Gus Dur tentang pribumisasi Islam, Said Aqil dengan gagasan Islam Nusantara, semua masuk akal, mereka semuanya punya jejak pemikiran Islam yang kaya,” pungkasnya.
Sementara itu, dalam merespon buku bertajuk ” Islam Ala Prabowo ” ini, Pengasuh Pondok Pesantren Nur Muhammad Surabaya, KH Mas Muhammad Maftuh (Gus Maftuh), angkat bicara.
Ia menilai, tafsir yang berkembang di tengah masyarakat terkait buku Islam Ala Prabowo ini harus disiapkan dengan cermat.
“Jangan memahami buku ini hanya dari tiga kata, ‘Islam Ala Prabowo’, kemudian langsung menyimpulkan seolah-olah ada Islam baru atau mazhab baru. Maksudnya adalah bagaimana nilai-nilai Islam dipahami dan tercermin dalam kehidupan, sikap, serta kepemimpinan Prabowo,” ujar Gus Maftuh, dikutip dari beritajatim.com
Ia menjelaskan, buku tersebut justru mengupas dimensi keislaman Prabowo Subianto dari berbagai sisi, mulai dari kehidupan pribadi, perjalanan karier, hingga kepemimpinannya sebagai Presiden Republik Indonesia. Buku itu juga menghimpun pandangan dan tulisan dari sejumlah tokoh agama, ulama, akademisi, politisi, dan tokoh nasional.
“Ini buku yang mencoba melihat sisi keislaman seorang pemimpin. Jadi yang dibicarakan bukan Islam sebagai agama yang baru, tetapi bagaimana nilai Islam seperti perdamaian, keadilan, persatuan, kepedulian kepada rakyat dan kemanusiaan dapat diwujudkan dalam kehidupan berbangsa dan bernegara,” katanya.
