Jadwal imsakiyah Wilayah Palembang

-- --- 2026

Imsak: --:--| Shubu: --:-- | Maghrib: --:--

FIQIH

Safar Bukan Bulan Sial

Oleh : Albar Santosa Subari

ASSAJIDIN.COM –Sesuai penanggalan tahun hijriah bulan kedua setelah bulan Muharram adalah bulan Safar.

Safar artinya kosong, mengingat sudah menjadi kebiasaan orang orang Arab pada masa lampau meninggalkan kediaman mereka.
Kekosongan itu menimbulkan kesan negatif akhirnya mengesankan jika bulan Safar merupakan bulan yang perlu diwaspadai.

Kebiasaan buruk itu terus berkembang hingga menjadi sebuah kepercayaan bahwa bagi sekelompok orang menjadikan bulan Safar adalah bulan yang sial. ( Bulan yang banyak membawa kesialan di dalam nya.

Kepercayaan bahwa Safar adalah bulan sial semakin menguat, karena orang orang Arab masa lampau ( jahiliah) berpendapat merupakan nama penyakit yang menyerang perut.

Menurut mereka saat itu, di dalam perut itu bersarang ulat besar yang sangat bahaya yang menimbulkan penyakit. Selain itu, kata Safar juga memaknai dengan sejenis angin berhawa panas yang terjadi di dalam perut.

Angin ini juga berbahaya karena menurut mereka dapat menimbulkan sakit. Masih terdapat beberapa arti kata Safar yang kesemuanya merujuk pada keburukan dan kesialan. Maka, semakin menguat kepercayaan mereka, bahwa bulan Safar adalah bulan yang penuh kesialan di dalam nya. Safar adalah bulan sial !!.
Kepercayaan jika safar adalah bulan sial ternyata berkembang dan meluas hingga sebagian kelompok kaum muslimin di tanah air kita juga memiliki kepercayaan yang sama.

Segala acara yang dianggap penting, seperti pernikahan, sunatan atau peristiwa lainnya, tidak akan mereka lakukan di bulan Safar.

Lantas benarkah kepercayaan itu?
Percaya atau meyakini bahwa bulan Safar adalah bulan sial merupakan kepercayaan yang SALAH. Sangat menyimpang dari kaidah Islam. Kepercayaan yang sudah seharusnya ditinggalkan jauh jauh.
Rasulullah Saw bersabda artinya; Tidak ada ” adwa”, tidak ada thiyatah, tidak ada hammah, dan tidak ada pula Safar ” ( HR. Bukhari).

Lihat Juga :  Hari Tasyrik, Amalan yang Boleh dan tidak Boleh Dilakukan dan Keutamaannya

Adwa yang disebut Rasulullah Saw dalam hadits tersebut di atas bermakna keyakinan adanya penularan penyakit. Kepercayaan atau tahayul seperti itu telah dihilangkan oleh Islam.
Seorang lelaki berdiri dan menghampiri Rasulullah Saw beliau bertanya: wahai Rasulullah, unta betina telah menderita penyakit gatal, lalu menularkan kepada yang lain?.

Beliau menjawab, itu adalah TAKDIR. Lalu, siapakah yang pertama menciptakan penyakit gatal ( HR. Ibnu Majah).
[17/7, 08.48] Albar Sentosa Subari Unsri: Thiyarah bermakna menganggap atau merasa sial karena sesuatu sehingga tidak jadi beramal.

Ibnu Qayyim Al Jauziyah menjelaskan perihal thiyarah. Menurut nya orang orang Arab jahiliah biasa menerbangkan atau melepaskan burung untuk mengetahui apakah kebaikan atau kesialan yang akan mereka dapatkan kemudian, jika mereka akan melakukan sesuatu.
Jika burung terbang ke kanan, mereka menamakan dengan SAAIH. Jika terbang ke kiri, mereka namakan BAARIH. Jika terbang ke arah depan mereka sebut NATHIH, dan jika burung terbang ke arah belakang mereka namakan QAID.
Mereka menganggap nasib mereka sial jika burung yang mereka lepaskan terbang ke arah kiri.

Mereka batal melakukan sesuatu niat. Sebaliknya, jika terbang ke kanan, mereka merasa nasib mereka baik, sehingga jadi melakukan niat mereka.

Thiyarah diharamkan Islam, menyalahi keyakinan akan takdir.
Rasulullah Saw bersabda artinya;
Thiyarah adalah Syirik, thiyarah adalah Syirik – tiga kali.

Tidaklah di antara kita kecuali beranggapan seperti itu ( pernah terlintas dalam hatinya sesuatu dari hal ini), akan tetapi Allah menghilangkannya dengan tawakal ( HR. Abu Daud).

Hammah, menurut orang Arab jahiliah, adalah burung hantu yang berteriak teriak yang sebenarnya jelmaan dari arwah manusia.
Mereka berkeyakinan, seorang yang meninggal dunia dan dikubur, dari kuburnya itu akan keluar serangga. Mereka juga berkeyakinan jika tulang belulang mayat manusia itu akan berubah menjadi serangga dan terbang.
Keyakinan hammah terlarang dalam Islam. Sama halnya dengan thiyarah, hammah diharamkan Islam, karena menyalahi keyakinan akan takdir. Rasulullah Saw bersabda yang artinya

Lihat Juga :  Belum Aqiqah Apakah Boleh Kurban? Ini Penjelasan Ulama

Jagalah Allah, niscaya Dia akan menjagamu. Jagalah Allah, niscaya kau dapati Dia di hadapan mu. Jika engkau hendak meminta, minta lah pada Allah, dan jika engkau hendak memohon pertolongan, mohonlah kepada Allah. Ketahuilah, seandainya seluruh umat bersatu untuk memberimu suatu keuntungan

Maka hal itu tidak akan kamu peroleh selain dari apa yang telah Allah tetapkan untuk mu. Dan andaipun mereka bersatu untuk melakukan sesuatu yang membahayakan mu, maka hal itu tidak akan membahayakan mu, kecuali apa yang telah Allah tetapkan untuk mu. Pena sudah diangkat dan lembaran lembaran telah kering.
( HR.Ahmad dan Tirmidzi).
HR. Muslim Rasulullah Saw bersabda: tidak ada penyakit yang menular secara sendirian tanpa izin Allah, tidak ada hantu bergentayangan, dan tidak ada safar ( penyakit perut) yang terjadi dengan sendirinya ( HR. Muslim)

QS. An Nisa’: 78-80.
Dan jika mereka memperoleh kebaikan, mereka mengatakan, Ini adalah dari sisi Allah. Dan kalau mereka ditimpa sesuatu bencana, mereka mengatakan, ini( datangnya) dari sisi kamu ( Muhammad). Katakanlah, semuanya ( datang) dari sisi Allah. Maka, mengapa orang orang itu ( orang munafik) hampir hampir tidak memahami pembicaraan sedikitpun?

Apa saja nikmat yang kamu peroleh adalah dari Allah, dan apa saja yang bencana yang menimpamu, maka dari ( kesalahan) dirimu sendiri. Kami mengutus mu menjadi Rasul kepada segenap manusia. Dan cukup lah Allah menjadi saksi.
Barangsiapa siapa mentaati Rasul itu, sesungguhnya ia telah mentaati Allah. Dan barangsiapa yang berpaling ( dari ketaatan itu), maka Kami tidak mengutus mu untuk menjadi pemelihara bagi mereka.

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top button