Jadwal imsakiyah Wilayah Palembang

-- --- 2026

Imsak: --:--| Shubu: --:-- | Maghrib: --:--

TAFSIR & HADIST

Perbedaan Rezeki di Antara Manusia

وَاللّٰهُ فَضَّلَ بَعۡضَكُمۡ عَلٰى بَعۡضٍ فِى الرِّزۡقِ‌ۚ فَمَا الَّذِيۡنَ فُضِّلُوۡا بِرَآدِّىۡ رِزۡقِهِمۡ عَلٰى مَا مَلَـكَتۡ اَيۡمَانُهُمۡ فَهُمۡ فِيۡهِ سَوَآءٌ‌ ؕ اَفَبِنِعۡمَةِ اللّٰهِ يَجۡحَدُوۡنَ

Wallaahu faddala ba’dakum ‘alaa ba’din fir rizq; famal laziina fuddiluu biraaaddii rizqihim ‘alaa maa malakat aimaanuhum fahum fiihi sawaaa’; afabini’matil laahi yajhaduun

 

“Dan Allah melebihkan sebagian kamu atas sebagian yang lain dalam hal rezeki, tetapi orang yang dilebihkan (rezekinya itu) tidak mau memberikan rezekinya kepada para hamba sahaya yang mereka miliki, sehingga mereka sama-sama (merasakan) rezeki itu. Mengapa mereka mengingkari nikmat Allah?”

(QS An-Nahl 71)

 

ASSAJIDIN.COM — Mengutip Kalam.sindonews.com, berikut tafsir singkat ayat di atas.

Demikianlah, Allah berkuasa menciptakan perbedaan dalam umur manusia. Dan Allah Yang Maha Mengetahui, Mahabijaksana, dan Mahakuasa pun berkuasa melebihkan sebagian kamu atas sebagian yang lain dalam hal rezeki, kedudukan, jabatan, kekayaan, dan semisalnya.

Allah telah membagi rezeki dengan cara demikian kepada manusia, tetapi di antara orang yang dilebihkan rezekinya ada yang tidak mau memberikan sebagian dari rezekinya kepada para hamba sahaya yang mereka miliki, padahal mereka sama-sama manusia, sehingga kalau saja mereka mau saling berbagai niscaya mereka sama-sama merasakan kenikmatan rezeki itu.

Mengapa mereka mengingkari nikmat Allah?

 

Perbedaan Rezeki

Setelah Allah SWT menjelaskan perbedaan usia manusia dalam ayat ini, Ia menyebutkan perbedaan rezeki mereka.

Dia menjelaskan bahwa Allah melebihkan rezeki sebagian manusia dari sebagian yang lain. Ada manusia yang kaya, ada pula yang fakir, ada manusia yang menguasai sumber-sumber rezeki, dan ada manusia yang tidak memperoleh rezeki yang memadai bagi kehidupannya.

Semuanya itu bertujuan agar satu sama lain saling menolong karena saling membutuhkan.

Kemudian Allah SWT menjelaskan bahwa di antara orang-orang yang diberi rezeki lebih, ada yang tidak mau memberikan sedikit pun rezekinya kepada orang-orang yang bekerja padanya yang semestinya mendapat bagian dari mereka.

Padahal di antara orang-orang yang menguasai dan dikuasai, di antara tuan dan budak sama-sama berhak atas rezeki itu.

Lihat Juga :  Adab Bertetangga

Oleh karenanya, sepantasnyalah rezeki itu didistribusikan secara adil dan merata kepada semua pihak.

Apabila pemilik modal merasa berhak mendapat keuntungan karena modal yang dimilikinya, pekerja hendaknya diberi penghasilan sesuai dengan kemampuannya, supaya pemilik modal dan pekerja sama-sama menikmati sumber-sumber penghasilan itu.

Allah SWT berfirman:

“Dia membuat perumpamaan bagimu dari dirimu sendiri. Apakah (kamu rela jika) ada di antara hamba-sahaya yang kamu miliki, menjadi sekutu bagimu dalam (memiliki) rezeki yang telah Kami berikan kepadamu, sehingga kamu menjadi setara dengan mereka dalam hal ini, lalu kamu takut kepada mereka sebagaimana kamu takut kepada sesamamu. Demikianlah Kami jelaskan ayat-ayat itu bagi kaum yang mengerti.” (ar-Rum/30: 28)

Di akhir ayat, Allah SWT mengingatkan bahwa semua itu adalah nikmat-Nya. Oleh karena itu, mereka seharusnya mensyukuri nikmat itu dengan tidak memonopoli sumber-sumber penghasilan itu untuk kepentingan kelompok atau golongan tertentu.

 

Hikmah

Menurut Dr Dana, ME dalam tulisannya berjudul “Mengambil Hikmah dari Perbedaan Rezeki yang dimuat dalam habiburrahman.org, dalam perspektif ekonomi, terdapat beberapa hikmah yang bisa diambil dari adanya perbedaan rezeki:

Pertama, perbedaan rezeki dapat melahirkan ketergantungan antar Individu. Perbedaan rezeki mendorong terciptanya saling ketergantungan dan saling membutuhkan antarindividu dalam masyarakat.

Setiap orang membutuhkan bantuan dan kontribusi orang lain untuk memenuhi kebutuhan hidupnya, hal ini menciptakan kehidupan menjadi seimbang dan harmonis.

Kedua, perbedaan rezeki dapat melahirkan beragam profesi di tengah masyarakat. Sehingga individu memiliki kesempatan untuk mengejar pekerjaan yang sesuai dengan bakat, minat, dan keahlian yang dimiliki.

Dengan adanya beragam profesi, optmalisasi sumber daya manusia lebih tercapai karena setiap individu dapat menyalurkan potensi terbaiknya sesuai dengan keahlian dan minatnya.

Ketiga, perbedaan rezeki memiliki potensi untuk melahirkan kreativitas dan inovasi karena mendorong individu untuk mencari solusi.

Ketika seseorang dihadapkan pada keterbatasan sumber daya atau pendapatan yang rendah, manusia mempunyai kecenderungan mencari cara untuk memaksimalkan potensi yang dimilikinya dan mengatasi kekurangan tersebut. Inovasi dan kreativitas timbul sebagai respons terhadap keterbatasan dan kekurangan.

Lihat Juga :  Perintah Bershalawat kepada Nabi Muhammad SAW

Keempat, melahirkan pertukaran barang dan jasa. Perbedaan rezeki memicu pertukaran barang dan jasa. Kolaborasi dalam pertukaran ini tidak hanya menguntungkan pihak yang terlibat, tetapi juga memberikan manfaat ekonomi yang luas bagi keberlangsungan hidup itu sendiri.

Sungguh, tidak ada suatu ketetapan Allah yang buruk. Setiap ketentuan dan takdir yang Allah tetapkan memiliki hikmah dan kebaikan di baliknya, meskipun pada pandangan awal mungkin terkesan tidak adil dan sulit diterima.

Sejatinya, kaya dan miskin hanyalah ujian dari Allah SWT.

وَٱعۡلَمُوٓاْ أَنَّمَآ أَمۡوَٰلُكُمۡ وَأَوۡلَٰدُكُمۡ فِتۡنَةٞ وَأَنَّ ٱللَّهَ عِندَهُۥٓ أَجۡرٌ عَظِيمٞ ٢٨

Artinya: “Dan ketahuilah, bahwa hartamu dan anak-anakmu itu hanyalah sebagai cobaan dan sesungguhnya di sisi Allah-lah pahala yang besar.” (QS Al-Anfal: 28).

Setiap manusia diberikan peran dan tanggung jawab yang unik oleh Allah SWT dalam kehidupannya. Dalam menjalankan perannya, setiap individu dituntut untuk mengikuti aturan-Nya, seperti menjalankan kewajiban, dan menghindari larangan yang telah ditetapkan.

Dengan cara ini, setiap tindakan yang dilakukan dapat menjadi bentuk ibadah dan pengabdian kepada Allah SWT.

Bagi orang kaya, perannya adalah bagaimana dia memanfaatkan kekayaannya sesuai yang diinginkan pemberi-Nya, yaitu dengan bersedekah, berinfak, dan membantu sesama.

Sedangkan bagi orang miskin, perannya adalah bagaimana dia tetap bersabar dan bersyukur atas keadaannya, serta tetap berusaha dan bertawakal kepada Allah SWT tanpa merasa putus asa.

Kekayaan sesungguhnya tidak hanya ditentukan oleh jumlah harta yang dimiliki, tetapi juga oleh hati yang bersyukur kepada Allah.

Banyak orang memiliki kekayaan berlimpah namun hidupnya penuh dengan ketidakpuasan dan kegelisahan. Di sisi lain, ada yang menjalani hidup sederhana tetapi memiliki hati yang penuh syukur kepada Allah, sehingga hidupnya lebih damai dan bahagia.

Oleh karena itu, sesungguhnya orang yang kaya bukanlah mereka yang memiliki harta berlimpah, melainkan mereka yang paling banyak bersyukur atas nikmat Allah.

 

Wallahu a’lam bish-shawab.

 

 

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top button