TAFSIR & HADIST

Jaminan Rezeki Bagi yang Mau Menikah

وَأَنكِحُوا۟ ٱلْأَيَٰمَىٰ مِنكُمْ وَٱلصَّٰلِحِينَ مِنْ عِبَادِكُمْ وَإِمَآئِكُمْ ۚ إِن يَكُونُوا۟ فُقَرَآءَ يُغْنِهِمُ ٱللَّهُ مِن فَضْلِهِۦ ۗ وَٱللَّهُ وَٰسِعٌ عَلِيمٌ

Arab-Latin: Wa angkiḥul-ayāmā mingkum waṣ-ṣāliḥīna min ‘ibādikum wa imā`ikum, iy yakụnụ fuqarā`a yugnihimullāhu min faḍlih, wallāhu wāsi’un ‘alīm

Artinya: “Dan kawinkanlah orang-orang yang sedirian diantara kamu, dan orang-orang yang layak (berkawin) dari hamba-hamba sahayamu yang lelaki dan hamba-hamba sahayamu yang perempuan. Jika mereka miskin Allah akan memampukan mereka dengan kurnia-Nya. Dan Allah Maha luas (pemberian-Nya) lagi Maha Mengetahui.” (QS An-Nur 32)

 

 

ASSAJIDIN.COM — Mengutip Tafsirweb .com, menurut Zubdatut Tafsir Min Fathil Qadir / Syaikh Dr. Muhammad Sulaiman Al Asyqar, mudarris tafsir Universitas Islam Madinah,  وَأَنكِحُوا۟ الْأَيٰمَىٰ مِنكُمْ (Dan kawinkanla orang-orang yang sedirian diantara kamu)

Makna (الأيم) adalah seorang lelaki yang tidak memiliki istri dan seorang wanita yang tidak mempunyai lelaki baik itu wanita yang memang masih gadis atau sudah janda.

Menikah adalah salah satu sunnah yang sangat dianjurkan, sebagaimana sabda Rasulullah: “Dan barangsiapa yang benci terhadap sunnahku maka ia bukan termasuk golonganku.” Namun tentu saja ini bagi orang yang telah mampu dan memiliki nafkahnya.

وَالصّٰلِحِينَ مِنْ عِبَادِكُمْ (dan orang-orang yang layak (berkawin) dari hamba-hamba sahayamu yang lelaki)

Yakni para budak lelaki kalian.

وَإِمَآئِكُمْ ۚ( dan hamba-hamba sahayamu yang perempuan)

Yakni para budak perempuan kalian.

Dan maksud dari (الصلاح) adalah keimanan.

إِن يَكُونُوا۟ فُقَرَآءَ يُغْنِهِمُ اللهُ مِن فَضْلِهِۦ ۗ( Jika mereka miskin Allah akan memampukan mereka dengan kurnia-Nya)

Yakni janganlah kalian menahan diri dari menikahkan dua insan disebabkan kemiskinan, karena barangsiapa yang menikah niscaya Allah akan memberinya kekayaan, yaitu dengan kekayaan jiwa dan kekayaan harta.

Lihat Juga :  Sudah Menikah, inilah Cara Muslimah Tetap Bisa Berbakti kepada Orangtua

وَاللهُ وٰسِعٌ (Dan Allah Maha luas)

Yakni memiliki keluasan yang tidak dapat berkurang karena memberi kekayaan kepada hamba-hamba-Nya.

عَلِيمٌ (lagi Maha Mengetahui)

Yakni mengetahui maslahat-maslahat bagi hamba-Nya.

Sedangkan Tafsir Al-Wajiz /Syaikh Prof. Dr. Wahbah az-Zuhaili, pakar fiqih dan tafsir negeri Suriah disebutkan dan kawinilah orang yang tidak bersuami/beristri yaitu orang yang bebas dari laki-laki dan perempuan selama mereka mampu memberi mahar dan nafkah.

Kalian juga bisa mengawini hamba-hamba sahaya dan pelayan wanita yang bertakwa dan shalihah, yaitu beriman dan mampu memenuhi hak-haknya. Jika lelaki-lelaki dan perempuan-perempuan itu fakir, maka Allah akan memberi mereka kekayaan dari kemuliaan dan keutamaan-Nya.

Barangsiapa menikah, maka Allah akan membuatnya kaya dengan kekayaan jiwa dan harta. Allah adalah Dzat yang Maha Kaya yang sangat luas wujudNya dan Maha Mengetahui perbuatan-perbuatan baik ciptaanNya. Dia memberi rejeki mereka sesuai dengan kebijaksanaanNya.

 

Jaminan Rezeki

Dalam Tafsir Kementerian Agama dijelaskan, pada ayat ini Allah SWT menyerukan kepada semua pihak yang memikul tanggung jawab atas kesucian dan kebersihan akhlak umat, agar mereka menikahkan laki-laki yang tidak beristri, baik duda atau jejaka dan perempuan yang tidak bersuami baik janda atau gadis.

Demikian pula terhadap hamba sahaya laki-laki atau perempuan yang sudah patut dinikahkan, hendaklah diberikan pula kesempatan yang serupa.

Seruan ini berlaku untuk semua para wali (wali nikah) seperti bapak, paman dan saudara yang memikul tanggung jawab atas keselamatan keluarganya.

Ini berlaku pula untuk orang-orang yang memiliki hamba sahaya. Janganlah mereka menghalangi anggota keluarga atau budak yang di bawah kekuasaan mereka untuk menikah, asal saja syarat-syarat untuk nikah itu sudah dipenuhi.

Lihat Juga :  Nabi pun Menikah di Bulan Syawal, ini Cerita dan Awal Sejarahnya

Dengan demikian, seperti dikutip dari Iqra.republika.co.id, terbentuklah keluarga yang sehat bersih dan terhormat. Dari keluarga inilah akan terbentuk suatu umat dan pastilah umat atau bangsa itu menjadi kuat dan terhormat pula.

Ibnu Abbas berkata, “Allah menganjurkan pernikahan dan menggalakkannya, serta menyuruh manusia supaya mengawinkan orang-orang yang merdeka dan hamba sahaya, dan Allah menjanjikan akan memberikan kecukupan kepada orang-orang yang telah berkeluarga itu kekayaan.”

Diriwayatkan dari Abu Hurairah Rasulullah bersabda:

ثَلَاثَةٌ حَقَّ عَلَى اللّٰهِ عَوْنُهُمْ: اَلنَّاكِحُ يُرِيْدُ الْعَفَافَ، وَالْمُكَاتَبُ الَّذِيْ يُرِيْدُ اْلاَدَاءَ، وَالْمُجَاهِدُ فِى سَبِيْلِ اللّٰهِ. (رواه احمد)

Yang artinya, “Ada tiga macam orang yang Allah berkewajiban menolongnya: orang yang nikah dengan maksud memelihara kesucian dirinya, hamba sahaya yang berusaha memerdekakan dirinya dengan membayar tebusan kepada tuannya, dan orang yang berperang di jalan Allah.” (HR Ahmad).

Rasulullah SAW bersabda:

“Nikah itu termasuk Sunnahku. Barangsiapa yang membenci Sunnahku maka dia tidak termasuk golonganku.”(HR Muslim)

Melansir Liputan6.com, bila di antara orang-orang yang mau nikah itu ada yang dalam keadaan miskin sehingga belum sanggup memenuhi semua keperluan pernikahannya dan belum sanggup memenuhi segala kebutuhan rumah tangganya, hendaklah orang-orang seperti itu didorong dan dibantu untuk melaksanakan niat baiknya itu.

Bahkan binatang-binatang yang melata, yang hidup di bumi yang meliputi binatang yang merayap, merangkak, atau pun yang berjalan dengan kedua kakinya begitupun tentunya dengan manusia, semua dijamin rezekinya oleh Allah.

 

Wallahu a’lam bishshawab.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top button