KISAH

Kisah Iblis Menggoda Syaikh Abdul Qadir Al-Jailani

ASSAJIDIN.COM — Iblis adalah musuh yang nyata bagi manusia.

Tak henti-hentinya menggoda manusia untuk disesatkannya sehingga lupa dan menjadi pengikut setianya.

Untuk itulah kita harus tetap waspada dan selalu mendekatkan diri kepada-Nya sampai akhir hayat.

Kisah berikut ini, kisah tentang iblis menggoda manusia ini, pernah dialami Syaikh Abdul Qadir Al-Jailani.

Ketika Syaikh Abdul Qadir Al-Jailani sedang menyendiri, tiba-tiba muncul cahaya besar. Cahaya besar itu berbicara kepada Syekh Abdul Qadir Al-Jailani.

“Wahai Abdul Qadir, Aku adalah Tuhan. Kamu adalah kekasihku. Maka apa yang Aku haramkan, sekarang telah Aku halalkan untuk kamu,” kata cahaya yang mengaku Tuhan itu kepada Syekh Abdul Qadir Al-Jailani.

Akan tetapi, Syekh Abdul Qadir Al-Jailani orang berilmu dan waspada. Beliau menyadari bahwa Nabi Muhammad SAW adalah Nabi dan Rasul terakhir yang telah mengajarkan syariat Islam sesuai perintah Allah SWT.

Lihat Juga :  Asal Mula Melaksanakan Shalat Ghaib

Sehingga, Allah SWT tidak mungkin mengubah syariat melalui Syekh Abdul Qadir Al-Jailani dengan mengatakan yang haram telah dihalalkan.

Menyadari hal tersebut, Syekh Abdul Qadir Al-Jailani yakin bahwa cahaya itu adalah iblis yang mengaku Tuhan, bukan Tuhan yang sebenarnya.

Syekh Abdul Qadir Al-Jailani kemudian mengucapkan ta’awudz, A’udzubillahi minasyaitanir rajim. Tiba-tiba cahaya itu terbakar sambil berkata, “Sudah banyak orang yang telah aku tipu daya, tetapi luput dari tipu dayaku.”

Kisah Syekh Abdul Qadir Al-Jailani ini menjadi pelajaran dan peringatan bagi orang-orang yang sedang berusaha mendekatkan diri kepada Allah SWT.

Lihat Juga :  Kisah Amr bin Jamuh Ingin Masuk Surga dengan Kaki Pincang

Bahwa sesungguhnya mengetahui yang hak dan bathil, serta yang halal dan haram itu sangat penting sehingga tidak mudah ditipu oleh iblis maupun setan.

Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:

مَا كَانَ مُحَمَّدٌ اَبَآ اَحَدٍ مِّنْ رِّجَالِكُمْ وَلٰكِنْ رَّسُوْلَ اللّٰهِ وَخَاتَمَ النَّبِيّٖنَۗ وَكَانَ اللّٰهُ بِكُلِّ شَيْءٍ عَلِيْمًا ࣖ

Mā kāna muḥammadun abā aḥadim mir rijālikum wa lākir rasūlallāhi wa khātaman-nabiyyīn(a), wa kānallāhu bikulli syai’in ‘alīmā(n).

“Muhammad itu bukanlah bapak dari seseorang di antara kamu, melainkan dia adalah utusan Allah dan penutup para nabi. Allah Maha Mengetahui segala sesuatu.” (QS Al-Aḥzāb Ayat 40).

Ayat di atas menegaskan bahwa Nabi Muhammad SAW adalah penutup para Nabi atau Nabi terakhir.

 

Sumber : Liputan6.com

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top button