KALAMTAFSIR & HADIST

Tidak Ada Hari Sial dalam Islam

ASSAJIDIN.COM — Di kalangan masyarakat kita masih sering terlontar kalimat begini “… Ai sial nian aku harini. Dak boleh apo-apo.”

Hal ini masih terus berlangsung hingga kini. Dan salah satu hari sial itu adalah Rabu. Mereka merujuk pendapat itu dari sejumlah tafsir surat Al-Quran.

Benarkah demikian?

Begini jawaban pendiri Pusat Studi Al- Quran (PSQ) Prof M Quraish Shihab, sebagaimana didokumentasikan Harian Republika 1994.

Kata nahas yang biasa diterjemahkan ”sial” ditemukan dua kali dalam Al-Quran. Pertama, dalam bentuk tunggal yawm nahes, hari sial.

إِنَّا أَرْسَلْنَا عَلَيْهِمْ رِيحًا صَرْصَرًا فِي يَوْمِ نَحْسٍ مُسْتَمِرٍّ

“Sesungguhnya Kami telah menghembuskan kepada mereka angin yang sangat kencang pada hari nahas yang terus menerus.” (QS al-Qamar: 19).

Kedua, dalam bentuk jamak ayyam nahisaat, hari-hari sial (QS Fussilat: 16).

فَأَرْسَلْنَا عَلَيْهِمْ رِيحًا صَرْصَرًا فِي أَيَّامٍ نَحِسَاتٍ لِنُذِيقَهُمْ عَذَابَ الْخِزْيِ فِي الْحَيَاةِ الدُّنْيَا ۖ وَلَعَذَابُ الْآخِرَةِ أَخْزَىٰ ۖ وَهُمْ لَا يُنْصَرُونَ

“Maka Kami meniupkan angin yang amat gemuruh kepada mereka dalam beberapa hari yang sial, karena Kami hendak merasakan kepada mereka itu siksaan yang menghinakan dalam kehidupan dunia. Dan Sesungguhnya siksa akhirat lebih menghinakan sedang mereka tidak diberi pertolongan.”  

Kedua ayat tersebut (hari dan hari-hari sial) diungkapkan Al-Quran dalam konteks penjelasannya tentang siksaan yang melanda kaum ‘Aad yang durhaka kepada Allah SWT.

Dalam Al- Quran surat al-Haqqah ayat 7 dijelaskan bahwa hari-hari tersebut berlangsung selama tujuh hari dan delapan malam.

سَخَّرَهَا عَلَيْهِمْ سَبْعَ لَيَالٍ وَثَمَانِيَةَ أَيَّامٍ حُسُومًا فَتَرَى الْقَوْمَ فِيهَا صَرْعَىٰ كَأَنَّهُمْ أَعْجَازُ نَخْلٍ خَاوِيَةٍ

Yang Allah menimpakan angin itu kepada mereka selama tujuh malam dan delapan hari terus menerus; maka kamu lihat kaum ‘Aad pada waktu itu mati bergelimpangan seakan-akan mereka tunggul pohon kurma yang telah kosong (lapuk).” 

Beberapa kitab tafsir meriwayatkan bahwa hari sial tersebut adalah hari Rabu, sedang hari-hari sial yang tujuh hari itu bermula dari hari Rabu. Ada juga yang menyatakan bermula dari hari Jumat.

Lihat Juga :  Mutiara Hati dari Al-Quran dan Hadist Nabi 

Kitab-kitab tafsir yang mengutip pendapat ini bukannya bersumber dari kitab-kitab hadist standar. Pakar Al-Quran dan hadist Ibnu Katsir misalnya, sekadar mengutip dan menyatakan bahwa ia diriwayatkan Al Baghawi.

Tokoh Al Baghawi ini dikenal oleh kritikus kitab tafsir sebagai amat gandrung mengutip pendapat-pendapat aneh, kisah-kisah, serta pendapat yang bersumber dari budaya Yahudi dan Nashrani atau apa yang dikenal dengan istilah Israiliyaat.

Memang, ada beberapa riwayat yang menginformasikan bahwa ada hari-hari sial, tetapi riwayat-riwayat tersebut nilainya lemah.

Jika anda mengamati ayat-ayat Al-Quran di atas, maka anda melihat bahwa hari-hari sial bukan hanya satu hari, tetapi tujuh hari secara berturut-turut.

Perhatikan kembali kedua ayat Al- Quran yang pertama dikutip di atas. Ini berarti bukan hanya hari Rabu, melainkan seluruh hari dan malam dalam sepekan merupakan hari-hari sial.

Namun di sisi lain, Al- Quran juga secara tegas menyatakan bahwa ada malam yang penuh berkah (QS 44: 3), ada juga Lailatul Qadr, dan ini berarti bahwa malam-malam tersebut bukan malam sial.

Kalau demikian, kedua ayat yang berbicara tentang hari sial itu tidak boleh dipahami sebagai adanya hari-hari tertentu yang sial.

Ia harus dipahami dalam arti ada kejadian-kejadian yang tidak menyenangkan seseorang yang terjadi pada siang atau malam hari, kemudian saat itu dinamai hari atau malam sial.

Lihat Juga :  48 Lembaga Dunia Komitmen Gunakan Hewan Berstandar Halal dalam Forum Pangan Halal Dunia

Memang, bahasa seringkali menisbahkan sesuatu kepada tempat, waktu atau keadaan. Al- Quran, misalnya, menyatakan makr al-lail (QS 34: 33) yang bila diterjemahkan secara harfiah berarti tipu daya malam, tetapi maksudnya adalah tipu daya yang terjadi di malam hari.

Lalu was-al al-qaryah (QS 12: 82), bila diterjemahkan secara harfiah berarti ”dan tanyalah desa”, padahal maksudnya adalah penduduk yang bertempat tinggal di desa. Rasul SAW mengingatkan dalam sabdanya, ”Jangan mencerca masa, karena Allah (yang mengatur) masa.”

Jika demikian, tidak dibenarkan menjatuhkan kesalahan atau keburukan kepada waktu tertentu, dengan menyatakan hari sial atau hari mujur.

Sementara ulama berpendapat bahwa sebab turunnya surah Al-‘Ashr adalah karena ketika itu sebagian orang yang gagal dalam usahanya mengeluh di waktu ashr, bahwa harinya adalah hari sial.

Maka surah itu menguraikan bahwa kegagalan dan sukses bukan disebabkan oleh waktu tetapi antara lain oleh usaha manusia, karena itu rugilah mereka kecuali yang beriman dan beramal shaleh.

Kita harus yakin bahwa hanya Allah yang Mahakuasa. Dia Pengatur siang dan malam dan Dia juga yang menguasainya. Mempercayai ada penguasa selain Allah SWT, atau mempercayai bahwa hari dan malam dapat mempengaruhi keadaan mujur atau sial tanpa keterlibatan Allah SWT, maka ini dapat mengantar kepada mempersekutukan-Nya dengan sesuatu.

Dan bila ada hadist yang kuat, nilainya mursal, dalam arti ia dinisbahkan kepada Nabi Muhammad SAW tanpa melalui sahabatnya. Nilai hadits semacam ini tidak dapat dijadikan argumentasi keagamaan.

 

Wallahu a’lam

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top button